22

1559 Kata
Dami mengembuskan nafas kesal. Beban pikirannya bertambah. Ia tidak menyangka pembicaraannya dengan Victor akan berakhir seperti ini. Bocah sombong yang menyebalkan. Apakah Victor sedang memperalatnya? "Menjadi manusia agak sulit ya?" Dami tidak terkejut dengan kehadiran Topaz. Si Vampir bergabung duduk di sebelahnya. Topaz memang bisa muncul kapan dan di mana saja asalkan bukan di bawah terik sinar matahari. Dan saat ini Dami menyendiri di ruang kelas yang masih kosong. Ia memang butuh waktu menyendiri untuk memikirkan syarat mustahil yang diajukan oleh Victor. Dan ia tidak mengerti mengapa ia memikirkan rencana itu. Ia terlalu berputus asa. Payah. Dami menoleh, memandang Topaz. "Kau bisa membantuku?" Ia bertanya meski sudah tahu jawaban Topaz. "Jadrian tidak akan mengizinkanmu," kata Topaz telak, tak lupa menyeringai. "Kenapa sih kau penasaran sekali?" Dami mengedikkan bahu. "Memangnya ketika kau masih manusia kau tidak penasaran?" Topaz ber-oh panjang lalu mengangguk-angguk. "Rasa penasaran adalah salah satu sifat berbahaya yang dimiliki oleh manusia." Ujarnya. "Saran dari mantan manusia yang berpengalaman adalah... abaikan rasa penasaranmu dan berjalanlah di dalam batasmu." Nasihatnya sambil menggerakkan dua jarinya di udara yang mengisyaratkan sebagai langkah kaki. "Kau yakin tidak ingin menunjukkan kegiatan kalian kepadaku?" Tanya Dami. "Kau tidak bisa merayuku, Nona." Seringai Topaz semakin lebar. "Lalu bagaimana jika Jadrian tidak bisa ikut karena harus menjagaku di rumah?" Tuntut Dami. "Yah... kami bisa melakukannya lain kali." "Oh ayolah, Topaz... Apakah kau ingin menunggu lagi? Satu pekan? Dan bagaimana jika aku tidak bisa ditinggal oleh Jadrian?" "Alasanmu lucu sekali," Topaz menilai. "Yah, kuakui jika Jadrian memang terlalu berlebihan. Dan itu menyebalkan sekali..." "Nah, apakah kau ingin membiarkannya bersikap begitu terus-menerus kepadaku?" Tuntut Dami, setidaknya ia mencoba. Topaz mengedikkan bahu tidak peduli. "Begini..." Dami melirik ke sekitar ruangan kelas yang masih kosong. Ia merendahkan suaranya. "Bagaimana jika kau membantuku?" "Seperti apa? Lagi pula tidak ada cara untuk membantumu." "Rayulah dia. Jadrian adalah sahabatmu puluhan tahun kan?" Topaz memandang Dami dengan dahi berkerut. "Oh ayolah, Topaz. Satu kali saja... berpihaklah kepadaku..." Pinta Dami. "Sejujurnya aku tidak peduli jika kau berniat pergi bersama kami, tetapi Jadrian tetap tidak akan setuju meski aku memberikan pandangan kepadanya untuk memperbolehkanmu." Kedua bahu Dami turun karena lemas, ia mengakui pendapat Topaz. Namun tak berapa lama ide baru muncul di dalam kepala Dami. "Ada satu lagi!" Bisiknya tertahan. "Yah, kuakui manusia memang punya banyak ide konyol..." Kata Topaz, mendesah jengkel. "Tolong dengarkan aku!" Pinta Dami. "Ya, Nona. Kumohon bukan ide yang membuatku harus berlutut pada Jadrian." "Oh tentu tidak..." Kata Dami setengah jengkel. "Bantu aku mewujudkan syarat Victor!" Topaz mengatupkan mulutnya, kerutan di dahi seperti bertambah sampai pasang alisnya nyaris bertaut. "Bocah mata ungu itu?" "Ya. Syaratnya hanyalah membuat Victor dapat berkencan dengan Lexa. Kau tahu Lexa? Gadis berkulit cokelat yang cantik itu," kata Dami. "Dami," Topaz menghela nafas. "Kau ingin merusak citraku sebagai Vampir? Aku bukan biro jodoh." Ujarnya dengan ekspresi terhina. "Tapi... Kau adalah Vampir... Kau bisa menghipnotis kan?" Tanya Dami. Topaz menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau pikir Victor bisa memenuhi janjinya? Bagaimana dia bisa mempengaruhi Jadrian? Sementara aku saja tidak mampu melakukannya." Ia menggerutu jengkel. "Aku juga tidak tahu, tapi Victor terlihat sangat menjanjikan," kata Dami, mengedikkan bahu. "Ayolah, Topaz... mungkin ini bisa berhasil. Kau benar-benar tidak mau bersenang-senang akhir pekan ini?" Si gadis manusia masih terus mencoba merayu Topaz. Topaz menggaruk-garuk sebelah rahangnya dengan telunjuk. Dami bisa melihat Topaz mulai tergoda dengan permohonannya. "Kau sudah mulai mencoba memanfaatkan aku ya?" Dengus Topaz, melirik Dami dengan sorot tajam. "Tidak..." Dami menjadi salah tingkah. "Ini demi Jadrian agar tidak merusak rencana kalian..." "Hmm, baiklah." Dami membelalakan matanya dengan persetujuan Topaz yang kedengaran cuma-cuma. "Kau serius?!" "Yeah... Aku tidak ingin rencana akhir pekan ini rusak gara-gara Vampir yang suka cemas berlebihan itu..." "Oh, terima kasih, Topaz!" Dami rasanya ingin memeluk Topaz karena begitu senang, tapi dia berhasil menahan diri. Dan tepat ketika dering tanda pelajaran berikutnya di mulai, pintu kelas membuka lalu murid-murid mulai memasuki kelas. Topaz pun telah menghilang dalam sekejap mata tanpa pamit pada Dami. "Rupanya kau di sini?" Alice bergerak duduk di sebelah Dami. "Darimana saja kau?" Lexa menyusul duduk di sebelah Dami yang lain, sembari melemparkan pelototan jengkel ke arah Dami. "Kau tahu Alice mencarimu kemana-mana?" "Eh... Maaf, aku sedang ingin menyendiri..." Dami beralasan. Tapi ternyata alasannya mengundang lebih banyak pertanyaan. "Apakah terjadi sesuatu di rumah?" Tanya Alice. "Eum, tidak ada..." Dami mengibaskan kedua tangannya, tertawa hambar. "Menurutku sih tidak mungkin. Dia punya kakak laki-laki memesona yang mungkin tidak akan pernah membuat masalah..." Kata Lexa dengan senyum menyeringai. "Guru sudah datang," Dami menyela agar perhatian mereka berdua teralihkan. - Dami tidak begitu fokus selama jam pelajaran. Ini sangat lucu, pertama kali ia menapakkan kaki di Burdenjam ia sudah berjanji kepada dirinya agar fokus dalam belajar. Ia ingin memiliki cita-cita. Namun sekarang perhatiannya teralihkan pada persoalan sederhana yang disebabkan oleh rasa ingin tahu. Sampai-sampai ia merasa tidak betah duduk diam sepanjang pelajaran berlangsung karena memikirkan ide agar ia dapat pergi berburu bersama para makhluk bukan manusia. Dia benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali selama memikirkan rencana ini. Seolah... dia belum mengetahui bahaya yang mengancam dirinya sebagai manusia. - "Nah, bagaimana rencananya?" Kejar Topaz ketika jam pulang, dan saat itu Dami sedang mengendap-endap untuk menghindari Alice. "Kau mengagetkanku," desis Dami kesal. Ia segera menyelesaikan pesan teks untuk dikirim kepada Alice, menjelaskan jika dia punya kesibukan tiba-tiba sehingga tidak dapat pulang bersama. "Apakah kau tahu dimana Victor?" Tanya Dami pada Topaz. "Hmm, tak jauh dari sini." Jawab Topaz. "Oke, ayo bertemu dengannya!" - Dami sedikit ragu ketika akan mendekati Victor karena saat itu Victor sedang bersama dengan ketiga gadis yang menyenangkan itu, yang tak lain tak bukan adalah Aoi, Aimee dan Daisy. "Hai," sapa Dami gugup. Victor seketika tersenyum sumringah melihat kedatangan Dami, ia pasti sudah menunggu-nunggu hal ini. "Hai, Dami," balas Aoi ramah. "Ada apa?" "Kau tidak pulang bersama teman-temanmu?" Tanya Aimee sinis. "Baru saja kulihat mobil mereka pergi." "Oh ya, aku tidak pulang bersama dengan Alice," jawab Dami. "Kau mau pulang bersama kami?" Tawar Aoi yang terdengar baik hati. Dami sedikit tergoda untuk bisa bergabung dengan Aoi, namun rasanya akan sulit jika Alice tahu ia malah pulang bersama dengan mereka bertiga. "Oh begini..." Kata Dami. "Teman-teman, kalian bisa pulang duluan. Aku dan Dami ada sedikit urusan," akhirnya Victor membuka suara. Seketika ketiga gadis itu menyorotkan tatapan penasaran pada Victor. "Oh ya aku baru ingat jika Dami mengenal kedua saudaramu. Itu artinya kalian berdua juga saling kenal kan?" Tebak Aimee. "Yap, kami berdua pernah bertemu di masa lalu, tapi tak cukup saling mengenal," jawab Victor mengakui. Dami malah terlihat kebingungan. Ia tidak ingat jika pernah bertemu dengan Victor di masa lalu. Tapi mungkin Victor hanya sedang berbohong agar dapat menghilangkan kecurigaan mereka bertiga. "Ya kan?" Victor menoleh pada Dami tiba-tiba, meminta konfirmasi. "Eh, ya..." Jawab Dami segera. "Hmm kalau begitu kami pulang lebih dulu," kata Aoi. "Ya, hati-hati," kata Victor. "Aku dengar Eksisten bukan manusia semakin sering terlihat. Perhatikan langkah kalian. Khususnya kau, Daisy. Vampir suka sekali darah cewek rambut merah." "Hei!" Seru Daisy kesal bercampur ngeri. "Dia hanya bercanda, Daisy." Aimee segera merangkul bahu Daisy. "Lagi pula jika memang ada Vampir yang mencoba menyentuhmu, aku akan membereskannya untukmu. Ingat, aku adalah keturunan Hunter." Dami menunggu sedikit lebih lama sampai ketiga gadis itu pergi meninggalkan Ruang Loker. Tepat setelahnya Topaz muncul di sebelah Dami. "Oh, kau tidak sendirian?" Tanya Victor, sedikit kaget dengan kehadiran Topaz. Dami mengedikkan bahu sambil melirik pada Topaz sebentar. Ia tidak dapat mengartikan ekspresi datar di wajah Topaz. Tapi Topaz sudah setuju untuk membantunya, dan Topaz bukan tipe orang yang mudah ingkar janji. Semoga saja. "Aku menemuimu untuk memastikan kau serius dengan janjimu." "Wah, apakah kau sudah meminta Lexa untuk berkencan denganku?" Victor terlihat bersemangat. "Tidak," jawab Dami. "Belum..." Tambahnya. "Dan kupikir Lexa tentu tidak akan mau." "Yah, aku tahu itu." Dengus Victor, tertawa kecil. "Tapi jika aku berhasil membuatnya setuju berkencan denganmu, apakah kau benar-benar bisa mengajakku ikut dalam perburuan akhir pekan ini?" Tanya Dami. "Tentu saja," jawab Victor ringan. "Kau belum mengenal Jadrian... Dia sangat sulit dipengaruhi..." Kata Dami, menguji Victor. Victor malah tertawa. "Kau belum mengenalku dengan baik, persoalan melanggar aturan adalah favoritku." Dami membelalakan mata. Melanggar aturan, hah? Namun ia tidak dapat mundur lagi. Maka ia teruskan saja. "Tapi aku belum mempercayaimu. Seberapa besar peluangku untuk dapat ikut?" Tanya Dami. "Hmm," Victor mengusap dagunya. "Sekitar 99.9%..." Dami membelalakan mata. "Kau serius?!" "Ya, sudah kubilang kan? Bayarannya hanya dengan membuat Lexa mau berkencan denganku." "Tapi itu mustahil!" Seru Dami. "Memangnya ini masuk akal? Gadis manusia seperti dirimu mau ikut dalam perburuan kami. Tentu lebih mustahil." Tantang Victor. Sial. Itu artinya ikut dalam perburuan juga sama mustahilnya. "Cobalah membuatnya menjadi tidak mustahil. Maka kau bisa jalan-jalan berburu dengan kami. Kau tidak mau melihat transformasi Solaris dan Dael? Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi jika ingin dekat-dekat dengan werewolf, Solaris dan Dael adalah werewolf paling jinak dan tentu saja paling menawan. Kau akan suka." "Wah, ini menggoda..." Celetuk Topaz. "Aku tidak pernah dekat-dekat dengan Werewolf. Mereka selalu bergerombol. Tapi ini menarik sekali." "Yeah, tentu saja!" Victor menyengir lebar. Dami menghela nafas. Ia juga tergoda dengan kata-kata Victor. Rasa ingin tahunya seperti meledak-ledak dalam dirinya. Dia ingin melihat werewolf yang sesungguhnya dalam wujud transformasi! "Baiklah, akan kucoba," kata Dami, melirik sekilas pada Topaz. "Tapi jika aku berhasil, sementara kau gagal mengajakku, maka aku akan menuntutmu." Victor malah tertawa sambil mengibaskan tangannya. "Kau pasti bisa ikut, asalkan kau mewujudkan permintaanku. Kau urus bagianmu, maka aku akan urus bagianku. Oke?" "Oke."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN