Antonio menatap piagam penghargaan yang ia dapatkan dari sekolah. Ia menjadi siswa dengan nilai terbaik di sekolahnya.
“Ibu, lihat aku jadi siswa terbaik,” ucap Antonio sambil menyorongkan piagam penghargaan itu ke makam sang ibu tepat di depan batu nisan setelah sebelumnya berdoa dan membaca surat Al Fatihah. Seakan Mawar masih hidup, ia memberikan piagam itu pada sang ibu.
“Ibu senang kan, Bu?” Antonio mengusap nisan makam ibunya.
“Tadi ada perayaan kelulusan siswa, aku sekarang bukan siswa SD lagi, Bu. Tadi Om Gunadi datang ke acara di sekolah, terus aku dapat penghargaan ini. Seandainya Ibu bisa hadir pasti akan lebih menyenangkan.” Antonio menunduk, ada sedih yang merambat hingga ia menahan netranya meneteskan air mata.
Gunadi yang berdiri di samping Antonio yang sedang berjongkok di tepi makam ibunya, mengusap kepala Antonio penuh sayang. “Ibumu pasti bangga memiliki anak seperti dirimu.”
Antonio menoleh pada Gunadi lalu tersenyum tipis.
“Hari sudah sore, langit juga sudah mulai mendung. Sebaiknya kita segera pulang sebelum turun hujan,” saran Gunadi. Setelah acara di sekolah tadi Antonio dan Gunadi langsung menuju ke makam.
Antonio melihat langit, sejenak. Benar apa kata pamannya, awan hitam mulai terlihat di langit yang sebelumnya cerah.
“Ibu, aku pulang dulu. Besok ke sini lagi. Aku pamit, Bu.” Antonio kembali mengusap nisan sang ibu. Kemudian ia berdiri dan membersihkan celana sekolahnya yang terkena debu.
Antonio dan Gunadi keluar dari area pemakaman. Antonio tidak bisa berjalan cepat, ia mengimbangi jalannya sang paman yang pincang.
“Om, apa sejak lahir kaki Om seperti itu?” tanya Antonio. Seingat Antonio dia tidak pernah melihat pamannya tidak pincang, berarti sejak dia kecil pamannya sudah seperti itu.
“Tidak, waktu lahir Om sama seperti kamu. Tidak pincang seperti ini.”
“Lalu kenapa Om bisa pincang?”
“Semua bermula dua belas tahun lalu saat kamu masih bayi.”
Ingatan Gunadi menerawang ke saat sebelas tahun lalu ….
Ponsel Gunadi berdering, sebuah nomer yang tak ia kenal terpampang di layar. Awalnya Gunadi mengabaikan panggilan itu karena sedang merapikan apartemennya setelah selesai shalat Subuh tetapi ponselnya bordering terus berulang-ulang.
“Halo,” ucap Gunadi.
“Akhirnya panggilanku dijawab juga,” jawab seseorang yang menelpon Gunadi. Ia sangat mengenali suara itu. Itu adalah kakaknya, Mawar.
“Ada apa, Kak? Kakak ada di sini? Kok nomernya nomer Singapura?” Pertanyaan beruntun diajukan Gunadi karena merasa heran dengan keberadaan kakaknya. Selama ini yang ia tahu kakaknya tinggal di Calabria Italia Selatan.
“Jangan banyak tanya! Jemput aku di bandara sekarang juga!” perintah Mawar dengan nada panik.
Yang tidak Gunadi ketahui saat itu Mawar menelponnya sambil celingukan ke sana dan ke sini, khawatir anak buah Vincenzo Bertolini menemukannya. Dan tepat saat Gunadi menjawab panggilannya, Mawar melihat pria yang mencurigakan baginya.
Klik.
Panggilan diputus sepihak oleh Mawar dan hal itu membuat Gunadi khawatir. Kakaknya meminta dijemput lalu tiba-tiba memutus panggilan. Itu sangat mencurigakan, apakah kakaknya sedang dalam bahaya? Pikiran itu melintas di kepala Gunadi. Sudah sembilan bulan kakaknya tidak bisa dihubungi dan kini tiba-tiba Mawar menyuruhnya menjemput di bandara. Pasti ada sesuatu yang besar yang membuat kakaknya seperti itu.
Segera Gunadi mengambil dompet dan memakai jaket yang digantung di balik pintu. Lalu berjalan menuruni apartemennya dan menyetop taksi yang lewat.
Perjalanan ke bandara Changi tidak membutuhkan waktu lama, cukup tiga puluh menit saja. Gunadi segera turun dari taksi setibanya di bandara. Ia masuk ke dalam bandara Changi yang terkenal keindahan dan fasilitasnya.
Gunadi bingung ke mana harus mencari kakaknya di bandara yang luas itu sementara nomer ponsel kakaknya pun tidak bisa dihubungi. Gunadi bertanya ke bagian informasi mengenai pesawat yang datang dari Italia, sang resepsionis mengatakan memang ada pesawat yang datang dari Italia satu jam yang lalu.
Gunadi berjalan cepat menuju ke terminal kedatangan, ada banyak orang di sana yang antri menjemput para penumpang pesawat yang baru datang. Namun di tempat menunggu tidak satu pun ada wanita yang memiliki ciri-ciri seperti Mawar. Gunadi tidak kehilangan akal, Mawar tadi menelponnya menggunakan nomer Singapura, kemungkinan ia menelpon menggunakan telepon umum yang ada di bandara.
Gunadi berhenti di depan jejeran telepon umum yang disediakan pihak bandara. Di atas jejeran telepon umum itu tertulis “Free Local Calls”. Pastilah Mawar meneleponnya dari salah satu pesawat telepon tersebut. Tetapi sosok Mawar tidak ada di sekitar situ.
Gunadi mendesah pasrah. Kemana lagi ia harus mencari sang kakak. Gunadi mendaratkan bokongnya pada salah satu kursi yang ada di sana. Ia memijat pelipisnya sambil bersandar.
Seorang wanita yang menggendong bayi dan menutup kepalanya dengan scarf tiba-tiba duduk di kursi kosong yang ada di samping Gunadi. “Ayo kita pergi,” kata wanita itu sambil menunduk.
“Kakak?” Tanya Gunadi. Dari suaranya itu pasti adalah Mawar, batin Gunadi.
Wanita itu menatap Gunadi sambil mengangguk. “Ayo kita segera pergi!” ajaknya.
Gunadi melihat bayi yang ada di gendongan Mawar. “Apa itu keponakanku?”
“Ya, tak usah banyak bertanya lagi. Nanti aku ceritakan semua. Sekarang ayo kita pergi!”
Gunadi tak lagi bertanya, ia percaya bahwa kakaknya pasti punya alasan kenapa seperti itu. Ia segera berdiri dan menarik tangan kakaknya berjalan menuju ke bagian lobby bandara.
Sebuah taksi mereka naiki menuju ke apartemen Gunadi. Di dalam taksi barulah Mawar membuka scarfnya. Scarf yang entah milik siapa, Mawar mengambilnya di toilet bandara, rupanya salah satu pengunjung bandara tak sengaja meninggalkan scarf itu.
Sesekali Mawar menengok ke belakang, khawatir ada orang yang mengikuti mereka.
“Oek ….” Bayi laki-laki di gendongan Mawar menangis.
“Dia pasti pegal digendong seperti itu terus, Kak. Lepaskanlah gendongannya biar kupangku dia.”
Mawar melepas gendongan berbentuk sling di bahunya lalu memberikan bayi mungil itu pada Gunadi.
“Dia lucu sekali,” puji Gunadi. Gunadi menggendong bayi itu dengan kaku, maklumlah ia belum pernah memiliki bayi. Jangankan memiliki bayi menikah pun belum.
“Siapa namamu, Ganteng?” Tanya Gunadi sambil mengelus pipi bayi laki-laki itu.
“Antonio, namanya Antonio.” Mawar menjawab.
“Di mana Eduardo suami Kakak?”
“Nanti aku ceritakan semua setelah sampai di apartemenmu.”
Sampai di apartemen Mawar menceritakan semua yang ia alami di Italia, bagaimana bapak mertuanya yang merupakan seorang mafia menculiknya dari apartemen putranya sendiri dan menyembunyikan dirinya di mansion dan bagaimana akhirnya Mawar bisa sampai ke Singapura.
“Kisahmu benar-benar mengerikan, Kak.”
“Aku awalnya tidak tahu jika Eduardo anak seorang pemimpin mafia. Seandainya aku tahu, walaupun aku sangat mencintainya pasti aku tidak akan menikah dengannya.”
“Lalu bagaimana dengan Alicia, putrimu?”
“Entah kapan, aku pasti akan ke sana dan membawa putriku.”
“Suamimu?”
“Aku tidak tahu ia berada di mana. Vincenzo menutup akses komunikasiku, ponselku diambilnya dan ia mengurungku dengan penjagaan yang ketat.”
“Apa Kakak tidak ingin menghubunginya?”
“Kalau aku menghubungi Eduardo, Vincenzo pasti akan tahu di mana aku berada. Anak buahnya ada di mana-mana, terutama di sekitar Eduardo. Ia menginginkan bayi ini sebagai penerusnya.”
“Apa tadi mereka mengikuti kita?”
“Bisa jadi, tadi di bandara aku mencurigai ada orang-orang yang mengikutiku. Karena itu besok antar aku ke Harbourfront Singapore, aku ingin pulang ke Indonesia dan mencari tempat yang aman untuk membesarkan putraku. Kebetulan aku punya seorang teman di Medan yang bisa membantu.”
“Kenapa kita tidak pulang saja ke Semarang? Walaupun Bapak dan Ibu sudah tidak ada, di sana masih ada kerabat kita, Kak.”
“Mereka pasti akan mencariku ke sana. Dan aku tidak ingin membahayakan kerabat kita di sana. Orang-orang Vincenzo itu bisa sangat kejam.”
Mendengar cerita kakaknya yang begitu mengerikan, Gunadi merasa khawatir akan kehilangan kakaknya jika Mawar bepergian sendirian. Mereka adalah adik kakak yang tak lagi memiliki orang tua. “Aku akan menemani ke mana pun Kakak ingin pergi.” Putus Gunadi.
“Pekerjaanmu?”
“Biar saja, keluarga adalah yang utama. Aku tidak akan meninggalkan Kakak sendirian.”
Pagi-pagi sekali, Gunadi telah menyiapkan keperluan yang akan dibawanya. Kalau kemarin Mawar hanya membawa tas kecil kini mereka membawa koper dan ransel. Kemarin sore Gunadi menyempatkan diri berbelanja baju untuk keponakannya dan Mawar.
“Kak, semalam aku sudah pesan tiket untuk naik kapal ferry ke Batam. Untuk jam 7 pagi. Sudah siap kan? Ayo kita berangkat!”
Mereka harus sampai satu jam sebelum keberangkatan ferry. Butuh tiga puluh menit untuk pemeriksaan surat-surat dan dua puluh menit sebelum ferry berangkat check in sudah ditutup.
Mawar merapikan gendongannya, untunglah Antonio bukanlah bayi yang rewel sehingga sangat memudahkan bagi Mawar untuk membawanya ke mana pun.
Harbourfront di pagi hari cukup ramai, penumpang dari dan ke Singapura cukup banyak. Banyak warga Batam yang bekerja di Singapura pulang-pergi menggunakan kapal ferry belum lagi yang datang untuk berwisata.
Setelah pemeriksaan surat-surat selesai, Gunadi dan Mawar melakukan Check in. Saat melakukan check in itulah mereka melihat dua pria bule berbadan kekar menatap dari kejauhan ke arah mereka dengan tatapan tajam.
“Apa orang-orang itu yang mengikuti Kakak?” tanya Gunadi.
“Iya. Bagaimana ini?” Mawar merasa takut.
“Tetap tenang, Kak. Sebentar lagi check in ditutup, melihat antrian di belakang kita sepertinya mereka tak akan bisa menyusul.”
Benar saja apa yang dikatakan Gunadi, check in segera ditutup dan mereka harus menaiki kapal ferry di jam berikutnya. Mawar merasa lega, untuk sementara mereka aman dari kejaran anak buah Vincenzo.
Empat puluh menit berlalu, mereka sampai di pelabuhan Sekupang, Batam. Gunadi dan Mawar keluar dari pelabuhan dengan tergesa, khawatir anak buah Vincenzo mengejar mereka.
"Om, aku nanya kok Om malah melamun?" tegur Antonio yang melamun sambil berjalan menuju ke rumah mereka.
"Om ingat ibumu," jawab Gunadi.
"Om belum jawab pertanyaan aku, kenapa Om jadi pincang?" Antonio kembali bertanya.
"Ah, ya. Nanti di rumah Om akan ceritakan semua kejadian yang membuat Om sampai pincang begini."