Masa Lalu yang Manis

1036 Kata
  Eduardo baru saja selesai bertemu dengan salah satu kolega bisnisnya. Pembicaraannya dengan Alicia terhenti karena kedatangan kolega bisnisnya itu. Eduardo memahami keinginan putrinya untuk sekolah dan ia sudah mencari tahu di sekolah mana putrinya akan bersekolah dan menyiapkan pengamanan untu Alicia. Eduardo duduk di kursi taman, di hadapannya serumpun bunga Snow in Summer tumbuh subur. Kelopaknya yang putih menambah keindahan taman. Snow in Summer adalah bunga kesukaan Mawar, karena itu Eduardo menyuruh pegawainya untuk menanam dan merawat baik-baik bunga tersebut di taman ini. Eduardo memetik satu buah bunga Snow in Summer lalu menghirup aromanya, ingatannya melayang ke masa-masa indah bersama Mawar. Semenjak Mawar menolongnya di malam itu, Eduardo rajin mengirimi pesan, menelpon, dan bahkan mendatangi Mawar di apartemennya ataupun di tempat kerja. Walaupun Mawar terlihat tak peduli tetapi Eduardo tidak putus asa, seperti saat ini Eduardo setia menunggu Mawar selesai bekerja di sebuah café. “Pulanglah! Untuk apa kau ke sini?” usir Mawar sambil merapikan piring kotor di hadapan Eduardo. Sudah satu jam Eduardo duduk di situ dan sudah menghabiskan satu porsi lasagna dan satu gelas jus jeruk. “Cara, aku tak akan pulang tanpamu. Aku akan mengantarmu sampai ke apartemen.” Eduardo memberi alasan sambil menatap mesra gadis pujaannya. “Kau tak perlu melakukan itu lagi!” Mawar ingat kemarin Eduardo melakukan hal yang sama dan terus mengikutinya sampai ke apartemen walaupun Mawar telah mengusirnya dan berusaha menjauh. “Mio Caro, aku menyayangimu. Aku khawatir ada yang jahat padamu.” Alasan Eduardo yang sebenarnya adalah ingin terus bersama Mawar. Sosok Mawar selalu membayanginya setiap saat dan rasa rindu itu hadir dan tak dapat dibendung. “Hei, tidak ingat siapa yang dulu dipukuli dan siapa yang menolong? “Aku sudah mempersiapkan diri sekarang,” Eduardo membuka sedikit jaketnya, ujung senjatanya terlihat oleh Mawar. Mawar terkejut, sambil berbisik ia berkata, “Kau membawa s*****a? Kau sudah gila!” “Aku gila karenamu,” “Sudahlah, pergi saja. Aku akan meneruskan pekerjaanku, nanti aku ditegur manajerku.” “Manajermu tidak akan menegur, pulang sebelum waktunya pun dia tidak akan marah.” “Apa maksudmu?” Eduardo tersenyum lalu melambaikan tangan. “Mike!” panggil Eduardo pada sang manajer yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Mawar dan Eduardo. Mike datang menghampiri. “Ada apa?” tanyanya polos. “Mawar akan pulang bersamaku, boleh?” Tanya Eduardo ingin membuktikan ucapannya pada Mawar. “Tentu saja, silakan jika ingin pulang.” “Tapi jam kerjaku belum habis,” sanggah Mawar. “Tidak apa-apa, Mawar. Tugasmu bisa digantikan oleh pegawai lain. Nikmatilah malam ini bersama Eduardo.” Ujar Mike enteng. “Cara, Mike sudah mengizinkan. Ayo kita pulang,” ajak Eduardo lembut sambil berdiri. “Aku ….” Mawar melihat ke tubuhnya yang masih memakai seragam. “Aku akan menunggumu mengganti pakaian, atau mau aku temani?” Eduardo mengerling nakal. “Sepertinya Anda sudah tidak sabar, Bos.” Mike berucap lalu memanggil salah satu pegawai agar mengambilkan barang-barang Mawar di locker. Mawar yang melihat hal itu menggeleng tak percaya. Mike mematuhi Eduardo. Siapa Eduardo sebenarnya? Eduardo menggenggam tangan Mawar sambil membawa tas milik Mawar keluar dari kafe. Seorang pria membukakan pintu mobil begitu Eduardo dan Mawar keluar dari kafe. "Cara ayo masuk," ajak Eduardo. "Aku tidak mau, jangan-jangan kau akan menculikku." tolak Mawar, ia berhenti di depan pintu mobil yang telah terbuka lebar untuknya. "My Love, tak mungkin aku menculikmu. Aku hanya akan mengantarkanmu ke apartemenmu." sanggah Eduardo. Ia memang tak mungkin menculik Mawar, gadis itu sudah menawan hatinya sejak pertama bertemu. "Benarkah?" "Aku bersumpah, dari sini kita langsung ke apartemenmu tidak ke tempat yang lain." Eduardo mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya untuk membuat Mawar percaya. "Awas saja kalau kau menculikku, aku akan berteriak agar orang-orang memukulimu." Eduardo tertawa mendengar ancaman Mawar. "Cara, kau manis sekali." Mawar merengut. "Aku mengancammu, kenapa malah dibilang manis?" "Kau selalu manis bagiku. Ayo masuklah dan duduk di sampingku." Mawar akhirnya mempercayai Eduardo. Ia duduk di samping Eduardo yang etrus saja berusaha memegang tangannya walau selalu ia tepis. Tidak lama mereka sampai di depan apartemen Mawar, lokasi apartemen memang tak terlalu jauh dari kafe tempat Mawar bekerja. Eduardo mengikuti langkah Mawar menuju kamar apartemennya sambil membawakan tas milik Mawar. Tiap kali Mawar meminta tas itu Eduardo menolak untuk memberikannya. Klik! Pintu apartemen terbuka dan Eduardo masuk terlebih dahulu. "Hei, aku belum mempersilakanmu masuk." "Cara, aku lelah berjalan. Boleh ya aku istirahat di sini?" Mawar tak dapat menolak, pria bertubuh tinggi itu sudah merebahkan dirinya di sofa tua milik Mawar. Mawar segera masu ke dalam kamar lalu mebersihkan dirinya. Selesai mebersihkan diri ia menghampiri Eduardo yang telah lelap di sofanya. "Eduardo bangunlah, ini sudah malam kau harus pergi dari sini!" Mawar berusaha membangunkan Eduardo dengan menepuk kaki pria itu tetapi tak ada reaksi dari Eduardo. Mawar kemudian beralih ke tubuh bagian atas Eduardo, ia menepuk pipi Eduardo perlahan. Bukannya bangun Eduardo justru memeluk Mawar secara tiba-tiba hingga tubuh Mawar jatuh ke pelukan Eduardo. "Aku suka wangi tubuhmu," kata Eduardo sambil menghidu aroma tubuh Mawar. Jantung Mawar berdetak cepat, berdekatan dengan pria tampan itu tak baik bagi kesehatan jantungnya. Eduardo lalu menatap mata indah Mawar. "Kurasa aku jatuh cinta padamu, Mawar. Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama, karena jantungmu berdetak cepat sekali jika berdekatan denganku." Pernyataan cinta Eduardo membuat jantung Mawar berdetak semakin cepat. Tidak ada kebohongan di mata Eduardo dan Mawar bisa merasakan hal itu. Pria itu benar-benar jujur jatuh cinta padanya. "Aku ..." Belum selesai Mawar mengucapkan kalimatnya, bibir Eduardo telah mendarat di bibirnya. "Lepaskan!" Mawar mendorong tubuh Eduardo. Eduardo merasa bersalah telah mencium Mawar tanpa izin. "Maafkan aku, aku terbawa suasana." "Sekarang pergilah dari sini!" usir Mawar. Eduardo mengikuti perintah Mawar sambil tersenyum ia berjalan menuju ke pintu. "Cara, mimpikan aku malam ini. Aku mencintaimu." Mawar menutup pintu apartemennya begitu Eduardo keluar. Jantungnya bertalu-talu. Ia memegang bibirnya yang tadi dikecup Eduardo. Ia tahu apa yang ia lakukan salah, selama ini ia kedua orang tuanya selalu mengajarkan untuk menjaga diri dari sentuhan lelaki yang bukan mahramnya. Namun kecupan Eduardo meninggalkan kesan mendalam bahkan malam itu untuk pertama kalinya ia bermimpi Eduardo menjadi kekasihnya.  Keesokan harinya, Eduardo datang pagi-pagi sekali sambil membawakan makanan untuk sarapan. Dan kali ini berbeda, jika hari-hari sebelumnya Mawar selalu menolak kedatangan Eduardo kali ini ia mulai menerima keberadaan Eduardo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN