48

1199 Kata
Solaris benar-benar tidak menyangka dia akan menuruti apa kata Dael. Dia sudah berada di sini, di depan pintu rumah Alice. Ini bukan kali pertama ia berada di sini. Dia pernah, dengan bodohnya, menerima undangan Alice ke rumah. Itu adalah ketika ia baru saja sampai di Burdenjam. Menjadi orang baru dan murid baru di Caranige. Dan itu adalah pelajaran pertama untuk Solaris, juga untuk Dael, dan tentu pula untuk Victor. Jika seharusnya mereka sebagai makhluk non manusia, sebagai ras werewolf yang berbudaya, tidak pernah mencoba dan membuka kesempatan kepada para manusia untuk mendekati mereka. Pintu membuka dan Alice muncul. "Hai," sapa Solaris, tersenyum. "Hai!" Balas Alice. Sang tuan rumah dengan gaun tidurnya terlihat sangat sehat dari pada bayangan Solaris. Memangnya apa yang akan ia temukan? Alice dengan wajah pucat yang terbaring kaku di ranjang? "Masuklah," Alice mengambil tangan Solaris. Ia dapat merasakan tangan hangat itu membawanya masuk ke dalam rumah besar itu. Seperti pertama kali Solaris ketika datang ke rumah ini, rumah itu terasa besar, mewah dan agak sepi. Tapi hari ini ia merasa rumah itu dua kali lipat lebih sepi. Mungkin karena tidak semua lampunya dinyalakan sehingga terasa redup. Ia tidak melihat siapa-siapa selain mereka berdua ketika berjalan membelah hall depan yang besar. Alice tersenyum riang sambil membawanya berjalan. "Aku senang kau datang. Lexa tidak bohong," ujar Alice. "Aku datang karena Dael meminta. Katanya kau agak parah." "Dael pasti tahu dari Lexa. Aku tidak parah. Hanya agak lelah. Sedikit." Solaris ingin bertanya kemana mereka akan pergi, namun ia tidak jadi melakukannya ketika mereka berdua melewati pintu. Kini mereka berada di luar, halaman belakang. Alice membawa Solaris ke halaman itu, lalu menaiki sebuah gazebo. Mereka duduk di sana. Solaris tampak bingung ketika Alice tidak melepaskan tangannya. Mata biru jernih itu menatapnya tanpa berkedip dan senyum Alice belum surut. "Eh, ya..." Solaris segera melepaskan tangannya dari Alice. "Bagaimana kabarmu jadinya?" "Cukup baik," jawab Alice. "Aku dengar kau bertengkar dengan Dami." Ucap Solaris. "Apakah semuanya baik-baik saja?" "Lexa pasti mengatakan sesuatu yang berlebihan kan?" Alice malah balik bertanya. Solaris yakin begitu karena Dael sampai memaksanya untuk datang ke sini. Tapi dia tidak mendengar apa pun dan juga tak ingin mendengar kata-kata Lexa. Alice tersenyum. "Aku baru ingat jika kau mengenal Dami." "Sejujurnya kami kurang mengenalnya." Kata Solaris, ragu untuk memberitahu. "Kami mengenal Jadrian, kakaknya." "Ya. Aku sudah pernah bertemu dengan Jadrian," Alice mengangguk. "Dia pemuda yang sangat menarik." Solaris mengangguk setuju. "Lalu? Ada masalah apa?" Solaris bertanya. "Oh, jika kau mau bercerita." "Aku senang kau merasa khawatir. Terima kasih sudah peduli kepadaku," Alice tiba-tiba menaruh kepalanya di sisi bahu Solaris. Oh, tidak. Jangan lagi. Solaris ingin menyingkir segera. "Kami berselisih. Itu saja," Alice nampaknya tak ingin bercerita. "Lexa dan Dael sepertinya semakin dekat ya? Apakah mereka sudah menjalin hubungan?" Solaris berharap itu tidak akan pernah terjadi. "Bagaimana dengan kita?" Alice kembali mendapatkan tangan Solaris. Itu juga tidak akan terjadi, batin Solaris. Solaris menarik tangannya kembali dari Alice. Alice duduk tegak, tampak kecewa dengan penolakan Solaris. "Jika kau merasa baik-baik saja, mungkin aku bisa pergi." Ekspresi Alice terlihat tidak senang. Tapi Solaris tidak ingin terus membahagiakan sang tuan rumah. Dia punya batasnya sendiri. Mereka berbeda. Dia adalah werewolf. Dia tidak ingin membuat Alice menyesal karena sudah mendekatinya. Sayangnya ia juga tidak bisa memberitahu Alice fakta itu. "Aku dan Dami memang bertengkar," Alice buru-buru berkata. Sepertinya ia sengaja mengatakannya agar Solaris tidak pergi. "Aku pernah bertemu dengannya di masa lalu, tapi dia melupakannya. Aku marah dan dia tidak peduli. Dia sungguh kejam." Solaris mengerutkan dahi. Alasan itu, sungguh tipikal dari seorang putri kaya raya yang manja. "Mungkin dia tidak bisa mengingatnya." Solaris penasaran. Kapan tepatnya mereka bertemu karena ia tahu Dami menghilang selama sepuluh tahun, dan sebelumnya Dami adalah seorang Vampir. "Kapan kalian bertemu?" "Sebelas tahun lalu," jawab Alice. Ah, ketika Dami masihlah seorang Vampir. "Dami datang di hari pemakaman saudaraku." "Kau punya seorang saudara?" "Ya, saudara perempuan. Sebelas tahun lalu dia seusia denganku saat ini. Dia masih muda dan bahagia. Tapi dia meninggal." "Maafkan aku," Solaris tidak pernah tahu akan hal itu. Alice tersenyum. "Tidak masalah. Hanya sedikit orang yang tahu mengenai hidupku." Meski Alice populer karena kecantikan dan kekayaannya, dia memang agak tertutup. Selama ini Solaris mengira Alice adalah putra tunggal Sullivan, pria terkaya di Burdenjam. "Kau ingin tahu bagaimana dia meninggal?" Solaris tidak ingin tahu. Tapi Alice tentu akan melanjutkannya. "Darahnya dihisap habis sampai kering oleh Vampir." "Astaga, Alice." "Ya. Saudaraku mati dengan mengenaskan. Aku yang menemukannya tergeletak dengan tubuh mengkerut itu di kamarnya. Aku memeluk mayatnya, berharap dia dapat segera bangun. Tapi dia diam saja dalam pelukanku. Mengkerut, dingin dan biru." Solaris yakin itu adalah pengalaman yang mengerikan. Alice pasti sangat terpukul. Sama seperti dirinya yang sempat merasa terpukul dengan serangan pemberontakan Werewolf di stasiun kereta bawah tanah Varlas. Di sana ia melihat kematian. Darah di mana-mana. Tubuh membeku yang tak bernyawa, bahkan tak sempat menutup mata. Kematian sungguh terasa dekat dan dapat terjadi pada siapa saja. "Aku menyesal mendengarnya, Alice." "Seharusnya aku tidak menjual kisah ini," Alice tertawa hambar. Ia tampak malu setelahnya. Sepertinya ia memang tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun selain orang terdekatnya. "Tapi rasanya lega telah memberitahumu." Solaris memandangnya, tampak simpati. "Jangan memandangiku dengan sorot itu," pinta Alice. "Maaf." Ucap Solaris. Dan ia teringat kembali pada apa tujuannya. "Jika sebelas tahun lalu, saat itu Dami masih lima tahun, dia bisa tidak ingat apa-apa." Alice terdiam. "Yah, kau benar," ujarnya. "Aku seharusnya tidak memaksanya." Syukurlah Alice dapat segera mengerti. Solaris rasa pertemuan ini sudah harus segera berakhir. Tapi Alice tiba-tiba memeluknya. "Aku mengerti kau terpaksa datang karena ingin membahas soal Dami. Tapi masalah itu sudah selesai. Mari bahas tentang kita." Kata Alice. Solaris seharusnya tidak menerima. Ia memejamkan mata. Mencoba menahan godaan dengan Alice yang menempel padanya. Tubuh yang lembut dan hangat. Aroma parfum manis gadis itu. Oh, tidak. "Alice..." Solaris bergerak akan menjauh. Namun Alice menahannya. "Kau akan terus menolakku?" Solaris merasa terkejut ketika wajah Alice sudah berada sangat dekat di depannya. Ia bisa merasakan embusan napas hangat Alice di wajahnya. Wajah Alice yang luar biasa sebagai manusia. Solaris tentu tidak dapat membohongi dirinya jika ia memuji kecantikan Alice. Rasanya ini pertama kalinya ia melihat manusia seperti ini. "Alice, aku rasa tidak..." Tapi terlambat dan Solaris lengah. Sebagai seorang alpha, saudara tertua, ia seharusnya dapat lebih sigap untuk memberikan contoh. Tapi dengan mudahnya ia lengah, Alice menciumnya. Bibir gadis itu meraup bibirnya dengan gerakan lembut yang menggiurkan. Solaris mendorong bahu Alice, namun ia tidak memiliki kekuatan karena takut melukai bahu rapuh manusia itu. Alice lebih kuat dan menantang, berhasil mendapatkan kesempatan itu. Sesaat, Solaris sempat lepas kendali. Jadi begini, tubuh manusia. Lembut dan rapuh. Namun menggiurkan. Alice menarik wajahnya, tersenyum dengan wajah yang kini dilapisi semburat merah, membuatnya terlihat semakin menggoda. "Jadi bagaimana?" Tanya Alice. Solaris dapat mendengar dentuman jantung Alice di muka tubuh mereka yang saling merapat. Solaris berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia malu malah merasa lapar di saat itu. Tapi ia memang sempat tergoda. Tuhan akan kecewa. Dan Papa pasti akan menghukumnya jika mengetahui hal ini. Solaris mendorong Alice lalu ia segera berdiri. "Aku harus pergi," kata Solaris. "Tapi, Solaris!" Seru Alice. Terdengar kecewa. Solaris pergi begitu saja. Setelah Dami, kini Solaris lah yang bermain-main dengan perasaan Alice, seorang manusia yang rapuh itu.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN