47

1970 Kata
Dael tidak berhasil menyelinap pergi ketika Lexa menemukannya. Dan posisinya sangat tidak menguntungkan karena saat ini ia sedang berada di sudut perpustakaan di mana ia di kelilingi dinding, jendela dan rak buku. Satu-satunya jalan keluar adalah tempat di mana Lexa muncul. "Dael!" Lexa berseru girang, mengabaikan peraturan perpustakaan yang mewajibkan para pengunjungnya untuk tenang. "Aku senang berhasil menemukanmu!" Lexa segera menghampirinya yang sedang duduk dengan bersandar pada dinding. Lexa menyingkirkan tumpukan buku di sekitar Dael dengan kakinya. Ia menyediakan ruangnya sendiri di samping Dael. Lalu duduk. Rapat. Tak memberikan berjarak. Sampai Dael bisa merasakan hawa hangat tubuh Lexa menembus masuk dari kemejanya. Dael mencoba bergeser namun di sampingnya terdapat kaca jendela yang mengakhiri ruang geraknya. "Kenapa kau menghindariku?" Lexa memeluk sebelah lengan Dael dengan erat. Dael semakin gugup karena ia merasakan muka tubuh Lexa pada lengannya. "Kita harus keluar lagi, nonton bareng seperti akhir pekan kemarin." Tidak. Itu tidak akan terjadi lagi. Batin Dael dalam hati. "Kenapa kau berada di sini, Lexa?" Dael mencoba mencari cara untuk melarikan diri. "Alice mungkin akan mencarimu." Lexa memanyunkan bibirnya yang dipoles lipstik berwarna kecokelatan tampak glossy. "Alice sedang sakit. Dia pulang tadi pagi." "Oh... oh ya?" Dael kehilangan kesempatan besarnya untuk dapat melarikan diri. "Apakah parah?" "Ya, sangat parah. Aku tidak pernah melihatnya sehancur itu." Jawab Lexa. Dael mengerutkan dahi. "Aku tidak tahu persisnya, tapi Dami membuatnya menjadi begitu. Dami itu seperti penyihir yang menyedot energi Alice sampai habis." Kata Lexa dengan nada dingin. "Apa maksudmu?" tanya Dael, semakin tidak mengerti. "Kau mengenal Dami kan? Katanya kau berteman dengan saudaranya yang tampan itu. Jadrian kan? Jadrian pasti populer karena dia luar biasa tampan. Tapi adiknya?" Lexa menggelengkan kepala, menunjukkan wajah simpati lalu berikutnya ia terlihat sedang pura-pura muntah. "Bersaudara tapi sayang salah satunya tak beruntung. Seperti itik emas dan itik hitam." Tandasnya dengan nada keji. "Lexa, apa maksudmu?" Dael mulai mulai kesal. Namun ia mencoba menahannya. Tetapi ia tahu jika Lexa baru saja mengolok Dami. "Oke, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Hanya saja Dami itu tidak sebanding!" Lexa tampaknya tidak dapat menutupi kejengkelannya lagi. "Kau tahu aku sudah bersama Alice sejak kami berusia sebelas tahun! Jadi itu artinya sudah enam tahun kami selalu bersama! Seharusnya tidak ada rahasia apa pun di antara kami! Tapi mengapa Alice lebih memilih Dami dariku? Dan lihat apa yang dilakukan rakun kecil itu pada Alice? Dia menyakiti Alice!" "Apa persisnya yang dilakukan Dami?" Dael masih belum mengerti. Apakah bahasa para perempuan selalu seperti ini? Membingungkan? "Aku tidak tahu. Aku meninggalkan mereka berdua berbicara. Seharusnya aku tidak meninggalkan Alice. Tapi Alice... dan yah, ketika aku kembali, Alice muntah-muntah. Sementara Dami sudah kabur pergi. Dami pasti sudah meracuni Alice dengan ramuan sihir!" "Lexa, imajinasimu sungguh liar," Dael menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak yakin jika Alice benar-benar muntah, apalagi soal racun ramuan sihir. Lexa malah terkikik. "Imajinasiku memang liar," Lexa memajukan wajahnya namun Dael segera berpaling sehingga bibir Lexa menyentuh dagunya. Lexa cemberut namun ia kembali tersenyum. "Pokoknya aku khawatir pada Alice, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan." Lexa menghela napas. "Kau temannya, jenguklah dia," saran Dael. "Percuma saja menjenguknya. Dia tidak butuh aku, Dael." "Mengapa kau berkata begitu?" "Karena aku sangat tahu Alice. Aku tahu kapan dia tidak menginginkan aku! Aku sudah mengenalnya sejak lama!" Lexa menghela napas kesal, tampaknya sedang meluapkan kekesalannya. "Aku sungguh tidak mengerti. Bahkan setelah dia disakiti begitu, dia tetap tidak melawan. Dami sialan..." Dael tidak terlalu memahami persoalan ini. Tapi jika Dami memang melakukan sesuatu yang buruk pada Alice, mungkin telah terjadi kesalahpahaman. "Bagaimana jika kau berbicara pada Dami?" usul Dael. "Tidak mau!" seru Lexa segera, tampak jijik. "Aku tidak mau dekat-dekat dengan dia lagi. Kau tahu jika sekarang ini dia berteman dengan para..." Lexa menghentikan kalimatnya lagi. Tenggorokannya seperti sedang menelan sesuatu yang pahit. "...orang-orang Berness." bisiknya pelan untuk mengakhiri kalimatnya. "Maksudmu Aimee Berness?" "Kenapa kau hafal namanya?" Tuntut Lexa tidak senang. Tentu saja Dael hafal karena Aimee adalah salah satu teman Victor. "Tapi Alice butuh bantuan," Lexa kembali berkata. "Aku punya ide yang lebih bagus." "Oh ya?" Dael diam-diam merapikan barangnya. Berniat akan segera pergi. "Ya. Ini ide brilian," Lexa tampak bersemangat meski sahabatnya sedang sakit di tempat lain. "Alice pasti akan memuji ideku." dia terkikik riang. "Oke, apa itu?" tanya Dael ingin tahu. "Tolong beritahu Solaris untuk menjenguknya sepulang sekolah!" Dael terdiam. Itu kah ide brilian yang dimaksud Lexa? "Kau bisa memberitahu Solaris kan, Dael? Alice pasti sangat membutuhkan Solaris saat ini." "Eh, aku tidak yakin..." "Ayolah, Dael... Demi Alice, sahabat cantikku yang malang itu butuh seseorang. Dan kehadiran Solaris adalah ide yang tepat!" Dael mencoba mencari cara agar Solaris tidak perlu dilibatkan, tapi dia tidak tahu bagaimana. "Aku akan memberitahu Alice jika Solaris akan datang nanti." Lexa melepaskan lengan Dael, ia segera mengambil ponselnya, mengetikkan pesan dengan dua jempolnya dalam gerakan kilat. Sebelum Dael sempat mengatakan apa-apa, Lexa telah mengirim pesan itu. "Dia pasti menantikan kehadiran Solaris!" "Eh, ya..." Dael menghela napas. Sial... Bel masuk pelajaran membuat Dael lega karena ia bisa lepas dari tempelan Lexa yang masih merasa nelangsa tanpa kehadiran sahabatnya. "Hei, dari mana kau?" Solaris menegurnya ketika mereka bertemu di depan pintu kelas. Dael tidak menjawab, ia segera menyeret Solaris untuk ke bangku. "Aku sudah menunggumu di halaman belakang, kau bilang akan segera menyusul." kata Solaris lagi setelah duduk. "Alice sedang sakit," Dael memulai. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan saudaranya dari kekacauan para manusia remaja di sekolah ini. "Oh, sayang sekali," komentar Solaris. "Aneh, padahal tadi pagi kita berpapasan dengannya ketika di parkiran." "Iya kan? Alice tampak sehat saat itu?" Dael senang karena pandangannya dengan Solaris sama. "Tapi dia mendadak sakit karena... sesuatu tentang pertemanannya." Solaris mengerutkan dahi. "Kata Lexa, sakitnya parah." "Oh, jadi kau bertemu dengan Lexa? Karena itu kah kau tidak menyusulku?" "Hei, dengar." Dael merendahkan suaranya ketika guru telah memasuki ruang kelas. "Apa yang terjadi pada akhir pekan itu kesalahan. Aku tidak berkencan dengan Lexa. Itu tidak sengaja." Dael berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu, namun ia tetap tidak menyebut tentang Dami dan Victor yang menjadi dalang kekacauan itu. Akibatnya Solaris mengecam kelakuannya karena mengira ia telah mencoba menggoda manusia. "Dan kau tahu sendiri, Lexa sangat sulit untuk dihadapi," kata Dael. "Yeah. Manusia akan sulit dihadapi jika sejak awal kau sudah membuka kesempatan untuk mereka," ucap Solaris, sarkasme. "Jangan sampai kau membuatku harus melapor pada Papa." katanya dengan nada mengancam. "Oh, tolong jangan beri tahu, Sol," Dael memohon, merasa takut mendengar Solaris menyebut Papa. "Bagus," Solaris mengangguk, agak puas melihat reaksi gelisah di wajah Dael. "Dan kembali pada Alice." Dael tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini kepada Solaris. "Dia menunggumu di rumahnya." "Kenapa?" tanya Solaris. "Karena dia sedang sakit dan kalut. Dia butuh seseorang." "Aku bukan siapa-siapa Alice," ujar Solaris. "Ya, aku tahu. Tapi Alice sedang bersedih sampai Lexa tidak mampu menghiburnya." "Lalu apa kaitannya denganku?" "Lexa membuat janji jika kau akan datang. Dia memaksaku untuk memberitahumu." Solaris mengembuskan napas. "Maaf, aku sudah berusaha mencoba untuk menghentikan Lexa. Tapi dia gadis yang sulit." "Abaikan saja," kata Solaris. "Tapi, Sol," protes Dael. Entah mengapa dia mengkhawatirkan Alice. Yang dia tahu Alice adalah seorang gadis manusia dengan karakter kuat. Dan sesuatu telah terjadi pada Alice karena Dami. ...Dami itu seperti penyihir. Dael teringat dengan perumpamaan Lexa. Lexa jelas-jelas menunjukkan ketakutannya tentang Dami. "Aku hanya ingin kau mengecek keadaan Alice. Aku takut terjadi sesuatu padanya." "Dia bukan urusan kita, Dael." "Tapi Alice bereaksi begitu karena Dami." Solaris terdiam. Ia menoleh kembali pada Dael. "Kenapa kau membawa Dami dalam topik ini?" "Karena Lexa bilang jika Dami membuat Alice sakit." "Lexa hanya berlebihan. Kau tahu dia gadis yang..." "...memiliki imajinasi liar," Dael membantu Solaris menemukan lanjutan kalimat yang tepat. "Ya," Solaris mengangguk setuju. "Mereka bertengkar," kata Dael. "Demi Tuhan, apakah kita akan mengurusi masalah cewek?" Solaris semakin tidak mengerti. Tapi Dael merasa gelisah. Ia tidak bisa berhenti jika masalah ini belum selesai. Segala sesuatu tentang Dami menurutnya tidak normal. Dami yang dulunya adalah Vampir, kini menjadi manusia. Dan Dami tidak memiliki ingatan apa pun selama sepuluh tahun terakhirnya selama tumbuh menjadi manusia. Juga, keberadaan Dami seperti mengubah sesuatu di Burdenjam yang sebelumnya adalah kota yang aman dan damai. Mungkin saja ini semua kebetulan. Tetapi sebelum kehadiran Dami, tidak pernah terdengar kabar adanya pembunuhan mengerikan yang dilakukan oleh Vampir, juga tidak pernah sekalipun kabar mengenai werewolf yang mendapat kutukan dari Vampir. Sementara Victor terkena kutukan itu, Victor telah ditandai oleh Vampir yang tidak diketahui sampai hari ini. Juga penemuan pondok di hutan itu dan terowongan di dalam sumurnya. Semua hal itu adalah pertanda buruk. "Coba cek saja, Sol. Kumohon." pinta Dael. Dia tidak ingin menyampaikan kekhawatirannya tentang Dami pada Solaris. Solaris menghela napas kesal. "Baiklah." Dael pun menghela napas lega. -- "Hei, Vic!" Dael berhasil mengejar Victor yang berjalan menuju gerbang sekolah. Victor terlihat terpaksa berhenti. "Di mana Dami?" tanya Dael. "Kenapa kau bertanya kepadaku?" tanya Victor kesal. "Apakah sekarang aku akan terus dicap sebagai pengasuh Dami?" tanyanya sinis. Dael menghela napas. Dia tidak pernah memberitahu Solaris tentang sikap Victor yang tidak mau membantu menjaga Dami. "Aku hanya bertanya. Aku lihat dia bersama Aimee hari ini." ujar Dael. "Nah, tanyakan saja pada Aimee!" "Kau tidak pulang bersama mereka?" tanya Dael. "Mobil penuh, mereka sudah punya tambahan personil. Di mana pun aku berada, aku tetap tidak punya teman, tahu!" Dael sedikit terkejut dengan semburan personal itu. "Hei, apakah kau sedang menyalahkanku karena kau tidak bisa pulang bersama mereka? Aku rasa mobil Aoi akan tetap muat untukmu." "Oh, sekarang kau mendukung pertemananku dengan para cewek itu ya?" Victor bertambah sinis. "Bilang saja aku ini anak aneh karena berteman dengan para cewek kuno dan kutu buku itu!" Semburnya berang. "Hei, aku tidak sedang menyinggungmu, tahu!" seru Dael kesal. Rasanya apa saja yang ia ucapkan dimaknakan sebagai hal buruk di dalam kepala Victor. Victor menggeleng kesal lalu berlalu pergi. "Astaga, bocah sialan itu..." Dael menelan kembali makiannya. Ia menghela napas, mencoba mengeyahkan Victor. Ia sudah terbiasa diperlakukan begitu oleh Victor, seolah ia selalu ingin bersikap jahat kepada bocah itu. Ia pun berjalan menuju ke parkiran, berharap masih menemukan Dami di sana. Sebab, dia ingin segera menginterogasi Dami mengenai Alice, secara personal. Dan berharap bisa membantu. Dia tidak ingin Alice terus sakit dan membuatnya terjebak bersama Lexa seperti tadi siang. Sebenarnya apa yang dilakukan Dami kepada Alice? Mungkin ini hanya sebuah insting. Dia diam-diam menganggap Dami menyimpan sesuatu yang berbahaya karena status perubahan yang tidak biasa itu. Dael melihat mobil kuning Aoi yang khas masih terparkir. Ia pun bergerak mendekat, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Aoi berdiri di depan mobil, bersama Daisy. Seketika keberanian Dael surut. Ia mengerjapkan mata melihat sosok Aoi di sana, dengan rambut cokelat lurus panjang yang bergerak lembut mengikuti embusan angin. Ia suka sekali melihat Aoi yang hari ini mengenakan sweater berwarna mocha lembut itu. Sial. Entah mengapa dia tidak bisa langsung begitu saja berhadapan dengan Aoi. Dia tidak ingin terlihat kacau sedikit pun di mata gadis itu. Ia pun berbalik, merapikan jaket meski tidak perlu. Dan walau ia berada cukup jauh dari mereka berdua, Dael sengaja menajamkan pendengaran werewolfnya. Mungkin dengan mengetahui topik obrolan mereka, dia bisa ikut nimbrung. Hanya agar dia tidak terlihat konyol ketika tiba-tiba datang mendekat nanti. "...seharusnya siap," kata Daisy. Suara khas si rambut merah itu selalu terdengar gugup. "Oh, Daisy. Aku sungguh tidak tahan. Kenapa kita melakukan hal ini?" tanya Aoi, terdengar cemas. Apa yang dicemaskan oleh Aoi? Dael ingin tahu. Siapa tahu dia bisa membantu gadis itu. "Kita harus masuk ke sana, Aoi. Kalian berdua sudah menyetujuinya. Aku dan Dami... kami harus ke sana." Dael terdiam. Ia masih bertahan di tempatnya, mendengarkan. "Yah, mau bagaimana lagi? Aku tidak mengerti dengan ketertarikan kalian..." Ucap Aoi, terdengar pasrah. Ketertarikan apa? "Aku harus mendapatkan buku itu, Aoi. Dami juga memerlukannya, kau dengar sendiri kan? Dia ingin membaca buku-buku tentang Vampir. Malam ini, kita harus ke Area Khusus." Daisy terdengar sungguh bersemangat. Area khusus? Buku-buku tentang Vampir? Apakah maksudnya... area khusus perpustakaan kota?[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN