43

1940 Kata
Topaz kembali. Ia melewati sumur pada saat matahari terbit. Bukannya menyapa, Jadrian duduk diam saja memandang ke langit, tepat ke arah matahari yang masih bayi di ufuk timur. "Hei," Tegur Topaz. "Kau akan membuat tubuhmu menguap, Jade." Jadrian mengerjapkan mata, ia menoleh pada Topaz, tak terlihat terkejut sama sekali terhadap kehadiran si pria bermata biru laut itu. Topaz sudah memposisikan diri dengan nyaman di bawah bayang-bayang teduh, menjauhi sinar matahari. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?" tanya Jadrian tanpa basa-basi. "Yap," Topaz mengangguk. "Pencarian semalam suntuk yang cukup mengasyikkan. Maksudku, aku akhirnya bisa berjalan-jalan bebas, tidak hanya terkurung di dalam kota dengan aturan-aturan aneh ini. Kita masih belum ketahuan kan? Dan juga tempat ini?" "Ya. Kami belum melapor," jawab Jadrian. "Lalu?" "Aku berhasil menemukan kampung halaman si Vampir tertuduh. Aku menemukan makam keluarganya. Anak laki-lakinya dimakamkan di sana." "Jadi, Vampir itu sendirian saja." Jadrian menjadikan ucapannya sebagai pernyataan. "Ya, dan dia sudah mendapatkan putusan hukuman mati kan?" Tiba-tiba Topaz merasa bergidik. Ia tidak pernah senang membayangkan para manusia dengan tampang datar memalu pasak runcing menembus jantung Vampir. "Di saat satu Vampir tertangkap dengan bukti yang mengarah kepadanya, ada satu lagi Vampir yang bertingkah." "Menurutmu Vampir seperti apa yang masih menggunakan kutukan?" Tanya Jadrian. "Kau ingin aku melakukan profiling kepada tersangka kita? Yah, bisa kita mulai dari penggunaan kutukan. Vampir modern tidak suka basa-basi, menebar kutukan sungguh merepotkan. Kenapa tidak langsung saja? Sudah pasti ini adalah ciri-ciri Vampir kuno, mungkin berusia lebih tua darimu. Entah berapa abad." Celoteh Topaz. "Vampir kuno katanya punya sifat kejam," komentar Jadrian dingin. "Semua bukti valid mengarah serta memberatkan Vampir yang ditangkap itu. Dan soal pondok ini, dengan hiasan darahnya... juga usia Vampir yang kita perkirakan masih muda... Mungkin vampir kecil... Atau Vampir kuno dengan usia berabad-abad yang berbahaya. Siapa tahu?" Jadrian menggelengkan kepala. "Sudah jelas kasus ini akan dianggap berbeda. Dan memang berbeda. Satu Vampir adalah makhluk yang membunuh tiga orang korban. Sementara satu yang lainnya punya waktu banyak untuk memberikan kutukan kepada seorang manusia dan seorang werewolf." Topaz menyimak dengan baik penjelasan Jadrian. "Jadi? Kau akan menelepon atau mengirimkan surat? Kepada Ibumu?" "Aku ingin melapor. Tapi bagaimana jika itu bukan solusi terbaik?" Tanya Jadrian. "Aku... kita akan mengekspos Dami. Sementara aku sangat ingin Dami hidup dengan aman. Jika namanya sampai tertera di surat kabar... mungkin si pelaku..." Topaz segera mengangguk mengerti. "Kalau begitu kita laporkan saja soal pondok dan terowongan ini sebagai permulaan," ujar Topaz. "Kita sederhanakan saja semuanya. Tapi kita tetap bekerja sama untuk memecahkan kode. Biar sisanya pihak berwajib yang mengurusnya. Tenang saja. Mereka pasti punya otak untuk tidak menyepelekan kekacauan ini." "Ya. Kau benar. Kita tidak perlu melaporkan persoalan kutukan itu." Jadrian mengangguk. "Jika pihak berwajib berhasil menemukan makhluk yang melalui terowongan ini, dan apabila makhluk itu adalah Vampir, kita tahu apa yang akan kita lakukan selanjutnya." Topaz mengangguk setuju, ia tidak memberikan pendapat apa pun lagi setelahnya. Ini bukan pertama kalinya, menghadapi Jadrian yang tidak sepenuhnya hidup, seperti pada saat Dami menghilang. Pencarian sepuluh tahun yang sangat menyesakkan itu. "Ada apa?" tanya Topaz. "Apakah terjadi sesuatu?" Tanyanya, menyadari kemuraman itu. Sementara Jadrian masih duduk di sisi mulut sumur, tersiram sinar matahari. "Entah bagaimana aku memberitahumu..." ucap Jadrian, tampak sangat lesu dan terlihat merasa bersalah. "Apa ini soal Dami?" tebak Topaz karena memang masalah Jadrian hanya tentang Dami. Apa lagi yang membuat Jadrian menjadi seperti ini? Jadrian mengangguk sebagai jawaban. "Oke, apa itu?" tanya Topaz, menahan kekesalannya. "Apa kalian bertengkar lagi? Kau memaksanya untuk mengurung diri di rumah lagi?" "Lebih buruk dari pada itu." gumam Jadrian. "Malam tadi aku nyaris menggigitnya." "Maaf?" Topaz tidak tuli. Pendengarannya tajam luar biasa, dan kalau dia mau dia bisa mendengar ocehan semut yang sedang berjalan di bawah kakinya. Tapi ia mendengar dengan jelas jika Jadrian menggunakan kata kerja yang agak v****r : menggigit. "Ya, itu... kesalahan..." kata Jadrian. "Dami akan membenciku... Aku..." "Jade," sela Topaz. "Bukankah kau paling jago dalam menahan godaan?" "Aku tidak tahu, semuanya kacau... pikiranku sedang kacau. Malam itu, aku hanya ingin mengecek sebentar saja. Lalu kembali ke sini, memantau pondok ini. Tapi Dami masih terjaga, dia duduk di sofa ruang tengah, menemukanku. Dia... gaun tidurnya... bahunya... astaga, apa yang sudah kulakukan?" Topaz mengamati Jadrian dengan sorot prihatin. Ia benar-benar prihatin pada kakak laki-laki yang sungguh tidak berdaya ini karena perbedaan. "Aku menghipnotisnya... aku hampir saja... seandainya aku tidak segera sadar..." "Astaga, Jade. Kau pasti sangat kehausan." kata Topaz. "Aku tidak pernah melihatmu minum lagi, terakhir kalinya adalah ketika di North Oak, di dermaga danau. Aku benar kan?" Jadrian tidak menjawab karena hal itu benar. "Itu lah masalahmu, kawan," keluh Topaz. "Kau mengabaikan tubuhmu sendiri. Dietmu itu... kau berpuasa berbulan-bulan, bukankah itu memperburuk situasimu? Kau tahu sendiri bagaimana rasanya menjadi Vampir kelaparan!" Jadrian kini menundukkan kepala, tak mampu menanggapi. "Dami akan membenciku." Ujarnya perlahan. "Tidak, dia tidak akan membencimu." "Tapi saudara laki-lakinya hampir saja menggigitnya! Menghisap darahnya! Bahkan aku sudah menyentuhnya dengan kurang ajar!" "Oke, Jade..." Topaz terpaksa meninggalkan tempatnya berteduh. Ia merasa geli ketika sinar matahari pagi menyirami tubuhnya. Rasanya hangat, seperti ada yang menguap lepas dari tubuhnya. "Jade, lihat aku." Dia menaruh sebelah tangannya di bahu Jadrian, mencengkramnya. Satu tangannya lagi, menepuk pelan sebelah wajah Jadrian. "Lihat aku." Jadrian mengangkat wajahnya, ia sungguh tampak kalut. Topaz dapat melihat dengan jelas. Pagi ini, meski Jadrian tampak kalut, ia dapat melihat jika Jadrian meminum habis sekantong darah. Hal itu membuat fitur tubuh Jadrian terlihat segar dan tajam. "Aku mengerti kau mencemaskan segalanya tentang Dami. Dami yang kembali menjadi manusia. Keinginanmu untuk memberikan kehidupan manusia kepada Dami. Lalu kutukan Vampir itu, dan sekarang kau tidak sengaja menyerang Dami. Kalau kau belum bisa berdekatan dengan Dami, kau bisa memintaku..." "Tidak, Topaz. Kau sama seperti denganku. Vampir. Kau tidak tahan di dekat manusia." Topaz tidak menyangkal hal itu. "Lalu bagaimana? Apa kau akan menitipkan Dami ke rumah keluarga Wern?" "Mereka werewolf, Topaz!" "Astaga, lalu kau ingin kita bagaimana?" tanya Topaz, mulai kesal. Ia tidak bisa membiarkan Jadrian terus begini. Pantas saja Dami semakin risih dengan sikap posesif Jadrian yang mulai tidak wajar. "Kecemasanmu ini sungguh memuakkan. Mungkin kau baru akan kembali tenang jika kau mengurung Dami, seperti yang sudah kau lakukan dulu kepadanya, pada saat dia masih seorang Vampir kecil." Todong Topaz. Jadrian menggeleng kepala. "Ya, kau tidak bisa melakukannya." kata Topaz, menerjemahkan gelengan kepala Jadrian. "Tidak bisakah kau mempercayai kemampuan bertahan Dami sebagai manusia?" Jadrian menggelengkan kepalanya lagi. "Manusia itu rapuh, Topaz. Kau akan menempatkan Dami dalam bahaya." "Dami sudah melihat bahaya itu di depannya. Dia mendapat kutukan itu, seharusnya dia mengerti bagaimana memposisikan dirinya sendiri. Atau kau jelaskan hal itu kepadanya." "Kau ingin aku menakuti manusia dengan ancaman omong kosong? Kau lupa jika manusia punya sifat dasar ingin tahu? Semakin kita menghalanginya, dia akan semakin mencari tahu." "Kalau begitu bisa kah kau jelaskan kepadanya? Segala yang kau ketahui? Bukan, ini bukan memberikan ancaman. Hanya menjelaskan kebenaran apa yang membuatmu takut dan apa yang ada di hadapan Dami." Jadrian terdiam. Topaz juga diam, menunggu Jadrian yang mungkin sedang mengendalikan dirinya. "Kau tahu? Aku tidak pernah merasa setakut ini selama aku hidup sebagai Vampir." Beber Jadrian dengan suara pelan. "Ya, aku tahu. Dan seperti ucapanmu sendiri, Profesor. Kita tetap harus melatih otak kita sebagai Vampir agar tidak membeku. Jika kau terus merasa cemas, otakmu bisa membeku, Jade. Seperti yang telah terjadi kepadaku dulu. Ketika kau lapar, otakmu membeku, pandanganmu berkabut. Yang kau miliki hanya rasa haus dan lapar." Jadrian memalingkan wajahnya. "Lalu apa yang harus kulakukan?" "Bicaralah pada Dami tentang semua ketakutanmu. Lalu ajari dia bagaimana cara untuk bertahan, sebagai manusia. Kau seharusnya tidak perlu cemas karena dunia sudah modern. Jika Dami butuh bantuan kita, dia akan menelepon. Atau pasang saja alat pelacak agar kau bisa melihat kemana saja pergerakan Dami. Yah, walau hal itu melanggar hak." "Jadi aku tidak bisa lagi berada di dekatnya?" "Kau tahu apa yang kau butuhkan saat ini." "Apa?" "Pemulihan diri," tandas Topaz. "Kau harus tidur di peti mati." "Ya Tuhan, aku tidak punya waktu untuk tidur!" Jadrian sempat terperangah mendengar ide dalam kepalanya. "Oh ya, kau harus melakukannya sekarang, Jade. Kau perlu tidur. Sepuluh tahun selama Dami menghilang, kau tidak pernah tidur. Sementara kita butuh waktu tidur untuk memulihkan diri. Percuma saja kau menghabiskan berkantong-kantong darah tapi tidak pernah tidur lagi. Kulitmu tetap akan rusak karena darahmu akan menguap. Apalagi kau senang berteman dengan sinar matahari." "Tapi..." "Ayolah," sela Topaz tegas. "Beri tahu Dami kau harus tidur. Otakmu nyaris membeku Jadrian, apa kau akan mengabaikannya? Lihat dirimu, kau tidak pernah tidur, tidak pernah berpuasa lagi. Lihat, kau kalah glowing dariku, tahu." Jadrian nyaris tertawa mendengar semua desakan Topaz. "Aku akan mengawasi Dami. Dan aku juga akan memaksa ketiga Wern agar berhenti memelototiku sepanjang waktu." "Kau akan membuat Dami kesal karena meminta ketiga Wern memelototinya." Lalu mereka berdua pun tertawa. -- Jadrian tidak ingin tidur. Tapi Topaz benar, jika ia tidak pernah memberikan waktu kepada tubuhnya untuk memulihkan diri. Dia terus memporsir otaknya untuk berpikir secara manusia. Dan lebih parah ia sering berpuasa. Jadrian memang tidak menjadwalkan diri untuk mengkonsumsi sumber keabadian mereka. Meski stok darah sudah lebih mudah didapatkan di masa modern, ia tetap saja merasa bersalah tiap kali memesannya hanya untuk kebutuhan keabadian mereka sebagai Vampir. Jadrian duduk di pinggir ranjang Dami. Peti matinya sudah siap di basemen. Dia hanya tinggal memberitahu Dami. Ia menunggu sampai sudah agak siang, pada jam biasanya Dami pulang ke rumah. Namun Dami tidak pulang. Ia merogoh ponselnya, dan menemukan pesan Dami. Aku akan menginap di rumah Aoi. Aoi? Siapa lagi itu? Jadrian segera menelepon Dami. Dami menerima panggilannya hanya dalam beberapa detik. "Halo." "Siapa Aoi?" tanya Jadrian. "Temanku," jawab Dami. Tapi Jadrian hanya baru mengenal Alice dan Lexa. "Victor kenal. Kau bisa bertanya kepada Victor. Dia sering menginap di rumah Aoi juga. Aoi... dia adalah manusia. Keluarganya manusia." "Begitu?" Jadrian menyadari jika suaranya melunak ketika mendengar penjelasan Dami tentang si Aoi yang adalah manusia. "Ya. Aku akan menginap di sini. Juga bersama Aimee dan Daisy." "Aku tidak tahu jika kau punya banyak teman sekarang." "Yah, ada banyak murid di kelasku. Aku bisa berteman dengan siapa saja kan?" "Ya, kau memang bisa berteman dengan siapa saja." "Jangan cemas, aku akan berhati-hati." "Maafkan aku karena terus mencemaskanmu." "Aku mengerti." Kata Dami. Lalu jeda sesaat. "Dami," panggil Jadrian. "Aku harus tidur," ungkapnya. "Untuk beberapa hari, tiga hari mungkin, aku akan tidur untuk pemulihan. Tubuhku memang sedang kacau." "Vampir butuh waktu untuk tidur, Dami." jelas Jadrian. "Kalau kau lupa. Peti mati itu ada di basemen. Jika kau membutuhkanku, kau hanya perlu menggedor pintu peti mati itu. Aku akan bangun kapan saja jika dibutuhkan." "Kau memang perlu tidur, Jade." ujar Dami. "Jangan khawatir. Aku tidak akan bertingkah. Aku akan patuh pada Topaz." Namun Jadrian masih ragu. "Hanya tiga hari, apakah itu cukup untukmu?" "Seharusnya tujuh hari, tapi..." "Kau perlu istirahat, Jade." Sela Dami. "Aku tidak ingin pergi meninggalkanmu di saat berbahaya seperti ini." "Kau hanya tidur dalam peti mati di basemen, Jade. Aku bisa langsung mengetuk peti matimu ketika aku membutuhkan bantuanmu. Mungkin... saat aku membutuhkan koki makan malamku." Jadrian pun tertawa karena lelucon Dami. Ia berterima kasih dalam hati karena Dami berusaha menenangkannya. "Berhati-hatilah, Dami." "Pasti." "Aku tidak ingin kau dalam bahaya." "Tidak akan. Jika aku diserang, aku akan melapor pada pihak berwajib." "Lebih baik kau melapor pada Topaz saja dulu. Atau kepada Solaris." Usul Jadrian. "Oh ya. Sepertinya kau sudah mempercayai mereka." "Tentu saja. Ketiga werewolf itu makhluk baik-baik." "Baiklah. Akan kuingat." "Aku akan langsung ke peti matiku setelah ini, Dami," ujar Jadrian. "Sampai jumpa tiga hari lagi." "Kau boleh mengambil tujuh hari." Itu sungguh lama, batin Jadrian pada dirinya sendiri. Dan dia tidak percaya diri meninggalkan Dami selama itu. "Sampai nanti." Ucap Dami. "Ya, sampai nanti." Balas Jadrian.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN