44

1451 Kata
Topaz menyadari kehadiran Dami di depan klinik. Ia segera membuka pintu dan melihat gadis itu berdiri di sana, kaget karena Topaz sudah membukakan pintu sebelum ia sempat mengetuk atau menekan bel. "Mau masuk?" Tawar Topaz kepadanya. "Apakah dia sudah tidur?" Tanya Dami. Topaz mengangguk. Dami menarik napas, ia lalu melangkahkan kaki, memasuki klinik. Topaz segera menutup pintu setelah ia masuk. "Kau ingin melihatnya?" tanya Topaz. Dami menganggukkan kepala. "Ikut aku." Topaz berjalan lebih dulu menyusuri lorong pendek klinik. Hanya ada satu pintu di ujung lorong itu. "Di sini basemen," katanya kepada Dami. Ia lalu membuka pintu. Tanpa ragu, Topaz memasuki kegelapan. Dami menyusul di belakangnya sambil menodongkan lampu ponselnya yang menyala. Topaz lupa jika manusia tidak mampu melihat dalam kegelapan. Setelah menuruni beberapa anak tangga, Topaz menunjukkan peti mati itu kepada Dami. Dami berdiri diam memandang peti mati di mana di dalamnya Jadrian tengah tertidur. Wajah gadis itu menunjukkan raut kaget sekaligus kagum. Mungkin Dami sudah melupakan kebiasaan itu. Tapi bukankah itu kabar bagus? Tentu Dami tidak perlu lagi mengingat banyak hal tentang masa lalunya sebagai Vampir. "Aku yang menyarankannya untuk tidur," kata Topaz. "Dia memang tidak pernah tidur selama sepuluh tahun ini." "Apakah itu buruk?" "Luar biasa buruk, dan ya." "Dia tidak mau tidur, itu karena aku kan?" "Kalau aku jadi dia, aku juga tidak akan mau tidur sampai menemukan kembali adikku. Begitu juga dengan dirimu kan?" Dami mengangguk setuju. Pengandaian Topaz telak sekali. "Aku dengar malam tadi dia tidak sengaja menyerangmu," Topaz sengaja mengungkit dan ia melihat ekspresi Dami berubah gugup. "Dia tidak bermaksud begitu. Kau tahu kan? Dia dengan progam diet ketatnya sering membuatnya sangat kehausan." "Ya. Aku mengerti," jawab Dami segera. "Aku ingat jika dulu aku sering kelaparan. Tapi entah, ingatan itu terasa samar." "Akan lebih baik jika kau melupakan semua hal itu." kata Topaz. Mereka berdua pun kembali ke atas. Dami menyempatkan dirinya membuat kopi di dapur klinik. Topaz mengikutinya. Ia duduk di kursi meja makan. Dami duduk di seberangnya, mengaduk kopi. "Katakan kepadaku, bagaimana perasaanmu setelah malam itu. Apakah hal itu membuatmu takut kepadanya?" Dami menggelengkan kepala. "Aku tidak takut." jawabnya. "Malah aku khawatir jika aku telah membuat kalian menjauhiku." "Kau tahu kami tidak bisa terlalu dekat denganmu." ujar Topaz, mengamati Dami menyeruput kopinya. "Yah... Terima kasih sudah menjaga Jadrian selama ini, Topaz," ucap Dami setelah meletakkan cangkirnya kembali ke meja. "Aku tidak tahu akan bagaimana Jadrian jika tanpa dirimu." "Wah, kukira aku yang beruntung karena menemukan kalian berdua," kata Topaz. "Entah akan jadi seperti apa aku jika tanpa kalian." "Jadrian memang hebat," kata Dami. "Dia hebat kan?" "Ya, tentu saja. Dengan segala pandangannya yang tidak biasa terhadap kehidupan Vampir, Jadrian memang luar biasa. Pada awalnya kukira dia makhluk yang sangat cerewet. Bisa-bisanya dia membuat program diet aneh untuk Vampir haus darah. Tapi karenanya aku tidak perlu menjadi Vampir liar. Dan aku terlihat agak manusiawi kan jadinya?" Topaz melebarkan kedua tangannya. Kadang dia bangga bisa menjadi Vampir yang mampu berbaur di sekitar manusia lebih lama dari pada Vampir biasa. Vampir biasa akan sulit terlalu lama berdekatan dengan manusia dan mereka tentu tidak akan suka mendengar program diet darah yang dicetuskan oleh Jadrian. Dami tersenyum kepadanya. Dia mengangguk. "Topaz," panggilnya ragu-ragu. "Ya?" "Varlas adalah kota yang paling lama kita tinggali kan?" Topaz mengangguk membenarkan. "Ya. Di masa itu Varlas adalah kota paling bebas." "Apa yang kita lakukan selama di Varlas? Dan berapa lama kita tinggal di sana?" "Cukup lama. Kurang lebih lima tahun. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk segera pindah ke North Oak. Sayangnya pemberontakan werewolf mengacaukan segalanya." Dami mengangguk-anggukkan dagu. "Sebenarnya ada banyak hal yang tidak kuingat." "Kau berusia enam tahun pada saat kau menjadi Vampir. Jadi wajar saja. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi kita akan tetap menjadi seperti apa diri kita pada awalnya. Mungkin sulit untuk mengingat kenangan dengan otak anak kecil." Dami mengangguk. "Sepertinya begitu." Namun gadis manusia itu tampak masih belum puas. "Apakah ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" Topaz seharusnya tidak perlu bertanya. Ini bukan urusannya. Dan dia tidak perlu bersikap seperti pengganti Jadrian kan? "Ini soal Alice," kata Dami. Seketika Topaz terdiam. "Kau sering mengikutiku sampai ke sekolah. Jadi pastinya kau sudah mengenal Alice kan? Gadis yang sangat cantik, yang berambut hitam, bermata biru." Jelas Dami. "Ya, aku tahu." Topaz menjawab datar. "Aku sudah pernah memperkenalkan Alice kepada Jadrian." Dami melanjutkan. "Dan sepertinya Jadrian tidak mengenal Alice." "Apakah dia seharusnya mengenal teman perempuanmu?" Tanya Topaz. "Mungkin, aku tidak tahu. Sebab, aku rasa... aku dan Alice pernah bertemu di masa lalu, ketika di Varlas. Alice mengenaliku." Dami menjelaskan. "Pada awalnya aku tidak ingat apa-apa. Tapi mendadak aku mulai ingat sedikit." "Apa yang kau ingat?" Kejar Topaz. "Aku ingat jika aku berada di sana, di hari pemakaman saudaranya yang meninggal." Dami tampak bingung pada dirinya sendiri ketika mencoba menjelaskan kepada Topaz. "Tapi aku tidak mengerti bagaimana aku bisa sampai berada di sana. Aku berteman dengan anak perempuan manusia. Bukankah itu akan membahayakan anak manusia itu?" Topaz tidak segera menjawab. "Kau tahu sesuatu, Topaz?" Tanya Dami, sepertinya berhasil menangkap ekspresi aneh di wajah pucat Topaz. "Jangan beri tahu Jadrian, Dami." Kata Topaz. Dami mengerutkan dahi mendengarnya. "Jadrian agak sibuk dengan penelitian atau entah apa yang ia kerjakan di perguruan tinggi Varlas di masa itu, ada saatnya aku mendapat tugas untuk menjagamu karena dia harus berpergian ke suatu tempat. Tapi hari itu aku agak lengah. Aku kehilanganmu sesaat, dan kau bertemu dengan anak perempuan itu." Dami menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Tampak tak percaya mendengar jika ia pernah berkeliaran sendirian di kota. Seorang Vampir kecil berbahaya. "Ya, hal itu sangat berbahaya. Aku panik karena kehilangan dirimu. Apa yang akan dilakukan Jadrian jika dia tahu hal ini? Mungkin kali itu dia benar-benar akan mengusirku, dan aku akan kembali menjadi Vampir liar. Lalu dibunuh oleh pembasmi. Tapi segalanya baik-baik saja. Aku menemukanmu. Dan kau tidak melakukan apa pun, Dami." Topaz mengedikkan bahu. "Itu artinya semua metode Jadrian berhasil." "Metode? Metode apa?" Tanya Dami, tidak mengerti. "Jadrian menciptakan beberapa metode, hasil dari penelitiannya. Selain menjagaku, dia juga menjadikanku sebagai objeknya, begitu juga dengan dirimu. Tidak, jangan anggap buruk hal ini, Dami. Jadrian hanya ingin membantuku, membantumu, juga membantu kita sebagai Vampir. Dia yang mencetuskan metode diet darah untuk Vampir. Dia membuat esai tentang keuntungan merubah pola pikir Vampir menjadi lebih manusia. Lebih tepatnya, Jadrian mengajari kita untuk menjadi kembali manusiawi agar dapat berbaur dengan mudah. Jadi kita tidak perlu terlalu sering bersembunyi di dalam kegelapan. Kita bisa bergaul dengan para manusia, tidak hanya berpikir untuk menghisap darah mereka." Dami terdiam, tentu Dami tidak mengetahui fakta ini karena Jadrian tidak pernah membahasnya. Lagi pula Dami terlalu muda untuk memahami semua penelitian itu. "Dan metodenya berhasil. Kau berteman dengan anak perempuan itu. Kau tidak melukainya sama sekali. Kau bahkan tidak berniat menggigitnya." Dami memandang isi cangkirnya, tampak masih terkejut. "Tapi tetap saja... bagaimana jika sesuatu terjadi pada Alice? Bagaimana jika aku mendadak tak terkendali? Saudara Alice, Helena... Dia meninggal karena digigit Vampir." "Malang sekali." Ucap Topaz. "Tapi kau tidak melakukan apa pun, Dami. Kau hanya menemani anak perempuan itu, kau bahkan menghiburnya. Itu saja." "Lalu kenapa aku meninggalkannya?" Topaz mengedikkan bahu. "Aku membawamu pulang. Dan kita berdua menyimpan rahasia ini dari Jadrian. Aku tidak ingin membuat Jadrian cemas karena keteledoranku." "Apakah aku tidak kembali lagi menemui Alice pada masa itu?" "Ya. Kau ingin menemui anak perempuan itu lagi. Sayangnya anak perempuan itu sudah pergi." Dami menarik napas, tampak lega. "Syukurlah." "Apa?" Tanya Topaz. Ia tidak mengerti mengapa Dami tampak lega. "Aku jadinya bisa mengatakan hal ini, bahwa Alice benar. Kami berdua memang pernah bertemu. Pada awalnya aku ragu. Aku takut dia berpikiran macam-macam mengenaiku di masa lalu. Aku takut pernah menyerangnya." "Tidak. Kau tidak pernah menyerangnya." Dami mengangguk."Aku sungguh lega mendengarnya. Rupanya ini adalah rahasia kita berdua ya? Haha. Sepertinya aku sering membuatmu kerepotan karena harus menjagaku di masa lalu." "Bukan masalah. Kau adalah Vampir kecil yang menyenangkan. Aku senang menjagamu." Dami tersenyum, ada rona merah terbit di kedua pipinya. "Aku baru tahu jika rupanya Jadrian adalah seorang peneliti." "Ya. Dia bisa menjadi apa saja yang dia mau karena dia agak sinting." Topaz mengedikkan bahu. Dami tertawa kecil. "Nah, bersenang-senanglah." Ujar Topaz. Dami mengangguk. "Topaz, bisakah kau tidak mengawasiku selama aku menginap di rumah temanku? Aku takut mereka akan menyadari kehadiranmu. Maksudku... Salah satu dari mereka memiliki ketertarikan terhadap makhluk non manusia. Mungkin dia sudah banyak membaca hal tentang keberadaan Vampir. Aku takut dia menyadari kehadiranmu." "Omong kosong, manusia tidak akan menyadari kehadiranku dengan mudah." Elak Topaz tak percaya. "Oh, ayolah." Dami memohon. "Yah, terserah lah. Aku tidak akan mengganggu acaramu, Dami." Topaz mengedikkan bahu. Tidak seperti Jadrian yang posesif, Topaz merasa akan lebih baik memberikan kebebasan kepada Dami. Kebebasan adalah hal yang berharga pada saat menjadi manusia. "Bagus! Terima kasih, Topaz!"[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN