39

1430 Kata
Dael melirik sekilas pada ponselnya yang bergetar, namun langsung memasukkannya lagi ke dalam saku. Ia menghela napas karena merasa seperti orang bodoh yang terus saja menghindar. Rasanya konyol saja, dia, seorang werewolf sejati, merasa takut pada seorang gadis manusia. Ini sudah kesekian kalinya Lexa mengirimkan pesan. Dan kali ini adalah sebuah pesan video yang menampilkan wajah cantik gadis itu. Dael sama kuatnya dengan Solaris, mereka berdua tahan terhadap godaan. Keluarga Wern memang dikenal sebagai keluarga yang sangat berbeda dari sebagian kelompok werewolf. Keluarga Wern merupakan resolusi kehidupan baru Kelompok werewolf di Pirus, kampung halaman mereka. Kelompok werewolf baru yang tidak tunduk pada hukum mutlak yang diberikan kepada mereka, yaitu menjadi sebagai predator dan karnivor sejati di bumi. Dael tidak naksir Lexa. Datang ke pertemuan akhir Minggu kemarin memang adalah sebuah kesalahan. Dan ini semua lagi-lagi karena Victor. Bisa tidak sih, Victor berhenti mengacau? "Fans ya?" Tegur Topaz, membuat Dael tersentak kaget. Dia memang satu tim dengan Topaz dalam pencarian ini. Baru hari ini Dael dan Solaris dapat bergabung dalam pencarian. Mereka telah menyusuri setiap lokasi hutan. Rasanya agak tidak nyaman ketika mereka berpencar dan dia satu tim dengan Topaz. Beberapa waktu sebelumnya Topaz menghilang meninggalkannya, mungkin begitulah cara Vampir itu melakukan pencarian. Dia tidak terlalu mempermasalahkannya. "Yah..." Dael merasakan pipinya bersemu merah. Ia segera mematikan ponselnya karena nada deringnya membuat suasana hutan alami menjadi ternodai. "Bukan begitu." Dia merasa malu sendiri karena entah bagaimana ada banyak orang yang menyukai fisiknya. Begitu pula pada saudaranya, Solaris. "Jangan malu, menjadi populer itu menyenangkan kok." Topaz menyeringai. Tapi Dael tidak setuju. Dia malah merasa terganggu. "Boleh tanya?" Topaz bertanya selama mereka berjalan menyusuri hutan yang lebat. "Silakan." Dael mengangguk. "Apakah kehidupan kalian di Pirus sangat ketat?" Dael mengangguk sebagai jawaban. "Luar biasa." "Wah, wah." Komentar Topaz. "Bahkan termasuk pada kehidupan pribadi kalian? Misalnya menikah?" "Aku dan Solaris sebentar lagi akan mendapat tunangan." "Itu luar biasa," Topaz menunjukkan ekspresi terkejut pada wajah pucatnya yang berpendar memesona. "Segera menikah dan punya anak. Hidup kalian akan sungguh menyenangkan." Dael menjadi penasaran pada masa depannya sendiri karena obrolan ini. Apakah akan menyenangkan seperti yang dikatakan oleh Topaz? "Apakah kau sudah menikah? Maksudku... Dulu, ketika kau masih seorang manusia." Topaz memandangnya dengan sorot aneh. "Apa?" Tanya Dael kikuk. "Aku mengerti mengapa kau dan Victor sering berbeda pendapat." Dael mengerjapkan mata. Agak kaget karena topik pembicaraan Vampir ini mendadak berubah. "Apakah ada yang salah dariku?" Tanya Dael. "Kau sepertinya belum memahami efek menjadi makhluk yang berbeda." Dael merasa tidak enak. "Apakah aku sudah menyinggungmu?" "Aku tidak tersinggung. Tapi mungkin orang-orang sepertiku yang terlalu sensitif bisa menyerangmu." "Seperti Victor?" Tanya Dael. Agak tidak senang tiap kali ia harus diperingatkan untuk bersikap baik pada bocah pembangkang itu. Topaz mengangguk. "Menjadi berbeda rasanya sungguh mengerikan." Ujarnya dengan suara rendah yang berat. "Kita dipaksa meninggalkan jati diri kita. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan kembali kepingan jati diri yang hancur itu. Seperti kaca yang pecah, ditempelkan kembali namun tetap sudah tidak lagi sama. Begitu lah rasanya." "Maaf jika aku kurang mengerti," kata Dael. "Beri tahu saja jika aku menyinggungmu." Meski begitu, Dael tetap tidak mengerti bagaimana rasanya. Menurutnya, menjadi werewolf seharusnya menjadi anugerah untuk Victor. Werewolf tidak lemah seperti manusia yang hanya terdiri dari satu dimensi tubuh. Tubuh manusia tidak memiliki pertahanan sama sekali. Mereka sangat rapuh dan mudah mati, tidak seperti werewolf dengan dua dimensi yang sangat kokoh. Begitu menurut Dael. Topaz tersenyum pada Dael, namun tidak mengatakan apa pun lagi. Mungkin itu artinya urusan mereka sudah selesai. Dael bersyukur ia tidak membuat Topaz marah seperti pada Victor. "Aku membaca banyak buku," kata Dael. "Sepertinya tidak ada yang bisa mematahkan kutukan itu, selain dengan membunuh Vampir yang memberikan kutukan." Topaz mengangguk. "Seperti yang dikatakan Jadrian, begitu." "Tapi seharusnya ada cara lain kan?" Tanya Dael. "Rasanya mengerikan memikirkan Victor dan Dami akan terikat selamanya pada seorang Vampir. Sewaktu-waktu Vampir itu akan datang kembali lalu mengambil mereka." "Menurutku tidak ada cara lain. Kita harus menemukan Vampir itu, lalu membunuhnya sebelum terlambat." Dael menelan ludah mendengar ucapan Topaz yang terdengar begitu santai. Namun ia dapat melihat sekilas sorot mata kegelapan sang Vampir. "Kita sudah menjelajahi hutan. Bagaimana jika Vampir itu tidak bersembunyi di sini?" "Sebenarnya aku berharap Vampir itu bersembunyi di hutan saja," kata Topaz. "Pasti akan sulit melakukan penyelidikan dengan mengetuk pintu setiap rumah. Orang-orang akan curiga. Kita juga akan mendapat masalah karena terlalu menyolok." "Burdenjam tidak mungkin menerima penduduk yang berbahaya," Dael menyibak daun pakis besar yang menghalangi jalan. Kemudian ia terkesiap. Topaz melewatinya, kemudian berhenti. "Mau kemana?" Tanya Topaz di depannya. Dael tidak segera menjawab. Ia mengambil arah ke samping, menerobos lebih banyak lagi dedaunan pakis. Ia terus menerobos bagian hutan yang padat, merasakan goresan pada ranting-ranting pohon di kulit manusianya. Dan di sanalah sebuah pondok kecil berdiri. Topaz sudah berdiri di sampingnya tanpa suara. Vampir itu bersiul. "Sebuah pondok dalam hutan," ujar Topaz. "Seharusnya tidak perlu heran. Biasanya digunakan untuk tempat tinggal penjaga hutan. Atau tempat persinggahan para pemburu. Dan opsi terakhir agar menjijikan. Tapi anak muda jaman sekarang senang mencari tempat sepi untuk berpacaran. Iya kan?" Dael tidak merespon. Ia segera menuruni tanah miring, menuju pondok yang terlihat sangat tua dan terbengkalai. Bangunannya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, namun cukup untuk menjadi sebuah rumah tempat tinggal. Ia menemukannya karena melihat puncak mulut perapian dari celah lebatnya daun pakis. Rumah itu terletak pada daerah rendah. Ada sebuah sumur, juga pagar tanaman yang sudah dikerubungi tanaman merambat liar. Tampak jelas jika rumah itu sudah tidak berpenghuni dan ditinggal lama. Tumbuhan merambat liar dan jamur tumbuh bebas di dinding rumah. Dael segera bersuit nyaring ke udara untuk memanggil saudaranya. Sementara Topaz telah menaiki tangga teras. Si Vampir mengetuk pintu dengan sopan, baru kemudian mendobrak pintunya hingga terbuka. "Wah, wah," kata Topaz. "Ada apa?" Tanya Dael, ia merasa cemas karena pondok itu menebarkan aroma busuk yang tidak menyenangkan. Bau manusia yang sudah membusuk. Bau bangkai. "Kita menemukan lokasi pembunuhan yang sebenarnya." -- "Darah segar ini..." Kata Topaz, tampak senang dari pada yang lain. Bahkan Dael yang menemukan pondok itu tidak sudi berjalan memasuki pondok, ia duduk di pinggiran mulut sumur, merasa sangat mual. Seandainya Victor berada di sini, bocah itu pasti akan mengoloknya karena terlihat lemah. "Aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tiga orang manusia pekan lalu." "Apakah pria yang ditangkap itu, Vampir itu, melakukan kejahatannya di sini? Tapi aneh," ujar Solaris. "Vampir itu sudah ditangkap dan ditahan kan pada malam kita berburu?" "Itu artinya ada Vampir lainnya. Atau mungkin saja vampir yang ditangkap itu bukan pelakunya." Jadrian memberikan dugaannya. Dia mengamati seluruh darah yang membekas di lantai rumah. Tentu tidak ada orang yang mau repot-repot membereskan darah di pondok yang sudah terbengkalai dalam hutan. "Tapi itu aneh." Komentar Solaris. "Lokasi pondok ini sangat jauh dari area berburu kita. Apakah Vampir yang berada di sini bisa menyadari keberadaan Dami?" "Seharusnya sih tidak," kata Topaz. "Vampir juga punya keterbatasan. Hebat sekali kalau dia punya indera yang tajam dalam jarak ratusan kilometer." Ujarnya. "Aku punya teori yang masuk akal. Mungkin malam itu, Si Vampir sedang kebetulan jalan-jalan dan menemukan aroma Dami. Jadi dia datang, menemukan Dami, namun Victor berada di sana, mengganggunya. Dan dia sedang malas untuk berurusan dengan werewolf, dia pasti juga sedang merasa sangat kenyang. Dia pun memilih menandai Dami sebagai mangsanya." "Tapi seharusnya Vampir itu tidak perlu sampai menandai Victor kan?" Tanya Solaris, masih merasa heran. "Aku tetap tidak menemukan alasan yang tepat mengapa Vampir itu sampai menandai seorang werewolf." "Seharusnya memang tidak perlu," kata Jadrian, sependapat. "Tepat sekali. Kalau aku adalah Vampir yang berjalan-jalan pada malam hari itu, aku hanya tinggal membawa Dami. Menandai mangsanya dengan kutukan, itu adalah gaya kuno yang sudah ditinggalkan oleh Vampir modern." Topaz berceloteh. Dael hanya mendengarkan dari luar pondok. Ia sudah merasa tidak tahan untuk terus berada di sekitar tempat ini. Ia membayangkan, para manusia yang tidak berdosa itu diseret ke dalam hutan, lalu Vampir itu menghisap darah para manusia itu samapi titik darah terakhir. Dael merasakan embusan angin yang janggal dari bawahnya. Ia menoleh pada mulut sumur di bawahnya. Ia mengerutkan dahi. Heran karena sumur itu tidak ditutup. "Eum, teman-teman?" Dael berdiri. Ia menemukan penemuan berikutnya. "Coba cek sumur ini." -- Dael tidak turun ke dalam sumur. Ia memutuskan untuk menjaga lokasi. Sementara ketiga yang lain masuk ke dalam sumur. Solaris orang pertama yang keluar setelah beberapa lamanya di dalam sana. "Apa yang kalian temukan?" Tanya Dael. "Terowongan," jawab Solaris segera. "Sial..." Desah Dael. Sebuah terowongan di kota yang didesain sebagai kota percampuran terbaru dengan sistem ketat. Entah kemana terowongan itu menuju. "Kita harus memberitahu pihak berwajib," ujar Solaris. "Kau yakin?" Tanya Dael. "Sayangnya kita harus melakukannya. Burdenjam sudah diterobos."[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN