“Om, ayo dong cerita kenapa kaki Om bisa pincang gitu?” Tanya Antonio penasaran.
Mereka telah tiba dari makam dan kini sedang duduk bercengkrama di rumah setelah makan malam.
Gunadi berpikir sejenak, ia tak mungkin bercerita secara detail tentang alasan kakinya pincang. Ia dan Mawar sejak dulu berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa Antonio adalah cucu seorang pimpinan mafia di Italia Selatan.
“Jadi dulu saat ibumu kembali ke Indonesia, ia dikejar oleh orang-orang jahat yang merupakan bagian dari mafia di Italia, …”
“Om mengada-ada deh, masa ibu dikejar mafia? Ini jangan-jangan karena Om kemarin nonton film detektif di TV.” Ujar Antonio tak percaya.
“Ck, kamu malah nggak percaya.”
“Lagian apa kesalahan almarhum ibu sampai dikejar mafia?”
“Mungkin ada kaitannya dengan ayahmu, Om juga kurang tahu. Namanya orang jahat, bagi mereka tak perlu alasan logis untuk memburu seseorang.”
“Ayahku?”
“Ayah kamu kan orang Itali,”
“Apa ayahku orang jahat?”
“Tidak, ayahmu orang baik. Hanya para mafia itu saja yang jahat.” Gunadi berusaha menyembunyikan banyak kenyataan dari keponakannya.
“Suatu saat aku ingin ke Italia, mencari ayahku. Aku ingin bertemu dengannya.”
“Om tidak akan menghalangimu jika kau ingin melakukannya. Sekarang masih mau mendengar cerita tentang kaki Om tidak?”
“Masih, Om. Ayo berceritalah, aku siap mendengarkan.”
“Berawal dari sampainya kami di Batam, di pelabuhan Sikupang.”
“Bukankah Om dulu bekerja di Singapura?” Tanya Antonio. Dia teringat Gunadi pernah sekali bercerita kalau dahulu ia bekerja di Singapura.
“Iya. Om memang dulu kerja di Singapura tetapi saat ibumu pulang dari Italia, Om kembali ke Indonesia bersama almarhum ibumu melalui Batam.”
“Oh begitu. Lanjut Om, ceritanya,” pinta Antonio.
“Sampai di pelabuhan Sikupang itu pagi hari. Kami bergegas mencari tempat yang aman tetapi karena belum sarapan dan ibumu sedang dalam masa menyusui jadi kami mencari tempat makan dulu. Kami masuk ke dalam sebuah rumah makan yang cukup sepi.”
“Saat itu aku di mana, Om?”
“Digendong oleh almarhumah ibumu,” jawab Gunadi dengan tatapan sedih.
“Aku ambil singkong rebus dulu ya, kayaknya sudah matang. Baru lanjutkan lagi ceritanya, Om.”
Antonio pergi ke dapur dan mengambil sepiring singkong rebus yang masih mengepul uapnya. Kemudian meletakkan singkong tersebut di meja. Gunadi mengambil satu potong singkong rebus, meniupnya sejenak lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Selesai mengunyah, Gunadi kembali bercerita. “Kami makan dengan tergesa saat itu, lalu saat Om membayar makanan di kasir kamu malah pup jdi ibumu harus membawa dirimu ke toilet. Ketika Om menunggu kasir mencari kembalian tiba-tiba koper kami diambil orang. Om berusaha mengejar, tetapi orang itu berlari cepat sekali hingga menghilang di ujung jalan. Akhirnya Om kembalike rumah makan itu, ibumu telah menunggu di depan pintu.”
“Sedih banget dong almarhm ibu saat itu, barang-barangnya hilang.”
“Iya. Mau bagaimana lagi, itu musibah. Lalu kami berjalan menuju terminal bis, di situlah datang dua lelaki yang berperawakan tinggi besar, mereka tiba-tiba mencengkerang lengan ibumu dan menariknya. Aku berusaha menghalangi tetapi salah satu dari mereka memukuliku. Tak hilang akal, ibumu berteriak keras sekali “Penculik!” Konsentrasi kedua orang itu terpecah, dan orang-orang yang ada di sekitar mulai menoleh. Lalu aku menarik ibumu dan berlari menjauh dari mereka. Kami terus berlari secepat mungkin."
Gunadi menjeda ceritanya sambil meminum segelas air. Sementara Antonio masih fokus ingin mendengarkan.
"Kami berhasil menaiki sebuah bus yang melintas, saat itu kami tak tahu ke mana tujuan bus itu yang penting adalah kami bisa terbebas dari dua orang yang mengejar. Ternyata Bus itu adalah bus Trans Batam yang menuju ke Jodoh. Turun di terminal Jodoh, kami segera menuju ke tempat menunggu bus Damri yang akan membawa kami ke bandara. Namun sebelum bus itu datang, dua pria itu sudah lebih dulu tiba. Kemudian Om terlibat pertengkaran dengan kedua orang tersebut. Tak disangka tiba-tiba salah satu dari mereka mengeluarkan s*****a api dan Dor, kaki Om ditembaknya."
"Bagaimana dengan Ibu?" tanya Antonio yang menjadi tegang karena cerita dari pamannya.
"Ibumu tidak apa-apa hanya panik lalu berteriak. Suara tembakan dan teriakan ibumu adalah kombinasi yang sangat baik untuk membuat orang-orang berdatangan hingga kedua orang itu dikerumuni massa dan pergi karena ancaman warga."
"Om sendiri bagaimana? Pasti saat itu luka parah."
"Peluru dari pistol itu bersarang di betis kanan, warga yang datang membawa Om ke rumah sakit terdekat."
Antonio mengangguk-angguk mendengar penjelasan pamannya.