45

1765 Kata
"Yang benar saja, Daisy. Kenapa kau membawanya ke sini?!" Aimee berseru, memprotes bahkan sebelum Dami dipersilakan masuk oleh tuan rumah. "Bi... Biar kujelaskan," Daisy yang mendampingi Dami mendatangi rumah Aoi, berbicara gagap. "Lebih baik kita bicarakan di dalam," Aoi segera menengahi. "Oh, kau ingin dia masuk ke rumahmu? Aoi, dia itu teman dua cewek sinting yang merasa paling cantik sejagad raya itu!" Seru Aimee tidak terima. "Ada yang harus kujelaskan," Daisy berkata kepada Aimee. "Tolong, dengarkan dulu..." "Aku dan Daisy berencana menyusup ke area khusus perpustakaan," Dami segera menjelaskan. Tak perlu basa-basi kan? "Jadi, menurut Daisy, kalian akan membantu kami. Dan Daisy mengajakku untuk menginap di rumahmu, Aoi." Dami menunjukkan ranselnya yang agak penuh dengan barang bawaan. "Saudaraku sedang tidak ada di rumah. Jadi aku butuh tempat untuk menginap." Tapi melihat ekspresi mereka bertiga menyadarkan Dami jika ia telah mengacau. Aimee dan Aoi terperangah memandangnya. "Apa? Me... menginap di rumahku?" Aoi tergagap bingung, mengulang ucapan Dami yang terdengar janggal. "Dan menyusup apa tadi?" "Pasti kau datang ke sini hanya untuk mempermainkan kami!" tuduh Aimee kepada Dami. Dami menggeleng. "Tidak. Aku hanya datang meminta bantuan." "Oh, jadi begitu caramu meminta bantuan?!" Seru Aimee. "Aim, biar kujelaskan dulu," pinta Daisy. "Bawa dia pergi, Daisy!" Perintah Aimee. "Baiklah. Kalau begitu aku akan urus diriku sendiri, Daisy," ujar Dami, mau tidak mau ia merasa kesal telah diusir. Bukan penyambutan seperti ini yang ia bayangkan. "Oh, tidak. Jangan begitu, Dami!" Daisy beralih menahan Dami. "Tolong tunggu di sini," ia segera memaksa Dami untuk duduk di kursi teras rumah Aoi. "Dan kalian berdua, ayo masuk ke dalam." Ia segera mendorong Aimee dan Aoi masuk ke dalam. Pintu pun berdebam tertutup. Dami menggeleng-gelengkan kepala, lalu duduk di kursi teras. -- Daisy berhasil mendorong kedua temannya masuk ke dalam rumah. "Biar kujelaskan." Kata Daisy. "Aku lah yang mengajak Dami kemari." Aimee mengerutkan dahi. "Kau mengajaknya? Bagaimana bisa?" "Karena kami berdua memiliki ketertarikan yang sama. Dia tertarik pada area khusus di perpustakaan kota. Dia ingin memasukinya. Seperti yang ingin kulakukan." "Daisy, kau masih tertarik memasuki area itu? Bukankah kau tidak bisa mendaftar? Kau harus punya izin wali, juga izin dari kepolisian." Kata Aoi heran. "Nah, karena itu kita harus mencari jalan lainnya," ujar Daisy. "Jalan lainnya?" Aoi mengerutkan dahi, tak mengerti. "Seperti yang tadi dia bilang kan? Menyusup ke perpustakaan?" Aimee mendengus tak percaya. "Astaga. Kau benar-benar mau berakhir di penjara ya?" "Ayolah, Aim. Kau harus membantu kami. Bukankah kau sangat ahli? Kau pernah menyusup ke ruang guru untuk mengambil barang yang disita!" Daisy mengingatkan dengan ekspresi agak takut. "Jadi kau pikir keamanan sekolah itu sama dengan keamanan perpustakaan kota?" Aimee tertawa geli. "Begini, aku beri saran saja. Suruh temanmu itu pulang ke rumahnya. Kita tidak menerima tambahan personil." Perintahnya. "Tapi... aku sudah berjanji mengajaknya!" Seru Daisy. "Kalau begitu lakukan saja sendiri! Kenapa meminta bantuan kami?!" Tolak Aimee kesal. "Aku... Aku memang ingin melakukannya sendiri, tapi aku berpikir lagi jika akan berbahaya jika melakukannya sendiri." Daisy tergagap menjelaskan. "Apa pun rencananya akan tetap berbahaya, Daisy. Menyusup bukan tindakan yang benar," Aoi mencoba menyadarkan Daisy. "Apa sih yang ingin kau cari di sana?" "Aku ingin mencari buku," kata Daisy. "Sudah berapa banyak buku yang sudah kau baca? Masih kurang juga?" Tanya Aimee sinis. "Ini buku langka, Aim. Kalian berdua tidak akan mengerti. Setelah organisasi pembasmi berdiri, ada banyak buku tentang makhluk non manusia yang disingkirkan. Padahal kita butuh tulisan mereka jika ingin memahami makhluk non manusia!" Daisy berusaha menjelaskan. "Astaga, kau masih ingin memahami para makhluk itu? Tidak bisakah kau duduk manis saja? Bukannya mencari masalah?" Protes Aimee tidak senang. "Dunia tidak akan selalu damai, Aim," kata Daisy. "Aku bisa merasakannya. Dulu, ketika di Varlas, kehidupanku sangat damai. Paman dan Bibiku pernah memberitahuku jika tetangga kami adalah penyihir, dan di seberang kami tinggal keluarga werewolf. Aku pernah bertanya kepada mereka, mengapa mereka bisa tinggal di sebelah kami. Kau tahu apa kata mereka? Mereka membaca buku yang memberikan inspirasi kepada mereka bahwa mereka bisa tinggal berbaur dengan manusia tanpa perlu menyebabkan kekacauan!" Aimee dan Aoi saling bertukar pandang. "Semua buku itu sudah disingkirkan oleh Pembasmi. Dulu aku pernah melihatnya di perpustakaan kota Varlas, namun buku itu sudah tidak ada lagi. Dan aku yakin buku itu ada di perpustakaan kota Burdenjam." "Kenapa kau sangat yakin buku yang kau cari ada di perpustakaan kota ini?" Tanya Aimee. "Karena..." Daisy berhenti berbicara. "Alasanku itu sama sekali tidak penting. Yang jelas, aku dan Dami memiliki tujuan yang sama. Kami ingin mempelajari tentang makhluk non manusia." "Dia sudah gila," Aimee menggeleng-gelengkan kepala, berbicara kepada Aoi. "Ditambah dia bertemu dengan satu lagi yang sama gilanya dengan dia. Tolong peringatkan dia, Aoi." Pintanya. "Aimee benar, Daisy. Jika ada larangan, maka seharusnya kita tidak melanggarnya. Itu berbahaya." Aoi kembali mencoba menengahi. "Tidak, jika kita tidak ketahuan." Kata Daisy, memaksakan diri untuk berbicara tegas dan yakin. "Tapi, Daisy..." "Apa yang kalian lakukan?" Nyonya Haruna tiba-tiba muncul menyela mereka. "Ma, kami sedang membicarakan hal penting," kata Aoi segera, cemas jika Ibunya sampai mendengarkan pembicaraan mereka. "Oh, begitu? Jangan lama-lama. Aku sudah membuatkan camilan sore. Teman baru kalian sudah menunggu di meja makan." Kata Nyonya Haruna dengan wajah riang seperti biasanya. "Baiklah, Ma. Eh, siapa?" Aoi mengerutkan dahi. "Teman baru apa, Ma?" "Kalian belum memperkenalkan teman baru kalian kepada Mama. Dami Alan, namanya kan?" Mereka bertiga saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut. Kemudian ketiganya segera berlari menuju ke dapur. Sesampai di sana mereka terkejut melihat Dami sudah duduk santai di meja makan sambil menyuap puding camilan sore buatan Nyonya Haruna. "Kenapa kau berada di sini?!" Protes Aimee dengan nada rendah. Sebab Nyonya Haruna telah kembali memasuki dapur, kini menyibukkan diri untuk mulai memasak makan malam. Dami hanya tersenyum kecil. "Hai. Aku sudah menunggu kalian sejak tadi," ucapnya riang. Ekspresi Dami membuat Aimee, Aoi bahkan Daisy terperangah bingung. "Tolong bantu aku, Aoi." Panggil Nyonya Haruna tiba-tiba kepada putrinya. "Aku sudah dengar dari Dami, teman baru kalian ini, jika kalian akan menginap di rumah. Sungguh mendadak. Aku harus menyiapkan makan malam untuk kalian." "Hah? Apa?" Aoi tergagap kebingungan. "Daisy, apa kau bisa membantuku juga?" Pinta Nyonya Haruna yang tampaknya tidak menyadari kekacauan di dapurnya. "Oh, oh ya!" Seru Daisy segera. Aimee menarik kursi di sebelah Dami sementara Aoi dan Daisy terpaksa bergerak untuk membantu Nyonya Haruna memasak makan malam. "Apa yang kau lakukan, ha?" Bisik Aimee kesal. Dami tersenyum. Ia hanya mengedikkan bahu. "Aku bertemu dengan Nyonya Haruna di depan. Dia bertanya apa yang sedang kulakukan di sini. Aku memperkenalkan diri, lalu memberitahunya jika aku akan menginap." "Kau sungguh tidak sopan!" Protes Aimee. "Oh ya? Nyonya Haruna memperbolehkanku masuk. Apanya yang tidak sopan?" Tanya Dami. "Aimee, bantu aku memotong wortel, bisa?" Panggil Nyonya Haruna. "Oh?" Aimee menoleh kaget. "Aku bisa, Nyonya." Dami segera berdiri, ia memberikan senyuman singkat pada Aimee sebelum berbalik menghampiri Nyonya Haruna. "Wah, teman baru kalian sungguh baik dan manis." Komentar Nyonya Haruna, tampak senang dengan tambahan bantuan dari gadis baru di rumahnya. -- "Terima kasih makan malamnya. Ibumu sungguh hebat memasak, Aoi." Puji Dami, tulus. Namun Aoi malah bertambah semakin kikuk karena tambahan personil di dalam kamarnya. Dami yang baginya masih asing, menginap di kamarnya malam ini. Begitu pula Daisy dan Aimee meski mereka berdua belum membuat rencana. Segalanya mendadak terjadi begitu saja. "Terima kasih," ucap Aoi, tak tahu harus merespon bagaimana. "Kau berada di sini hanya karena tidak ada yang ingin bersikap buruk di depan Nyonya Haruna." Kata Aimee, masih kesal dengan keberadaan Dami. "Jadi jika kau tahu diri, silakan segera angkat kaki dari rumah ini." "Aim," bisik Aoi, merasa tidak enak mengusir Dami begitu saja. Dami mengangkat bahu, tampak tak peduli. "Ya, bisa kulihat kalian adalah anak baik-baik." Komentarnya. "Lalu? Bagaimana rencananya?" Ia mengabaikan pengusiran Aimee. "Tidak ada rencana." Kata Aimee segera. "Bukan urusan kami jika kau mau menyusup." "Oh? Begitu?" Dami mengangguk, tampak tak terusik. "Baiklah. Akan kucoba sendiri." "Kau tidak bisa, Dami," kata Daisy. "Sebab aku sudah mencoba semuanya. Dan kita tidak akan bisa masuk ke sana tanpa surat izin dari wali, juga surat izin dari kepolisian!" "Kalau begitu akan kucoba dengan cara yang lain," Dami sempat berpikir akan memohon kepada Topaz, mumpung Jadrian sedang tidur, mungkin Topaz mau membantu. Tapi... Setelah dipikir-pikir tujuannya agak bermasalah. Topaz pasti akan mengadu kepada Jadrian. Jadi itu bukan ide yang bagus. Dia tidak ingin mengacaukan hubungan persaudaraannya dengan Jadrian. Apalagi setelah kejadian pada malam Jadrian lepas kendali. Dan meminta bantuan kepada Victor pun sepertinya akan sulit. Terakhir kali dia melibatkan Victor, mereka berdua malah terkena kutukan Vampir. "Ayolah, Dami. Kau akan membuat dirimu dalam masalah," kata Daisy ngeri. "Kau sendiri yang mengajakku menemui teman-temanmu ini, Daisy." Ujar Dami. "Yah, aku..." "Meskipun aku tidak ada di sini, kalian berdua tentu tetap tidak akan mau membantu Daisy. Iya kan?" Tebak Dami. "Itu bukan urusanmu," kata Aimee jengkel. "Tapi teman kalian sudah mondar-mandir ke perpustakaan kota, berharap mendapatkan jalan keluar. Kalian sama sekali tidak mau membantunya?" Tanya Dami, heran. Ia sempat mengira persahabatan akan mau membantu apa saja. "Kami bukan tidak mau membantu, hanya saja sudah jelas jika hal itu dilarang kan?" Aoi bertanya. "Iya kan, Aimee?" Ia menoleh, meminta dukungan. "Aoi benar," Aimee mengangguk setuju. "Pasti ada alasan mengapa persyaratan untuk mendaftar dibuat sangat sulit. Itu artinya tempat itu berbahaya. Apa pun isinya." "Itu tidak berbahaya, Aim. Di dalamnya hanya ada buku-buku!" Kata Daisy, mulai merajuk. "Otakmu semakin kacau, Daisy. Berhentilah membaca buku tidak jelas tentang makhluk non manusia," pinta Aimee kesal. "Karena itu aku harus membaca buku dari penulis yang tepat!" Seru Daisy. "Aku tahu selama ini kalian menertawakanku di belakang. Sebab aku membeli buku-buku murahan omong kosong! Tapi aku membutuhkan kebenaran! Dan aku sedang mencarinya! Seperti yang sudah kubilang! Kita tidak selamanya harus diam saja dan tidak mempelajari apa-apa!" Aimee dan Aoi sama-sama terdiam, keduanya terlihat terkejut karena ini pertama kalinya Daisy meninggikan suara kepada mereka. Daisy pun segera mengambil ranselnya. "Hei, kau mau kemana?" Tanya Aoi ketika melihat Daisy berdiri. "Aku mau pulang. Kalian tidak peduli padaku. Dan tidak mau membantuku." Daisy pun berlari pergi meninggalkan kamar. "Astaga! Daisy!" Aoi pun segera mengejar Daisy. "Kau lihat? Itu gara-garamu!" Seru Aimee pada Dami. "Oh ya? Daisy marah kepada kalian karena kalian tidak pernah mendukungnya, jadi itu salahku?" Protes Dami tidak terima. "Diamlah! Dasar pengacau!" Aimee pun beranjak berdiri. Ia menyusul keluar untuk mengejar Daisy. Dami memutar bola matanya, ia naik ke sofa untuk bersiap tidur. Ia sadar jika ia tidak diterima di sini. Di rumah ini. Di kamar ini. Tapi dia sudah terlanjur berada di sini dan tidak mungkin mundur begitu saja. Ia juga merasa tidak enak mengacaukan persahabatan ketiga gadis itu. "Ah, segalanya kacau." Keluh Dami setelah berbaring. Sayangnya ia sangat mengantuk setelah makan malam yang enak buatan Nyonya Haruna.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN