Dami berjalan pulang dari perpustakaan kota. Bisa dibilang, ini pertama kalinya ia berkeliaran sendirian di kota tanpa ada siapa-siapa yang menemaninya. Untunglah dunia sudah menjadi sangat modern. Dia hanya perlu menggunakan ponsel pintarnya untuk melakukan berbagai hal. Ia tidak akan tersesat karena ada aplikasi peta canggih yang dapat menuntunnya ke berbagai tempat.
Sebenarnya Dami merasa agak aneh sebab baru hari ini Jadrian dan Topaz tidak mengecek keberadaannya. Mungkin mereka terlalu mempercayai Victor, mengira Victor akan dengan patuh menemaninya. Tapi Dami melihat Victor pergi bersama ketiga teman gadisnya. Victor bahkan tidak mencarinya. Tapi baguslah. Dengan begitu ia bisa pergi ke perpustakaan tanpa ada orang yang mencurigainya.
Dami penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh para Vampir. Tentu saja mereka sedang menyelidiki Vampir yang menyerang dirinya dan Victor pada malam berburu itu.
Dami berjalan dengan menundukkan kepala. Ia menutup kepalanya dengan tudung jaket. Tentu saja ia tidak lupa dengan kondisinya yang baru saja mendapat kutukan. Dan sekarang ia berjalan-jalan sendirian di tengah kota. Bisa dibilang dia bodoh sekali.
Tang!
Ia mendengar suara pukulan palu para pekerja bangunan tak jauh di dekatnya. Ada pembangunan di tengah kota sehingga segala sumber suara bercampur baur. Suara alat pembangunan yang berdenting nyaring, suara kendaraan lalu lalang, suara langkah kaki para pejalan yang berderap, suara TV-TV di jalan yang menayangkan berita.
Dami menggelengkan kepala, merasa resah dengan keributan tengah kota.
Ia terus berjalan saja. Ia harus segera pulang untuk meninggalkan keramaian ini.
Tang!
Telinga Dami terasa nyeri mendengar suara dentingan alat pembangunan itu.
Tang!
Ia mengernyitkan dahi. Lalu kilasan ingatan muncul di dalam kepalanya.
Tang!
Di dalam ruangan yang berpenerangan dengan lilin-lilin yang menyala, ia melihat seorang pria dengan mantel dan tudung, membelakanginya, sedang mengerjakan sesuatu menggunakan palunya.
Dami mendengar suaranya, bertanya kepada pria itu.
"Kau sedang apa?"
Pria itu berhenti bergerak.
"....boneka."
Suara itu terdengar mendesis, mengingatkannya pada suara ular.
"Apa?"
"Sebuah boneka. Aku membuat sebuah boneka."
Ia merasakan ketertarikan mendengar kata boneka, sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak pada umumnya. Anak-anak suka pada boneka.
"Boneka apa?" Tanyanya. "Bolehkah aku melihatnya?"
Pria dengan tudung dan mantel itu berhenti bekerja lagi. Ia mendengar pria itu tertawa, cekikikan geli.
"Ini bonekamu." Kata pria itu.
Dami membelalakan mata. "Benarkah?" Ia merasa sangat tertarik.
"Ya... Sebentar lagi selesai."
Pria itu melanjutkan kembali kegiatannya. Suara dentingan palu kembali terdengar. Kemudian pria itu menggeser semua peralatannya. Lalu berbalik kepada Dami, sambil membawa boneka itu dalam gendongannya.
Dami bertepuk tangan, merasa sangat antusias untuk melihat bonekanya.
Pria itu menunjukkan sebuah boneka porselen. Boneka anak perempuan yang seukuran dengan tubuhnya.
Boneka itu mengenakan gaun hitam yang sama dengan yang dikenakan oleh Dami. Sepatu baletnya dengan pita merah dan kaus kaki putih berenda yang juga sama dengan yang dikenakan oleh Dami saat itu.
"Dia mirip sekali denganku!" suara kecilnya terdengar polos.
"Dia memang adalah dirimu."
Tang!
Dami sudah sampai berlutut karena kepalanya yang berdenyut kesakitan. Telinganya berdengung nyeri, jangan-jangan telinganya sampai berdarah. Bunyi dentingan pembangunan itu seperti telah memecah gendang telinganya. Pandangannya memburam. Ia berusaha melihat dan sebuah pasang kaki kecil berdiri di hadapannya.
Dami mengerjapkan mata melihat sepasang kaki kecil itu.
Tang!
Pasang kaki kecil itu mengenakan sepasang sepatu yang yang sangat ia kenali. Mirip dengan sepasang sepatu miliknya di masa lalu. Sepatu balet hitam dengan pita merah. Serta kaos kaki putih berenda.
Dami mencoba menengadah ke atas. Sosok anak kecil itu menunduk padanya. Ia mengernyit memandang sosok anak kecil itu.
"Siapa...?"
Tiba-tiba seseorang menyambar bahunya, membuatnya berdiri.
"Kau tidak apa-apa, Nak?"
Dami mengerjapkan matanya yang merasa silau dengan sinar-sinar TV di dekatnya. Ia melihat anak kecil itu berlari pergi meninggalkannya. Dalam pandangannya yang masih buram, ia melihat anak kecil itu mendatangi seorang pria dengan rambut emas. Mereka berpegangan tangan lalu berbalik pergi bersama.
"Tung... Tunggu!" Dami melepaskan diri dari orang yang mencoba menyelamatkannya. Nyeri di telinganya sudah mulai memudar dan pandangannya sudah mulai semakin jelas. Ia mencoba mengejar pasangan itu. Seorang pria tinggi dengan rambut emas dan bocah kecil.
Jantungnya serasa mencelos melihat pemandangan itu. Ia seperti melihat dirinya dan Jadrian di masa lalu. Tapi mereka berdua sangat berbeda. Mereka bukan dia dan Jadrian.
Dami tidak berhasil mengejar. Sang pria dan anak perempuan itu telah lenyap dalam kesibukan pejalan kaki di jalan raya.
Lampu penunjuk pejalan berubah. Area zebra cross pun kosong dari pejalan kaki, digantikan oleh lalu lalang kendaraan.
Dami sudah mampu berdiri tegak, dengan pandangan dan pendengaran yang sehat. Segala sumber bunyi tidak lagi membuatnya kesakitan.
Tadi mungkin hanya sebuah fase saat ia tiba-tiba teringat pada kenangan masa lalu yang telah ia lupakan. Lagi-lagi ia melihat ruangan itu, ia berada di sana bersama dengan orang yang sama. Ia bergidik mengingat boneka porselen yang menyerupai dirinya itu. Otak anak-anak sungguh berbeda dengan otak para orang dewasa.
Ia tidak berpikir jika boneka porselen itu cantik atau menarik, malah sangat menyeramkan. Ia seolah seperti memiliki kembaran saja. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan orang itu kepadanya? Siapa orang itu? Mengapa orang itu memilihnya untuk melakukan perubahan mengerikan ini?
Tapi kau tetap mensyukuri dirimu karena telah menjadi manusia. Iya kan?
Dami mendengar suara dalam hatinya.
Kau senang bisa menjadi manusia. Makhluk dengan tubuh rapuh, walau hanya memiliki satu kali alur kehidupan.
Dami mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah.
--
Dami baru saja bersiap-siap untuk membuat makan malamnya ketika mendengar ponselnya berdering. Ia pun segera mencari ponselnya karena ia lupa menaruhnya di mana
Ia menemukannya setelah nada dering kedua. Suara dering itu terdengar meresahkan seolah si penelepon sudah tidak sabar untuk minta diangkat.
"Hei, Vic?" Dami sudah menyimpan nomor ponsel Victor, dia agak kaget karena Victor lah si penelepon tidak sabar itu.
"Hei," balas Victor di seberang sana. Ia mendengar suara ribut-ribut di belakang Victor. "Tunggu sebentar. Aim, aku harus menelepon dulu. Tolong kecilkan suaranya. Oh, thanks Aoi. Ibumu benar-benar luar biasa, semua camilan ini akan membuat tubuhku membengkak. Oh, Daisy, kau sudah datang?"
Dami mendengar samar-samar suara Aoi dan sapaan balik Daisy ketika volume suara TV dikecilkan. Victor pasti telah bergerak ke tempat yang agak sepi karena suara-suara itu terdengar menjauh.
"Aku meneleponmu dari tadi," kata Victor. "Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau sudah berada di rumah?"
"Eh? Yap. Aku sudah di rumah," jawab Dami segera. Ia lupa jika Victor sekarang adalah salah satu pengasuhnya jika Topaz sedang sibuk.
"Baguslah. Apakah Jadrian sudah pulang?"
"Belum. Kenapa?"
"Sebenarnya aku disuruh menjagamu. Tapi aku punya kegiatan lain."
"Oh, tidak apa-apa," Dami merasakan pipinya memerah mendengar pengakuan Victor.
"Tapi kurasa akan lebih aman jika kau memberitahu para Vampir posesif itu bahwa hari ini kita pulang bersama, atau sesuatu yang tidak membuat mereka khawatir karena aku tidak bersama denganmu sepulang sekolah. Kau bersama dengan Alice kan tadi?"
"Eh?" Dami tidak tahu harus menjawab apa karena dia berpisah dengan Alice di dekat gerbang.
"Nah, beritahu saja jika aku yang mengantarkanmu ke rumah Alice."
"Aku tidak ke rumah Alice."
"Oh." Victor terdengar agak bingung sesaat. "Kalau begitu beri tahu mereka jika aku menemanimu selama di rumah."
"Tidak. Kurasa akan lebih baik jika kita sepakat kau hanya mengantarkanku sampai di gerbang apartemen."
"Kenapa?" Tanya Victor, terdengar heran. "Bukankah gerbang terlalu jauh untuk mengantarkanmu?"
"Di sini ada kamera pengawas, Vic. Aku khawatir kita akan ketahuan jika berbohong."
"Astaga, kamera pengawas?" Ulang Victor tidak percaya. Victor pasti sangat terkejut mendengar kegilaan Jadrian.
"Jadi bagaimana? Sepakat sampai gerbang?" Tanya Dami. "Kita bisa bilang jika kita menghabiskan waktu dengan makan siang bersama di restoran dekat sekolah." ia memberikan ide.
"Yah, terserah saja. Aku memintamu begini bukan karena ingin menyelamatkan posisiku. Tapi kurasa itu lebih baik daripada berkata yang sebenarnya."
"Aku tahu. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun."
"Dengar, aku punya kehidupan pribadiku sendiri, Dami." Ujar Victor.
"Ya, aku tahu."
Di latar belakang terdengar suara Aimee memanggil.
"Nah, jika kita sudah sepakat, aku harus melanjutkan pertempuranku dengan Aimee. Dah, Dami."
"Ya. Silakan lanjutkan."
Victor yang memutuskan sambungan, meninggalkan Dami yang terpaku sesaat bersama bunyi nada putus di ponselnya.
Dami tidak dapat menutupi rasa iri pada Victor yang memiliki kehidupan pribadi. Victor punya teman-teman tempat di mana pemuda itu dapat menghabiskan waktu. Dari latar belakang suara yang ia dengar, ia yakin jika Victor sedang berada di rumah Aoi. Mereka berempat berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Mengapa rasanya kegiatan mereka terdengar mengasyikkan daripada saat ia berkunjung ke rumah Alice?[]