19

1746 Kata
"Aku serius!" Daisy mendesak kedua temannya yang baru saja mengambil duduk. "Aku baru saja melihat Vampir!" Aimee memutar pasang bola matanya, tampak lelah mendengar khayalan Daisy yang tak pernah berhenti. "Di mana?" Tanya Aoi, masih berbaik hati untuk memvalidasi pernyataan Daisy. "Di sana!" Tunjuk Daisy ke meja kosong tak jauh dari tempat mereka. "Tadi dia duduk di sana! Vampir itu berbicara dengan Solaris Wern!" "Astaga, Daisy~..." Keluh Aimee, ia menarik buku tebal yang terbuka lebar di depan Daisy. "Mungkin gara-gara ini kau sampai mengkhayal!" Katanya sambil menggerakkan buku tebal itu ke udara. "Tidak! Aku tidak mengkhayal!" Protes Daisy tidak terima. "Aku yakin pria itu adalah Vampir!" "Oke, oke, mari kita buka halaman... Er... 121, tentang identifikasi Vampir secara tepat di dalam kerumunan." Baca Aimee. "Nah, bagaimana ciri-cirinya? Apakah yang kau lihat sesuai dengan identifikasi di dalam buku ini? Satu, Vampir biasanya berkulit pucat." "Ya! Kulitnya sangat pucat!" Seru Daisy sampai-sampai seruannya mengganggu pelanggan yang duduk di kanan-kiri mereka. "Maaf... Maaf..." Ia segera meminta maaf. "Kedua, suhu tubuh Vampir sangat dingin, seperti menyentuh potongan es dari dalam kulkas. Ah, kau tentu tidak dapat melakukan identifikasi kedua. Ketiga, Vampir memiliki gigi taring ketika sedang menghisap jadi akan sulit melihatnya dari jauh, oke, ini tidak mungkin." Celoteh Aimee. "Lanjut, keempat, pasang mata Vampir bisa berubah-ubah. Warna mata menjadi Emas tanda Vampir sedang berbahagia atau menghipnotis mangsanya, warna mata merah ketika Vampir sedang lapar. Dan warna mata hitam yang menyeluruh tanda Vampir berniat membunuh. Jadi apa warna mata Vampir yang kau lihat?" Tanya Aimee. "Eum... Hijau?" Jawab Daisy ragu. "Entah, mungkin biru?" Aimee dan Aoi saling bertukar pandang lalu sama-sama menghela nafas. Aimee meletakkan buku tebal itu ke meja, lalu Daisy buru-buru mengambil bukunya, memeluknya erat-erat seolah takut Aimee akan merampas kembali bukunya. "Sudahlah, Daisy..." Pinta Aoi. "Kau harus berhenti menjadi fanatik terhadap Vampir dan lainnya." "Ya, itu tidak akan berguna untukmu," kata Aimee juga. "Mungkin akan berguna." Daisy membela diri. "Kita harus mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu berhadapan dengan mereka." "Kuharap Burdenjam tidak akan pernah terbuka untuk Eksisten bukan manusia," kata Aimee. "Aku tidak yakin setiap makhluk bisa tinggal bertetangga. Pemberontakan kapan saja bisa terjadi seperti di Varlas sepuluh tahun lalu." "Ya. Kuharap itu tidak pernah terjadi juga," Aoi mengangguk setuju. Daisy tak berhasil meyakinkan kedua temannya jika ia benar-benar melihat seorang Vampir. Entahlah, ia hanya yakin saja walau dari sekian identifikasi yang dijabarkan di dalam bukunya tidak dapat ia gunakan. Kulit Pria itu pucat dan memiliki aura yang sangat menarik. Seperti... Bersinar di dalam kegelapan. "Hei, kau masih memikirkan Vampir-mu?" Tegur Aimee yang membangunkan Daisy dari lamunannya. "Yah... Aku sangat yakin orang yang kulihat adalah seorang Vampir," kata Daisy. "Dia... Dia sangat tampan. Tubuhnya seperti bersinar di dalam kegelapan." Ucapnya dengan tampang melamun. Lagi, Aimee dan Aoi saling bertukar pandang setelah mendengarkan Daisy. Aoi menggelengkan kepala sementara Aimee menghela nafas. "Daisy, kurasa kau tidak melihat Vampir," kata Aoi, menahan senyum. "Kurasa kau jatuh cinta pada seorang pria." "A... Apa?!" Seru Daisy sampai terlonjak berdiri. Lagi-lagi ia mengganggu para pelanggan di sekitar dengan seruannya. Ia buru-buru meminta maaf dan kembali duduk. Wajahnya sudah merah padam, berwarna nyaris sama dengan warna rambutnya. "Itu... Itu tidak mungkin....!" Bisiknya tertahan. "Mungkin saja, Daisy..." Aoi tersenyum. "Wah, aku penasaran pria seperti apa yang menarik perhatian Daisy." "Kau bilang pria itu berbicara dengan Solaris. Pantas saja. Pria itu pastilah populer juga." Tebak Aimee. Daisy malah cemberut. Aimee dan Aoi tidak akan bisa mempercayainya. Gagasan Aoi juga sungguh tidak masuk akal. Dia, Daisy... jatuh cinta pada orang asing yang baru ia lihat begitu saja? Konyol sekali. Bagaimana bisa cinta terjadi hanya disebabkan tatapan saja? Bahkan mengingat dan mengenal wajah seseorang juga butuh waktu kan? Apalagi soal cinta? "Apakah kalian bisa menghubungi Victor?" Tanya Aoi, ia baru saja menghabiskan makan siangnya selama Daisy kembali tenggelam dalam lamunannya. Hanya Aimee yang menggelengkan kepala. "Ah, bocah itu bertingkah lagi." Keluh Aimee. "Kira-kira apa yang ia lakukan sampai membolos?" "Aku sudah pernah mencoba bertanya." Kata Aoi dengan sorot khawatir. "Tapi dia tidak pernah menjawab." "Solaris dan Dael tidak terlihat khawatir sama sekali ketika Victor tidak masuk sekolah." Celetuk Aimee. "Kita tidak bisa menyimpulkan jika mereka berdua tidak khawatir, Aim," kata Aoi. "Mungkin Daisy memang benar." Kata Aimee kemudian, mengerling pada Daisy yang sudah kembali sadar dari lamunannya karena namanya disebut-sebut. "Mungkin Victor memang benar werewolf." Tawanya geli. Aoi juga terkikik, ia dan Aimee tak mempercayai kemungkinan konyol itu sama sekali. "Victor tidak mungkin werewolf, kalau Solaris dan Dael sih mungkin," Aimee malah melanjutkan candaannya. Daisy memutar bola matanya, jengkel karena Aimee dan Aoi tidak pernah mempercayainya. Namun ia memutuskan untuk tidak beradu argumen lagi. Hal itu hanya akan menguras energinya. Ia lebih menikmati menyimpan gagasannya sendiri. Mempercayai hal-hal yang ia yakini dari penelitian kecil-kecilannya. Siapa tahu dia akan bisa membuktikan segalanya kepada Aimee dan Aoi suatu hari nanti. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Aoi, dialah yang paling khawatir setiap kali Victor absen sekolah. "Bagaimana jika kita pergi ke rumahnya saja?" Usul Daisy. Aimee dan Aoi saling bertukar pandang mendengar usulan Daisy. Keduanya sama sekali tidak menyangka Daisy akan menjadi orang pertama yang mengusulkan hal itu. "Kedengaran sulit. Bagaimana jika kita malah ketahuan dan dianggap penguntit? Kalian ingat kan beberapa perempuan pernah menguntit rumah Wern?" Kata Aoi cemas. "Yah, ide buruk. Aku tidak mau ketahuan berada di sekitar rumah Wern. Aku tidak ingin dicap sebagai fans menjijikan kedua Wern. Ew," Aimee menunjukkan tampang jijik. "Tapi kau kan memang fans berat Solaris," gerutu Daisy sewot. "Enak saja! Cih!" Seru Aimee tidak terima. Daisy mengabaikan sangkalan Aimee. Ia sudah terbiasa mendengar penolakan Aimee yang jelas-jelas mengidolakan Solaris. "Baiklah, kita hanya akan lewat saja, oke?" Ia mencoba memutuskan, dan sebenarnya ada maksud dibalik ajakannya itu. Siapa tahu ia menemukan bukti jika Victor memang Eksisten Bukan Manusia. "Hmm, boleh juga." Aoi mengangguk setuju walau sedikit ragu. "Nah, ayo!" Daisy kembali merasa bersemangat. *** Sebenarnya Daisy tidak begitu menyukai Victor. Victor sering mengejeknya bahkan pernah sampai membuatnya menangis. Tapi Victor juga bisa sangat baik dengan membawakan makanan dan minuman untuk mereka secara cuma-cuma. Victor juga teman yang asyik untuk diajak menonton film horor karena Aimee dan Aoi sangat penakut. "Bagaimana?" Tanya Aimee. Aoi sudah menepikan mobilnya di seberang rumah keluarga Wern. Rumah itu terlihat sangat sepi. Solaris dan Dael tentu belum pulang ke rumah. "Apakah dia kabur dari rumah?" Aimee menebak. "Tidak mungkin. Dia memang pernah berkata ingin kabur. Tapi dia tidak bisa apa-apa di luar sana jika sendirian." Kata Aoi. Aimee mendengus geli. "Aku lupa jika dia memang tidak bisa apa-apa. Haha." "Lebih baik kita mengetuk pintu," usul Daisy. Aimee dan Aoi menoleh kepada Daisy, tampak kaget. "Daisy, kenapa kau tidak kikuk sama sekali jika memikirkan rencana berbahaya seperti ini?" Komentar Aimee heran. "Oh... Aku... Aku hanya memberikan ide karena aku khawatir pada Victor." Daisy beralasan. Dengan kekikukkannya ia tidak mungkin melakukan penyelidikannya tanpa bantuan kedua temannya. "Baiklah, lebih baik kita turun dan ketuk pintunya." Aoi memutuskan. "Di mana bingkisan yang sudah kita beli untuk Victor?" "Ini," Daisy menunjukkan bingkisan yang dicari oleh Aoi. Mereka bertiga menyempatkan diri membeli buah-buahan untuk Victor. Semoga saja usaha mereka tidak sia-sia. Mereka tidak ingin Victor benar-benar kabur dari rumah. "Bagus. Jika dia tidak menyahut, kita letakkan saja bingkisan itu di kotak pos mereka. Nah. Ayo. Mumpung Solaris dan Dael belum pulang." Aimee segera memimpin dengan turun dari mobil lebih dulu. Daisy menyusul turun dari mobil lalu mengekori kedua temannya. Mereka bertiga berjalan memasuki perkarangan rumah saudara Wern. Aoi yang menekan bel pintu. Tak terdengar sahutan. Aimee segera mengetuk pintu dengan keras. "Vic! Ini kami!" Selama kedua temannya memanggil-manggil Victor, Daisy mengamati teras rumah Wern bersaudara. Tak terlihat adanya keanehan di sana. Menurut gosip yang ia dengar, bertiga Wern berasal dari luar kota, namun tidak ada informasi valid mengenai kota asal mereka. Mungkin North Oak atau Varlas. Dan Wern bersaudara hanya tinggal bertiga di rumah ini. Tidak ada orang tua, tidak ada keluarga lainnya. Lalu Daisy mendapatkan ide gila. Mumpung ia berada di lingkungan keluarga Wern, tanpa memberitahu kedua temannya, ia berjalan diam-diam meninggalkan teras, lalu memutari rumah. Ia mencoba menebak di mana kamar tidur Victor. Ia menghitung jendela-jendela. Pasti salah satu jendela itu adalah jendela kamar Victor. Bam! Daisy terkesiap. Ia menoleh ke sekitarnya namun ia tak melihat apa pun yang dapat menyebabkan suara hentakan keras yang barusan ia dengar. Suaranya sangat dekat di sekitarnya. Seketika Daisy merasa takut. Ia menunduk ke bawah kakinya, pada rumput tanaman. Suaranya seperti berasal dari bawah kakinya. Daisy masih mencari-cari namun suara itu tak terdengar lagi. Pandangannya berhenti pada satu titik, ia menyipitkan mata ketika melihat ventilasi rubanah. Bam! Ia terperanjat kaget ketika mendengar suara itu lagi. Benar sekali, suaranya berasal dari bawah kakinya. Mungkinkah dari rubanah itu? Setengah ragu dan setengah penasaran, ia berjalan mendekati ventilasi rubanah. Ia nyaris akan membungkuk ketika seseorang memanggilnya. Ia terlonjak mendengar panggilan itu, lalu berbalik. Dael sudah berdiri di belakangnya dengan senyum ramah. Daisy terperangah tak percaya dengan kehadiran Dael yang tak terdengar tapak kakinya sama sekali. Atau Daisy terlalu gugup sampai-sampai tak mendengar suara lainnya. "Hai, Daisy." Sapa Dael. Daisy mengerjap dengan tampang bodoh. Dael tahu namanya? "Apa kau kehilangan sesuatu?" Tanya Dael. Daisy mulai gugup dan ia merasakan sorot aneh dari pasang mata Dael yang kecil. "Oh... Itu..." Daisy tergagap. "Aku... Aku..." "Ya?" Dael dengan sabar mendengarkan. "Suara..." "Suara?" "Ya, ada suara aneh di bawah." Tunjuk Daisy ke ventilasi rubanah. "Mungkin... Mungkin ada sesuatu di sana." "Tidak ada apa-apa, Daisy." Kata Dael. "Mungkin hanya bunyi mesin cuci kami. Victor pasti sedang menyalakannya. Ohya, kalian pasti cemas karena Victor absen beberapa hari ini. Dia memang sedang tidak enak badan." "Oh... Oh ya..." Daisy manggut-manggut. "Ka... Kalau begitu aku permisi." "Ya. Dan terima kasih bingkisannya. Akan kuberikan kepada Victor. Kalian sungguh teman yang baik. Victor benar-benar beruntung." "Eum, ya. Sama-sama." Daisy nyaris berlari ketika kembali ke mobil. Aimee dan Aoi sudah di dalam mobil, menunggunya dengan ekspresi kesal bercampur khawatir. "Daisy, kau dari mana saja?" Tanya Aimee. "Kau menghilang begitu saja di belakang kami!" "Itu...." Daisy masih kikuk dengan pertemuannya dengan Dael. "Apakah tadi kalian bertemu dengan Dael?" Aoi mulai menjalankan mobil, menjawab pertanyaan Daisy. "Tidak. Rumahnya sepi sekali. Jadi kami gantungkan saja bingkisannya di kenop pintu. Lalu ketika kami kembali ke mobil, kami menyadari jika kau sudah tidak bersama dengan kami." Daisy menelan ludah. Aneh sekali. Padahal ia bertemu dengan Dael di belakang rumah. Kenapa Dael tidak menyapa Aoi dan Aimee yang berada di teras lebih dulu? Dan suara aneh itu... Ia juga mendengar suara gemerincing logam yang terdengar berat. Seperti bunyi rantai. Suaranya sangat jelas berasal dari balik ventilasi rubanah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN