"Boleh aku duduk di sini?"
Pada saat itu Alice seharusnya menolak, namun ia iseng saja mempersilahkan si murid baru duduk di sebelahnya. Dia mengangguk sekali dan si murid baru tersenyum senang.
"Terima kasih," Si murid baru segera duduk, lalu menaruh tasnya yang berwarna merah muda ke atas meja. Seketika Alice tidak mampu menahan kernyit jijik melihat barang-barang si murid baru yang menurutnya terlihat norak.
"Ew," bisik Lexa di sebelahnya. "Kenapa kau membiarkannya duduk di situ?" Ia memprotes.
Namun Alice tidak merasa perlu menjawab Lexa. Ia bisa melakukan apa saja yang ia mau tanpa perlu mendengarkan pendapat orang lain, termasuk Lexa.
"Lihat rambutnya," bisik Lexa. "Lebih baik dia botak saja daripada dengan rambut yang dicat berantakan itu."
Si murid baru menoleh. Bola matanya yang besar dan berwarna cokelat memandang Alice dan Lexa. "Ya?" Tanyanya.
Lexa nyaris akan membuka suara namun Alice menjawab lebih dulu.
"Tidak," jawab Alice, dan ia merasa heran karena ia tersenyum kepada si murid baru.
Si murid baru membalas senyum Alice. Dia terlihat sungguh polos, seperti bayi, pikir Alice.
"Namaku Dami," si murid baru memperkenalkan diri meski Pak Brown sudah mengumumkan namanya di depan sebelumnya. "Boleh aku tahu nama kalian?"
"Namaku Alice," jawab Alice, mengabaikan sorotan heran Lexa kepadanya. "Dan di sebelahku ini, Lexa."
"Yeah, namaku Lexa," Lexa terpaksa mengikuti permainan Alice. Ya, Alice hanya sedang bermain-main. Ada kalanya ia melakukan hal-hal tak terduga seperti ini.
"Halo, senang berkenalan dengan kalian berdua." Dami masih tersenyum, dan itu menggemaskan menurut Alice. Lucu sekali mengenal makhluk polos seperti ini.
"Kau tinggal dimana? Aku tidak pernah melihatmu di kota. Orang baru ya?" Tanya Lexa, meskipun dia punya standar untuk memilih teman, ia masih bisa berbasa-basi dengan berbagai pertanyaan tak terduga daripada Alice.
"Ya, aku baru pindah hari kemarin." Dami mengangguk antusias.
Alice malah sedang memikirkan hewan seperti apa yang mirip dengan gerak-gerik Dami. Seperti anak kucing.
"Kau tinggal di sebelah mana?" Tanya Lexa lagi.
"Blok C, bangunan DF." Jawab Dami segera. "Kalian?"
Lexa memutar bola matanya mendengar jawaban Dami. "Bangunan tempat tinggal orang miskin," bisiknya pada Alice.
"Kurasa kita harus kembali fokus pada pelajaran," Alice memutuskan komunikasi mereka.
Dami terlihat kebingungan dengan aura dingin Alice yang tiba-tiba muncul, pertanyaannya bahkan belum dijawab. Alice mengabaikannya saja, ia memalingkan wajah ke depan. Dan di saat itulah ia merasakan perasaan dingin yang aneh. Seperti ada seseorang yang sedang menatapnya.
Alice menoleh pada Dami yang sudah fokus pada pelajaran. Ia beralih pada Lexa. Lexa menoleh kepadanya, menyengir.
"Dia punya kotak pensil bergambar kelinci. Itu mengerikan." Bisik Lexa, terkikik menghina lalu kembali memandang ke depan.
Namun perasaan dingin itu masih menempel. Anehnya, Lexa atau pun Dami tidak terlihat kedinginan atau pun terganggu.
Alice mulai merasa panik. Ia tidak ingin menjadi aneh dengan merasakan sesuatu yang tidak dirasakan orang lain. Perlahan, ia menoleh ke belakang.
Ada seorang pemuda duduk di sana, memandangnya dengan sorot aneh dengan pasang mata berwarna merah. Ia membelalak ngeri. Dan ketika ia mengerjapkan mata satu kali, pemuda itu sudah tidak ada. Ia mengerutkan dahi tak mengerti.
Alice terkejut ketika Dami menyentuh bahunya.
"Ada apa?" Tanya Dami yang menyadari ekspresi pasca-panik Alice.
Alice mengedikkan bahu. "Ke... kenapa?"
"Apa kau bisa berbagi buku panduan sejarah Pak Brown?"
"Oh, ya. Tentu saja."
Alice memutuskan untuk mengabaikan kejadian aneh yang baru saja ia lihat.
Ya. Ia hanya berhalusinasi.
***
Lexa segera menyeret Alice ketika mereka keluar dari ruang kelas. Alice melirik sekilas pada Dami yang tertinggal di belakang mereka, si murid baru tentu terlihat kebingungan. Tapi Alice tidak merasa kasihan. Dia memang tidak perlu berurusan dengan si murid baru lagi, tidak lebih daripada memperbolehkannya duduk di sebelahnya di jam pertama pelajaran.
Alice dan Lexa punya standar yang cukup tinggi untuk berteman. Tentu gadis cupu dengan tas merah muda dan kotak pensil bergambar kelinci tidak masuk dalam hitungan.
"Anak konyol," kata Lexa. "Aku tak habis pikir melihat penampilannya."
Alice sebenarnya tidak terganggu sama sekali dengan cat rambut dan tas merah muda itu. Selebihnya Dami Alan terlihat biasa-biasa saja, bahkan agak menarik dengan bola matanya yang besar dan cerah.
"Kalau aku," kata Lexa. "Ketika aku harus menjadi murid baru di suatu sekolah, pastinya aku sudah populer walau hanya beberapa menit." Ia tersenyum, menyombongkan dirinya.
Tapi Lexa memang memesona, Alice mengakuinya dengan tulus. Ada hal yang membuat Alice tidak ingin melepaskan Lexa seperti ia melepaskan teman-teman palsunya. Lexa tampil apa adanya, karena dia memang sudah sangat cantik, dengan rambut cokelat keemasan, kulitnya indah berwarna kecokelatan, dan matanya hijau seperti melihat pantulan hamparan hijau bumi. Dan Lexa memang tidak berteman dengannya karena uang atau pun untuk menjadi populer. Lexa tampil dengan dirinya sendiri yang berkarakter kuat dan percaya diri. Hal itu kadang membuat Alice merasa iri. Oleh sebab itulah ia tertarik dan ingin memiliki Lexa sebagai teman.
Alice memang mudah merasa iri. Dan ketika ia merasa iri, ia harus mendapatkan apa pun yang ia mau.
"Aku yakin..." Kata Lexa lagi. "Kelompok cewek konyol Perusuh yang merasa dirinya superhero itu akan mencoba berteman dengan si murid baru."
Alice teringat pada kelompok yang disebut-sebut Lexa. Kelompok itu memandang ke arahnya dengan sorot khawatir ketika Dami memilih duduk di sebelahnya. Ia tidak mengerti mengapa ada orang-orang yang bisa berlebihan dalam memperdulikan orang lain, bahkan pada orang asing sekalipun. Konyol.
Mereka berdua sudah duduk di salah satu bangku kantin, memesan makanan dan minuman, berbincang tentang hari liburan mereka.
"Ini pertama kalinya kau kembali ke kota asalmu," kata Alice karena biasanya Lexa berlibur bersamanya di Varlas ketika musim panas. "Ada apa?"
"Ayahku meninggal," Lexa terpaksa untuk menjawab.
"Oh, maafkan aku," kata Alice. "Aku turut berduka cita mendengarnya. Tapi mengapa kau tidak menceritakan hal ini kepadaku sebelumnya?"
"Maaf, bukan karena aku tidak menganggapmu, hanya saja aku tidak yakin ayahku bisa mati." Entah apakah Lexa sedang menunjukkan ketegaran atau masa bodoh. Lexa memang kadang sulit dipahami, apalagi jika mengenai keluarganya. Hingga sekarang Lexa memang jarang menceritakan tentang keluarganya, walau Alice sudah mencoba bertanya.
Sementara Alice, tidak ada rahasia sama sekali pada dirinya. Semua orang mengenalnya sebagai anak tunggal dari keluarga Sullivan yang kaya raya di Burdenjam. Dan ia masih ingat, Lexa lah satu-satunya teman yang membantunya melewati masa kesedihannya ketika ibunya meninggal.
"Aku tidak ingin menjadi teman yang sia-sia bagimu," kata Alice. "Tapi aku kecewa kau tidak ingin berbagi cerita kepadaku."
Lexa malah tertawa. "Kau tersinggung ya?" Ia mengibaskan tangannya. Kuku jemarinya dicat berwarna emas dengan motif kupu-kupu glitter, Alice mengamati dan yakin ia tidak mengenal bahan yang dipakai kuku Lexa. "Tidak apa-apa. Lupakan saja. Aku dan ayahku memang tidak akrab. Aku bahkan tidak menangis setetes pun. Dan aku merasa sangat bosan selama berada di sana, aku benar-benar ingin cepat kembali ke sini."
"Kau tidak suka pada ayahmu?" Tanya Alice, merasa heran. Kalau baginya, ayah adalah segalanya.
Lexa hanya mengedikkan bahu. "Jika ibuku yang meninggal," ujarnya sambil mengaduk minumannya. "Mungkin kau akan kerepotan. Aku akan menangis selama bertahun-tahun dipelukanmu."
Alice tersenyum mendengarnya, merasa dihargai. Lalu mereka berdua tertawa.
Hari pertama semester baru berjalan sempurna, Alice bergumam senang di dalam hati. Agak sempurna seandainya ia tidak membayangkan hal yang tidak-tidak sewaktu di kelas.
"Astaga," desis Lexa, ekspresinya menunjukkan kengerian. Alice segera memalingkan wajah ke arah dimana Lexa memandang.
Rupanya Kelompok gadis perusuh juga duduk tak jauh dari meja Alice dan Lexa. Tapi bukan gadis-gadis perusuh itu yang dilihat oleh Lexa. Karena kelompok itu juga menunjukkan ekspresi yang sama seperti Lexa.
Solaris dan Dael, dua pemuda paling populer di Caranige baru saja duduk di bangku kantin. Wajar saja jika orang-orang terpana dengan kehadiran mereka yang selalu menarik perhatian. Tapi ada hal yang mengejutkan dan tidak biasa. Solaris dan Dael nyaris tidak pernah muncul di kantin, namun kini mereka berdua duduk di salah satu bangku bersama dengan si murid baru.
"Ini konyol," desis Lexa tidak percaya. Bahkan sulit bagi mereka untuk duduk satu meja bersama dengan Solaris dan Dael. Hal yang paling mengerikan adalah melihat seorang perempuan bisa duduk bersama dengan pemuda populer idaman mereka. "Bagaimana mungkin?! Gadis tas merah muda itu?!"
Alice juga tidak bisa mempercayainya. Dan ia melihat pemuda selain Solaris dan Dael duduk di sana.
"Dia siapa?" Tanya Alice.
"Siapa lagi?! Murid baru itu bersama dengan Dael dan Solaris!"
"Bukan. Pemuda lainnya, di sana, yang duduk membelakangi kita."
"Apa sih maksudmu?" Tanya Lexa. "Pemuda lainnya yang mana? Aku hanya melihat Solaris dan Dael. Oh, ini tidak benar. Murid baru itu pasti Penyihir!"
Alice juga seharusnya mempermasalahkan hal itu. Ia tidak ingin Solaris direbut oleh perempuan mana pun. Dan semua orang pasti setuju jika ia dan Solaris akan sangat sempurna jika bersama. Ia dan Solaris sangat sepadan sebagai pasangan.
Tapi ia malah mempermasalahkan pria yang duduk di sana dengan posisi membelakanginya. Entah mengapa punggung berbahu bidang itu tak terlihat asing baginya.
Lalu pria itu berdiri. Alice seharusnya mengangkat wajah untuk melihat pria itu. Namun ia malah berpaling, lebih memilih memandang gelas minumannya. Ia memeluk dirinya sendiri dengan tangan, perasaan takut yang aneh menjalari permukaan kulitnya.
Ia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Ia tahu pria itu menuju ke arahnya, padahal ia duduk di deret sedikit paling ujung di dalam ruangan. Pintu keluar berada di arah sebaliknya dan meja pesanan berada di samping pintu keluar.
Langkah itu semakin mendekat, seperti bergema di dalam pendengarannya, sementara suara-suara lainnya seperti menjauhinya. Suhu udara pun terasa turun beberapa derajat, dingin, sampai-sampai nafasnya membentuk gumpalan di udara.
Lalu suara langkah itu berhenti. Ia tahu orang itu sudah berdiri di belakangnya. Namun tubuhnya terasa membeku, ia tidak mampu bergerak. Ia mencoba memberitahu Lexa namun ia tidak mampu melakukan apa pun.
Dan suara berat seorang pria berbicara dengan sangat dekat di sebelah telinganya.
"Kita bertemu lagi, Putri Kecil."
Alice terperanjat. Ia berhasil menguasai tubuhnya dari kebekuan tidak normal itu dengan menolehkan kepala, namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Ia berpaling ke meja dimana Solaris dan Dael berada, juga di sana sudah tidak ada pria berbahu bidang yang duduk memunggunginya.
"Kita harus melakukan sesuatu," desis Lexa, mengabaikan Alice yang masih dilanda kengerian janggal.