21

2063 Kata
Dami baru saja selesai membuat sarapannya sendiri. Ia membawa piring sarapan dan minumannya ke sofa ruang tengah, lalu menikmati sarapannya di depan telivisi yang tidak ia nyalakan. Sambil mengunyah roti panggang berlapis selai stroberi, ia mengamati sekitarnya. Pandangannya terhenti pada jendela yang terbuka, mempersilakan sinar matahari pagi menerobos masuk. Sunyi senyap. Dami tak terlalu bersemangat mengunyah makanannya. Seperti ada yang salah. Entahlah. Hanya saja terasa sepi. Dan ini rasanya salah. Atau... Dia hanya belum terbiasa. Lalu, bagaimana dirinya selama sepuluh tahun lalu? Bagaimana dia bisa tumbuh besar sebagai manusia tanpa Jadrian di sisinya? Ini terasa mengerikan. Ia seperti sedang meminjam tubuh manusia yang tidak ia kenal. "Kau siapa?" Tanpa sadar Dami bertanya sambil memandang pantulan dirinya di layar hitam telivisi. Kau adalah Dami Alan. Namun Dami ingin menyangkal. Aku adalah Vampir. Dulu. Dan sekarang aku siapa? Dami menghela nafas. Ia segera membereskan sarapannya ke dapur. Kemudian ia mengambil tas dan jaketnya, ia akan menjalankan hari barunya lagi. -- Dami tahu ia terlalu pagi untuk ke sekolah. Maka ia berhenti di depan sebuah gedung kecil. Gedung itulah yang digunakan Jadrian sebagai mata pencaharian barunya di kota ini. Seorang Vampir membuka praktik sebagai dokter gigi. Konyol? Ya. Memang sulit dipercaya. Tapi jika orang-orang mengenal Jadrian, siapa saja akan setuju jika Jadrian bisa melakukan apa saja. Ia mengetuk pintu klinik sebelum masuk. Di dalam klinik, ia memandang ke sekeliling ruangan yang bersih dan beraroma 'steril', tidak terlihat adanya tanda-tanda keberadaan seseorang. "Jade?" Panggil Dami. Ia tidak mendapatkan sahutan. Ia memasuki kantor Jadrian, mendekati meja kerja. Ia memandang komputer yang menyala. Kira-kira... Apa yang sedang dicari-cari oleh Jadrian? Dami melirik ke pintu, masih tak terlihat kemunculan Jadrian. Ia memandang kembali pada komputer. Kemudian ia bergerak duduk di depan komputer, membuka riwayat pencarian. Seperti yang sudah ia duga, ia tidak menemukan apa pun yang menarik. Memangnya apa yang ia harapkan? Dami mengembuskan nafasnya. Ia berputar-putar di atas kursi sambil memandang langit-langit. Tentu tidak semudah itu mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh Jadrian. Jadrian adalah Vampir berusia satu abad yang sangat waspada. Meninggalkan riwayat pencarian tentu saja adalah hal kecil yang tidak mungkin dilakukan oleh Jadrian. Padahal ia sangat ingin tahu apakah Jadrian sedang mencari tahu tentang penangkapan yang terjadi pada dirinya. Selama ini Jadrian tidak terlalu berniat menyinggung sepuluh tahun yang terlewat itu. Tapi Jadrian selalu menempatkan Topaz di sisi Dami. Apakah dia sedang dalam bahaya? Oh, tidak. Apakah dia masih dalam bahaya? Berikutnya Dami mendengus geli. Gagasan jika ia sedang dalam bahaya terasa aneh. Dia merasa baik-baik saja selama ini. Setidaknya ketika ia mengetahui jika ia seorang manusia. Tapi tetap saja itu mengganggunya. Pada hari Jadrian menemukannya, dia tidak terlalu terkejut pada dirinya yang telah menjadi manusia. Seolah... dia sudah terbiasa. "Apa ada yang lucu?" Dami nyaris terlonjak dari duduknya, Jadrian sudah berada di sebelahnya, tersenyum lembut. "Kau mengejutkanku," kata Dami, mendengus jengkel. "Maaf kalau begitu," Jadrian tetap menahan senyum. "Apa yang sedang kau pikirkan?" "Rahasia," kata Dami. Jadrian menunjukkan sorot aneh kepada Dami. "Dami," panggilnya. "Ya?" "Kau akan memberitahuku jika ingatanmu kembali kan?" Dami terdiam sesaat sebelum menjawab. "Ya. Tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum. Memang itu yang ia inginkan. Dia ingin mengingat segalanya. "Kau tidak perlu memaksakan dirimu," seperti biasa Jadrian mampu menebak isi pikirannya. "Untuk saat ini, kau hanya perlu berfokus pada masa sekarang, dan juga masa depanmu." Dami mengangguk saja. Jadrian selalu tahu cara untuk membuatnya merasa tenang. Tapi ia penasaran, apakah Jadrian benar-benar tidak ingin mendesaknya? "Hmm, Dami... Kapan kau akan menginap di rumah Alice?" Tanya Jadrian, ia bersandar pada pinggiran meja kerjanya. "Entahlah," Dami mengangkat bahu. "Alice memang mengundangku tapi sampai sekarang dia belum mengumumkan tanggal ajakan itu." Ia menahan diri untuk tidak menunjukkan kejengkelan. Memahami Alice adalah hal yang sulit. Seandainya ia bisa lepas dari gadis populer itu, tentu ia akan sangat bersyukur. Tapi Alice tetap berada di sekitarnya, mengawasinya lekat-lekat seolah tak ingin dia pergi jauh-jauh. "Ada apa?" Tanya Dami kemudian ketika menyadari Jadrian terlihat sedang berpikir. "Bocah-bocah wolfie mengundangku melakukan perburuan akhir pekan ini," Jadrian menjawab setelah ragu sejenak. "Wah!" Dami membelalakan mata. Perburuan? Kedengaran mengasyikkan. "Tentu perburuan bukan dengan senapan angin kan?" Ia cekikikan. Jadrian tersenyum. "Tentu saja tidak." "Jadi para werewolf itu akan menunjukkan tranformasi mereka?" Tanya Dami penasaran. Jadrian mengangkat bahu. "Mungkin. Entahlah. Tapi aku ragu untuk ikut." "Kenapa?" "Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di rumah." "Oh," Dami mengerjapkan mata. Ia nyaris lupa jika ia berbeda dari mereka. "Tapi kau bilang Alice berniat mengajakmu menginap di akhir pekan. Jika kau pergi menginap, mungkin aku bisa ikut berburu." "Tidak bisakah aku ikut bersama kalian?" Jadrian mendengus geli. "Ya ampun, Dami." Ujarnya. "Aku tahu kau merasa nyaman bersama kami. Tapi kau harus ingat jika 'kami' tidak selalu nyaman dengan keberadaan manusia." Katanya. "Hei, bukankah kau mempercayai saudara Wern?" Tanya Dami heran. "Ya, tentu saja." "Tentu mereka tidak akan macam-macam kepadaku." "Dami..." "Ayolah, Jade... Pasti seru melihat kalian berburu..." Rayu Dami. Dia penasaran dengan wujud transformasi para werewolf. Selama ini ia tidak pernah melihat werewolf dalam jarak dekat. "Tidak," kata Jadrian tegas. Dan pembicaraan itu berakhir. Dami menahan diri dari kekecewaannya. Untunglah perhatiannya teralihkan pada dering ponsel. "Alice," ia memberitahu Jadrian ketika foto wajah Alice yang memesona menari-nari di layar ponselnya. Dia memandang si Vampir dengan sorot gelisah. "Alice datang menjemputku." __ Dami merasa sangat konyol. Tapi dia benar-benar merasa khawatir dan cemas karena Alice lagi-lagi menjemputnya untuk pergi ke sekolah. Dan Jadrian mau-mau saja menemaninya menunggu di depan klinik. Ini pertama kalinya Jadrian dan juga kedua temannya akan saling bertemu. Entah mengapa hal ini membuat Dami semakin gelisah. Lalu sedan mewah berwarna merah mengilap berhenti di depan mereka berdua. Alice dan Lexa keluar dari dalam mobil. "Hai!" Sapa Alice, dia tampak cerah, kulitnya seperti bersinar di bawah sinar mentari pagi. Mata hijaunya bercahaya bagaikan mutiara zamrud. Bibirnya yang berwarna membentuk ukiran senyum yang menawan. "Jadi, ini kakakmu?" Tanyanya sambil memandang Jadrian. "Ya, ini Jadrian," Dami memperkenalkan Jadrian dengan kikuk kepada Alice dan Lexa. "Jade, mereka adalah kedua teman yang kuceritakan. Alice dan Lexa." "Halo!" Seru Lexa antusias. "Dami sudah memperlihatkanmu dari foto, tapi sesuai dugaanku, kau lebih tampan secara nyata." Jadrian tersenyum geli. "Terima kasih. Dan kalian berdua bagaikan bidadari surga. Sangat menawan." Dami menahan diri mendengar basa-basi Jadrian. Perutnya mual dan entah merasa malu. "Terima kasih," Alice dan Lexa cekikikan mendengarnya. Berbeda dengan Dami, keduanya terlihat suka mendengar basa-basi kuno Jadrian. "Pria yang sangat sopan, aku suka!" Bisik Lexa terang-terangan pada Alice. "Kuharap Dami menceritakan hal baik tentang kami kepadamu," kata Alice dan membuat perut Dami kembali bergejolak. Alice seolah menangkap basah dirinya. Tentu ia sudah mencurahkan segala isi hatinya kepada Jadrian dan bahkan menyebut Alice sebagai Vampir karena keanehan gadis itu. Semoga saja semua hal itu masih bisa dianggap 'hal baik'. "Ya, aku senang ketika mendengar Dami sudah mendapatkan teman dalam pekan pertamanya bersekolah di Caranige," Jadrian tersenyum. "Kurasa aku harus berterima kasih kepada kalian. Kalian tahu? Dami cukup cemas sebelumnya." "Sama-sama," ucap Alice, tentu dengan mudahnya mempercayai apa pun kata Jadrian yang terdengar tulus. Memang ada untungnya punya saudara seorang Vampir, batin Dami lega. "Ck, Dami. Aku semakin iri kepadamu. Kakakmu terlihat sangat baik dari seharusnya. Lelaki tampan dengan perilaku baik, yah, aku lebih suka pria b******k yang menawan, tapi sepertinya aku harus mulai memikirkan pilihanku." Celoteh Lexa. Jadrian hanya tersenyum melihat tingkah Lexa yang terlihat apa adanya. Dami penasaran kesan apa yang didapat Jadrian ketika melihat kedua teman barunya. "Oh, ini klinikmu ya?" Lexa mencetus sambil memandang ke bangunan di belakang Dami dan Jadrian. "Ya, jika kalian membutuhkan jasaku, datanglah ke klinikku kapan saja." "Pasti!" Seru Lexa. "Walau gigiku sudah sempurna dan aku merawatnya dengan sangat baik." "Bagus sekali," puji Jadrian. "Yap, aku memang harus merawat diriku karena aku adalah seorang putri." "Bisa kulihat dan memang benar." "Kami harus segera berangkat," Alice sepertinya tahu kapan untuk menghentikan celotehan tidak penting Lexa sebelum benar-benar merepotkan Jadrian. "Nah, ayo, Dami." "Y-ya. Aku berangkat, Jade." Pamit Dami pada Jadrian dengan kikuk. Lucu sekali, ia seperti memainkan lakon dengan dialog basa-basi yang menyebalkan. "Ya. Semoga hari kalian menyenangkan." Balas Jadrian. __ "Oh, ini pertama kalinya aku merasa iri padamu!" kata Lexa yang masih menjerit-jerit kesenangan akibat pertemuannya dengan Jadrian. "Aku merasa kakak laki-lakimu menjadi satu-satunya pria paling sempurna yang ada di dunia! Oh Tuhan, aku sampai melupakan wajah Dael!" Dami menahan tawa melihat tingkah Lexa, lucu sekali melihat Lexa yang telah terpesona pada Jadrian. "Apakah kalian hanya tinggal berdua?" Tanya Alice, melirik Dami melalui pantulan cermin di atas kemudi. Dami mengerutkan dahi, merasa heran dengan pertanyaan Alice. "Ya," jawab Dami. "Tentu saja, hanya kami berdua." Ia memutuskan untuk tidak menyebut Topaz. "Oh," Alice mengangguk dengan ekspresi datar. Apakah Alice tidak terpengaruh dengan aura Vampir Jadrian seperti Lexa? Alice terlihat biasa-biasa saja. __ Selepas pelajaran Dami berhasil kabur dari jeratan Alice. Ia berlari mengejar pria bertubuh ceking yang dikenalnya beberapa hari yang lalu. "Hai!" Dami berhasil menyamakan langkahnya dengan Victor Wern, salah satu dari tiga bersaudara Wern. Si pemilik pasang mata ungu menoleh kaget pada Dami. "Ha... Hai." "Kau... ingat aku kan?" Tanya Dami. "Ya," jawab Victor, tampak kikuk sambil melirik ke sekitar mereka. "Bagus, ada yang ingin kutanyakan padamu," namun Dami melihat kemunculan Alice dan Lexa tak jauh dari tempatnya. Ia segera menarik lengan Victor, membawanya masuk ke dalam sebuah ruang kelas yang sudah kosong. Ia menutup pintu dengan panik sebelum Alice dan Lexa benar-benar melihatnya. "Apa-apaan kau?" hardik Victor dengan nada jengkel. Dami berbalik, menyengir lemah pada pria yang menunjukkan ekspresi jengkel kepadanya itu. "Maaf, kupikir pembicaraan ini akan bersifat rahasia." "Rahasia?" Ulang Victor. "Ya, aku dengar kalian mengajak Jadrian untuk pergi berburu di akhir pekan," Dami tak bisa menutupi rasa antusiasnya. "Bisakah aku ikut bersama kalian?" Victor mengerutkan dahi. "Untuk apa kau ikut bersama kami?" tanyanya heran. Dami tak tahu harus memberikan alasan apa pada Victor. Ia mengira berurusan dengan Victor pasti akan lebih mudah karena Solaris dan Dael tentu lebih memilih mendengarkan persetujuan Jadrian meski dia sudah memohon. "Itu... Karena aku sangat ingin pergi bersama kalian," kata Dami, terdengar putus asa. Ia tidak punya alasan valid selain rasa ingin tahunya. Seketika Victor tertawa sinis. "Hmm, Nona Manusia, kurasa itu ide buruk," ujarnya. Pemuda itu melipat tangan di muka tubuh, menyorotkan tatapan aneh pada Dami. Dami merasa tidak nyaman dengan sorot mata Victor. Victor seperti sedang mencoba membaca isi kepalanya. Dami berusaha memutar otak, ia harus bisa pergi bersama dengan mereka akhir pekan ini, ia tidak punya keinginan apa pun selain itu. Rasa bosannya menjadi manusia dan keinginannya untuk sering berada di sekitar Jadrian mendorongnya. "Ayolah, aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan di sana." "Bukankah sudah jelas? Kami akan berburu," kata Victor. "Atau kau ingin menjadi mangsa perburuan kami?" Seketika Dami membelalakan mata. "Ku... Kupikir kalian bukan werewolf yang suka memakan manusia...." Ujarnya gugup dan ragu. "Ya kan?" Victor malah tertawa. "Memang benar eksistensi werewolf sudah banyak mengalami perubahan, khususnya dari segi pilihan makanan. Bersyukurlah karena werewolf modern sudah mulai mengikuti perkembangan zaman. Tapi mereka masih memiliki naluri alamiah mereka sebagai werewolf. Dan itu tidak akan pernah bisa berubah. Kau tahu kan? Apa yang mereka pikirkan pada manusia? Manusia adalah makanan terlezat!" Dami terdiam dengan mulut ternganga, memandang Victor dengan penuh kengerian. "Jadi... Kalian... Pernah memakan... Manusia?" Namun bukannya menjawab Victor malah mendengus geli. Entah mengapa Dami merasa tersinggung. Victor seperti sedang menakutinya. Bocah ini gila, pikir Dami. Jahat. Dingin. Menyebalkan. Dia hanya ingin meminta bantuan tapi bocah ini mengancamnya. Seharusnya ia tidak meminta bantuan. "Ya ampun, apa kau sebegitu penasarannya dengan perburuan kami?" Victor cekikikan. "Yah, kami memang terlihat jinak sih." "Mungkin Jadrian tidak akan pergi," kata Dami. "Kenapa?" Tanya Victor heran. "Karena..." Dami mengedikkan bahu. "Kurasa Jadrian akan lebih memilih menjagaku daripada pergi." "Begitu? Yah... Tidak masalah. Kami bisa mengajaknya di lain waktu." "Hei, Jadrian cukup sibuk. Dia punya banyak pekerjaan..." "Pekerjaan?" Victor terlihat meragukan. "Pekerjaan apa?" "Mana kutahu. Pekerjaan Vampir pokoknya." Victor terdiam sebentar, ia mengusap dagunya sambil mengamati Dami dengan sorot tajam. "Aku mengerti," Victor tiba-tiba tersenyum aneh. Mengerti? Mengerti apa? Seketika Dami merasa cemas melihat senyuman Victor yang tertuju kepadanya. "Aku bisa mengatur agar kau ikut bersama kami. Tapi dengan satu syarat." Kata si pria pasang mata ungu. Dami mengerjapkan mata. Dia tidak memperhitungkan hal ini. "Syarat apa?" Tanya Dami was-was. Ia tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kepada Victor. "Aku ingin berkencan dengan Lexa. Kau bisa mengaturnya untukku?" Dami mengerutkan dahi. Ia mengorek telinga kanannya dengan kelingking. Apa dia salah dengar? "Itu mustahil." "Kalau begitu tidak ada perjanjian." Dami membelalakan mata sementara Victor tersenyum menyeringai. Pembicaraan mereka berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN