Pembullian Berujung Petaka

759 Kata
Muka Alicia memerah mendengar tawa teman-teman sekelasnya, ia merasa malu. Alicia melihat ke bagian roknya yang menempel pada kursi, ia kemudian berusaha melepaskan rok dari kursi, tetapi hal itu sangat sulit. Ia kembali duduk dengan gelisah. "Alicia, ada apa?" tanya sang guru merasa heran muridnya tak jadi maju ke depan. Alicia menunduk, ia tak mampu menjawab. "Roknya menempel di kursi, Sir!" Seorang siswa yang duduk di belakang berteriak kencang. Lalu seisi kelas itu kembali tertawa. Muka Alicia semakin memerah bahkan keringat dingin mulai menetes, dia tak menyangka ternyata sekolah tidak semenyenangkan yang ia dengar. Sembari duduk tangannya berusaha melepaskan rok yang menempel, ia menariknya sekuat mungkin sambil duduk miring. Gadis berkacamata tebal yang duduk di sampingnya berbisik, "Jangan dipaksa nanti rokmu sobek!" "Alicia," panggil sang guru yang telah ada di samping Alicia. "Rokku menempel di kursi, Sir," jawab Alicia pelan. Guru itu melihat ke arah kursi yang diduduki Alicia lalu berkata dengan suara keras, "Semua siswa harap keluar dan tunggu di luar kelas!" perintahnya yang dijawab sorakan para siswa. "Kecuali kalian berdua," lanjut sang guru sambil menatap pada Alicia dan Natalie gadis berkaca mata tebal yang ada di samping Alicia. Para siswa merasa senang, mereka berbondong-bondong keluar kelas. Setidaknya mereka terbebas dari pelajaran Aljabar yang membosankan. Max terkejut melihat teman-teman sekelas Alicia keluar kelas secara tiba-tiba padahal pelajaran belum selesai. Ia segera merangsek masuk karena khawatir dengan majikannya. "Natali, ambil gunting di laci meja guru lalu gunting rok Alicia yang menempel di kursi!" "Lalu nanti aku pakai apa, Sir?" protes Alicia. "Yang digunting hanya bagian yang menempel saja nanti bisa kamu tutupi bagian belakang tubuhmu itu dengan jas sekolahmu." "Pakai jaketku saja!" Max tiba-tiba datang dan menawarkan jaket kulitnya. Ia segera melepasnya dan memberikan pada Alicia. Max dan sang guru kemudian berjalan menjauh dan menatap papan tulis agar Alicia merasa nyaman saat Natali menggunting roknya. "Selesai," kata Natalie setelah memasangkan jaket untuk menutupi bagian rok yang digunting. Bagian tangan jaket diikatkan di pinggang Alicia. Sang guru dan Max pun berbalik kembali menatap kedua gadis yang sedang berdiri melihat ke arah mereka. Max mendekati Alicia. "Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah khawatir. Khawatir dengan keadaan sang nona dan khawatir dengan keadaan dirinya jika tuannya yaitu Eduardo mengetahui hal ini. "Aku baik-baik saja," jawab Alicia dengan tenang. Ada kelegaan di wajah Max. "Sir, aku ingin pulang. Bolehkah?" tanya Alicia pada gurunya. "Silakan, jika kamu ingin pulang. Hari ini pasti sangat berat untukmu." "Thank you, Sir." Alicia pulang bersama Max. Begitu sampai di rumah ia langsung menuju kamarnya. *** "Kau tidak becus menjaga putriku!" omel Eduardo pada Max yang berdiri mematung. Eduardo yang mendapat laporan kepulangan Alicia yang lebih cepat dari waktu yang seharusnya langsung memanggil Max untuk dimintai keterangan dan Max menceritakan semua kejadian yang dialami Alicia di sekolah. "Saya dilarang untuk masuk ke dalam kelas sehingga tidak tahu yang terjadi pada Nona Alicia," alasan Max. Brak! Eduardo menggebrak meja. "Kepala sekolah s****n! Dia menjamin putriku kan baik-baik saja tetapi malah ini yang terjadi," sungut Eduardo. Dia sangat membenci hal ini. Eduardo memiliki kesepakatan dengan kepala sekolah, Alicia diperbolehkan membawa bodyguard tetapi bodyguard tersebut dilarang masuk ke dalam kelas. Dan kemudian terjadi hal buruk yang ia tidak inginkan, putrinya terluka. "Cari tahu siapa yang mengerjai putriku dan sampaikan salamku padanya. Dan jika kali ini kau tidak bisa mengerjakan tugasmu dengan benar pistolku tak akan ragu melubangi kepalamu!" Eduardo memberi tugas sekaligus mengancam Max. "Baik, Tuan, aku pastikan orang yang mengerjai Nona Alicia mendapatkan balasan." "Sekarang pergilah, aku akan memberi pelajaran kepala sekolah s****n itu!" Max segera pergi dari hadapan Eduardo yang sedang berpikir. Sejenak kemudian, Eduardo mengambil gagang telepon yang ada di meja kerjanya lalu menghubungi seseorang. "Putriku dikerjai di sekolah sialanmu, pecat kepala sekolahmu atau rahasiamu kubeberkan!" ancam Eduardo lalu mengakhiri sambungan. Ia kemudian berdiri lalu berjalan menuju ke kamar putrinya, ia paham betul Alicia sedang membutuhkan dukungannya saat ini. *** Di tempat lain, seorang remaja lelaki dipukuli habis-habisan oleh dua pria bertopeng sementara teman perempuannya diikat tangan dan kakinya. "Hentikan!" teriak si perempuan. "Kalian telah menyakiti nona kami," ucap salah satu pria bertopeng. Bug! Sebuah pukulan mengenai rahang si remaja pria. Bug! Perut si remaja pria itu pun tak luput dari sasaran. Ia jatuh tersungkur. "Stop!" Pria bertopeng itu mendekati si gadis remaja. "Tutup mulutmu, b***h!" sentaknya kemudian menyumpal mulut gadis itu dengan sapu tangan. "Kamu beruntung, kami tidak memperkosamu," "Jangan pernah lapor polisi ataupun menceritakan kejadian ini pada siapapun atau nyawa kalian akan melayang. Kedua remaja itu bergidik ngeri, mereka tahu betul orang-orang yang menculik mereka adalah penjahat profesional.Mereka tak menyangka keusilan mereka akan berujung petaka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN