Antonio memasukkan souvenir ke dalam plastic kemasan, lalu memasangkan label yang terbuat dari kertas daur ulang berwarna coklat bertuliskan Mawar Souvenir. Setelah cukup banyak Antonio menghitungnya dan memasukkannya ke dalam kotak.
“Bagaimana penjualan souvenir di hotel?”
“Alhamdulillah laris, Om. Wisatawan suka dengan hasil buatan Om.”
“Alhamdulillah. Pekerjaanmu sebagai tour guide bagaimana?”
“Alhamdulillah lancar. Aku sempat bertemu wisatawan dari Italia dan mereka tahu tentang Calabria bahkan pamannya tingga di sana. Mereka juga memberiku kartu namanya agar bisa bertemu mereka kalau aku ke Calabria.” Antonio bercerita dengan penuh semangat. Gunadi menjadi khawatir dengan semangat keponakannya, khawatir jika Antonio mencari sang ayah maka akan membahayakan dirinya.
“Oh, ada yang dari Italia. Wajar sih, kan kebanyakan wisatawan yang datang ke Tangkahan ini dari Eropa.” Gunadi berkata datar.
“Aku sudah berpikir.”
“Berpikir apa?”
“Aku akan ke Calabria setelah lulus SMA,” putus Antonio.
“Kuliah dulu. Almarhum ibumu menginginkan anaknya berpendidikan tinggi bukan hanya SMA.” Gunadi memberi alasan untuk menunda kepergian keponakannya ke Italia.
“Ada universitas negeri namanya universitas Calabria, Om. Aku bisa kuliah di sana.”
Universitas Calabria (Università della Calabria, UNICAL) adalah sebuah universitas yang dikelola negara di Italia. Terletak di Arcavacata di Rende, sebuah pinggiran kota Cosenza, universitas ini didirikan pada tahun 1972. Universitas ini kini memiliki kira-kira 35.000 mahasiswa, 800 staf pengajar dan peneliti, dan kira-kira 700 staf tata usaha.
“Biaya kuliah di luar negeri itu mahal, kita tidak mungkin mampu, Antonio.”
“Aku bisa mencari beasiswa, Om. Universitas Calabria setiap tahun memberikan beasiswa pada mahasiswa luar negeri dan ada mahasiswa Indonesia di sana. Aku sudah mencari informasi itu di internet,” terang Antonio penuh semangat.
“Bagaimana dengan living costnya? Pasti biaya hidup di sana mahal.” Gunadi memberi alasan.
“Aku sudah mulai menabung dari sekarang. Dan nanti ketika aku di sana aku bisa kuliah sambil bekerja.” tutur Antonio, ia sangat optimis dengan rencananya.
“Italia itu jauh, bagaimana kalau ada apa-apa?” tanya Gunadi lagi, berharap dari pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan Antonio akan berpikir ulang untuk pergi ke Calabria Italia Selatan.
Antonio menepuk pundak Gunadi. “Om tenang saja, tak perlu terlalu khawatir. Ada Allah yang menjaga aku, lagian aku bukan satu-satunya warga Indonesia di sana nantinya. Pasti aku akan memiliki teman seperjuangan.”
“Baiklah, terserah padamu saja.” Gunadi tak ingin membicarakan hal itu lagi. “Ayo kita makan malam dulu,” lanjutnya.
Selama makan malam Gunadi hanya diam sambil memperhatikan keponakannya yang lahap menyantap makanan yang ia buat.
***
Antonio menjadi lebih bersemangat saat menjadi tour guide, keinginannya untuk bisa ke Calabria semakin besar. Tabungannya pun kian banyak. Ia juga mencari informasi tentang beasiswa untuk kuliah di universitas Calabria (UNICAL). Universita Della Calabria (UNICAL) menawarkan beasiswa parsial atau separuh bagi mahasiswa asing yang ingin berseklah di sana. Beasiswa yang akan didapat memang hanya separuh, yakni meliputi biaya asrama, serta makan gratis di kantin universitas. Karena itulah Antonio harus menyiapkan sejumlah uang dan nanti pada tahun kedua, jika nilainya berhasil mencapai target, maka ia bisa mendaftar beasiswa Centro yang bisa full membiayai kuliah di UNICAL.
Antonio juga menyiapkan diri agar dapat lulus dalam seleksi. Kemampuan bahasa Inggrisnya ia tingkatkan dengan mengikuti les persiapan TOEFL, nilai-nilai di sekolah pun ia perjuangkan agar tetap baik. Dan tak lupa untuk selalu berdoa terutama di sepertiga malam.
Selesai sholat Subuh, seperti biasa Antonio bersiap untuk ke sekolah. Namun ada yang aneh pagi ini, tidak ada suara aktivitas di dapur seperti biasanya. Biasanya sang paman setelah sholat Subuh langsung masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan tetapi kali ini rumah terasa sangat sepi tak ada satu suara sedikit pun.
Merasa curiga, Antonio keluar dari kamarnya menuju ke kamar Gunadi.
Tok … tok … tok ….
“Om,” panggil Antonio.
Tak ada jawaban dari dalam kamar. Antonio memanggil sekali lagi dengan suara keras. “Om!”
Masih tak ada jawaban, Antonio akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sang paman.
Ceklek.
Dibukanya pintu kamar itu dan Antonio terkejut melihat pamannya telah jatuh telungkup di kasur. Pinggang ke atas ada di kasus sementara bagian bawah tubuh sang paman tetap menyentuh lantai.
“Om!” Antonio berteriak dan langsung menghampiri pamannya. Ia berusaha memperbaiki posisi Gunadi agar berbaring sempurna di kasur. Lalu berusaha membangunkan Gunadi dengan menepuk pipi Gunadi berkali-kali tetapi tidak ada respon.
“Om, bangun Om! Jangan bikin aku takut,” seru Antonio. Rasa takut kehilangan mulai menjalar di kepala Antonio. Haruskah ia kehilangan sang paman setelah kehilangan ibunya?
Antonio menaruh telinganya di d**a Gunadi, berharap dapat mendengar detak jantung paman yang sangat ia sayangi itu, tetapi tak satu pun detak terdengar. Ia kemudian menaruh tangannya di depan hidung Gunadi dan tak ada sedikit pun hembusan napas yang ia rasakan.
“Om, jangan tinggalin aku! Jangan tinggalin aku!” teriakan bercampur tangisan menggema di rumah sederhana itu.
“Om!” Antonio memeluk pamannya. Ia masih belum siap jika harus ditinggal pergi.