41

2084 Kata
"Wah, wah..." ujar Topaz yang baru saja merubuhkan pintu dengan satu kali tendangan yang menurutnya terbilang ringan. Padahal sebenarnya tidak perlu. Tapi memang kadang Topaz suka pamer. Dan itu artinya dia memang sangat menyukai teman baru mereka. Solaris terbatuk-batuk karena debu dan pasir yang naik ke udara akibat kekacauan itu, sementara Jadrian telah lebih dulu keluar dari terowongan. Topaz menyusul di belakangnya, baru kemudian Solaris. Mereka berada di sebuah parit besar yang sudah terbengkalai. Bukan tempat yang menarik karena dipenuhi sampah, berlumut dan pastinya penuh dengan bakteri. Air pembuangan di bawah mereka pun terlihat sangat mengerikan, berwarna kehitaman. Bercampur dengan limbah pabrik. Dan yang jelas parit itu berada di pertengahan jalan luar kota Burdenjam. "Sial," kata Solaris. "Kau seharusnya tidak merusak pintunya." Ujarnya pada Topaz. "Oh, sori. Nanti kuperbaiki kok." Topaz menyadari kesalahannya. "Cuma mau sedikit aksi." Ia menyeringai. "Lalu sekarang apa?" Tanya Solaris. Jadrian masih diam saja, ia sedang mengamati sekitar dengan cermat. "Apakah Vampir itu ada di sini?" "Sepertinya sudah tidak ada." Jawab Topaz. "Menurut dugaanku, Vampir itu sudah membaur di kota." "Sial... Apa kau yakin?" "Topaz benar." Jadrian akhirnya berkata. Percuma saja, mereka tidak akan menemukan apa pun di parit besar terbengkalai ini. Dan Vampir memang tidak pernah meninggalkan jejak dengan mudah. Kecuali kecerobohan yang ada di pondok itu. Sangat jelas jika Vampir itu tidak ingin repot-repot membersihkan lokasi tempat makannya. Atau... Vampir itu bukan vampir yang cukup cerdas untuk mengurus diri. Mungkin saja Vampir yang sangat muda. Vampir muda hanya ada dua kategori. Kategori pertama adalah Vampir yang baru terkontaminasi, kategori kedua adalah Vampir anak kecil. "Kita perlu melapor." Kata Solaris tegas. "Ini berbahaya. Ada pintu keluar masuk ilegal di Burdenjam. Ini tidak benar. Penyusupan." Jadrian baru saja akan menahan Solaris, namun pemuda itu sudah pergi kembali ke terowongan. "Wolfie larinya cepat," komentar Topaz melihat Solaris yang sudah menghilang dari pandangan. "Jadi? Apa kita lapor saja?" "Jangan," kata Jadrian. Perasaannya sungguh tidak enak. Siapa pun yang menerobos masuk ke dalam Burdenjam, Vampir itu telah menyerang Dami. Menandai Dami dengan kutukan mawar hitam. Perusuh kah? "Jangan melapor dulu." "Tapi wolfie itu sudah kembali ke hutan." Kata Topaz. "Akan kuurus." Kata Jadrian. "Lalu aku?" Tanya Topaz. "Kau bilang penyelidikanmu belum selesai," kata Jadrian, menoleh pada Topaz. Topaz terlihat terlalu santai, tidak terganggu seperti Jadrian. Tentu saja. Topaz bukan dirinya. Topaz tidak punya saudara. Saudara yang berubah, dari Vampir kembali menjadi manusia. "Kita memang sehati, Jade." Topaz menyeringai. "Dengan jalan ilegal ini, izinkan aku menyelidiki anak laki-laki dari Vampir yang akan dihukum mati itu." Jadrian mengangguk. Lalu dalam sekejap Topaz telah menghilang ke dalam bayang-bayang. Jadrian pun memperbaiki pintu kayu yang sudah rapuh itu. Kemudian ia kembali ke hutan melalui terowongan. Sesampainya di atas, ia melihat saudara Wern saling berhadapan dengan wajah serius. "Di mana Topaz?" Tanya Solaris, dahinya berkerut karena Jadrian menutup mulut sumur sebelum Topaz muncul. "Dia punya urusan di luar." Kedua saudara Wern terperangah mendengar jawaban Jadrian. "Kau membiarkannya berkeliaran keluar dari Burdenjam tanpa izin sah?" Tanya Dael tidak percaya. "Wah, parah sekali. Kita akan dihukum karena sudah melanggar aturan!" "Kita akan baik-baik saja jika kita diam saja." Ucap Jadrian tenang. "Tapi, Jade... Kita harus melaporkan terowongan ini." Kata Solaris. "Ya. Tentu saja. Kita akan melapor kepada polisi. Tapi belum saatnya." "Apa kau gila? Kalau tidak sekarang, kapan?" Tanya Dael. "Setelah Topaz kembali, kita akan membahas apa yang harus kita lakukan dengan lokasi ini." Jawab Jadrian. "Demi Tuhan! Ini adalah lokasi pembunuhan, Jade!" Seru Dael, terlihat panik. "Kau lihat darah di lantai pondok itu? Itu semua pasti bekas darah para korban! Jika memang ada Vampir lain yang berkeliaran di kota, semua orang di dalam Burdenjam akan dalam bahaya! Ada Vampir gila kelaparan di dalam kota ini!" Jadrian sungguh tidak memikirkannya. Dia hanya memikirkan keselamatan Dami. "Tenang lah, Dael," ucap Jadrian. Untunglah dia adalah seorang Vampir yang tidak memiliki emosi sebesar makhluk berdarah panas ini. Tapi tentu saja dia memiliki sedikit emosi, misalnya perasan khawatir. Perasaan tidak nyaman seperti rasa gatal di otaknya yang masih bekerja dalam kondisi setengah mati ini. "Topaz hanya akan sebentar saja. Kami harus yakin pada sesuatu terlebih dahulu." "Yakin pada apa? Tolong beri tahu aku!" Desak Dael. Tentu saja Dael akan panik. Semua makhluk pemilik darah panas akan merasa panik karena mereka semua berpotensi menjadi sumber makanan Vampir. "Kita harus tahu usia Vampir itu sebelum mulai mengeksposnya." Dael dan Solaris saling berpandangan, keduanya tampak tidak mengerti. "Percayalah," kata Jadrian. "Setelah kami tahu usia Vampir itu, kita akan tahu bagaimana cara berhadapan dengannya." Solaris dan Dael terlihat masih keberatan, namun mereka pasrah karena mereka tidak tahu apa-apa bila dibandingkan dengan Vampir berusia seratus tahun seperti Jadrian. "Topaz hanya akan sebentar." Jadrian memandang ke langit. "Sebentar lagi malam. Dia akan bergerak cepat saat malam hari. Dan akan kembali sebelum dini hari. Percaya lah." "Bagaimana jika Vampir itu kembali ke tempat ini?" Tanya Dael. "Ini adalah tempatnya membunuh manusia. Dia bisa kembali kapan saja. Mungkin saja dia berada di luar sana dan ingin kembali ke sini." "Tidak. Sayangnya Vampir itu sudah berada di dalam kota ini." Sanggah Jadrian, yakin. "Dan dia tidak akan kembali ke tempat ini." "Kau yakin?" Tanya Solaris ragu. "Percaya lah. Instingku berkata begitu." Kedua Wern tampak masih keberatan. "Pergilah dari tempat ini," perintah Jadrian. -- Jadrian punya insting, yang selalu benar, dan semoga saja dia benar. Dia sudah hidup selama seratus tahun. Dia telah mempelajari banyak hal tentang Vampir. Dan ada satu kesamaan dari semua Vampir, yaitu kesombongan. Jadrian telah meyakinkan kepada kedua bocah werewolf itu, ia dapat melihat rasa takut di mata keduanya. Solaris dan Dael mungkin sudah delapan belas tapi mereka tetap saja masih belum berpengalaman. Dan sampai sekarang Jadrian masih melihat mereka berdua seperti dua bocah kecil di stasiun kereta bawah tanah di Varlas sepuluh tahun lalu. Sementara dia adalah Vampir berusia seratus tahun yang sudah menemui banyak kehidupan. Dan karakter tidak akan berubah. Jadrian yakin jika siapa pun Vampir itu tidak akan kembali ke pondok, tempat di mana Vampir itu telah melakukan kekejiannya. Ia tidak melihat jejak yang ditinggalkan dan Vampir memang tidak akan meninggalkan jejak. Terowongan itu sangat bersih, kecuali pondok. Dengan sisa darah yang dibiarkan. Ada dua makhluk penyusup. Ia menduga. Entah mengapa Jadrian sangat yakin begitu. Satunya Vampir yang tidak sabaran, kelaparan dan berbahaya. Mungkin Vampir muda, baru saja terkontaminasi atau Vampir anak kecil yang sulit dikontrol. Hanya ada sedikit Vampir anak kecil dalam populasi mereka. Dia yakin begitu meski tidak pernah ada survey terhadap jumlah populasi Vampir. Banyak Vampir lebih suka bersembunyi dan menolak ketukan pintu terhadap survey pastinya. Tapi Vampir selalu berjumlah sedikit. Sebab mereka tidak dapat bereproduksi dan lebih suka makan daripada menambah jumlah. Sementara makhluk satunya bisa apa saja. Manusia, werewolf, Penyihir... Tidak. Makhluk satunya pastilah adalah seorang Vampir juga. Mengingat kutukan yang didapat oleh Dami dan Victor. Kutukan kuno, sudah pasti diberikan dari Vampir yang sudah sangat tua dan beradab. Kedua kakak beradik Wern keberatan ketika Jadrian menyuruh mereka pulang. Keduanya tidak percaya pondok itu dibiarkan saja malam ini tanpa diawasi. Mereka anak-anak kecil yang punya banyak imajinasi, tentu saja. Tapi sebagai orang dewasa, Jadrian memberitahu mereka dengan pengetahuannya. Sayangnya dia terjebak ditubuh manusianya yang berusia sebaya dengan bocah-bocah werewolf itu. Tentu dia agak kurang meyakinkan dengan tubuh ini. Tapi Jadrian tetap berhasil menyuruh mereka pulang. Jadrian tetap berada di dekat pondok, berjaga-jaga hanya untuk memuaskan kekhawatiran saudara Wern. Dan seperti dugaan Jadrian, Vampir itu, atau para Vampir itu tidak kembali ke pondok. Jadrian sengaja pulang ke apartemen agak larut hanya untuk mengecek keadaan Dami. Dia tidak menelepon Dami. Dia menelepon Victor dan Victor memberitahunya jika segalanya baik-baik saja dengan Dami. Jadrian tahu seharusnya dia tidak mempercayai Victor. Dia ingin menjadi orang yang menjaga Dami. Tapi situasi ini di luar kekuasaannya. Dami bukan Vampir kecil. Sekarang Dami adalah seorang remaja manusia utuh yang tidak mungkin disembunyikan. Apalagi dikontrol. "Kau datang?" Jadrian merasa tertangkap basah ketika menyelinap masuk ke dalam apartemen. Dami di situ, duduk di atas sofa, sedang menonton acara TV malam hari. "Kau belum tidur?" Jadrian seharusnya bisa lebih baik dalam bersembunyi. Tapi kadang dia bisa melakukan kesalahan juga. Seperti ini. Dia mengira Dami sudah tidur, seharusnya begitu karena malam sudah larut. Tapi faktanya Dami masih terjaga. Tenggorokan Jadrian bereaksi ketika Dami berdiri, tersenyum menyambutnya. Dami mengenakan gaun tidur dari kain yang tampak lembut dengan motif bunga-bunga berwarna merah muda. Bahan dan motif gaun itu sama sekali tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah gaun itu tidak punya kerah. Kedua bahu Dami terbuka. "Kau tampak cantik," Jadrian berhasil meloloskan ucapan itu. Senyum Dami semakin lebar. "Aku jadi malu," ucapnya, dan dia memang terlihat malu dan menggemaskan. Dami memang selalu menggemaskan. "Aku tidak tahu kau punya gaun tidur itu," kata Jadrian, bergerak mendekati Dami. "Aku membelinya ketika Alice mengajakku jalan-jalan." kata Dami. "Dia yang memilihnya." Jadrian mengangguk. Ya, tentu saja. Ciri khas Alice. Gadis yang mirip Vampir menurut gadis itu. "Kenapa kau belum tidur?" tanya Jadrian. "Oh, aku mau menyelesaikan pekerjaan rumahku, sambil nonton." Dami menjelaskan, tertawa kikuk. "Pekerjaan rumah, kedengaran lucu ya?" tanyanya dan ada semu merah di kedua pipinya. Jadrian menggelengkan kepala. "Itu wajar. Dulu aku juga sering mendapat pekerjaan rumah ketika di sekolah." "Oh," Dami pasti lupa jika Jadrian sempat memiliki kehidupan remajanya sebagai manusia. "Selesainkan lah. Aku akan menemanimu." Tapi seharusnya Jadrian tidak menemani Dami. Dia dapat merasakan kehangatan tubuh manusia Dami. Bahu yang polos, dia bisa semakin menghirup aroma darah, mendengar pembuluh darah itu bekerja mengalirkan darah ke setiap penjuru tubu. Jadrian seharusnya sudah ahli dalam hal ini. Dia tahan terhadap godaan. Tapi bukan berarti dia datang secara sukarela mendekati manusia yang tampak rapuh dan mudah menjadi mangsa. Dia seharusnya meninggalkan Dami detik itu juga. Tapi ia gelap mata. Sombong. Kebodohan karena rasa cintanya terhadap Dami sebagai saudaranya. Aroma darah. Darah mengalir. Bahu yang tak tertutup. Leher... Leher... Vampir suka leher manusia. Menghisap darah secara langsung, dari leher, ketika tubuh manusia masih sepanas itu, merupakan sejuta kali kenikmatan. Dia pernah merasakannya. Beberapa kali. Tak terkontrol. Dan berdosa. Tapi itu nikmat. Dia ingat suara detak jantung yang berirama lambat menemaninya dalam setiap tegukan. Vampir suka menghisap secara langsung karena mereka ingin merasakan tubuh panas mangsanya, agar meresap ke dalam tubuh mereka yang dingin dan beku. Sebuah kehidupan yang kadang-kadang membuat iri. Darah... "Jade..." Suara bisikan Dami terdengar jauh. Sangat jauh. Otak Jadrian berkabut. Dia teringat pada seorang gadis yang ia pilih malam itu. Pasti gadis itu punya suatu urusan penting sampai membuatnya harus berjalan di kota pada larut malam. Sayangnya gadis itu berada di waktu dan tempat yang tidak tepat. Takdir mempertemukan mereka berdua Malam itu Jadrian sangat rapuh. Dami lebih lemah. Mereka berdua kelaparan sampai membuat mereka merangkak ke kota. Itu adalah tahun-tahun awal. Saat-saat penuh penyiksaan bagi mereka berdua karena selalu merasa kehausan. Satu saja... Dia membawa gadis itu ke pondok. Dami di sana, dirantai, ganas dan kelaparan. Seandainya ia bisa menangis, ia akan menangis dan meraung karena mereka berdua memilih kehidupan ini. Tapi Dami akan menjadi manis kembali setelah kenyang, seperti biasanya. Dan dia menginginkan hal itu. Darah pun menghambur di lantai kayu pondok. Gadis malang itu mati perlahan dalam pelukannya. Dia menemani gadis itu menempuh ajal sambil meneguk darahnya. Kadang ia mencium gadis itu untuk menenangkan rasa takut gadis itu. Pada awalnya kemampuan Vampir Jadrian tidak terlalu sempurna. Hipnotisnya tidak dapat bertahan sampai akhir. Gadis itu tidak bergerak, tapi otaknya sadar sepenuhnya. Gadis itu tahu jika dia akan mati secara perlahan dan menyakitkan selama dirinya meneguk sumber kehidupan itu. Setelah jiwa gadis itu padam, ia sodorkan tubuh mati itu kepada Dami. Ia tidak mau mengajarkan Dami merasakan kenikmatan meminum langsung. Dia ingin mengajari Dami dengan caranya sendiri. Jadrian menyadari jika otak dan matanya berkabut. Tanda ketika ia sangat kelaparan. Ia berusaha bangkit meski aroma darah itu menyelimuti indera yang ia miliki. Pandangannya berubah jelas. Dami dalam pelukannya. Hangat. Ia mendengar detak jantung di balik tulang rusuk Dami. Berdentum cepat. Ketakutan. Mulutnya sudah di leher Dami. Taring-taringnya nyaris menancap menembus kulit yang tak terhalang itu. Oh, tidak. Jadrian bangkit dalam sekejap meninggalkan tubuh Dami di sofa Dami tertidur. Atau terjebak dalam hipnotisnya. Sejak kapan... sejak kapan?! Jadrian segera pergi dari apartemen. Ia masuk ke dalam klinik, tertatih-tatih dan marah kepada dirinya sendiri. Ia langsung mendatangi kulkas, lalu mengambil kantong darah, merobek ujung plastik lalu darah bersuhu dingin itu menerobos masuk ke dalam kerongkongannya. Ia pun terduduk lega di lantai. Bodoh sekali dirinya, dia membiarkan dirinya kelaparan. Seorang Vampir kelaparan dan dia berdekatan dengan Dami yang rapuh. Dia nyaris saja menancapkan taringnya pada leher Dami. Vampir kelaparan selalu gelap mata. Bodoh. Bodoh. Jadrian merasa malu hal ini terjadi kepadanya. Kepada adiknya sendiri. Dami akan membencinya setelah ini.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN