17

1353 Kata
Aoi dan kedua temannya itu menurut Dami adalah para gadis yang menarik dan sangat menyenangkan. Tidak hanya diberikan tumpangan, ia bahkan dibantu untuk menempelkan pamflet promosi klinik Jadrian. "Jadi kau berangkat bersama mereka?" Tanya Alice dengan nada sinis selepas jam pelajaran, dan kini mereka duduk bertiga mengitari meja makan kantin yang berbentuk lingkaran. Dami mengangguk. Ia tidak mengerti mengapa Alice terlihat kesal dengan jawabannya. "Ya, kami bertemu di jalan dan Aoi menawarkan tumpangan kepadaku." Alice menghela nafas, terlihat semakin kesal. "Kau seharusnya tidak dekat-dekat dengan Para Perusuh," kata Lexa. "Pe...rusuh?" Ulang Dami tidak mengerti. Sebutan itu kedengaran kurang ajar menurutnya. "Ya, mereka bertiga itu Para Perusuh," Lexa menekankan. "Besok aku akan menjemputmu," kata Alice tiba-tiba, membuat Dami membelalak kaget dan Lexa sampai tersedak minumannya. "Oh Tuhan, Alice!" Desis Lexa tak percaya. Namun Alice hanya memandang Dami dengan sorot tajam. "Kau hanya perlu menunggu, aku akan menjemputmu." "Alice, kau baik sekali. Tapi aku tidak ingin merepotkan siapa-siapa." Ujar Dami, ia merasa tidak nyaman dengan ekspresi Alice. Apakah Alice tidak menyukai Aoi dan yang lainnya? Alice menyedot minumannya. Lalu berbicara, "Jangan menolak." Katanya dengan sorot dingin yang rasanya dapat membekukan Dami. Dami terpaksa mengangguk, merasa semakin tidak nyaman. Awalnya Ia merasa senang Alice mengajaknya berteman, tapi sekarang rasanya berbeda ketika ia bersama dengan Aoi dan kedua temannya itu. Saat ini Ia merasa sangat canggung ketika berhadapan dengan Alice dan Lexa. Ditambah, ia merasa rendah diri karena Alice dan Lexa adalah dua gadis yang sangat cantik. Ia seperti kurcaci tak berarti setiap kali berjalan bersama dengan mereka berdua. Apalagi rupanya keduanya sangat terkenal di Caranige. Tentu mereka berdua mempunyai standar sendiri dalam memilih teman. "Kau ingat dengan tawaranku?" Tanya Alice tiba-tiba pada Dami. "Oh," Dami mencoba mengingat. "Ya. Menginap di rumahmu kan?" Lexa mendesah tak suka, terlihat ia sangat keberatan dengan ide itu. Alice tersenyum, menunjukkan pesonanya. Dami menyadari jika Alice jarang tersenyum, si gadis populer lebih sering menunjukkan ekspresi angkuh. "Ya. Bagaimana malam minggu nanti?" Dami melirik ke arah Lexa yang malah berpaling darinya. Ia tahu Lexa sangat tidak menyukai ide Alice. Tapi Alice juga menunjukkan tanda-tanda tidak ingin ditolak. Dami tak pernah berpikir akan terjebak dalam hubungan pertemanan semacam ini. Dami mencoba tersenyum. "Sebelumnya aku harus memberitahu saudaraku dulu." "Oh, saudaramu yang tampan itu ya," Lexa teringat. "Wah, aku juga ingin punya saudara setampan itu." "Apakah saudaramu akan melarangmu menginap di rumahku?" Tanya Alice tajam, benar-benar terdengar tidak ingin mendapat penolakan. "Aku tidak tahu," jawab Dami. "Kuharap tidak." "Kuharap juga begitu." "Hai, Dami." Dami segera menoleh ketika namanya dipanggil. Solaris dan Dael berhenti di dekat mereka. "Hai, senang melihat kalian berdua berteman dengan Dami," kata Solaris, menyapa kedua gadis populer yang duduk bersama dengan Dami di satu meja. Alice menunjukkan senyuman lebar pada Solaris. "Ya, kami berteman." Ujarnya. "Apa kalian mau bergabung di meja kami?" Tawar Lexa segera. "Kami akan di sana saja," jawab Solaris. "Lanjutkan saja perbincangan kalian." "Dah, Dami," kata Dael, dan keduanya berlalu pergi ke meja kantin yang lain. Dami menghela nafas lega. Tentu risih disapa oleh dua anak laki-laki populer di Caranige. Berikutnya ia baru menyadari jika Alice dan Lexa sedang memandanginya dengan sorot aneh. "Rasanya ada untungnya kau bersama kami," Lexa terkikik. "Mereka berdua sangat jarang berada di kantin. Tapi gara-gara kau, mereka jadinya sering terlihat di sini." "Mungkin bukan gara-gara aku." Kata Dami penuh harap. Apakah Jadrian tidak memberitahu Solaris dan Dael untuk tidak perlu lagi mengawasinya? Bukankah Jadrian sudah berjanji kepadanya tadi pagi? Ia menoleh ke sekitarnya, semoga saja Topaz tak terlihat di sekitar sini, pikirnya penuh harap. "Sudah pasti gara-gara dirimu. Kau gadis kuno yang spesial," Lexa terdengar mengeluh. "Aku dan Alice bahkan sangat kesulitan untuk bisa menemukan keberadaan Solaris dan Dael pada jam istirahat. Kurasa Alice benar, kau memang harus bersama dengan kami." "Lexa," desis Alice, penuh peringatan. "Ups," Lexa menyengir lebar, tak terlihat merasa bersalah dengan kata-katanya. Sementara Dami mencoba untuk tidak menunjukkan ekspresi sensitif. Tapi ia menyadari jika ia belum sekuat itu sebagai manusia. Bagaimana mungkin ia menerima fakta jika keduanya hanya ingin berteman dengannya karena maksud tertentu? Bukankah ini yang namanya dimanfaatkan? Alice menyentuh sebelah tangan Dami yang tanpa sadar mulai bergetar menahan emosi. "Aku tidak memilihmu karena ingin dekat dengan Solaris dan Dael," kata Alice, suaranya terdengar lembut. Gadis ini benar-benar memiliki bakat sebagai Vampir, pikir Dami. Kecantikan dan tata bahasa serta emosinya bisa mempengaruhi lawan bicaranya. "Aku hanya ingin kita berteman." "Kau bertele-tele sekali, Alice." Kata Lexa, tertawa sinis. Namun Alice tetap menatap Dami dengan sorot tajam yang meyakinkan. "Aku tidak berbohong," kata Alice seperti membaca pikiran Dami. "Kita bisa mencobanya untuk membuktikan apakah aku memanfaatkanmu atau tidak." "Tapi kenapa?" Tanya Dami. Ia tahu hanya Lexa yang berkata jujur kepadanya jika ia hanya dimanfaatkan. "Tapi kenapa kau ingin berteman denganku?" Dami menyadari ia terlalu sensitif dan payah. Untuk apa ia menanyakan hal itu? Ia seolah menginginkan suatu pengakuan. Ini perasaan yang aneh. Rasanya dulu ia tidak pernah memusingkan semua hal ini. Selama Jadrian selalu memperhatikannya, ia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Ia memandang pada tangannya yang digenggam Alice dengan lembut. "Sudah kukatakan, kau adalah gadis yang menarik." Dami masih belum memahami apa yang diinginkan oleh Alice darinya. Namun ia sudah terjerat di sini, Alice seperti Vampir yang memperangkapnya. *** "Dia seperti Vampir," Dami menceritakan segalanya kepada Jadrian. "Aku sampai merasa takut kepadanya." Dami bersandar pada bahu Jadrian, dan Jadrian yang sedang memegangi buku bacaannya hanya tersenyum mendengarkan. Tentu Jadrian tidak jadi membaca demi mendengarkan cerita Dami. "Apa yang kau takutkan kepadanya?" Tanya Jadrian. "Dia hanya manusia kan?" "Hanya?!" Dami segera duduk tegak, melotot pada Jadrian. "Jade, dia adalah gadis yang mengerikan! Aku bahkan tidak bisa mengatakan tidak kepadanya! Aku berniat ingin lepas darinya tapi dia malah... Dia malah memegangi tanganku seperti ini! Dia bahkan mengatakan jika aku ini menarik! Bukankah dia kedengaran seperti Vampir? Jangan-jangan dia Vampir, Jade!" Jadrian hanya tersenyum saja. "Bagaimana suhu tubuhnya?" Dami terdiam. "Itu... Dia sangat hangat." "Nah..." "Tapi, Jade. Mungkin ada alat penghangat tubuh Vampir yang bisa menipu manusia!" "Aku belum pernah dengar alat semacam itu, tapi itu kedengaran ide yang bagus. Akan kucoba memberikan ide ke situs Neutralist yang masih membuka web-grup ilegal." "Jade... Aku sedang serius!" "Ya, Dami. Lalu apa yang kau inginkan?" "Aku ingin menolak ajakannya. Dan aku ingin berteman dengan Aoi." "Siapa Aoi?" "Dia gadis pemilik mobil kuning imut yang memberiku tumpangan tadi pagi. Dia baik sekali kepadaku. Dan kami satu kelas. Tapi Alice tidak suka padanya. Lexa menyebut mereka Perusuh. Kedengaran kasar kan?" Jadrian mengangguk-angguk. "Kalau begitu tinggalkan Alice dan bertemanlah dengan Aoi." "Tidak semudah itu, Jade~!" Erang Dami frustasi. Jadrian memandang Dami dengan keheranan, tentu permasalahan ini tidak bisa dipahami dengan baik oleh Jadrian. Dan Dami juga merasa kebingungan karena frustasi dengan masalah sekonyol ini. "Aku tidak tahu jika berteman akan sesulit ini," keluh Dami. Ia sudah kehabisan energi untuk menjelaskan perasaannya kepada Jadrian. Ia kembali menyandarkan diri pada bahu Jadrian yang dingin namun terasa menyegarkan di punggungnya. "Apakah sewaktu menjadi manusia dulu kau punya banyak teman, Jade?" "Hmm, aku sudah tidak terlalu ingat. Apakah kau ingat?" "Aku hanya ingat pada Arlene. Tapi itu pun samar-samar. Aku tidak mengerti kenapa para perempuan manusia tidak ada yang sebaik Arlene." "Dami," panggil Jadrian lembut. "Aku tahu kau kerepotan memahami perasaanmu sebagai manusia. Dan aku senang kau berbagi cerita kepadaku." Jadrian mengusap lembut rambut Dami yang sengaja dicat warna kecokelatan. Menurut Jadrian Dami harus terlihat berbeda dari biasanya untuk penyamaran mereka selama di sini. Dan ia mengenakan cat berbahan sihir yang cukup permanen selama masih ingin digunakan. "Aku tahu kau kesulitan, tapi cobalah pelan-pelan. Kau adalah gadis yang tangguh. Aku percaya kau bisa melewatinya. Dan Alice benar, kau adalah gadis yang menarik, pastinya dia ingin berteman denganmu. Cobalah untuk bersabar dan bertemanlah dengannya. Mungkin dia tidak seburuk yang kau bayangkan. Dan juga kau bebas berteman dengan siapa saja. Kau juga bisa berteman dengan Aoi. Alice tidak punya hak untuk melarangmu." "Wah," kata Dami. "Kau benar, Jade." "Bagus." "Jadi kau akan membiarkanku menginap di rumah Alice?" "Yah..." Jadrian kedengaran ragu. "Kau boleh melakukan apa saja, tapi berhati-hatilah." "Baiklah. Tapi kumohon untuk tidak mengirimkan mata-mata di sekitarku," protes Dami. Sementara Topaz yang sedang berada di dapur dan sedang menikmati minuman pembuat abadinya, bersenandung riang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN