"Bagaimana harimu?"
Itu hanyalah sebuah pertanyaan biasa namun Dami merasa bertambah gugup. Ia melempar tas sebelum duduk ke sofa. Ia terpaksa membalas tatapan ingin tahu Jadrian yang duduk di kursi kerjanya. Ia seharusnya tidak ke klinik.
Dami mengedikkan bahu. "Seperti biasa." Jawabnya.
"Hmm," Jadrian terlihat berpikir. "Apakah kau sudah bertanya kepada Alice? Tentang rencana akhir pekan ini?" Ia bertanya.
"Yeah, Alice akan menemani ayahnya menghadiri acara," jawab Dami. "Katanya kapan-kapan saja menginap di rumahnya."
"Oh," Jadrian tak terlihat antusias menanggapi. "Begitu ya."
"Bagaimana dengan rencana berburu kalian?" Tanya Dami. "Kau akan ikut kan? Jangan pedulikan aku."
"Tentu aku peduli padamu." Jadrian tersenyum kepada Dami.
"Kalau begitu perbolehkan aku ikut bersama kalian."
Jadrian masih tersenyum, memandangi Dami lekat-lekat. "Pulanglah, aku akan sampai malam di klinik."
Dami menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang sedang kau kerjakan di sini? Kulihat belum ada pasien yang datang."
Jadrian terdiam sesaat. "Aku tidak terlalu berharap," ujarnya. "Lagipula pekerjaan ini hanya sebagai penyamaran. Dan aku hanya melakukan sesuatu untuk membunuh kebosananku."
Dami ingin bertanya apa tepatnya yang dilakukan oleh Jadrian untuk membunuh kebosanan itu, namun mulutnya seperti terkatup rapat.
"Pulanglah," kata Jadrian sekali lagi.
Sensasi yang menahan Dami memudar. Dami menyadari jika Jadrian baru saja melakukan sesuatu kepadanya. Ia mengerjap kebingungan.
"Ba... baiklah," Dami mengambil tasnya lalu beranjak pergi, nyaris tergesa-gesa meninggalkan klinik. Ia bahkan lupa untuk pamit pergi.
Ia berjalan menuju gedung apartemennya dengan mata berkaca-kaca. Ia bukannya cengeng, tapi ini pertama kalinya Jadrian melakukan sesuatu kepadanya dengan kemampuan Vampir. Jadrian baru saja membungkamnya, mengusirnya.
Itu rasanya kejam.
Seketika ia menyadari jika ia dan Jadrian benar-benar berbeda. Dia hanyalah manusia dan Jadrian seorang Vampir. Saudaranya adalah seorang Vampir. Dan dia bukan Vampir lagi. Ini fakta yang aneh dan seperti baru saja ia pikirkan saat itu.
"Nah," suara Topaz terdengar mengikuti Dami. Tapi si Vampir tidak terlihat di mana-mana.
Dami mengatur nafasnya, ia berhasil tidak meneteskan air mata sama sekali. Lagi pula untuk apa dia sampai menangis?
Kecewa? Marah? Cih, dia sungguh seorang manusia yang lemah.
"Kita mulai darimana?" Tanya si pemilik suara bariton yang tidak menunjukkan wujud.
Dami menarik nafas. Dadanya terasa sesak.
"Aku sudah tanya pada para wolfie," kata Topaz karena Dami belum juga menjawab pertanyaannya. "Jika mereka bertiga mungkin tidak punya waktu kosong untuk pekan berikutnya. Mereka bertiga tidak dapat berjanji. Solaris dan Dael. Katanya mereka sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi."
Dami mengangguk-angguk mendengar informasi itu. "Aku sangat ingin ikut bersama dengan kalian." Katanya.
"Tapi Jadrian menganggap hal itu akan berbahaya bagimu."
"Apakah menurutmu akan berbahaya?" Dami balik bertanya.
Topaz tidak langsung menjawab. Ketika Dami sudah memasuki Gedung DF, Topaz sudah berjalan di sampingnya.
"Kurasa terlalu berlebihan jika menganggap hal itu berbahaya." Akhirnya Topaz menjawab.
Dami mengangguk puas mendengarnya.
"Tapi akan lebih baik jika kau tidak ikut. Lebih baik lagi kau berakhir pekan di rumah Alice. Jadrian pasti akan tahu jika kau berbohong. Kau bahkan belum bertanya kepada Alice."
"Meskipun akhir pekan Alice kosong, aku tetap tidak akan mau menginap di rumah gadis itu."
"Kenapa?"
Dami sedikit ragu untuk menjawab. "Aku meragukan dia." Katanya.
Mereka berdua berdiri di depan lift, menunggu. Dan ia merasakan sorotan aneh Topaz kepadanya.
"Kenapa?" Tanya Topaz.
"Aku merasa tidak nyaman bersama dengannya," jawab Dami. "Yah, dia memang orang pertama yang mengajakku berteman. Tapi... aku merasa.... Dia seperti menginginkan sesuatu dariku.
"Menarik," komentar Topaz.
"Tidak menarik," gerutu Dami kesal. Ia masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka. Topaz menyusulnya. Mereka berdua menunggu sampai lift mengantarkan mereka pada lantai apartemen mereka.
"Aku akan tetap ikut," kata Dami. Ia bahkan terkejut mendengar pernyataannya sendiri. Ia kedengaran keras kepala ya?
"Aku akan mencoba mendekati Lexa. Aku akan mencoba mengajaknya keluar di hari Sabtu, entah bagaimana caranya." Kata Dami. "Dan setelahnya... Bisakah kau mengurusnya untukku?"
Ia bisa merasakan tatapan Topaz dari pantulan pintu lift.
"Kau hanya perlu menghipnotis Lexa." Kata Dami, tenggorokannya terasa tercekat. Ia seperti sedang mengajukan ide paling mengerikan.
"Kau ingat bagaimana rasanya menghipnotis, Dami?"
Dami sedikit terkejut mendengar pertanyaan Topaz. Benar-benar tak terduga.
"Entahlah. Dulu aku masih sangat kecil."
"Cobalah, kau pasti mengingatnya." Kata Topaz.
"Aku benar-benar sudah lupa," Dami tidak ingin berusaha mengingat. Baginya masa lalunya sebagai Vampir hanya diisi kenangan indah bersama Jadrian. Tidak lebih.
Dami melihat Topaz tersenyum di pantulan pintu lift.
"Yah, mungkin kau memang tidak perlu mengingatnya." Kata Topaz dan setelahnya pintu lift terbuka. Mereka sampai di lantai apartemen yang mereka tuju.
--
Dami diliputi rasa gelisah. Ia masih memikirkan kata-katanya kepada Topaz. Ia baru saja meminta Topaz untuk menghipnotis Lexa. Bukankah itu kedengaran gila? Apakah dia serius akan membuat Lexa berkencan dengan Victor? Bukankah hal itu salah?
Ia mencoba mengabaikan kegelisahannya dengan menyibukkan diri menyelesaikan tugas sekolahnya. Namun tahu-tahu saja... dia sudah tertidur.
-
Ia berada di balik jeruji besi. Tempat itu gelap namun terselamatkan oleh sinar bulan yang merembes masuk dengan bentuk garis segitiga. Lalu terdengar suara tapak kaki berjalan turun. Debu-debut terlihat di dalam area sinar bulan. Sekelebat sosok itu lewat di depannya. Ia nyaris terkejut sampai-sampai mundur selangkah.
Ya, tentu saja ia bisa merasa takut. Ia sangat takut dan hampa berada di tempat asing tanpa ada Jadrian di sisinya.
Orang itu berjubah hitam, dan sedang melakukan sesuatu dalam kegelapan. Dia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh orang berjubah hitam itu di sana.
"Kau siapa?" Ia bertanya, suara anak kecil yang terdengar polos namun berani.
Kata Jadrian, ia harus berani karena itu lebih baik daripada menjadi penakut.
Pria itu berhenti bergerak, namun masih memunggunginya.
"Kau siapa?" Suara kecil yang polos itu mengulang.
Pria itu bergerak, membalikkan tubuh.
Seketika ia mundur selangkah.
Wajah orang itu pucat kelabu dan keriput, seperti daging membusuk yang menjijikan. Pasang mata hitamnya pekat, memenuhi rongga mata. Seolah matanya telah ditetesi tinta hitam, menghapus sklera dan bagian rongga matanya yang lain.
Menyeramkan.
"Aku adalah Pamanmu."
Suaranya berat dan seperti menggantung di udara yang dingin.
Orang itu tersenyum mengerikan, memamerkan deretan gigi taring.
-
Dami tersentak bangun. Nafasnya terengah-engah seolah ia baru saja berada di tempat gelap dalam mimpinya itu. Rasa takut masih menempeli sekujur tubuhnya yang menggigil. Ia memeluk dirinya sendiri.
Mimpi itu terasa nyata. Rasa dingin ruangan. Rasa takutnya. Ia bisa merasakannya segalanya dengan jelas.
Tapi itu semua hanya mimpi kan?
Dami menenangkan dirinya.
Hanya mimpi. Kau baik-baik saja.
Apakah mimpi itu adalah bagian dari kenangan masa lalunya?
Mungkin saja.
Dan itu artinya orang dalam mimpinya adalah si penculik.
Kemudian, ia teringat. Tak berapa lama Jadrian pernah mengatakan jika mereka memiliki Paman.
Sementara makhluk menyeramkan itu menyebut dirinya sebagai Paman.
Mustahil itu hanya kebetulan.
Dami tidak pernah memikirkan anggota keluarga selain Jadrian. Kadang-kadang ia ingat secara samar-samar ibu dan ayahnya. Tapi selama ini hanya ada dia dan Jadrian saja. Mereka sudah bertahan hidup hingga sejauh ini.
Dan ia tahu secara pasti.
Tidak mungkin kan anggota keluarga melukai keluarganya sendiri?