46

1860 Kata
"Dami, ayo bangun!" Dami mendengar panggilan itu dari kejauhan. Ia berusaha sadar, seperti memanjat sebuah tebing saja, dan ketika ia membuka mata, wajah Daisy dengan rona merah muda serta bintik-bintik berada tepat di depannya, tersenyum riang. "Oh, kau kembali?" Dami segera bangkit duduk. Ia mengucek sebelah matanya, kemudian menyadari jika Aimee dan Aoi sedang duduk di atas karpet, memandanginya. Ia menjadi kikuk. Apa yang telah terjadi? Bukannya mereka bertiga mendadak keluar dari kamar? Ia mengira Daisy dan Aimee tidak jadi menginap. Ketika ia menemukan jam dinding, ia agak terkejut karena jarum pendek tertuju pada angka dua belas. Dan di balik jendela langit masih gelap gulita. Apakah itu berarti saat ini sedang tengah malam? "Kami sudah membahasnya!" bisik Daisy, tampak sangat bersemangat. "Maaf, membahas apa?" tanya Dami, masih mengantuk. "Aimee dan Aoi akan membantu kita!" "Oh? Oh ya?" Dami mengira ia sedang bermimpi, tapi Daisy mencengkram erat sebelah tangannya, menariknya untuk duduk di hadapan Aimee dan Aoi. "Ayo kita bicarakan lagi!" ajak Daisy. Aimee mengeluh, sementara Aoi menghela napas. Sepertinya mereka bertiga telah berbaikan. Dami sungguh takjub melihat perubahan yang terjadi begitu cepat itu. "Yang benar saja, Daisy. Kami sudah setuju. Apakah kita harus membicarakannya malam ini?" Aimee memprotes. "Tentu saja kita harus memberitahu Dami!" Daisy mendesak. "Eh, aku senang jika kalian berdua setuju. Tapi, akankah lebih baik kita tidur dulu?" Usul Dami. Dan untuk kali itu, Aimee dan Aoi setuju dengannya, mereka berdua mengangguk. "Ya, lebih baik kita tidur. Aku mengantuk sekali!" Aimee menguap lebar. Ia pun segera berdiri lalu menghempaskan diri ke atas ranjang. "Tapi..." Daisy tampak tidak puas. "Ayo tidur, Daisy!" kata Aoi juga, ia pun menyusul Aoi tidur di atas ranjang. Daisy menghela napas, tampak kecewa karena ia ditinggalkan ketika ia masih sedang bersemangat karena idenya yang telah disetujui oleh kedua temannya. "Maaf, Dami. Aku membuatmu harus melihat pertengkaran kami tadi. Tapi syukurlah Aimee dan Aoi telah setuju." kata Daisy riang. "Yeah, Daisy. Ayo tidur. Besok pagi kita harus berangkat sekolah kan?" Dami melirik ke ranjang di mana Aimee dan Aoi sudah terlelap. Rupanya keduanya tidak sanggup menghadapi Daisy. "Baiklah. Lanjutkan saja tidurmu, Dami. Aku masih harus membaca artikel ini untuk mempersiapkan diri." kata Daisy yang langsung mengambil laptop berwarna merah mudanya. "Artikel?" ulang Dami. "Ya, ada artikel di halaman yang kusukai. Aku yakini jika penulisnya adalah seorang Neutralist. Dan dia menyampaikan berbagai informasi rahasia. Dia tahu banyak tentang penulis buku makhluk non manusia terbaik. Ada dua penulis yang terkenal hingga abad ini. Salah satunya bernama Atlas, dia seorang Neutralist yang pernah menjadi buronan nomor satu pembasmi." Dami mengerjapkan mata. Ia pernah mengenal satu orang yang juga bernama Atlas. Apakah orang ini adalah orang yang sama dengan yang disebut oleh Daisy? "Kau sungguh bersemangat. Silakan nikmati bacaanmu, dan segera tidur jika sudah selesai. Oke?" Kata Dami. "Oke!" Daisy mengangguk sampai membuat rambut ikal merahnya terlonjak-lonjak. Dami menggeleng-gelengkan kepala, menahan geli melihat tingkah Daisy yang lucu. Ia segera kembali ke sofa untuk melanjutkan tidurnya. Sayangnya hal itu tak terwujud. Dami diserang oleh mimpi buruk. Ia terus melihat sosok anak kecil yang berlarian di dalam hutan, dia mengejar. Namun tak pernah berhasil menangkap anak kecil itu. -- Sangat aneh berangkat ke sekolah bersama dengan Daisy dan kedua temannya. Padahal sebelumnya ia sempat nyaris diusir, dan sekarang Aoi dan Aimee bersikap sangat baik kepadanya. Dami duduk di kursi sebelah Aoi yang mengemudikan mobil. Di belakang mereka Daisy dan Aimee terus berdebat mengenai halaman yang menjadi favorit Daisy. "Kau harus terbiasa," ucap Aoi, tersenyum sekilas pada Dami yang hanya diam mengamati. "Aimee mengkhawatirkan sumber bacaan Daisy. Kau tahu, Daisy sangat mudah penasaran. Dia juga begitu mudah percaya." Dami mengangguk mengerti. "Sebenarnya aku merasa tidak nyaman karena sudah bersikap kurang ajar dengan kalian semua," ungkapnya. "Aku hanya sedang bersemangat." "Yah, ini pertama kalinya Daisy menemukan seseorang yang memiliki ketertarikan yang sama dengannya," ucap Aoi meski Dami agak meragukan hal itu. Dami hanya ingin masuk ke area khusus perpustakaan untuk menemukan buku yang memuat tentang penangkal kutukan vampir. "Jadi... apakah kau bertengkar dengan Alice?" Aoi terlihat sedikit ragu untuk bertanya. "Maaf, bukan bermaksud untuk ikut campur, kau tidak perlu cerita jika tidak mau. Yang penting kau baik-baik saja." Dari ucapan Aoi, Dami bisa menebak jika Aoi juga pernah mengalami masa yang buruk dengan Alice. Mungkin Aoi juga pernah dirundung oleh Alice dan Lexa. "Aku baik-baik saja," Dami tersenyum. "Tapi aku ingin memperjelas. Aku tidak mendatangi kalian sebagai tempat pelarian. Kalian bisa menurunkan aku jika tidak suka kepadaku." "Dia rupanya konyol ya?" Aimee berkata, meledek ucapan Dami barusan. "Hidupmu penuh dengan drama serius ya, Dam?" Dami mengerjapkan mata, agak bingung dengan ucapan Aimee. Ini pertama kalinya ada yang memanggilnya dengan 'Dam' dan itu kedengaran sangat buruk. "Kalau boleh jujur, kau sama sekali tidak cocok berteman dengan kedua gadis itu. Kau pasti diperalat. Iya kan? Dengan tas merah muda konyolmu itu, haha!" Aimee menambah ledekannya, membuat wajah Dami merona. "Apa yang salah dengan tasnya?" Daisy membela Dami, meski Dami tidak ingin dibela oleh Daisy. "Apa yang mereka lakukan kepadamu?" tanya Aimee, memajukan wajahnya di antara kursi depan. "Apakah dia mempersulit hidupmu dengan menyuruhmu membelikan camilan mereka? Atau bahkan menggosok debu yang menempel di ujung sepatu mereka?" "Ayolah, Aim." peringat Aoi karena ucapan Aimee sudah keterlaluan. Aimee tergelak. "Jangan malu, Dam. Kita semua di sini sudah pernah berurusan dengan dua cewek gila itu." Namun Dami tidak pernah diperlakukan seburuk itu sekali pun oleh Alice. "Aku baik-baik saja, Aimee." ucap Dami, meski kedua pipinya masih terasa hangat. Setelah memarkir mobil, Dami mengikuti ketiga teman barunya dengan kikuk. Beberapa orang melirik ke arahnya seolah menyadari keanehan itu. Dia, yang selama ini selalu terlihat bersama Alice, kini bergandengan dengan tiga gadis aneh yang dimusuhi oleh Alice. Dami sempat berpikir akan meninggalkan ketiga gadis ini karena merasakan firasat buruk, namun Daisy tampak begitu senang bersamanya sampai merangkulnya dengan erat. Daisy terus berceloteh mengisahkan tentang kemampuan halusinasi Vampir yang dijelaskan oleh Atlas dengan luar biasa. "Aku yakin tulisan Atlas ada di area khusus, Dami! Bukankah itu yang kau incar? Segala sesuatu tentang Vampir?!" Tanya Daisy. "Eum, yeah, Daisy." Dami mengangguk saja. Dan masalah itu pun muncul. Alice dan Lexa sedang berdiri di dekat pintu masuk gedung, pandangan keduanya pun berhenti pada Dami yang berada di antara Daisy, Aimee dan Aoi. Alice segera berdiri menghalangi jalan mereka berempat. "Lihat, ada cewek sinting yang menghalangi jalanku," seloroh Aimee, tampak kesal sekaligus senang bisa mencari gara-gara dengan gadis paling populer di Caranige. Ia berhadapan dengan Alice. Dami baru menyadari jika Alice dan Aimee memiliki tinggi tubuh yang sama. "Menyingkir lah, sialan," desis Lexa dengan mata melotot. "Dami, kemari," Alice terlihat tidak terusik dengan keberadaan Aimee. Ia memanggil Dami dengan suaranya yang halus dan tenang. Namun bagi Dami panggilan itu terdengar berbahaya. Dami bergeming saja di tempatnya. "Dami," panggil Alice lagi. "Hei, jangan pura-pura tidak mendengar!" seru Lexa yang langsung menerobos untuk menarik tangan Dami. "Hei, hei, jangan main kasar begitu!" seru Aimee, menahan Lexa. "Aimee, tidak apa-apa," Dami segera menengahi meski Lexa mencengkram tangannya dengan luar biasa kasar dan erat. "Dami..." panggil Aoi khawatir. Daisy juga terperangah dengan wajah khawatir. Pasti mereka berpikir dia akan segera mati karena penangkapan ini. "Aku baik-baik saja, tidak apa-apa," Dami menolak bantuan Aimee karena dia tidak ingin membuat ketiganya dalam masalah. Alice pun berbalik pergi, dan Lexa menyusul sambil menyeret Dami. -- Dami mengusap pergelangan tangannya. Bekas cengkraman Lexa sedikit berbekas, namun ia tidak memprotes. "Dasar kurang ajar," Lexa mendorong kepala Dami dengan kasar. "Kau sudah diberi kenyamanan malah memilih geng sialan itu!" Alice bergeming saja di depannya, dengan kedua tangan bersedekap di muka tubuh, mengamati Dami dengan cermat. Ia bahkan tidak menahan perlakuan kasar Lexa. "Mau cari gara-gara ya?!" bentak Lexa. Dami diam saja. "Lexa, jangan terlalu kasar," akhirnya Alice membuka suara. "Tapi, Alice... kau lihat sendiri jika dia berangkat bersama geng sialan itu! Ck, aku merasa muak melihat wajah buruk si eyeliner tebal itu! Apa dia anggota sekte atau apa? Jangan-jangan dia mau melakukan semacam ritual!" omel Lexa kesal. "Tinggalkan aku berdua bersama Dami, Lexa." kata Alice dan membuat Lexa terkejut. "Tapi, Alice...!" seru Lexa, terlihat tidak suka. "Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Tolong." Lexa terlihat enggan untuk menyingkir, namun Alice tidak berkata apa pun lagi, tampak menunggu Lexa untuk segera angkat kaki. "Ck, terserahlah!" Seru Lexa lalu berbalik pergi. Dami tahu ia belum selamat sepenuhnya, tapi ia cukup lega dengan kepergian Lexa. "Kenapa kau menghindariku?" Alice memulai setelah keheningan panjang yang mengintimidasi. "Apakah kau masih marah?" "Aku tidak marah," kata Dami. "Coba saja, ketika seseorang memaksaku untuk mengisap jarinya yang berdarah ke mulutku." Alice mengerjapkan mata. "Lalu? Apakah kau ingat sesuatu?" Dami ingin sekali berkata jujur jika ia telah mengingat segalanya. Sayangnya cara Alice menanyakan persoalan ini membuatnya tidak senang. Alice seolah menunjukkan keyakinan bahwa Dami mampu mengingat kembali karena darah itu, selayaknya para Vampir. "Sudah kubilang, aku tidak ingat," Dami sengaja berbohong. "Mungkin aku memang pernah berada di sana. Tapi aku tidak ingat." "Jangan..." Alice berkata. "Jangan bilang kau tidak ingat! Kau seharusnya ingat!" Bentakan Alice membuat Dami terperanjat kaget. Alice tiba-tiba mendorong bahu Dami hingga membuat punggung Dami membentur dinding di belakang. "Kau harus ingat, Dami." Nada Alice seperti mengancamnya. "Kau seharusnya ingat. Gadis kecil itu... Dia hadir ketika aku sedang terpuruk. Kau tahu betapa sakitnya aku setelah kehilangan Helen? Aku masih kecil sewaktu mendampingi mayat Helen yang kehabisan darah. Vampir itu pergi dihadapanku begitu saja. Aku melihat Vampir pembunuh itu pergi. Tanpa bisa melakukan apa pun untuk keadilan saudaraku tercinta. "Aku sangat menderita. Dan gadis kecil itu hadir. Dia menghiburku. Membuatku lupa menangis. Kami bermain ayunan seharian. Dan aku membawanya masuk ke kamarku. Aku memeluknya ketika aku tidur. Tubuhnya begitu dingin. Sedingin es. Tapi aku menjadi lebih baik ketika bersamanya. Namun keesokan harinya dia sudah tidak ada. Padahal dia berjanji akan terus bersamaku. "Aku terus menunggunya. Menunggunya di halaman sambil bermain ayunan. Tapi anak perempuan itu tidak pernah kembali. Kau tidak pernah kembali seperti janjimu kepadaku!" Dami terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana merespon. Keputusasaan Alice yang tak pernah tampak kini meluap, terbuka dari kotak yang terkunci rapat. "Alice..." "Dan kau dengan mudahnya bilang jika kau lupa, hah?!" Alice menarik kerah kemeja Dami. Dami memejamkan mata. Ia berusaha bertahan menghadapi Alice. Ia mencoba memahami kekecewaan Alice. Tapi ia tetap tidak bisa mengerti. Mengapa Alice menunggunya? Dia hanyalah vampir kecil yang tidak sengaja mampir untuk menghibur gadis kecil yang patah hati karena kematian saudaranya. kenapa Alice harus menganggap serius keberadaannya saat itu? "Kenapa kau bisa lupa?!" Dami sempat merasa bersalah karena dia tidak jujur kepada Alice. Tapi dia ingin menyudahi hubungan pertemanan ini tidak membuatnya senang. Dia lebih senang berteman dengan Daisy, Aimee dan Aoi. Bersama Alice dan Lexa seperti membuatnya tercekat. Dami mengumpulkan kekuatannya untuk mendorong Alice agar menjauhinya. "Kau ini kenapa, Alice?" Tanya Dami. "Kenapa kau terus mengingat masa lalu? Helena, kakakmu, sudah meninggal. Apakah kau akan membawa dendam itu terus-menerus?" "Apa kau bilang?" Alice membelalakan mata birunya. Terkejut karena Dami melawannya. "Apa yang terjadi pada Helena memang sungguh malang. Tapi itu sudah terjadi di masa lalu. Bisakah kau hidup tanpa perlu memendam dendam seolah kau adalah manusia paling tersakiti!" "Kau..." Alice sudah pasti tersinggung. Tapi Dami ingin segera mengakhiri hal ini. "Sudahlah," kata Dami. "Oke?" Ia pun segera berbalik pergi. Dan ia bernapas lega karena berhasil meninggalkan Alice.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN