11

1775 Kata
Dami tak pernah menyangka akan bertemu dengan orang-orang yang pernah mengenal Jadrian dan Topaz. Tahu-tahu saja Topaz yang diam-diam mengikutinya hingga ke sekolah muncul menampakkan diri dan memberitahu bahwa kedua pemuda ini adalah dua anak laki-laki yang dulu pernah mereka berdua kenal selama di penjara pasca pemberontakan werewolf sepuluh tahun lalu. Namun ia merasa tidak nyaman dengan pandangan seluruh orang di dalam kantin. Mereka semua tepat memandang ke arahnya, dan rasanya ia sedang dihakimi oleh suatu persoalan yang berat. "Kau mungkin tidak mengenal kami, tapi kami bersama Jadrian dan tentu saja Topaz," pria berambut cepak pendek hitam yang sangat tampan dengan wajah ramah mengerling pada Topaz. Ia sudah mengenalkan diri dan bernama Solaris. "...sudah melalui banyak hal akibat pemberontakan sepuluh tahun lalu." "Ya, kita dipenjara dalam satu sel yang sama. Papa pasti senang mendengar kami bertemu kembali dengan kalian." Kata pria satunya yang bermata kecil dan berambut perak, ia bernama Dael. "Yeah, kawan. Ini adalah kebetulan yang luar biasa," ujar Topaz dengan senyum menyeringai. "Tunggu hingga Jadrian tahu." "Kami sangat ingin bertemu dengannya," ujar Solaris. Ia melirik pada saudaranya, Dael segera mengangguk setuju. "Kami tinggal di block C. Gedung DF nomor 33." Kata Topaz. "Jadrian pasti akan senang melihat para wolfie datang berkunjung." "Tentu kami akan datang berkunjung." Dael mengangguk antusias. "Ya kan, Sol?" "Ya, kami senang jika diundang." Solaris mengangguk. "Kalau begitu aku pergi," ujar Topaz, mengerling pada Dami yang hanya bisa diam saja. "Kurasa Nona Alan tidak ingin aku terus berada di sini." Ia tersenyum menyeringai, malah membuat Dami semakin memberengut. "Aku tahu kau ke sini karena Jadrian," kata Dami, tidak bisa menutupi ekspresi lesu. "Oh tidak juga," Topaz mengedikkan bahu. "Ada hasilnya juga aku membuntutimu. Ternyata di sini aku menemukan banyak hal yang menarik." Dami mengerutkan dahi. "Menarik?" Ulangnya tidak mengerti. "Kau tidak perlu khawatir," kata Solaris pada Topaz. "Kami akan mengawasi Dami jika Jadrian benar-benar mengkhawatirkannya." Seketika wajah Dami terasa panas. Ia merasa ini lebih buruk daripada dibuntuti oleh Topaz. "Ide bagus!" Topaz menyetujui hal itu. "Nah, sampai jumpa." Ia berdiri, kemudian detik berikutnya ia sudah menghilang begitu saja. Dami menghela nafas lega. Ia berharap Topaz benar-benar berhenti membuntutinya. "Jadi... Adik kecil Jadrian adalah seorang manusia?" Dael bertanya, tentu saja dengan suara direndahkan agar tidak ada yang bisa mendengarkan perbincangan mereka. "Ya, aku adalah manusia," Dami tersenyum, mengangguk membenarkan. Dael dan Solaris saling bertukar pandang sesaat. Dami mencoba mengabaikan perasaan bingung kedua pemuda di depannya ini, pastinya mereka mengira jika dia adalah Vampir. Dan Jadrian sudah memberitahunya untuk tidak membeberkan jati dirinya di masa lalu. Sebab, hal itu pasti akan membahayakannya. "Dan kalian... adalah werewolf?" Bisik Dami pula. Dael tersenyum ramah. "Benar. Tapi kami di sini harus menyamar menjadi manusia. Jadi akan lebih baik jika kau tidak menyebut kami begitu." "Oh, maaf." "Tidak apa-apa, Dami." Solaris tersenyum ramah sampai-sampai Dami terpesona memandangnya. Kedua saudara itu nyaris kembar, mereka memiliki senyum yang sama, hanya saja Dael lebih tinggi beberapa senti dan rambut peraknya sangat mudah dikenali. "Aku merasa lega karena di sini juga ada eksisten bukan manusia," ujar Dami. Dael malah mengerutkan dahi mendengarnya "Lega?" Tanyanya heran. Tentu saja aneh mendengar seorang manusia merasa lega dengan keberadaan Eksisten bukan manusia. Dami segera menyadari jika ia terlihat aneh bagi para werewolf karena pendapatnya. "Maksudku... kota ini dipromosikan sebagai kota yang aman untuk manusia. Aku masih meragukan jika kota ini menerima Eksisten bukan manusia." Jelas Dami kikuk. "Dan aku tinggal bersama dua orang Vampir." "Kami mengerti," Solaris mengangguk. "Sebenarnya kota ini juga mengirimkan promosi kepada eksisten bukan manusia. Walikota Burdenjam sedang mengembangkan suatu kota yang disebut kota percampuran yang damai dan aman. Namun semua hal itu masih dalam tahap perkembangan, jadi masih terbatas bagi eksisten bukan manusia. Hanya Eksisten bukan manusia pilihan yang dapat tinggal di sini." "Apakah kalian mengenal Vampir yang juga tinggal di sini?" Tanya Dami penasaran. "Sol mengenal beberapa," jawab Dael. "Ya kan, Sol?" Ia menoleh pada saudaranya yang segera mengangguk. "Ya, tapi sayangnya aku tidak ingin memberitahumu, Dami. Ada peraturan yang melarang keras seseorang membeberkan identitas asli warga yang tinggal di sini," jelas Solaris. "Maaf jika tidak bisa membantumu." "Oh tidak masalah," Dami mengibaskan kedua tangannya. "Aku hanya ingin tahu. Eum, kalau begitu aku pergi dulu." Dami segera menyampirkan tas ke bahunya. "Kenapa buru-buru, Dami?" Tanya Dael heran. "Kelas selanjutnya masih cukup lama." "Ya, tapi aku ingin melihat-lihat sebentar." "Biar kami temani," tawar Solaris. "Oh tidak, tidak usah!" Tolak Dami segera, nyaris menunjukkan kepanikan. "Maksudku... Aku akan pergi ke toilet dulu." "Hmm, baiklah." Solaris mengangguk mengerti. "Hati-hati, Dami. Beritahu kami jika kau butuh bantuan kami. Oke?" Kata Dael lagi. "Oh ya, terima kasih. Permisi." Dami dengan kikuk berjalan pergi meninggalkan meja kantin. Dami merasa ini sungguh memalukan. Ia tahu Jadrian masih mengkhawatirkan dirinya, tapi Jadrian sudah berjanji akan memberikannya kebebasan sebagai manusia. Ia merasa tidak nyaman dengan fakta Topaz membuntutinya hingga ke sekolah. Ditambah, dua orang werewolf itu adalah teman Jadrian dan Topaz. Ia tidak ingin Jadrian dan Topaz meminta keduanya untuk mengawasinya. Dami menyadari jika status Solaris dan Dael tidak hanya sebagai murid di sekolah ini. Mereka berdua pastilah sangat populer karena banyak sekali para murid perempuan yang mengawasi kedua pemuda itu. Dami membutuhkan ruang untuk menenangkan diri. Jadi ia memilih ke toilet perempuan, sayangnya ia bernasib sial. Ia tidak bisa mengelak ketika kelompok murid perempuan yang mempertanyakan kedekatannya dengan Solaris dan Dael muncul dan menyudutkannya di dalam toilet. Para murid perempuan itu terus menudingnya dengan berbagai pertanyaan. Ia mulai ketakutan, ia tahu manusia bisa melakukan apa saja hanya karena perasaan iri. "Begitulah manusia. Naluri iri mereka lebih besar dibandingkan naluri eksisten yang lain." Dami terkesiap ketika suara seorang pria bergema di dalam ingatannya. Ya, seseorang pernah menyebutkan kata-kata itu kepadanya, namun ia tidak dapat mengingat wajah pria itu sama sekali. "Hei, kau dengar kata-kata kami tidak?!" Dami sudah terjatuh ke lantai karena didorong dengan kasar. Salah satu dari mereka menarik kerah pakaiannya hingga tubuhnya sedikit terangkat. Dia benar-benar tidak tahu jika menjadi manusia akan sesulit ini. Padahal dia sudah menjadi Vampir berpuluh-puluh tahun lamanya dan tidak pernah diperlakukan seperti ini. "Menyingkir." Suara itu tidak asing bagi Dami. Dan kelompok perempuan yang merisaknya menolehkan wajah. Alice, teman sebangku Dami tadi pagi telah muncul dengan sorot mata yang dingin. Pasang mata hijau itu mengintimidasi terarah pada Dami. Dami menelan ludah. Tanpa perlu diberitahu ia sudah tahu siapa yang ia hadapi saat ini. Seperti memasuki hutan, ia tahu hewan mana saja yang berkuasa. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Alice. Kelompok murid perempuan yang merisak Dami menjelaskan dengan menggebu-gebu. "Dia cewek kurang ajar kan, Alice?" Tanya salah satu perempuan. "Dia menggoda Solaris. Seharusnya Solaris kan punyamu." Dami menahan diri untuk tidak berteriak memberontak. Karena ia tahu hal itu akan percuma. Alice mengabaikan para perempuan itu. Ia malah berjalan mendekati Dami, lalu menjulurkan sebelah tangannya di depan wajah Dami. Dami memandang tangan Alice kemudian beralih pada wajah Alice yang memandang dengan ekspresi yang sulit ia pahami. Wajah itu terlalu dingin, tak menjelaskan emosi apa pun. "Berdiri," Alice berucap, lebih terdengar seperti memerintah. Toilet hening. Dami masih terpaku dan para perempuan yang lain membelalak memandang Alice, ekspresi mereka seperti sedang menonton film seram. "Berdiri," Alice mengulang, kali ini menyambar sebelah lengan Dami, menarik Dami hingga berdiri. Dami terpaksa berdiri, sementara pasang kakinya terasa lemah untuk menyangganya. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Alice pada Dami, terdengar lembut, kontras dengan ekspresinya yang tak menunjukkan emosi. Pertanyaan itu pun berhasil mengejutkan para perempuan yang ada di sana. Dami menganggukkan kepala, kikuk. Alice tersenyum kecil, namun sama sekali tidak ramah. "Baguslah. Nah, ayo pergi dari sini." -- Dami sudah mengetahui jika Alice dan Lexa adalah para gadis populer di Caranige. Ia juga tahu jika ada hubungan tertentu di antara kelompok gadis populer dengan kelompok pemuda populer. Ada batasan tak tertulis dimana kelompok itu adalah kelompok yang tidak boleh disentuh oleh orang-orang selain mereka. Kedekatan Dami dengan Solaris dan Dael pagi ini telah mengundang perasaan iri para murid perempuan seantero Caranige, dan ia nyaris saja dirundung kalau saja Alice tidak menyelamatkannya. Namun ia tidak mengerti mengapa Alice menyelamatkannya, dan kini menempatkannya di sini. Ia kembali duduk satu bangku bersama dengan Alice dan Lexa di kelas. Ia bisa merasakan sorotan tidak senang dari Lexa, tapi Alice tidak menjelaskan apa pun. "Eum," Dami ingin segera membicarakan ketidaknyamanan ini ketika bel jam pelajaran berakhir berdering. Alice menolehkan wajah pada Dami. "Ya?" "Te... Terima kasih sudah melepaskanku dari mereka." Kata Dami. Ia memang belum sempat berterimakasih kepada Alice. "Soal Solaris dan Dael..." Ujarnya, mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. "Aku tidak mengenal mereka. Hanya saja kakak laki-lakiku mengenal mereka." "Kau punya kakak laki-laki?" Tanya Alice, ekspresinya terlihat terkejut. "Ya," Dami mengangguk. "Seperti apa dia?" Dami mengernyit. Ia tidak tahu jika Alice akan penasaran dengan kakak laki-lakinya. "Dia dokter gigi. Baru saja membuka praktik di area Block C." Jelas Dami. "Kau ingin melihatnya?" Tanyanya ragu karena Alice masih memandangnya dengan sorot penasaran yang aneh. "Hmm, ya," Alice mengangguk. Dami segera merogoh isi tasnya untuk mengambil ponsel. "Tunggu sebentar," ujarnya sambil mencari foto Jadrian yang berhasil ia dapatkan. Ia menunjukkan foto itu pada Alice. Alice memandang foto itu sebentar. "Bukan dia." Gumamnya. Dami memandang Alice dengan bingung. "Bukan dia?" Ulangnya. "Oh, tidak," Alice tersenyum kecil. Dami mengangguk saja. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Alice, tapi Alice menunjukkan ekspresi lega setelah melihat foto Jadrian. "Wah, tampan juga saudaramu ya?" Lexa telah mengambil ponsel Dami. Bahkan Ia membandingkan wajah Dami dan Jadrian di foto. "Kalian terlihat sangat berbeda. Tapi menurutku wajar jika pria setampan ini berteman dengan Solaris dan Dael." Ujar Lexa menilai. "Ya," Dami mengangguk kikuk, ia menerima ponselnya kembali. Ia memang mengakui jika Jadrian sangat tampan terlepas dari fakta sebagai Vampir. "Kau sungguh beruntung, bisa kulihat kau menjadi spesial bagi Saudara Wern. Hanya karena kau adik teman mereka." Lexa mendengus jengkel. "Apa yang mereka katakan kepadamu?" "Ah... Eh?" Dami menjadi gugup. Tidak mungkin ia dengan jujur memberitahu Lexa jika Saudara Wern itu akan mengawasinya demi Jadrian. "Para perempuan itu," kata Alice tiba-tiba. "Jika mereka mengganggumu lagi, kau bisa memberitahuku," ujarnya. Dami cukup terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka Alice akan mengatakan hal tersebut kepadanya. "Kita bisa berteman," Alice melanjutkan. Dami membeku seketika. "Kau ingin berteman dengannya?" Lexa lebih dulu mengulang kata-kata Alice, terlihat syok. "Alice, kau tidak sedang mabuk kan?" "Tidak," jawab Alice. "Tapi kurasa Dami adalah gadis yang menarik." Wajah Dami memanas mendengarnya. Dia... menarik? "Lexa biasanya menginap di rumahku malam Minggu," kata Alice lagi. "Kapan-kapan kau bisa ikut." Dami mengerjapkan mata, masih tidak mempercayai pendengarannya. Apakah Alice serius ingin berteman dengannya? Alice bahkan mengundangnya menginap malam Minggu! "Ke...kedengaran mengasyikkan..." Kata Dami terbata-bata. Ia belum dapat menghilangkan rasa terkejutnya. Namun Dami merasa senang karena seseorang telah mengajaknya berteman. Ia tidak menyangka hari pertamanya bersekolah berjalan cukup lancar, walau sebelumnya ia sempat terlibat pada hal buruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN