Jadrian belum mendapatkan satu pun pasien dalam tiga hari ini, namun ia tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena memang pekerjaan itu hanyalah sebagai penyamaran saja.
"Dulu," Topaz lebih suka duduk-duduk di sudut yang lebih gelap di dalam klinik Jadrian. "Aku berpikir akan berakhir di North Oak secara mengenaskan akibat menderita kebosanan. Tapi siapa yang mengira kita akan tinggal di Burdenjam. Kota ini besar sekali dari kelihatannya."
Jadrian duduk di meja kerjanya di depan komputer yang menyala, berselancar di dunia maya untuk mendapatkan berbagai informasi yang ia perlukan. Ia sudah terbiasa mendengarkan celotehan sobat Vampirnya itu.
"Apakah kau sudah mengetahui jika Squirrel punya markas di sini?" Tanya Jadrian.
"Astaga!" Topaz terdengar terperanjat. "Kenapa kau tidak memberitahuku?!" Protesnya.
"Bukankah aku sedang memberitahumu?" Tanya Jadrian. "Dan apa yang kau lakukan selama ini? Kau kelihatan terdistraksi pada suatu hal." Sinisnya.
"Ah itu..." Gumam Topaz, terdengar ragu untuk menjawab pertanyaan Jadrian. "Bukankah kau menyuruhku untuk mengawasi Dami? Aku menghabiskan waktuku di sekolah. Kau masih meragukanku?"
"Topaz, kuharap kau tidak membuat masalah," peringat Jadrian.
"Hei. Bukankah aku sudah berjanji kepadamu sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu?"
"Ya, dan kau masih pernah melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Terakhir kali adalah sebelas tahun lalu di Varlas." Jadrian mengingatkan.
"Oh, sobat. Kenapa sih kau mengingat segalanya? Bisa tidak Vampir mengkerut karena terlalu banyak menyimpan ingatan?" Gerutu Topaz.
"Aku serius, Topaz..."
"Oke, Kapten. Aku berjanji akan menjadi Vampir yang baik selama di sini." Janji Topaz.
Jadrian mengangguk saja. Ini sudah keberapa kalinya ia mendengar Topaz berjanji. Meskipun tidak sering, tapi Topaz bisa saja kelewat batas dan ia kerepotan membersihkan bukti-bukti yang membahayakan Topaz. Ia bersyukur karena Topaz berhasil diterima untuk dapat tinggal di Burdenjam.
"Lalu," kata Topaz. "Apakah kau ingin masuk ke dalam markas Squirrel?"
"Untuk apa?"
"Biasanya kau penasaran pada banyak hal?"
"Tentu tidak. Tidak ada urusan apa pun diantara aku dengan Squirrel."
"Jangan berbohong. Kau pasti sedang merencanakan sesuatu, Vampir ceking."
"Biasanya kau menyebutku Kapten," komentar Jadrian.
"Kau pasti sudah dengar jika Squirrel sedang mengurus sesuatu di North Oak?"
"Itu adalah artikel dari website yang tidak valid." Komentar Jadrian.
"Tapi aku agak penasaran apa yang sedang mereka cari di sana. Dan sepertinya ada isu tentang si Perusuh. Masa' kau tidak penasaran?"
Jadrian terdiam ketika Topaz menyebut Si Perusuh.
"Ya kan?" Tanya Topaz telak, ia menemukan perubahan ekspresi Jadrian. "Jade, apakah perubahan Dami ini ada hubungannya dengan si Perusuh?"
Jadrian tidak segera menjawab. "Bukankah si Perusuh dikabarkan telah binasa sebelas tahun lalu?" Ia balik bertanya kemudian.
"Apa kau mempercayai berita yang diumumkan Squirrel saat itu? Aku sih kurang percaya. Kau kan tahu jika Si Perusuh itu adalah Eksisten yang tidak normal. Yah, kita juga tidak normal sih. Tapi mana ada Vampir yang bisa menyihir? Atau Penyihir yang menjadi Vampir? Di dunia ini mana ada Eksisten campuran seperti itu?" Kata Topaz panjang lebar. "Nah, menurutku, perubahan Dami ini pasti ada sangkut pautnya dengan Si Perusuh. Dari sekian oknum tersangka, Si Perusuh adalah yang paling mampu melakukan eksperimen mengerikan ini. Dan kau pasti sudah menduganya kan? Mungkin Si Perusuh memang tidak pernah binasa. Squirrel hanya mengada-ngada untuk mendapatkan keuntungan mereka."
Jadrian tidak dapat mengelak. Ia tahu jika ia tidak bisa menyimpan rahasia dari Topaz. Pasti Topaz akan segera memikirkan segalanya karena Topaz adalah mantan polisi detektif terbaik di masanya ketika masihlah seorang manusia. Penyelidikan adalah ketertarikan terbesar Topaz.
"Ya." Jawab Jadrian. "Ini pasti adalah ulah Si Perusuh."
"Nah, kau tidak penasaran dengan apa yang Squirrel temukan di North Oak? Mungkin kasus Dami memang ada hubungannya dengan Si Perusuh." Topaz seperti sedang mengiming-imingi Jadrian untuk mulai melanggar peraturan.
Tapi mereka tidak bisa bergerak seenaknya di dalam kota ini. Jadrian tidak ingin ditangkap sebelum ia dapat melihat Dami bahagia.
"Tentu aku ingin tahu, tapi surat perjanjian kita melarang untuk melanggar aturan."
"Ah, membosankan," keluh Topaz.
"Bagaimana jika kau mendaftar menjadi satuan berwajib di sini? Kau mungkin akan bisa mendapat informasi lebih banyak. Dan kau mungkin akan diterima dengan kecerdasanmu itu." Saran Jadrian.
"Terima kasih pujianmu, Sobat. Tapi tidak. Jangan kira aku tidak bisa mendapatkan informasi hanya karena aku berstatus pengangguran di kota besar yang menyenangkan ini."
"Topaz..." Peringat Jadrian.
"Aku akan berhati-hati, tenang saja." Topaz kembali berjanji dengan nada yang meyakinkan.
"Tidak, Topaz. Burdenjam berbeda dengan kota-kota Percampuran yang pernah kita tinggali. Aturan Kota ini sangat ketat. Kita tidak tahu apa saja yang sudah mereka persiapkan untuk mendeteksi pelanggaran. Ditambah mereka memberikan tempat untuk markas rahasia Squirrel. Itu artinya kota ini memiliki pengamanan yang luar biasa." Jelas Jadrian.
"Oke, oke. Papa, aku mendengarkan semua omelanmu." Topaz akhirnya memutuskan untuk menyerah saja. Jadrian memang sulit dibujuk. "Lalu apa yang akan kau lakukan untuk menyelidiki kasus Dami?"
"Pertama-tama kita harus lebih tahu banyak mengenai Burdenjam," Jadrian terlihat berpikir sebentar. "Setelahnya kita tentukan langkah berikutnya. Jika memang kita tidak bisa melakukan apa pun selama di Burdenjam, aku akan pergi keluar menyelidiki Perusuh itu."
"Kau bisa memintaku," tawar Topaz.
"Tidak," jawab Jadrian segera.
Terlihat ekspresi kebingungan dari Vampir yang bersembunyi dalam bayang-bayang.
"Aku akan melakukannya sendiri." Kata Jadrian.
"Oke, kau adalah Kaptennya," dengus Topaz. Kemudian si Vampir yang bersembunyi tidak mengatakan apa pun lagi, sementara Jadrian masih melakukan pencarian di dunia maya, sama sekali tak melepaskan pandangannya dari layar komputer.
"Kau tidak mengawasi Dami?" Jadrian tiba-tiba bertanya.
"Yah, jika kau benar-benar mengusirku." Terdengar gerakan dari dalam bayang-bayang. "Sampai nanti."
Jadrian terdiam sebentar. Ia memandang ke sekitarnya dan tahu jika Topaz sudah pergi. Ia menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya.
Ia masih terdiam, tampak sedang berpikir. Kemudian ia mengambil ponselnya, lalu mencari kontak bernama Solaris.
--
Jadrian belum lama menunggu, dan Solaris sudah masuk ke dalam Cafe.
"Wah, kau tepat waktu sekali," komentar Jadrian ketika Solaris duduk di seberangnya.
"Kami berada tak jauh dari sini," ujar Solaris. "Dan Dael masih berada di perpustakaan untuk mencari bahan tugas sejarahnya."
"Apakah aku mengganggumu?" Tanya Jadrian.
"Oh, tentu tidak. Tugasku sudah selesai. Lagi pula aku memang berniat mengajakmu berjalan-jalan mengelilingi Burdenjam. Apa kau sudah pernah berkeliling?" Solaris bertanya.
"Hanya beberapa tempat yang direkomendasikan pada selebaran promosi. Kuharap kau bisa memberitahuku banyak hal menarik tentang Burdenjam." Jadrian tersenyum saja. "Sebelumnya apa kau mau memesan sesuatu? Mungkin kita akan kelihatan aneh duduk-duduk di sini tanpa memesan apa-apa."
"Wah, biar aku saja yang memesan. Kau pesan apa? Eh," Solaris terlihat ragu.
Jadrian tertawa kecil. "Pesan apa saja sebagai penyamaranku."
"Baiklah," Solaris pergi ke meja pesanan. Dan tak berapa lama dia kembali sembari membawa nampan dengan dua gelas minuman dan satu piring camilan.
Setelahnya Jadrian mendengarkan berbagai macam informasi dari mulut Solaris mengenai seluk-beluk serta keamanan yang diketahui oleh si werewolf kepada Jadrian.
"Mengenai daftar esksisten bukan manusia," Solaris mengunyah, menghabiskan seluruh sisa kentang gorengnya. "Aku tidak bisa memberikan data yang kuketahui. Kau tahu kita dilarang menyebarkan identitas asli siapa pun. Kecuali kita mengetahuinya tanpa sengaja seperti aku mengenalmu." Jelasnya. "Dan menurutku juga tidak ada siapa pun yang bisa kau curigai. Eksisten bukan manusia yang tinggal di sini adalah kelompok baik-baik."
Jadrian mengangguk saja, cukup puas dengan semua informasi yang diberikan oleh Solaris kepadanya. Setidaknya ia mendapatkan pandangan umum yang lebih detail dari seseorang yang sudah tinggal cukup lama di Burdenjam.
"Terima kasih sudah memberikan semua informasi yang kau ketahui." Ucap Jadrian.
"Tak masalah. Kuharap aku dapat membantumu."
"Oh, kau sangat membantuku."
Jadrian ragu untuk memberitahu Solaris mengenai markas rahasia Squirrel yang bertempat di dalam Burdenjam. Ia kira Solaris tidak mengetahui hal ini. Ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya menyebut Squirrel dalam perbincangan mereka.
Lalu Jadrian menyadari sorotan itu.
Jadrian menolehkan wajah dan melihat sepasang mata biru sedang memandanginya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia memberikan senyuman pada gadis berambut merah ikal lucu yang duduk tak jauh dari tempatnya. Seketika wajah gadis itu berubah merah, Semerah rambutnya, si gadis langsung menyembunyikan wajahnya di balik sebuah buku tebal.
Jadrian menyipitkan mata ketika membaca judul buku yang digunakan untuk tempat bersembunyi si gadis rambut merah. Buku itu terbalik namun ia dapat membaca judulnya yang cukup panjang dengan baik.
Cara mengidentifikasi Eksisten Bukan Manusia secara tepat
Wah, buku yang sangat konyol, komentar Jadrian dalam hati.