Antonio Menjadi Tour Guide

1731 Kata
Tahun-tahun berlalu, kini Antonio telah memasuki jenjang SMA. Selama bersekolah ia selalu menjadi siswa berprestasi. Meskipun setiap pulang sekolah ia harus berjualan souvenir tetapi ia tidak pernah melupakan untuk selalu belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya. Selesai sholat Subuh di masjid Antonio menaruh sajadahnya. Segera ia mengganti baju kokonya menjadi seragam putih abu-abu karena harus segera berangkat ke sekolah. Kalau dulu saat SD dan SMP Antonio cukup berjalan kaki untuk ke sekolah kini di tingkat SMA ia harus menaiki bus karena di desanya tidak ada sekolah menengah atas sehingga Antonio harus berangkat lebih pagi. Antonio menatap sebuah foto usang di dompetnya. Jika remaja seusianya biasanya menyimpan foto gadis idaman di dompet mereka maka di dompet Antonio yang ada adalah foto Mawar, ibunya. Ibu, aku rindu. Batin Antonio bicara. “Antonio, sarapan dulu.” Ucapan Gunadi membuyarkan lamunan Antonio. “Iya, Om.” Jawab Antonio yang segera memasukkan dompetnya ke dalam tas. Gunadi tersenyum sendu melihat keponakannya yang setiap pagi menatap foto adiknya. Ia tahu pasti Antonio sangat merindukan ibunya. Yang sedikit disesali Gunadi adalah ia tidak bisa bercerita banyak tentang Mawar dan Eduardo pada Antonio karena khawatir Antonio akan semakin menguatkan niat Antonio mencari ayahnya. Begitu juga tentang Alicia, Antonio belum tahu tentang adik kembarnya. Satu hal yang dikhawatirkan Gunadi adalah jika Antonio bertemu Vincenzo, anak itu bisa jadi menjadi sasaran mafia lain yang merupakan musuh Vincenzo atau Vincenzo akan menjadikannya menjadi mafia. Ia memang tidak akan menghalangi Antonio jika ingin mencari ayahnya tetapi ia juga tidak menginginkan keponakannya itu melakukan hal tersebut. Gunadi telah menyiapkan nasi dan ceplok telor di meja makan mereka bersama satu sachet kecap manis. Antonio duduk dan menikmati sarapannya sementara Gunadi duduk menemani sambil sesekali menyeruput kopi. Bagi Gunadi masih terlalu pagi untuk sarapan karena itu ia hanya meminum kopi. Selesai sarapan, Antonio segera mengambil tas ranselnya lalu pamit pada Gunadi untuk berangkat ke sekolah. Sambil berjalan kaki menuju ke tempat pemberhentian bus, Antonio menghirup udara pagi yang bersih. Antonio tiba di tempat pemberhentian bus tepat saat bus itu datang. Bus yang masih kosong itu melaju tak lama setelah Antonio naik. “Liat PR kamu dong,” pinta Ucok begitu Antonio naik ke dalam bus. Ia duduk di samping Ucok teman sekelasnya. “Daripada liat PR aku mending aku ajarin gimana cara ngerjainnya,” jawab Antonio. Antonio memang tak suka memberi contekan pada temannya, karena akan membuat mereka malas dan bergantung padanya. Akan lebih baik jika ia mengajari mereka sehingga mereka menjadi lebih memahami materi pelajaran dan tak perlu bergantung padanya. “Kamu pelit,” “Kalau kamu mencontek PR-ku kamu belum tentu memahami materinya, kalau aku ajari kamu akan mengerti dan jika guru bertanya di kelas nanti kamu akan bisa mengerjakan soalnya sendiri.” “Baiklah, terserah kamu saja. Yang penting PR-ku selesai.” Teman Antonio pun mengalah. Selama di dalam bus, Antonio mengajari temannya untuk mengerjakan PR. Jalan yang berliku dan tidak rata sedikit mengganggu proses belajar mereka. Satu jam kemudian mereka tiba di sekolah dan PR itu telah selesai dikerjakan oleh teman Antonio. Di jam istirahat, Boy—teman Antonio dari kelas lain—datang menghampiri. Ia langsung duduk di dekat Antonio di kelasnya. “Anto, kamu kan bahasa Inggrisnya bagus. Gimana kalau jadi guide di hotel Papaku?” Boy memberi tawaran. Ayah Boy memang pemilik salah satu hotel yang lokasinya tak jauh dari tempat konservasi gajah. “Tapi aku hanya bisa saat hari libur.” Semenjak sekolah di tingkat SMA, Antonio hanya bisa berjualan souvenir di hari libur. Karena jarak sekolah yang cukup jauh, ia sampai di rumah sore  hari. “Justru hari libur itu yang kami butuhkan, kamu tahu sendiri kalau weekend kan wisatawan lebih banyak.” Boy berkata. “Memangnya tour guide yang biasa ke mana?” “Dia lebih memilih menjadi TKI di luar negeri.” “Owh, begitu.” “Mau ya jadi guide di hotel Papaku? Gajinya lumayan loh, para turis juga sering memberi tip yang lumayan.” Boy berusaha merayu Antonio. Antonio berpikir sejenak, Ia memang butuh uang selain untuk kebutuhan sehari-hari ia juga menabung agar bisa pergi ke Italia demi mencari sang ayah. Menjadi tour guide berarti penghasilannya akan bertambah. “Baiklah, aku mau.” “Kalau begitu, datanglah ke hotel papaku hari Sabtu ini.” “Iya,” “Kita ke kantin yuk, aku traktir bakso,” ajak Boy. Boy dikenal sebagai anak yang bercukupan di sekolahnya.  *** "Om, besok aku mulai jadi tour guide." Antonio memberi tahu pamannya. "Souvenir ini bagaimana?" tanya Gunadi sambil menunjuk souvenir-souvenir yang sedang ia rapikan. "Akan tetap aku jual, Om. Bahkan aku juga akan menawarkan pada hotel papanya Boy agar souvenir ini dijual di sana." "Itu ide bagus." Gunadi merasa bersemangat, souvenir buatannya yang dulu hanya dijajakan oleh Antonio kemudian masuk ke toko souvenir dan kini akan dijual juga di hotel. Ini seperti keberuntungan baginya, usahanya akan semakin berkembang. Keesokan harinya, di Sabtu pagi yang cerah, Antonio telah siap dengan celana jeans berwarna hitam dan kaos berkerah berwarna biru. Sebuah topi hitam ia pakai untuk menghindarkan diri dari sengatan panas matahari. "Sudah siap?" tanya Gunadi. "Iya, Om." "Ini, Om sudah siapkan souvenir yang akan dititipka di hotel." Gunadi menyerahkan puluhan souvenir yang telah dikemas rapi tiap satuannya. Tiap souvenir dikemas dalam plastik yang diberi merk Mawar Souvenir. Sebuah nama merk yang mereka sepakati bersama dua tahun lalu saat akan memulai menitipkan produk mereka di toko souvenir. Antonio menerima puluhan souvenir tersebut yang telah dimasukkan ke dalam kotak. "Aku berangkat dulu, Om." Antonio berpamitan lalu mencium punggung tangan Gunadi. "Assalamualaikum." Setelah lima belas menit berjalan kaki, Antonio sampai di gerbang sebuah bangunan yang bertuliskan Raflesia Hotel. Jangan bayangkan bangunannya seperti hotel di kota, Raflesia Hotel hanya terdiri dari bangunan dua lantai dengan jumlah kamar hanya dua puluh dan lima kamar VIP yang masing masing memiliki bangunan terpisah terbuat dari bambu. Sampai di lobby hotel, Antonio disambut oleh Boy teman sekolahnya. "Ayo kita ke ruangan papaku. Aku akan perkenalkan dirimu dengan papaku." Boy merangkul bahu Antonio lalu mengajaknya ke sebuah ruangan tak jauh dari lobby hotel. "Jadi ini temanmu yang akan menjadi guide," sambut Papa Boy seketika setelah pintu ruangannya terbuka.  "Iya, Pa." "Perkenalkan saya Anto." Antonio mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Papa Boy menyambut tangan Antonio. mereka bersalaman lalu ia mempersilakan duduk. Papa Boy menjelaskan tugas-tugas Antonio dan berapa gaji yang akan ia peroleh tak lupa Antonio menyampaikan niatnya untuk menitipka souvenir buatan Gunadi agar dijual di hotel. Papa Boy melihat souvenir yang dibawa Antonio lalu menyetujui jika souvenir tersebut dijual di hotelnya. "Sekarang, Boy, tolong antarkan Antonio pada tamu-tamu kita yang sekarang sedang sarapan di restoran." pinta Papa Boy pada putranya saat pembicaraan mereka telah selesai. "Baik, Pa. Ayo Anto kita temui para tamu." Antonio berjalan di samping Boy menuju ke restoran. Mereka menuju ke sebuah meja yang diisi oleh sepasang suami istri berambut pirang.  "Good morning, Mr and Mrs." ucap Boy. "Good morning," sepasang suami istri itu menjawab kompak. "How is our service, any complain?" Boy bertanya dengan ramah. Rupanya putra pemilik hotel itu telah diajari ayahnya bagaimana caranya berinteraksi dengan para tamu. "Great, we have no complain." "I'm glad to hear that. Well today I bring you the person who will become your tour guide. This is Anto." Boy memperkenalkan Antonio pada tamunya. Pasangan suami istri itu memperhatikan Antonio dari kepala hingga ke kaki. "He is not pure Indonesian, I thing he is caucasian." ujar sang istri. "Ya, I thing so." kata sang suami mengiyakan dugaan istrinya. "You both are correct, my father is Italian." "Italiano, just like we are." Mata mereka membola. "I'm Luciano and this is my wife Miranda." Sang suami yang ternyata bernama Luciano memperkenalkan diri. Antonio terkejut sekaligus merasa senang. Pasangan suami istri yang menyewanya menjadi tour guide berasal dari tanah kelahiran ayahnya. Ia merencanakan akan bertanya sebanyak mungkin pada pasangan tersebut tentang Calabria tempat ayahnya berada. Kemungkinan untuk bertemu sang ayah semakin besar. Antonio berjalan menyusuri tempat lokasi ekowisata Tangkahan di Desa Namo Sialang bersama pasangan suami istri wisatawan yang menyewa jasanya. Area yang berada di tengah hutan tropis Sumatera Utara dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Jarak dari kota Medan sekitar 120 kilo meter. Di sini wisatawan bisa menghirup udara segar dan menikmati suasana hutan yang masih terjaga kondisinya. Tidak hanya itu di Tangkahan wisatawan juga bisa bermain dengan gajah-gajah di habitat alaminya. Luciano dan istrinya serius mendengarkan penjelasan Antonio tentang ekowisata Tangkahan dan apa saja yang ada di sana. Pohon-pohon besar yang mereka lewati menghalangi panasnya terik matahari yang menyengat kulit. Dari kejauhan terlihat dua gajah baru selesai dimandikan oleh pawang. “That’s the elephants. Can we ride them?” Tanya Luciano. “Of course.” Jawab Antonio yang lalu bergegas mendekati sang pawang. “Paman, dua turis ini ingin mengendarai gajah, Bisa?” “Tentu saja, gajah-gajah ini sudah jinak.” Mendapat lampu hijau dari sang pawang, Antonio segera berbicara pada Luciano dan istrinya. “You can ride them.” “Wow that’s fantastic. We’ve been waiting for this moment.” Kedua wisatawan itu terlihat semringah lalu mendekati gajah dan mengelus perut gajah. Sang pawang memerintahkan gajah untuk berlutut. Setelah gajah itu berlutut para wisatawan dipersilakan naik ke punggung gajah. Kedua wisatawan itu tampak senang sekali bisa menunggangi gajah, menyusuri sungai yang masih jernih tidak terkena sampah dan polusi. Sementara Antonio dan sang pawang berjalan di sisi gajah. Meskipun gajah-gajah tersebut telah jinak keberadaan pawang tetap diperlukan untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selesai menunggangi gajah, Antonio beserta kedua wisatawan itu kembali ke hotel. Mereka mengajak Antonio untuk makan siang bersama di restoran. Tentu saja dengan senang hati Antonio menyetujui ajakan itu. Perutnya sudah meminta untuk diisi sejak tadi. Hidangan khas Langkat Sumatera Utara telah tersedia di meja mereka. nasi hangat, cencaluk (udang kecil yang telah melalui proses fermentasi ditumis dengan bawang, cabai dan perasan jeruk), dan gulai ikan salai (ikan asap). Sambil menyantap hidangan yang lezat tersebut mereka berbicang. “That was really fun, thank you for being our tour guide,” ucap istri Luciano pada Antonio. “That is my duty to make both of you enjoyed the trip. By the way, you are from Italy, do you know about Calabria?” tanya Antonio. “Yes, we know. It is in south Italy. A very beautiful place, beach and the food are incredible.” Istri Luciano tampaknya begitu menyukai Calabria. “One day I want to go to Calabria,” kata Antonio penuh harap. "Well, we can meet there. My uncle lives in Calabria," ujar Luciano bersemangat.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN