Dael menggigit apelnya, mengunyah sambil membaca novel roman favoritnya di sofa dengan kaki yang diselonjorkan lurus dengan nyaman di atas sofa. Ia tidak begitu memperdulikan kehadiran Victor yang muncul di ruang santai dengan wajah bersungut-sungut, lalu berbelok ke dapur.
"Apa ini?" Tanya Victor ketika menemukan bingkisan di atas meja makan.
Dael melirik sebentar ke arah Victor. "Tadi sore teman-temanmu datang mengantarkan bingkisan untukmu." Jawabnya.
"Hah? Teman?"
"Ya. Daisy... Aoi dan Aimee."
"Wah, benarkah?" Victor terdengar senang. "Tapi kenapa bingkisannya sudah terbuka? Hei! Kau memakan isinya ya?!" Tuduh Victor berang.
Dael menunjukkan apel yang sisa setengah di tangannya. "Aku hanya makan beberapa kok."
"Ck, sial." Desis Victor kesal. "Kau seharusnya tidak memakan bingkisan orang lain tanpa izin!"
Dael mengabaikan segala bentuk omelan dan makian Victor, ia baru saja membalik halaman bacaannya ketika Solaris pulang. Dael segera duduk tegak untuk menyambut kakak tertuanya.
"Hai, Sol. Bagaimana kencanmu?" Sapa Dael pada Solaris yang segera mengambil duduk di sofa.
"Kencan?" Victor terlihat kaget mendengarnya. Ia segera meloncat duduk di sebelah Solaris, melotot pada sang kakak tertua. "Kencan dengan siapa? Alice? Lexa?" Interogasinya tidak sabar.
Dael dan Solaris tertawa melihat reaksi ketidaksukaan Victor.
"Jangan khawatir, Vic. Aku tidak akan macam-macam dengan buruanmu." Goda Solaris yang sukses membuat wajah Victor bersemu merah.
"Buruan apa? Jangan menggunakan pilihan kata yang menjijikan!" Protes Victor. "Lalu darimana saja kau?" Desaknya ingin tahu.
"Jalan-jalan bersama Jadrian. Dia ingin tahu lebih banyak tentang Burdenjam," jawab Solaris.
"Oh," Seketika Victor terlihat lega.
"Apakah kalian menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Dael.
Solaris mengangkat bahu. "Selain fasilitas keamanan yang kuketahui, tidak ada lagi yang bisa kujelaskan kepadanya."
"Apa yang Vampir itu cari?" Tanya Victor.
Dael menyadari jika Victor belum mengetahui perubahan yang terjadi pada Dami. Ia bertukar pandang dengan Solaris, dan tanpa perlu berbicara mereka berdua sepakat untuk tidak memberitahu Victor. Semakin banyak orang yang tahu tentang identitas Dami tentu akan semakin membahayakan Dami.
"Dia hanya ingin mengetahui detail Burdenjam," jawab Solaris. "Bagaimana kondisimu?"
"Aku sudah melewati masa-ku," jawab Victor segera. "Tapi Aimee pasti akan berpikiran kotor jika melihat bekas luka di pergelangan tanganku. Dia pasti mengira kalian sudah menyiksaku di rubanah."
Solaris segera memeriksa bekas luka borgol di pergelangan tangan Victor.
Ya. Berbeda dengan Dael atau pun Solaris, Victor mengalami masa perubahan yang ekstrim akibat periode bulan purnama setiap tiga bulan sekali dalam setahun. Perubahan wujud werewolf-nya bisa sangat tidak terkendali pada periode tersebut, yang menyebabkannya tidak dapat kembali ke wujud manusia untuk beberapa hari. Karena itulah ia dikurung di rubanah dan diborgol hingga periode bulan purnama-nya selesai. Setelahnya Victor akan kembali sadar sepenuhnya dan dapat mengendalikan dirinya seperti biasa. Mungkin ini dikarenakan Victor bukan werewolf murni sehingga pengendalian wujudnya lebih tak terkendali.
Dael ingin memberitahukan jika Daisy nyaris saja mengintip ke rubanah, tapi ia memutuskan untuk membiarkannya saja. Beruntung saat itu ia sudah berada cukup dekat dengan lokasi rumah, sehingga ia dapat mendeteksi kedatangan ketiga teman perempuan Victor. Tentu ia tidak ingin ketiganya sampai melihat Victor yang sedang dirantai dalam keadaan berwujud werewolf agresif liar.
"Lukamu perlu dirawat," kata Solaris yang segera berdiri untuk mengambilkan kotak obat.
"Hei, aku ingin bertanya," kata Victor sementara Solaris mulai membersihkan luka goresan borgol di lengannya. "Apakah kalian tidak merasa takut berteman dengan Vampir?"
"Kau merasa takut pada Jadrian?" Tanya Dael, memandang si bocah bermata ungu itu dengan sorot mengejek.
"Tidak," Victor melotot pada Dael, tampak tidak suka dengan sorot ejekan Dael.
"Vampir adalah Eksisten yang berbahaya," kata Solaris. "Kecuali Jadrian. Kami pernah dipenjara bersama-sama. Dan Jadrian adalah satu-satunya Vampir yang ramah."
"Yang benar saja," komentar Victor, terlihat sulit mempercayai. "Bagaimana dengan Vampir satunya?"
"Ya, bagaimana dengan Topaz?" Tanya Dael juga. "Dia kelihatan baik, seperti Jadrian. Tapi kadang... Dia agak misterius."
Solaris mengangguk saja. "Aku juga tidak tahu. Tapi kusarankan agar kalian berhati-hati dengan Eksistensi mana saja. Papa selalu meminta kita untuk terus waspada."
Dael dan Victor sama-sama menganggukkan kepala mendengar peringatan Solaris. Jika Solaris yang berbicara, maka mereka harus patuh dan percaya dengan ucapan Solaris.
"Meskipun kita bisa bergaul dengan Jadrian, belum tentu kita bisa bergaul dengan Vampir lainnya." Lanjut Solaris. "Jangan terlalu dekat dengan Vampir yang tinggal di sini."
"Tapi aku tidak mengerti, Vampir itu makhluk apa sih?" Tanya Victor. "Mereka itu mayat hidup kan? Mereka hanya bisa meminum darah manusia kan? Tapi mengapa mereka bisa terlihat sangat menarik?"
"Ya, aku juga tidak menemukan literatur tentang penciptaan Vampir yang valid," kata Dael juga. "Informasi yang kudapat hanya seperti mitos, legenda atau pun dongeng."
"Karena memang yang dimiliki oleh Vampir hanyalah legenda," kata Solaris.
Dael mengerutkan dahi. "Apa maksudnya?"
"Dulu aku juga pernah menanyakan hal ini kepada Papa," kata Solaris. "Papa memberitahuku jika dulu Vampir tidak pernah ada. Di dunia ini hanya ada kita, werewolf. Kemudian manusia dan Penyihir. Menurut legenda, segalanya bermula dari pengetahuan seorang Penyihir."
Dael dan Victor menatap Solaris dengan sorot penasaran, mereka berdua tampak seperti bocah kecil yang menunggu kelanjutan dari cerita seram yang menakutkan namun sangat ingin mereka dengar.
Solaris berdehem sebelum mulai bercerita.
"Pada legenda itu, ribuan tahun lalu diceritakan jika ada seorang Penyihir yang memiliki motivasi ingin menjadi eksistensi yang abadi. Mereka menggali lebih banyak pengetahuan hingga kita mau pun manusia tidak akan mampu mengejar ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Namun karena keserakahan mereka, ilmu pengetahuan mereka tidak selamanya didapat dengan jalan yang benar. Mereka mulai melakukan praktik ilmu hitam yang melanggar batas-batas kekuasaan Tuhan. Dan dikabarkan jika praktik mereka berhasil namun sayangnya mereka malah membentuk eksistensi baru yang sangat mengerikan. Eksistensi itulah yang disebut Vampir. Vampir adalah satu-satunya Eksistensi abadi di dunia ini, namun mereka hidup dalam kutukan."
"Kutukan?" Ulang Victor.
Solaris mengangguk. "Vampir menanggung kutukan. Jika mereka menginginkan keabadian, maka mereka harus membayarnya dengan darah manusia. Begitu cerita Papa."
"Hmm," Dael terlihat sedang mencerna cerita yang disampaikan Solaris. "Agak sulit mempercayai cerita ini," ujarnya.
Solaris tersenyum. "Aku tahu kau lebih mempercayai pengetahuan yang sudah dibukukan. Tapi tidak segalanya semua pengetahuan dunia dapat dituliskan apalagi jika kejadian itu sudah terjadi sangat lama. Nah, Vic, sudah selesai."
Victor tersenyum puas dengan hasil kerja Solaris. Pergelangan tangannya diperban dengan sangat rapi.
"Terima kasih, Sol." Ucap Victor. "Apa aku sudah boleh keluar besok?" Tanyanya kemudian.
"Kau ingin keluar dengan perban di tanganmu?" Sindir Dael. "Sama saja artinya kau ingin memberitahu orang-orang jika kami sudah mencoba menyiksamu."
"Kau memang sudah menyiksaku," desis Victor. "Ide merantai di rubanah kan adalah idemu!"
"Hei, kalau begitu coba pikirkan ide yang lebih bagus! Atau kau ingin berjalan-jalan sebagai werewolf dan mengejutkan teman-teman perempuanmu? Nah, silahkan!" Balas Dael.
"Dasar... Kurang ajar...!" Victor memaki tertahan.
"Atau cobalah belajar untuk mengendalikan sifat agresif perubahanmu. Kau sungguh merepotkan!"
"Ya, aku memang merepotkan!" Bentak Victor yang tiba-tiba saja berdiri.
"Hei, kenapa kalian malah bertengkar?" Solaris mencoba menengahi.
"Katakan saja jika kau tidak ingin aku tinggal bersama kalian!" Seru Victor lagi.
"Kau terlalu sensitif. Aku tidak pernah berkata begitu. Jangan terlalu membawa perasaanmu," balas Dael yang juga tidak dapat menahan diri. Bocah ini terlalu kekanakan, batinnya. Dia sangat ingin mengajari Victor untuk menjadi lebih baik tapi pada akhirnya Victor tidak bisa diatur sama sekali.
"Sial..." Desis Victor yang segera berjalan pergi meninggalkan ruangan.
"Hei, Vic. Kau mau kemana?" Seru Solaris.
Namun Victor tidak menjawab dan hanya terdengar bunyi debam pintu yang dibanting. Victor telah keluar dari rumah begitu saja.
Solaris menghela nafas keras. "Dael, bisakah kau menahan diri ketika berhadapan dengan Victor?"
"Aku hanya mengatakan fakta," kata Dael, membela diri.
"Kau tahu kondisinya kan? Buntuti dia." Perintah Solaris.
"Ah, sial..." Desis Dael yang sangat kesal. Ia segera beranjak pergi keluar, juga dengan membanting pintu.
Dael berjalan malas menelusuri jalan yang dilewati Victor. Ia dapat membaui bekas tubuh Victor, beruntung sudah larut malam sehingga jalanan sepi dan penciumannya tidak terganggu dengan faktor lain.
Selalu saja begini. Ketika ia dan Victor bertengkar, pada akhirnya dia harus mengalah dan mengekori bocah pemberontak yang agresif itu. Tentu saja dia merasa kesal karena Victor tidak pernah bersikap dewasa. Victor selalu merepotkan keluarganya. Bahkan hingga mereka tinggal di Burdenjam pun Victor tetap saja tidak mau mendengarkan kata-katanya.
Tapi Dael teringat dengan kata-kata Topaz, bahwa menerima perubahan tidak semudah yang ia kira.
Apakah memang begitu? Karena Dael adalah werewolf murni, dia tidak tahu apa yang dirasakan seorang manusia ketika mendapatkan perubahan menjadi werewolf atau pun Vampir.
Tapi bagaimana dengan Jadrian? Meskipun seorang Vampir, Jadrian tidak menunjukkan tanda-tanda keagresifan sebagai Vampir. Atau kah sebelumnya Jadrian juga sudah melewati masa-masa yang sedang dijalani oleh Victor?
Dael mendesah ketika kakinya berhenti di depan sebuah rumah yang sudah ia duga. Ia merasa iri karena Victor dapat dengan bebas masuk ke rumah ini. Ia pun memanjati pohon yang tumbuh di seberang rumah itu, lalu duduk di sana dan mengamati jendela dari rumah seberang. Ia bisa melihat Victor sedang mengobrol dengan Aoi. Aoi selalu menjadi tujuan utama Victor ketika sedang merasa kesal.
Dael telah melupakan kekesalannya pada Victor, dengan mudah ia mengabaikannya saja. Dia habiskan malamnya sambil memandangi Aoi dari kejauhan.