Ting … ting …. Ting ….
Alicia menyelesaikan permainan pianonya dengan malas-malasan. Isabel yang sejak tadi memperhatikan Alicia memainkan lagu Air on The G String karya Johann Sebastian Bach menyadari mood muridnya tersebut karena beberapa kali Alicia menekan tuts piano dengan nada yang salah.
“Kenapa kamu lesu sekali? Biasanya selalu bersemangat belajar piano.”
Ting.
Satu jemari Alivia menyentuh tuts piano, lalu ia menatap Isabel yang sejak tadi duduk di sebelahnya “Aku ingin sekolah.”
“Selama ini kau kan sekolah,” ucap Isabel sambil mengelus rambut kecoklatan Alicia.
“Selama ini aku home schooling. Aku ingin merasakan sekolah sebenarnya seperti murid-muridnya Francois Marin di film Entre Les Murs.” Alicia mengutarakan perasaanya. Ia memang sangat menyukai film yang judulnya baru saja ia sebutkan, berkali-kali ia menonton film itu. Sehingga rasa penasarannya tentang bersekolah di sekolah umum semakin menguat.
Isabel mengembuskan napas kasar. “Bicaralah pada ayahmu, Signorina.”
Alicia menunduk. “Pasti tak akan boleh.”
“Cobalah dulu, siapa tahu keberuntungan sedang ada padamu.” Isabel berusaha menguatkan walaupun ia tahu itu hal yang tak mungkin dilakukan Eduardo, mengizinkan putrinya bersekolah.
“Baiklah, aku akan mencoba.”
“Good. Sekarang, ayo kita ulangi lagi Air on The G String. Tadi ada beberapa nada yang masih salah.”
Alicia menuruti apa kata gurunya dan mulai memainkan pianonya lagi dengan lebih baik.
Tidak berapa lama Eduardo datang dan memberi tepuk tangan atas permainan piano Alicia yang begitu indah.
“Permainan pianomu selalu bagus sekali, Cara.”
Alicia menoleh ke arah ayahnya. “Papa,” katanya dengan wajah semringah. Lalu beralih menoleh pada Isabel dan tatapan Alicia itu dijawab Isabel dengan anggukan.
“Signore Bertolini, pelajaran piano Alicia sudah selesai. Saya pamit.” Isabel ingin memberi ruang agar Alicia bisa segera bicara dengan ayahnya, karena itu walaupun sebenarnya masih ada yang ingin dia sampaikan pada Alicia, ia memilih mengakhiri pelajarannya.
“Iya, silakan.”
Isabel sedikit membungkuk lalu pergi dari ruangan itu. Setelah Isabel pergi, Eduardo duduk di kursi piano tepat di samping Alicia. Jari-jarinya lincah memainkan melodi Piano Sonata No 16 karya Mozart.
“Wow, Papa hebat,” puji Alicia setelah Eduardo selesai memainkan melodi tersebut.
“Mamamu sangat suka jika Papa bermain piano.” Eduardo mengenang Mawar yang selalu menikmati permainan pianonya.
“Apakah karena itu Papa menyewa Isabel untuk mengajariku?” Tanya Alicia.
“Iya, Papa ingin kamu piawai dalam bermain piano. Dan sepertinya kamu sudah mahir, permainanmu tadi bagus sekali.” Puji Eduardo jujur.
“Itu karena Isabel sabar sekali mengajariku.” Alicia memberi alasan. Isabel memang guru yang sangat sabar. Selain mengajari Alicia bermain piano ia juga mengajari Alicia menggunakan alat music yang lain seperti biola dan cello. Isabel juga kerap kali menjadi teman curhat Alicia.
“Kau memang murid yang cerdas, bukan hanya dalam bermusik. Setiap guru yang datang mengajarimu berkata kalau kau mampu memahami yang mereka ajarkan dalam waktu singkat.”
Alicia mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan selama ini.
“Papa, aku ingin ….”
“Ada apa? Katakanlah apa maumu,”
“Aku ingin belajar di tempat lain bukan di rumah,”
Eduardo mengernyitkan keningnya saat mendengar keinginan Alicia. “Kau ingin belajar di mana?”
“Di sekolah, Papa.”
“No. Kau tidak boleh ke sekolah.” Eduardo berkata tegas.
“Tapi Papa, aku ingin belajar seperti remaja pada umumnya dan memiliki banyak teman.” Alicia memberi alasan. Ia sungguh bosan dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja. Eduardo sangat membatasi aktivitas putrinya, Alicia hanya boleh belajar di rumah dan dilarang menggunakan social media. Ia sama sekali tak punya teman.
“Sekolah berbahaya untukmu,” kata Eduardo serius.
“Aku kesepian, tidak punya teman.” Alicia menekankan kata-katanya.
“Di mansion ini ada banyak orang, bertemanlah dengan mereka.” kilah Eduardo.
“Mereka anak buah Papa, bukan temanku.”
“Papa bisa perintahkan mereka untuk menjadi temanmu.” Bagi Eduardo itu adalah cara paling mudah dan aman, putrinya cukup berteman dengan orang-orang yang telah ia kenal dan berada di bawah kekuasaannya.
“Bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin pertemanan yang tulus.” tolak Alicia. Ia tahu ada banyak orang yang patuh pada ayahnya tetapi ia tak ingin pertemanan yang dipaksakan.
“Alicia, dengarkan Papa. Di luar sana adalah tempat yang berbahaya, apalagi kau adalah keturunan Bertolini. Tidak ada yang tulus saat berteman denganmu, mereka pasti menginginkan sesuatu darimu.”
“Pasti ada orang-orang yang tulus di dunia ini, Papa. Mama contohnya.”
“Mamamu adalah perempuan yang langka,”
“Tetapi ada kan? Aku ingin punya teman yang sebenarnya, Papa.”
“Di luar sana berbahaya, Alicia. Banyak orang yang menginginkan kematian Papa dan pasti juga mengincarmu
“Papa yang punya musuh, kenapa aku yang harus terkurung di mansion ini?” protes Alicia. Ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke kamar tak peduli dengan teriakan ayahnya.
***
Tok ... tok ... tok ....
Eduardo berdiri di depan kamar putrinya. Di tangannya ia membawa semangkuk Gnocchi. Putri kesayangannya itu sampai melewatkan waktu makan siangnya karena marah. Eduardo tidak ingin Alicia kelaparan karena itu ia meminta Maria membuatkan salah satu makanan kesukaan Alicia yaitu Gnocchi.
Gnocchi (nyoh-ki) adalah hidangan pangsit mungil berbahan dasar kentang. Gnocchi sangat mudah disiapkan, yaitu dengan mencampurkan tepung, telur, dan kentang. Gnocchi biasanya disajikan sebagai hidangan pasta. Variasinya bisa ditambah dengan semolina, keju ricotta, labu, tomat yang dikeringkan, dan bayam.
"Alicia, buka pintunya," pinta Eduardo dengan nada lembut.
Tidak ada jawaban dari dalam dan itu membuat Eduardo kesal sekaligus khawatir. "Alicia, buka pintunya!" Kali ini Eduardo berteriak.
"Alicia buka pintunya atau Papa dobrak!" ancam Eduardo.
Alicia mendengar teriakan ayahnya dan ia tahu ayahnya tidak main-main. Ia bangun malas-malasan dari ranjangnya dan berjalan menuju ke pintu.
Klek.
Pintu dibuka dan menampilkan wajah Alicia yang terlihat sembab di matanya.
"Kamu menangis?"
Alicia tidak menjawab pertanyaan ayahnya, ia lebih memilih masuk kembali ke dalam kamar dan membiarkan pintu kamarnya terbuka.
"Papa bawakan makanan kesukaanmu, kamu pasti lapar." Eduardo menaruh mangkuk berisi Gnocchi di meja tepat di depan putrinya yang duduk di sofa kamar.
Alicia melihat Gnocchi di hadapannya. Sangat menggiurkan baginya tetapi kalau ia makan langsung itu seperti meruntuhkan harga dirinya. Saat ini ia sedang ngambek agar diizinkan oleh Eduardo untuk sekolah.
"Makanlah dulu, nanti kita bicara lagi soal keinginanmu untuk bersekolah," saran Eduardo.
Alicia mengerucutkan bibirnya. "Kalau aku makan ini, apakah aku akan diizinkan bersekolah?" tanya Alicia sambil menatap wajah Eduardo.
"Kita lihat nanti."
"Aku ingin kepastian, aku tidak akan makan kalau belum ada kepastian." Alicia berusaha bernegosiasi dengan ayahnya meskipun perutnya telah terasa lapar.
Eduardo mendesah, putrinya keras kepala seperti dirinya.
"Baiklah, kau boleh sekolah. Tetapi semuanya harus sesuai syarat-syarat dari Papa. Soal syarat-syarat itu dan di mana kau akan bersekolah kita bicarakan setelah kau makan," jelas Eduardo.
Eduardo memilih mengalah daripada putrinya sakit karena mogok makan.