Kematian Gunadi membawa duka yang mendalam bagi Antonio. Hari-harinya terasa suram, ia kini sebatang kara. Rutinitasnya tetap ia lakukan, ke sekolah lalu di akhir pekan ia menjadi guide bagi para turus lokal maupun dari luar negeri.
Sebuah notifikasi email masuk terdengar di ponselnya. Ponsel yang ia beli beberapa hari sebelum Gunadi wafat, hasil tip dari para turis yang ia kumpulkan.
Antonio membaca pesan itu dengan amat serius. "Alhamdulillah, yes!" serunya mengagetkan teman-teman yang sedang duduk di dekat pohon di pinggir halaman sekolah.
"Heboh banget, kenapa sih?" tanya Noni, teman sekelas Gunadi.
"Nilai TOEFL gua 600!"
"Wah, selamat ya! Gak heran sih, lo dapet segitu. Lo kan jago Bahasa Inggris."
Antonio tersenyum lebar, yang paling membuat ia bahagia adalah nilai TOEFL -nya memadai untuk mendapatkan beasiswa ke Italia. Sebuah mimpi yang ia bangun sejak lama.Ia tak menyangka akan mendapat skor TOEFL sebesar itu, pasalnya tes TOEFL yang ia lakukan beberapa hari setelah Gunadi wafat, ya saat itu ia maih dalam keadaan berduka. Tiba-tiba Antonio terdiam, ia teringat pada pamannya, Gunadi. Tak ada lagi tempat berbagi kesenangan baginya.
Seandainya Om Gunadi tahu pasti beliau juga ikut berbahagia, batin Antonio bicara.
Dug!
Sebuah bola mengenai bahu Antonio, tak sengaja. Hampir saja ponsel yang ia pegang terjatuh.
"Anto, ngelamun mulu sampe nggak sadar ada bola!" teriak salah satu teman Antonio yang sedang bermain di tengah lapangan sekolah.
Antonio segera memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengambil bola itu. Ia yang biasanya tak terlalu suka bermain sepak bola memutuskan untuk masuk ke tengah lapangan bergabung dengan teman-temannya. Italia salah satu negara yang terkenal dengan prestasi sepak bolanya, dan Antonio tidak lama lagi akan ke sana, tidak ada salahnya ia melatih sedikit skillnya di bidang itu meskipun ia tak terlalu suka.
***
Antonio menghapus peluhnya, cuaca yang lumayan terik membuatnya kepanasan. Ia baru saja mengambil sertifikat TOEFL di kota dan saat ini kakinya baru saja turun dari bis yang ia tumpangi dalam perjalanan pulang. Jarak dari tempat menunggu bis ke rumahnya sekitar 300 meter.
Begitu masuk ke dalam rumah, Antonio mencuci tangan lalu segera membuka amplop coklat yang ia bawa di dalam tas. Dikeluarkannya selembar kertas yang menunjukkan skor TOEFL-nya dan segera ia memfoto lembaran itu. Bersama berkas lain yang ia simpan dalam file di ponselnya, Antonio mengirimkan pengajuan beasiswa ke sebuah universitas di Italia, Universitas Calabria (Universita' della Calabria, UNICAL).
"Bismillahirrohmanirrohiim, semoga aku diterima. Aamiin," doa Antonio.
UNICAL merupakan salah satu kampus yang berada di selatan Italia, tepatnya di provinsi Calabria. Universitas ini setiap tahunnya menawarkan puluhan kursi beasiswa untuk mahasiswa asing dari seluruh dunia. Beasiswa yang akan didapat memang hanya separuh, yakni meliputi biaya asrama, serta makan gratis di kantin universitas. Karena hal inilah Antonio telah menabung sekian lama agar dapat memenuhi biaya hidup di sana sambil nanti ia akan mencari pekerjaan paruh waktu. Pada tahun kedua, jika nilainya berhasil mencapai target, maka ia bisa mendaftar beasiswa Centro yang bisa full membiayai kuliah kamu di UNICAL. Proses pendaftarannya sama seperti pendaftaran beasiswa kebanyakan yang menyertakan TOEFL, CV Europass (Standar Eropa, bisa lihat template-nya di internet), motivation letter, dan lain sebagainya. Semua informasi itu ia peroleh di www.unical.it.
***
"Biar aku sendiri saja," pinta Alicia pada Maria yang sedang menyisir rambutnya. Maria pun menurut ia memberikan sisir tersebut pada Alicia.
Alicia tampak menyisir rambut indahnya di depan kaca yang berukuran setinggi tubuhnya. Hari ini adalah hari pertama ia bisa bersekolah di sekolah swasta terbaik di Calabria. Ia sangat senang akhirnya bisa bergaul dengan teman seusianya dan bisa merasakan manisnya kehidupan remaja.
Tok tok! Sebuah ketukan di pintu.
Maria segera berjalan ke pintu, di sana ada Max bodyguard yang ditugasi khusus mengawal Alicia ke sekolah. Usia Max tidak jauh berbeda dengan Alicia.
"Semua sudah siap." Max memberi laporan. Maria mengangguk lalu bergegas menuju Alicia yang sedang memasang dasi sekolahnya bercorak garis-garis melintang kombinasi warna merah dan biru.
Maria mengambil jas sekolah Alicia yang ada di dalam lemari. Jas berwarna hitam yang sewarna dengan rok lipit yang dipakai Alicia saat ini. Perlahan Maria membantu Alicia memakai jasnya.
"Anda tampak cantik, Nona," puji Maria.
Alicia tersenyum mendengar pujian Maria. Di dalam hati Maria melanjutkan pujiannya, sama seperti ibumu.
"Putriku, kau sudah siap?" Eduardo bertanya, kedatangannya yang tiba-tiba membuat Maria dan Alicia terkejut.
"Iya, Papa."
Eduardo tampak berat menatap putrinya yang akan bersekolah untuk pertama kali. Rasa sayangnya yang sangat besar pada putri satu-satunya itu membuatnya takut kehilangan. Maka melepasnya ke sekolah merupakan hal terberat dalam hidupnya.
***
Max membukakan pintu Bentley yang dikendarai oleh Fazio supir yang ditunjuk oleh Eduardo. Alicia turun dari Bentley dengan hati berdebar, inilah momen yang ia dambakan, masuk ke dalam sekolah.
Langkah Alicia yang selalu didampingi oleh Max menarik perhatian semua siswa di sekolah yang telah berdiri sejak abad 19 itu.
"New student, hah?" Seorang siswi dengan seragam yang sama dengan Alicia bertanya, ia berpangku tangan. Sikapnya yang angkuh membuat Max tak suka. Alicia tahu Max tak suka dengan gadis yang kini ada di hadapannya.
"Yes, I'm new here," jawab Alicia dengan bahasa Inggris yang fasih.
"And you are her baby sitter?" tanya gadis pirang itu lagi dengan tatapan sinis pada Max.
Max baru saja akan menjawab, tetapi Alicia memberi kode padanya untuk tetap diam.
"This is Max." Alicia memperkenalkan Max.
"Anak manja!" seru gadis itu mengatai Alicia.
"Jangan sembarangan bicara!" Max tak tahan dengan sikap gadis itu.
"Kau pikir aku takut dengan bodyguardmu? Hah!" Alicia tidak menjawab satu kata pun.
Gadis itu kemudian pergi setelah mengacungkan jari tengahnya pada Alicia.
Bel berbunyi, Alicia harus segera masuk ke dalam kelas. Sesuai perjanjian antara Eduardo dan pihak sekolah, Max tidak diizinkan untuk masuk kelas. Karena itu Max akan menunggu di depan pintu kelas hingga pelajaran berakhir.
Alicia duduk tertib mendengarkan gurunya menerangkan tentang pelajaran Aljabar, sesuatu yang sudah ia kuasai lewat guru privat yang dipanggil ke rumah. Sang guru memberikan soal usai menerangkan teorinya dan menawarkan pada para siswa siapa yang bisa menjawab soal tersebut.
"Saya bisa menjawabnya, Sir," ujar Alicia sambil mengacungkan jarinya ke udara.
"Alicia, silakan maju ke depan." Guru itu mempersilakan dengan sopan.
Alicia senang sekali mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kepintarannya di hadapan kelas. Ia berdiri, tetapi ia merasa seperti ada yang menahan roknya. Seketika itu juga suara tawa menggema di kelasnya. Mereka menertawakan rok Alicia yang menempel di kursi. Seseorang telah menaruh lem berwarna bening di kursinya sebelum ia duduki.