Itu hanya sebuah mimpi buruk.
Dami berusaha meyakinkan dirinya. Namun ia kesulitan mengendalikan diri. Hari ini ia menjadi sangat mudah kaget pada hal-hal kecil. Bahkan ia sampai tersentak hanya karena embusan angin di tengkuknya. Ia langsung menyentuh sebelah lehernya yang terasa geli. Juga menggigil.
Ingatan itu muncul.
Malam itu...
Dia membeku, tak bisa bergerak. Entah bagaimana, yang dia ingat sebelumnya dia masih duduk di sofa, dengan buku dan pulpen, sesekali tertawa karena mendengar lelucon pada acara komedi malam hari di TV. Tahu-tahu ia sudah berada dalam kondisi seperti itu.
Membeku.
Ia merasakan pelukan sedingin es. Sesuatu yang dingin dan lunak menyapu lehernya. Lidah seseorang. Agak basah. Sangat dingin.
Dia memang bodoh.
Seharusnya malam itu dia tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka. Tidak. Dia seharusnya tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu.
Kemudian ia merasakan sesuatu yang tajam menyentuh permukaan kulitnya.
Berikutnya, pelukan itu lepas. Dalam pandangannya yang berkabut, ia melihat Jadrian menjauh.
"Kau kenapa?"
Dami tersentak kembali. Alice mengawasinya dengan pasang mata hijau yang tampak bercahaya dalam sisi redup tempat meja mereka berada. Sinar matahari tidak sampai di meja mereka, namun embusan anginnya sampai.
Dami segera menggelengkan kepala. "Tidak... tidak apa-apa..." Ia masih mengusap sisi lehernya.
Alice tiba-tiba meraih tangan Dami, lalu menyibak rambut Dami dari leher.
"Apa yang..." Dami terkejut dengan gerakan Alice yang tiba-tiba.
Alice melepaskan Dami dengan ekspresi kecewa. Seolah Alice ingin melihat sesuatu di leher Dami.
"Maaf, kupikir..." Alice tidak menyelesaikan kata-katanya. Dia memberikan senyum singkat sebelum kembali dengan ekspresi wajah datarnya.
"Di mana Lexa?" tanya Dami, mengalihkan topik pembicaraan. Ia baru menyadari jika Lexa sudah tidak bersama mereka.
"Bolos," jawab Alice. "Dia tidak suka pelajaran sejarah."
Dami tidak terkejut mendengarnya. Dia saja tidak suka, apalagi Lexa. Saat ini mereka sedang mengerjakan tugas kelompok sejarah. Tentu saja dia satu kelompok dengan Alice dan Lexa, mereka bertiga memilih mengerjakan tugas di perpustakaan pada jam itu. Dan sekarang hanya tinggal dirinya dan Alice.
"Kau tidak ikut membolos?" tanya Dami. Ia membalik lembaran buku sejarah yang sedang ia baca.
"Lalu meninggalkanmu?" tanya Alice balik.
Dami tersenyum kecil. Kadang dia bingung pada Alice. Dia mengira Alice akan meninggalkannya dengan senang hati. Ia mengira Alice akan selalu sependapat dengan Lexa. Tapi di sinilah Alice, menemaninya menyelesaikan tugas sejarah. Alice memang sangat pandai. Cantik dan pandai, juga kaya raya. Alice sungguh sempurna.
"Sepertinya kau suka pelajaran sejarah," Dami mencoba mencari topik obrolan. Ia melirik iri pada meja di seberangnya. Victor satu kelompok dengan Aoi, Aimee dan Daisy. Mereka tampak lebih hidup dari pada kelompoknya. Dan agak berisik pastinya. Mereka berempat beberapa kali mendapat teguran karena agak ribut.
"Mungkin," Alice memandang hasil ketikan di layar laptop. "Aku suka mendengar banyak kisah."
"Oh ya?"
"Masing-masing manusia punya sejarahnya sendiri."
"Ya, tentu saja."
"Dari mana kau berasal?"
Dami rasanya sudah pernah menceritakan asal usulnya pada Alice. "North Oak?"
"Pernah mampir di Varlas?"
Ini, mulai lagi. Alice masih mengungkit tentang kemungkinan mereka berdua pernah bertemu di masa lalu.
Tapi Dami tidak mengingatnya.
"Mungkin," Dami tidak mampu berbohong. "Tapi itu sudah lama. Aku tidak ingat banyak hal."
"Apa kau pernah mendengar legenda tentang Vampir?"
"Kupikir kau membencinya."
"Apa?"
"Kau benci pada Vampir. Atau makhluk non manusia." Ujar Dami.
"Sekarang aku ingin membicarakannya, denganmu." Kata Alice, tegas.
Dami menelan ludah. Alice kembali seperti ingin memerangkapnya dalam pembicaraan yang berbahaya.
"Salah satu legenda Vampir," kata Alice, memulai. "... adalah Vampir tidak bisa memasuki suatu tempat ketika tidak diundang."
Dami tahu hal itu dengan pasti.
"Katanya, ketika Vampir mengisap darah, semua pengetahuan, kenangan dan segala tentang kehidupan manusia terserap ke dalam tubuh mereka."
Dami menelan ludah.
"Mereka bisa menghipnotis dengan pasang mata emas mereka." lanjut Alice. "Apa kau tahu kenapa mereka suka sekali mengisap melalui leher manusia?"
Dami mengeratkan pegangannya pada pulpen. Tanpa sadar ia membuat titik hitam besar di atas kertas.
"Karena mereka bisa langsung memeluk tubuh manusia. Mereka menyukai kehangatan tubuh manusia."
"Alice," Sela Dami. "Bisakah kita berhenti? Kita masih harus..."
"Apakah aku membuatmu tidak nyaman?"
Dami terdiam.
"Persoalan Vampir ini," ujar Alice. "Kau merasa terganggu mendengarnya?"
Dami tak mampu mengerjapkan matanya karena Alice menatapnya dengan sorot tajam. Alice seperti mencari sesuatu darinya. Entah apa.
"Aku pernah di Varlas. Tapi aku tidak ingat banyak hal. Aku masih sangat kecil waktu itu. Kau bilang pernah melihatku? Mungkin kita memang pernah bertemu." Dami berbicara cepat. Ia ingin segera mengakhiri obrolan ini.
"Dami, mungkin Vampir bisa ingat lagi dengan menyicipi darah..."
Dami mengerutkan dahi. Lalu Alice menusukkan ujung pulpen ke jarinya sendiri.
"A... Alice!" bisik Dami kaget, nyaris berteriak.
Tiba-tiba saja Alice mencengkram bahu Dami dengan sebelah tangannya, lalu menyodorkan jarinya yang terluka ke bibir Dami.
Rasa anyir itu menyentuh bibir Dami. Dami memberontak kaget. Kursinya sampai jatuh ke belakang, menghantam lantai ketika ia mendadak berdiri. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Alice terpaku memandangnya dengan jari yang berdarah. Semua orang di perpustakaan kini memandangi Dami dengan sorot terkejut. Termasuk Victor.
Dami segera berbalik pergi meninggalkan perpustakaan.
Dia sampai di toilet, masuk ke dalam salah satu bilik, duduk di atas kloset, meringkuk sambil memeluk lututnya. Lalu menangis.
Entah mengapa ia merasa takut dengan sikap Alice. Ia menggosok bekas darah Alice dari bibir. Namun sudah terlambat. Lidahnya sudah menyentuh rasa anyir itu.
Jantungnya berdegup aneh. Mungkin itu adalah efek, karena dia sangat marah dengan perlakuan aneh Alice.
Apa yang diinginkan Alice darinya?!
Jantungnya masih berdegup tak keruan. Lalu ia mengingatnya.
Kenangan itu muncul di kepalanya, pertama-tama yang ia lihat adalah seorang anak perempuan yang tampak bagaikan malaikat. Ia sungguh mengagumi keindahan sosok anak perempuan itu. Dengan kulit bagaikan porselen, pasang mata emas, bibir kemerahan. Rambut sehitam langit malam.
Anak perempuan itu adalah dirinya ketika masih menjadi Vampir.
Vampir kecil itu bermain ayunan di sebelahnya.
Sebelahnya?
Oh. Ini sudut pandang Alice.
Mereka berdua bermain ayunan. Naik turun, menerjang udara. Tertawa riang.
Lalu mereka berdua berhenti ketika ada banyak orang yang mengenakan pakaian hitam berjalan meninggalkan sebuah rumah.
"Kakakku sudah mati." ia mendengar suara kanak-kanak Alice.
Dami kecil diam saja memandanginya dengan pasang mata emas yang lembut dan menenangkan.
"Aku sedih." kata suara kanak-kanak Alice.
"Jangan bersedih," ucap suara kanak-kanak Dami. "Aku di sini untukmu." dia menjulurkan tangan mungilnya. Lalu Alice menerimanya.
Tangan mungil mereka berdua saling bertaut.
Ia bisa merasakan Alice kecil terkejut merasakan betapa dinginnya tangan Dami kecil.
"Kau dingin sekali."
"Ya. Dan kau sangat hangat." balas Dami.
Mereka berdua terkikik lagi.
"Aku tidak punya teman." ucap Alice. "Kau harus menemaniku di sini."
"Ya. Pasti." jawab Dami kecil. "Aku akan menemanimu."
Pemandangan itu menjadi berkabut. Lalu berubah ketika kabut menipis dan menghilang. Ia tidak lagi berada di halaman dengan ayunan. Ia berada di dalam sebuah kamar dengan dinding merah muda. Bagaikan kamar boneka.
Ia mendengar suara raungan anak kecil.
Alice kecil meraung dan menangis. Ayah Alice, Andrew, yang masih muda dengan rambut tanpa uban, berusaha memeluk putrinya.
"Semua orang pembohong! Helena pembohong! Dia juga pembohong! Semua orang meninggalkanku!"
--
Dami masih merasa syok dengan ingatan itu. Ia mencuci wajahnya dengan air di wastafel. Berharap air dingin akan menyadarkannya.
Namun sadar dari apa?
Bahwa dia baru saja mengingat kenangan Alice dari setetes darah Alice?
Dia berada di sana, di Varlas, pada hari pemakaman saudara Alice. Dia di sana untuk menenangkan Alice yang menderita karena kehilangan. Tapi bagaimana bisa? Mengapa dia bisa berada di sana? Jadrian tidak mengenal Alice. Jika Jadrian mengenal Alice, pasti Jadrian akan langsung memberitahunya kan?
Tapi kenapa dia tidak memiliki kenangan itu?
Dami punya banyak kenangan yang masih dapat diingat, namun juga ada banyak kenangan yang hilang dari dirinya. Rasanya seperti ada banyak lubang hitam di dalam otaknya.
Dami menarik napas. Jangan cengeng, ia mengomeli dirinya sendiri. Ia segera mengeringkan wajahnya dengan tisu, lalu berjalan keluar dari toilet. bel pelajaran berikutnya sudah terlewat beberapa menit yang lalu. Ia sudah terlambat ke kelas. Ia juga tidak ingin menemui Alice setelah apa yang dilakukan Alice kepadanya.
Bagaimana ia bisa menemui Alice dengan semua kenangan itu? Bahwa terbukti jika ia bisa melihat kenangan Alice dengan setetes darah?
Dami mencoba untuk tidak terkejut. Seharusnya itu tidak masalah. Dia pernah menjadi Vampir, mungkin ada sedikit bagian kemampuan Vampir yang tertinggal pada dirinya. Tapi yang meresahkan adalah dia merasa sangat haus... dan lapar. Tidak. Rasa haus dan lapar ini berbeda.
Tapi Dami tetap harus masuk ke kelas. Ia memilih bangku sendiri, jauh dari bangku Alice dan Lexa.
--
Dami bergegas membereskan barangnya ketika bel tanda pelajaran berakhir. Ia mendengar suara Alice memanggilnya di belakang, namun ia mengabaikannya saja, tak menoleh sama sekali. Ia menerobos murid-murid yang bergerak ke pintu. Mendahului mereka berjalan keluar, lalu masuk ke dalam salah satu kelas kosong.
Ia mengirimkan pesan pada salah satu kontaknya, dan menunggu.
Dami mengira pesannya tidak sampai atau orang yang ia hubungi itu tidak mau datang. Dia sudah menunggu sekitar lima belas menit. Nyaris saja ia akan keluar ketika Daisy tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
"Hai," sapa Daisy kikuk.
"Oh, hai." Dami malah kaget melihat kedatangan Daisy, padahal ia sendiri yang menghubungi Daisy. "Kukira kau tidak akan datang."
"Aku sudah membaca pesanmu sejak tadi, tapi... ini masalah pribadi kan? Jadi aku tidak beri tahu siapa-siapa, bahkan kepada Victor. Aku harus memikirkan alasan untuk berpisah dari mereka. Biar tidak curiga saja. Tapi aku tidak berbohong kok." jelas Daisy, agak terbata-bata. Mungkin karena mereka jarang bicara saling berbicara jadinya agak canggung.
"Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali. Kau sakit ya?" Ekspresi Daisy mendadak berubah cemas ketika memperhatikan wajah Dami dengan cermat.
"Aku tidak apa-apa," jawab Dami segera. Ia memang belum makan apa-apa sejak pagi. Darah itu membuatnya tidak berselera. Tapi dia memang kelaparan.
"Kau bertengkar dengan Alice di perpustakaan," Daisy berkata. "Aku mengerti. Alice memang bisa sangat kejam. Aku... dulu... dulu aku pernah jatuh ke kubangan lumpur ketika jam pelajaran olahraga. Kami seharusnya berlari mengelilingi lapangan. Aku sedang datang bulan. Benar-benar tidak nyaman. Waktu itu tidak ada guru yang mengawasi. Dan yah, aku memang sangat mudah terjatuh. Aku jatuh. Alice di sebelahku ketika aku tersadar. Baju olahragaku akhirnya basah dan kotor. Itu dulu, ketika Aimee belum pindah kemari." Tanpa disangka-sangka Daisy bercerita panjang lebar meski dengan terbata-bata.
Dami percaya saja cerita itu. Alice dan Lexa memang terlihat bisa melakukan perundungan semacam itu.
"Aku meminta bertemu denganmu untuk mengingatkanmu, jika aku ingin segera ke sana."
"Kemana?"
"Area khusus perpustakaan kota."
"Oh..."
"Sudahkah kau temukan cara untuk masuk ke sana?"
"Apa kau... sedang buru-buru?" tanya Daisy.
Oh ya, dia sangat buru-buru. Sebab dia dan Victor terkena kutukan Vampir. Dia harus mencari tahu apa maksud dari kutukan mawar itu. Dengan kejadian tadi malam, mungkin Jadrian tidak akan mau lagi berdekatan dengannya.
"Ya. Aku membutuhkan sebuah buku."
"Buku tentang apa?"
"Vampir." Jawab Dami, resah karena Daisy terlalu banyak bertanya.
"Oh, bagaimana kau beritahu aku apa yang ingin kau cari? Aku bisa jelaskan sedikit. Aku sudah baca banyak buku tentang Vampir."
"Aku yakin kau juga belum pernah mendengarnya."
"Oh ya?"
"Kalau kau tidak bisa membantuku, aku bisa mencari tahu sendiri, Daisy." Dami sudah kelelahan menghadapi lemparan tanya jawab Daisy. Ia baru saja akan bergerak pergi ketika Daisy menghalangi jalannya.
"Tung... Tunggu!" Seru Daisy. "Maaf, maaf... aku tidak mengira kau akan sangat antusias."
Apakah dia terlihat antusias?
"Aku kaget karena kau terlihat sangat tertarik tentang Vampir." kata Daisy. "Kukira kau sangat membenci Vampir. Seperti Alice dan Lexa. Alice akan selalu sakit setiap kali mendengar berita aneh tentang kematian tidak wajar. Yah, itu yang kuperhatikan. Bukan... Bukan bermaksud menyebutnya lemah..." Suara Daisy mendadak mencicit di akhir kalimat. Dia pasti teringat jika bagaimana pun Dami berteman dengan Alice.
"Jadi?" Dami menunggu.
"Yah, kita bisa masuk ke area khusus di perpustakaan kota." Daisy mengangguk. "Ada banyak cara, dan semuanya ilegal."
Dami sudah tahu tidak akan ada cara legal untuk menyusup masuk ke area terlarang itu. Mereka tidak punya izin dan tidak akan pernah mendapatkan izin itu karena ini berhubungan dengan wali dan hukum.
"Cara paling aman adalah membawa teman-temanku."
"Hah?" Dami mengerutkan dahi.
"Teman-temanku. Aimee dan Aoi." Jelas Daisy meski masih belum terasa jelas bagi Dami. "Kita butuh mereka."
"Kau yakin? Apakah mereka akan setuju?" Dami meragukannya.
Daisy mengangguk meski terlihat ragu.
Dami nayris akan meninggalkan Daisy, namun ia berpikir kembali. Mungkin saja Aimee dan Aoi mau membantu karena mereka bertiga bersahabat.
"Bagaimana dengan Victor?" tanya Dami.
Daisy menggelengkan kepala. "Victor tidak perlu ikut."
"Bagus. Ayo, cepat tanyakan pada kedua temanmu. Dan jangan bawa Victor." desak Dami segera.[]