24

1859 Kata
"Apakah kalian menonton berita tadi malam?" Tanya Lexa, ia meletakkan pesanannya ke meja lalu menghempaskan diri ke atas kursi. "Tak kusangka Burdenjam seburuk ini." Celotehnya. "Sudahkah kau bertanya pada teman ayahmu?" Ia lanjut bertanya sambil mencondongkan wajah ke arah Alice. Dami menoleh bingung pada Alice. "Tuan Sullivan berteman akrab dengan Walikota," kata Lexa, menjawab kebingungan Dami. "Seharusnya walikota segera bertindak. Aku tidak suka ada hal yang menakutkan di dalam kota." "Seharusnya dia memang sudah bertindak," kata Alice. "Aku akan bertanya pada Ayah." "Bagus," Lexa mengangguk. "Dan beritahu aku apa saja yang sudah mereka lakukan. Khususnya para pihak berwajib, apakah mereka menjadi tidak berguna akibat hidup nyaman di Burdenjam tanpa kasus yang memacu adrenalin mereka? Ckck." "Aku juga tidak suka mendengar berita orang hilang itu," kata Alice. Berita tadi malam adalah tentang tiga warga yang menghilang. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dan belum ada perkembangan. Baik tersangka mau pun jejak menghilang ketiga warga tersebut belum dapat diidentifikasi. "Sebenarnya aku tidak mempercayai walikota. Tapi Ayahku menyembahnya. Menjijikan." Dengus Alice. "Begitulah hidup kita," Lexa terlihat merenung sambil mengunyah pelan. "Kita terlihat memiliki segalanya tapi rupanya kita masihlah keset dari seseorang di atas kita." Ungkapnya. "Menjadi Raja dan Ratu adalah satu-satunya cara untuk hidup enak. Tapi tidak ada lagi negara yang menggunakan sistem pemerintahan kerajaan. Malah ada banyak ideologi baru bermunculan, dan menurutku malah menyusahkan hidup kita." "Kau tidak cocok membahas tentang sistem pemerintahan," komentar Alice, sambil memandangi Lexa "Wajahmu jadinya terlihat lucu." Lexa malah menyeringai. "Aku berpikir untuk mulai belajar lebih giat." "Ah, itu kabar baik," Alice mengangguk-angguk. "Apa alasannya?" Lexa mengedikkan bahu. "Aku dengar Dael sudah memilih Perguruan Tinggi. Aku berencana akan menyusulnya nanti." Jelasnya. "Kalau kau, mudah bagimu mengikuti jejak Solaris. Kau sudah punya otak encer dan uang banyak." "Ya, sembahlah aku." Kata Alice dan mendapatkan lemparan kentang goreng dari Lexa. "Sial kau!" Gerutu Lexa kesal sementara Alice tertawa saja. Dami hanya diam mengamati kedua sahabat itu. Keduanya ternyata benar-benar sangat menyukai Wern Bersaudara. Alice sangat menyukai Solaris dan Lexa menyukai Dael. Mereka berdua bahkan berniat akan mengikuti jejak perguruan tinggi pilihan Wern bersaudara. "Ah, para perusuh merusak pemandanganku," keluh Lexa kemudian. Dami menoleh ke arah pandang Lexa. Dan benar saja, Aoi dan kawan-kawan duduk tak jauh dari mereka bertiga. "Bisa tidak mereka menyingkir?" Dengus Lexa. Alice tidak menanggapi. Ia sedang mengamati ponselnya. Dami diam-diam mengintip artikel yang sedang dibaca Alice di ponsel, tentang artikel warga yang hilang itu. Dami tak menyangka Alice memiliki ketertarikan yang begitu besar dengan berita itu. Rupanya tidak hanya Alice dan Lexa yang membicarakan berita tentang warga yang hilang. Dami mengamati sekelilingnya. Tampaknya semua orang merasa cemas dengan berita itu. Dami baru tinggal di Burdenjam, kurang lebih sepekan. Ia mengakui ia sedikit gelisah dengan informasi warga hilang itu, tapi berita itu tidak begitu besar mempengaruhinya seperti yang terjadi pada Alice dan Lexa. Ia lebih sibuk memikirkan tentang rencana berburu saudara Wern akhir pekan nanti. Ia harus berhasil. "Lexa, boleh aku bertanya kepadamu?" Dami bertanya ketika Alice pergi ke toilet. "Yeah?" Sahut Lexa meski terlihat malas berkomunikasi dengan Dami. "Apa yang kau suka dari Dael?" Seketika Lexa terlihat tertarik. "Untuk apa kau bertanya? Tentu saja semuanya! Lihat, dia tampan, atletis, pintar dan populer. Dia agak misterius tapi itu daya tariknya." Jelasnya bersemangat. Dami mengangguk-angguk. Dia membenarkan semua pendapat Lexa. Dael memang terlihat seperti yang digambarkan oleh Lexa. "Lalu bagaimana menurutmu dengan Victor?" "Ew," wajah Lexa berubah dengan raut jijik. "Untuk apa kau menanyakan hal itu?" "Victor kan juga seorang Wern? Memangnya kau tidak suka padanya?" Tanya Dami. "Yah, mengesalkan sekali mengetahui fakta jika Dael dan Solaris punya saudara sekacau Victor. Aku tahu kau murid baru di sini, tapi seharusnya kau mengerti. Victor sama sekali tidak sebanding dengan Dael. Dia adalah pengacau segalanya. Lihat betapa mirisnya dia, sama sekali tidak ada daya tarik pada dirinya. Apalagi dia berteman dengan para Perusuh." Meski Dami sudah tahu akan mendengar jawaban tidak mengenakkan tentang Victor dari Lexa, tetap saja ia merasa kaget dan tidak nyaman. Dami tak habis pikir mengapa Victor memilih Lexa sementara Lexa tampak jelas membenci Victor? "Apa yang akan kau katakan jika Victor mencoba mengajakmu berkencan?" Setidaknya Dami mencoba bertanya. Satu kali saja. "Aku akan membunuhnya." Jawab Lexa dengan sorot keji yang seolah-olah dapat membunuh. Dami merinding mendengar jawaban Lexa. Ini akan sangat sulit, pikirnya. - "Sudahkah kau berusaha?" Victor menegur Dami ketika kelas bubar. Victor menarik lengan Dami, mengajaknya masuk ke dalam kelas kosong sehingga mereka berdua lenyap dari arus murid-murid di koridor. "Yeah," jawab Dami. "Aku tidak tahu jika Lexa begitu tidak menyukaimu." Ia masih cukup sopan menggunakan kata-kata untuk menyampaikan jawaban Lexa. Victor tertawa. "Ya. Dia itu sinting, tapi menarik bagiku." "Kenapa kau tidak berkencan saja dengan salah satu temanmu?" Tanya Dami heran. Ia bisa melihat Victor sangat dekat dengan Aoi dan kawan-kawan. Rasanya aneh melihat seorang pria bisa sangat akrab dengan tiga orang gadis sekaligus. "Ew, mereka itu teman-temanku!" Seru Victor dengan ekspresi jengkel. "Lagi pula mereka buka tipeku. Tipeku itu seperti Lexa. Hehe." "Aku hanya bertanya," Dami mengangkat bahu sekali. "Sayangnya Lexa benar-benar tidak tertarik kepadamu. Apa kau tidak bisa mengubah perjanjian kita?" Tanyanya. "Lagi pula kau adalah werewolf. Memangnya kau bisa berkencan dengan manusia?" "Apa urusanmu jika bisa atau tidak? Hei, pernahkah kau mempelajari tentang eksistensi werewolf?" Tanya Victor kemudian. Dami menggelengkan kepala. "Kau tahu bagaimana aturan dalam hidup werewolf?" "Tidak. Memangnya seperti apa?" "Di dalam aturan werewolf, hubungan asmara dilarang. Para pemuda dan pemudi werewolf dilarang untuk b******a sebelum waktunya, jika melanggar, mereka akan dihukum, dipenjara hingga batas waktu yang ditentukan. Werewolf yang bukan alpha tidak dapat memilih pasangannya sendiri, hanya alpha yang boleh memilihkan calon pasangan. Dan werewolf bukan alpha baru akan menikah setelah pasangan alpha menikah." Dami mengerjapkan mata. "Kau... Serius?" Victor mendengus. "Konyol kan?" Ia berdecih. "Bayangkan jika calon pasangan yang dipilihkan untukku sama sekali bukan tipeku? Apa aku bisa menerimanya? Tapi mereka tetap memaksakan pernikahan dan menuntut keturunan. Ew, aku kesal setengah mati setelah diberitahu hal itu." "Bagaimana dengan Solaris dan Dael?" Tanya Dami penasaran. "Apakah mereka juga kesal?" "Tentu saja tidak! Mereka itu keturunan asli dalam eksisten dan mereka itu kaku sekali! Mereka dengan setia mengikuti apa pun peraturan yang ada. Tak berapa lama lagi Solaris akan menjadi alpha. Cih, aku tidak bisa membayangkan Solaris sendiri yang akan memilihkan pasangan untukku. Ah, pokoknya ini menjijikan sekali. Aku muak!" Dami diam saja mengamati Victor yang mondar-mandir meluapkan kemarahan. Ini adalah fakta yang mengejutkan. Ia tidak pernah mempelajari Eksistensi Werewolf sama sekali. Ia juga tahu jika Victor adalah Werewolf korban kontaminasi. Tentu Victor tidak dapat menerima tradisi ini. "Jangan lupa dengan tugasmu ya," Victor menepuk bahu Dami. "Ingat, pergi berburu nanti benar-benar tidak akan mengecewakanmu!" Setelahnya ia pergi begitu saja. Dami menarik nafas. Ia sempat merasa kasihan pada Victor setelah mendengar tradisi werewolf yang tidak menguntungkan itu, namun berikutnya ia kembali merasa kesal. Kenapa Victor membuat perjanjian yang menyulitkannya sih? - Dami sudah membalas pesan Alice yang mencarinya dan kini sedang menunggu di parkiran. Ia menghembuskan nafas keras, frustasi karena Alice seperti sedang menawannya. Ini lebih buruk daripada dibuntuti oleh Topaz atau bahkan dikurung oleh Jadrian ketika mereka masih tinggal di North Oak. Pasti ada suatu hal yang dikehendaki Alice darinya. Tapi apa itu? Kekesalan Dami menghilang ketika melihat Dael di samping mobil, dan posisi Dael tak jauh dari keberadaan Alice dan Lexa yang sedang menunggunya. Seketika ia mendapat ide. Bukannya menghampiri Alice dan Lexa, ia berjalan menuju ke arah Dael. "Hai, Dael," sapa Dami. "Oh, Dami!" Seru Dael seolah ia telah lama tidak melihat keberadaan Dami. "Sedang apa kau?" Tanya Dami, berbasa-basi. Tak lupa ia melirik ke arah Lexa, memastikan Lexa melihatnya sedang mengobrol dengan Dael. "Aku sedang menunggu Solaris. Dia sedang di ruang guru." Jawab Dael. "Aku dengar soal rencana berburu." Kata Dami tanpa basa-basi, namun dengan nada suara direndahkan. "Oh," Dael tersenyum sedikit. "Kau tahu?" Dami mengangguk. "Tapi sepertinya akan batal karena Jadrian tidak bisa ikut. Dan kami tidak bisa janji pada akhir pekan berikutnya. Aku dan Solaris akan sibuk belajar demi kelulusan dan juga ujian masuk perguruan tinggi." Jelas Dael, terlihat menyesal. "Tetap jadi kok," kata Dami, dan berhasil membuat Dael terlihat kaget. "Jadrian pasti lupa memberitahu kalian. Kita tetap akan berangkat berburu." Jelas Dami. "Kita?" Dael menangkap satu kata yang terdengar tidak cocok dalam kalimat Dami. Dami mengibaskan tangannya, berusaha mengalihkan perhatian Dael. "Coba tanyakan saja pada Topaz." Ujarnya. Sangat sulit untuk berbohong, atau paling tidak menghindar dari kebohongan dengan menyusun kalimat agar tidak membentuk kebohongan. "Jadrian sibuk sekali, dia tidak bisa diganggu. Aku saja diusir jika terlalu dekat-dekat dengannya." Dael mengerutkan dahi. "Dia sibuk apa?" Dami mengedikkan bahu. Dael mengangguk-angguk. "Pasti tentang itu." Ujarnya sambil mengusap dagu, menebak. Giliran Dami yang mengerutkan dahi. "Itu?" "Lupakan saja," Dael mendadak menjadi canggung. Dami terdiam sebentar mengawasi Dael. Masih bertanya-tanya. Apa yang diketahui oleh Dael tentang Jadrian? Entah mengapa Dami merasa yakin Jadrian sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan malah berbagi rahasia dengan Dael. Mungkin Solaris juga sudah tahu. Dami kembali teringat dengan tujuannya menghampiri Dael. Ia mencoba mengabaikan rasa penasarannya terhadap rahasia yang dibagi Jadrian kepada Dael. "Jadi beritahu Solaris jika Jadrian akan ikut," ujar Dami. Dael mengangguk. "Ini melegakan." Ujarnya sambil tersenyum. "Apakah kau punya waktu Sabtu Siang?" Dael mengerutkan dahi. "Mungkin. Ada apa?" "Aku hanya ingin tahu." Ujar Dami yang tidak bisa menahan seringai tipis di sudut bibirnya. - Dami berjalan mendekati Alice dan Lexa yang menunggunya. Alice tentu tidak memiliki ketertarikan terhadap Dael, tapi ia terlihat sangat penasaran. Sementara Lexa tampak sedang menahan kekesalan. "Apa yang kau bicarakan dengan Dael?" Sergah Lexa, jelas ia cemburu sekali. "Dael tadi memanggilku." Jawab Dami walau sebenarnya tidak. "Untuk apa dia memanggilmu?!" Seru Lexa tidak terima. "Dia bilang dia kelebihan tiket bioskop Sabtu siang. Kalian tahu kan film apa yang akan diputar Sabtu nanti?" Lexa bertukar pandang dengan Alice, namun Alice mengangkat bahu. "Dia ingin menonton film itu," Dami melanjutkan kebohongannya. "Dia memesan dua tiket karena mengira Solaris akan ikut bersamanya. Tapi ternyata tidak. Solaris ada kesibukan. Jadinya dia mengajakku." "Jangan bergurau." Desis Lexa, masih tidak menerima kebohongan Dami. "Untuk apa dia mengajakmu dan bukannya mengajakku, hah?" Serunya berang. "Akan kutanyakan kepadanya secara langsung! Dasar sialan, selama ini dia menghindariku dan dengan mudahnya mengajak cewek sepertimu?!" Dami buru-buru menahan Lexa, namun sepertinya tidak perlu karena Alice lebih dulu menahan Lexa. "Ayolah, Lexa." Kata Alice. "Aku tidak ingin melihatmu menjadi tontonan karena memelas pada Dael demi tiket bioskop yang dia bagi pada Dami." "Tapi itu penghinaan!" Seru Lexa. "Aku belum selesai," Dami berkata, membuat kedua gadis cantik dengan tinggi semampai itu menoleh kepadanya yang mungil dan mengenakan tas merah muda. Kontras sekali. "Aku bilang aku tidak bisa ikut jika kalian berdua tidak ikut." Lexa melebarkan rongga matanya. "Tapi Dael menyesal karena dia hanya punya satu tiket saja untuk dibagi. Tapi dia tidak masalah jika kalian berdua ikut pergi nonton." Lexa berdiri tegak, melepaskan diri dari Alice. "Ini bukan ajakan yang kuinginkan. Tidak romantis. Meremehkan sekali." Ujarnya ketus. "Tapi baiklah. Ayo kita beli tiketnya, Alice." "Kau tahu aku akan sibuk Sabtu nanti." Alice tersenyum, pastinya ia senang karena akhirnya sahabat karibnya mempunyai kesempatan untuk dapat bersama dengan Dael. "Kau saja dan Dami." "Tenang saja, Lexa." Kata Dami, ia sangat sedih dengan kebohongannya yang terus berlanjut. "Aku akan berpura-pura sakit perut agar kalian bisa berduaan saja nanti."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN