Eduardo duduk di kursi kerjanya. Di hadapannya Frans sedang berbicara. “Signore, kemarin diam-diam Maria datang memberi makanan pada Lee,”
Kening Eduardo mengernyit, “Maria?”
“Ya,”
“Untuk apa dia melakukan itu?”
Fazio, kepala keamanan di rumah keluarga Bertolini angkat bicara. “Sepertinya itu atas permintaan putri Anda, Signore.”
“Maksudmu?”
“Rekaman CCTV ini menjadi bukti,” ungkap Fazio kemudian dia memasukkan sebuah flashdisk ke layar TV yang ada di ruangan Eduardo.
Di layar itu menayangkan kejadian di dekat tangga saat Alicia meminta Maria memberi makanan pada Lee, suara mereka pun terdengar cukup jelas. Eduardo memperhatikan isi video itu lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Eduardo mengambil napas dalam-dalam, putrinya melakukan hal itu pasti karena tak tega pada pria yang sudah ia pukuli. Eduardo tak mungkin menghukum Alicia, ia terlalu sayang pada putri satu-satunya itu.
“Kalian boleh pergi,” titah Eduardo pada dua orang kepercayaannya.
Melihat rekaman video itu Eduardo kembali teringat pada Mawar, Alicia benar-benar seperti Mawar memiliki hati yang lembut. Kenangan tentang Mawar berputar di kepala Eduardo.
Bugh! Bugh!
Pukulan demi pukulan diterima oleh Eduardo, pelipisnya robek dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Di sebuah g**g yang ada di antara dua bangunan Eduardo dipukuli oleh musuh Vincenzo Bertolini.
Bugh!
Sekali lagi satu pukulan telak bersarang di perut Eduardo, ia jatuh tersungkur. Tiga pemuda berbadan besar dan bertopeng memukuli Eduardo tanpa ia tahu apa kesalahannya.
Eduardo mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Eduardo berniat bangkit tetapi salah satu dari ketiga pria itu kemudian menendang dan menginjak perut Eduardo.
“Bertolini s****n!” sentak pria berjaket hitam sambil kembali menendang Eduardo.
“Habisi dia!” perintah salah satu pria yang berbadan paling besar.
Pria berjaket hitam mengambil sebuah benda dari balik jaketnya. Sebuah revolver kaliber 44 ada di tangannya. Ia menodongkan revolver itu pada Eduardo yang terbelalak kaget.
“Arrivederci, Bertolini.”
Tepat saat pemuda berjaket hitam hendak menekan pelatuk pada revolvernya suara teriakan seorang wanita nyaring terdengar. “Hei!”
Prang!
Sebuah benda tepatnya botol minuman dilempar ke arah para pemukul Eduardo. Kemudian suara sirine polisi mengaung di g**g sempit tersebut.
Ketiga pria itu terlihat ketakutan. “Polisi, kita harus segera pergi!” seru pria yang berbadan paling besar.
Pria berjaket hitam urung menembakkan revolvernya. Ia memasukkan kembali revolvernya lalu berlari pergi bersama teman-temannya.
Seorang gadis Asia berambut hitam dengan kulit sawo matang keluar dari persembunyiannya di belakang bak sampah besar lalu berjalan cepat mendekati Eduardo sambil sesekali menoleh ke belakang. Uap napasnya terlihat jelas di malam yang dingin, tangannya ia masukkan ke dalam coat berwarna cream yang ia pakai.
Suara sirine polisi terdengar makin dekat di telinga Eduardo.
“Apa kau baik baik saja?” Tanya wanita itu sambil memegang lengan Eduardo.
“Polisi?” Tanya Eduardo.
“Bukan. Oh, maaf aku lupa mematikannya.”
Perempuan itu mengambil sebuah ponsel dari sakunya lalu mematikan suara sirine yang menyala.
“Untunglah aku punya rekaman suara sirine polisi ini.” Perempuan itu tersenyum dan terlihat sangat manis di mata Eduardo.
“Grazie, Signorina ...” Ucap Eduardo sambil berusaha berdiri dibantu perempuan itu.
“Mawar, namaku Mawar.”
Nama itu terdengar sangat asing di telinga Eduardo, bukan nama Italia bukan juga nama dalam Bahasa Inggris. Eduardo kembali meringis saat tubuhnya berdiri tegak.
“Aku Eduardo, Eduardo Bertolini.” Eduardo memperkenalkan dirinya.
Mawar sedikit mengernyitkan dahi lalu menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Biar kubantu mengobati dirimu, kita ke apartemenku saja. Aku punya obat-obatan yang dapat mengurangi sakitmu.”
Eduardo mengangguk lemah, mengiyakan tawaran Mawar. Sakit di tubuhnya benar-benar membuatnya tak mampu berjalan sendirian. Mawar memapahnya menuju apartemen miliknya yang tak jauh dari lokasi kejadian.
Keringat menetes di kening Mawar saat mereka tiba tepat di depan pintu apartemen. Kelihatan sekali Mawar kelelahan memapah Eduardo yang tubuhnya lebih besar dari dirinya.
Eduardo asyik menatap wajah manis Mawar yang sedang membuka pintu apartemennya sambil bersandar di dinding di samping pintu.
Pintu terbuka, lalu Mawar menggamit lengan Eduardo. “Ayo masuk,” ajaknya dengan suara lembut.
Eduardo bersumpah setelah ia sembuh ia akan mengajak Mawar berkencan, gadis yang sedang memapahnya ini sudah mencuri hatinya.
Mawar mendudukkan Eduardo di sofa hijau lumut yang usianya sudah cukup tua.
“Sebentar aku ambil obat dulu di kamar,” kata Mawar. Ia segera berjalan ke arah kiri Eduardo dan membuka pintu yang ada di sana.
Eduardo memindai apartemen Mawar, tak banyak barang di sana hanya ada sofa yang ia duduki dan sebuah televisi tua. Di sebelah kanannya ada dapur sederhana dengan kulkas berwarna putih yang penuh dengan tempelan foto.
“Ini obatnya.” Mawar datang membawa satu kotak berisi obat-obatan. Ia duduk di samping Eduardo yang menatapnya tak berkedip.
“Sini, aku obati.” Mawar menyentuh rahang Eduardo. Lalu membersihkan luka di wajah Eduardo menggunakan kapas dengan lembut. Setelah itu ia mengoleskannya dengan cairan antiseptik.
“Aww, perih,” keluh Eduardo.
“Kalau tidak mau perih jangan terlibat pertengkaran.” Ucap Mawar sambil mengobati sudut bibir Eduardo.
“Mereka tiba-tiba mendorongku masuk g**g saat aku sedang berjalan, lalu memukuliku dengan membabi buta.” Eduardo bercerita sambil sesekali meringis.
“Mereka pasti anggota mafia dan pasti ada sesuatu hingga mereka seperti itu.”
“Aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” kata Eduardo. Mereka memukuliku karena aku anak Vincenzo Bertolini, lanjut Eduardo dalam hati.
“Mungkin mereka salah mengira,”
“Ya, mungkin.”
“Sekarang buka bajumu,” pinta Mawar.
“Dengan senang hati aku akan melakukannya, Signorina.” Eduardo segera berdiri dan membuka jaketnya sambil tersenyum m***m.
“Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya ingin mengobatimu,” tukas Mawar.
“Padahal aku sudah berharap lebih,”
“Kau bukan tipeku,” tegas Mawar.
“Aku patah hati.” Eduardo memasang wajah sedih. Eduardo merasa Mawar berbeda dari gadis-gadis yang biasa ia temui. Dengan wajah tampan, harta yang banyak serta kekuasaan sang ayah yang cukup besar di wilayah Calabria membuat Eduardo digilai banyak wanita. Mereka berlomba-lomba mendekat padanya. Namun Mawar tidak sedikit pun memperlihatkan rasa tertarik pada Eduardo.
“Berbaringlah,” kata Mawar setelah Eduardo shirtless.
Mawar melihat tubuh Eduardo yang terpahat sempurna. Tubuh sixpack dan kekar ada di hadapannya saat ini. Tampilan Eduardo seperti model dan artis yang sering dilihat Mawar di televisi.
“Tergoda, signorina?” Eduardo sedikit usil.
“Tubuhmu memar. Aku akan mengolesi minyak tawon ini, untuk meredakan sakitmu.”
“Minyak tawon?”
“Iya, ini minyak asli dari Indonesia.”
Mawar membuka tutup botol minyak tawonnya, harum rempah-rempah menguar dari sana. Sedikit ia teteskan pada tangan lalu membalurkannya pada perut Eduardo secara merata. Eduardo merasa hangat di perutnya, rasa nyaman kemudian mengalir menggantikan rasa sakit yang sebelumnya ia derita.
Selama Mawar mengolesi perutnya, Eduardo ingin sekali mengelus rambut hitam mawar yang panjangnnya sebahu tetapi ia menahannya. Gadis seperti Mawar adalah gadis istimewa tak pantas diperlakukan seperti gadis-gadis yang selama ini dikencaninya.
“Apa kau sudah punya pacar? Atau sedang berkencan dengan seseorang?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Eduardo saat Mawar menutup botol minyak tawonnya.
“Apa urusannya denganmu bertanya seperti itu?”
“Aku ingin mengajakmu berkencan, kalau kau sudah ada pacar atau sedang berkencan dengan seseorang maka aku akan menemuinya. Aku akan bilang kalau aku akan merebutmu,” terang Eduardo sambil memakai kausnya kembali.
“Kau aneh,” tuduh Mawar sambil meletakkan botol minyak tawon le dalam kotak obat miliknya.
“Aku pria normal, aku tertarik padamu. Tidak aneh, kan.”
“Kau baru saja dipukuli dan langsung mengajakku berkencan. Kita tidak saling kenal, Itu aneh.”
“Aku sudah memutuskan, punya pacar atau tidak aku tetap akan mengajakmu berkencan,” putus Eduardo.
Keputusan sepihak Eduardo membuat Mawar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Selain aneh kau juga keras kepala. Belum tentu aku mau berkencan denganmu.”
Eduardo tersenyum. “Kau pasti akan mau, cepat atau lambat kau pasti akan jatuh hati padaku.”
“Sudahlah, tak perlu diteruskan pembicaraan ini. Aku lapar dan kau juga pasti lapar, jadi aku mau memasak.” Mawar berdiri dan meninggalkan Eduardo yang tersenyum senang.
Sambil berbaring, Eduardo memperhatikan Mawar yang sedang memasak. Mawar gadis yang cerdas dan penyayang juga memiliki hati yang lembut, Eduardo bisa merasakan itu. Diam-diam Eduardo mengambil gawai yang ada dalam jaketnya lalu memfoto Mawar yang sedang memasak.
Rasa nyeri yang sudah banyak berkurang membuat Eduardo mampu berdiri tegak, ia berjalan menuju Mawar yang sedang mengaduk masakan dengan spatula.
“Spaghetti Carbonara,” celetuk Eduardo melihat bahan-bahan yang sedang diolah Mawar. “Tapi ini bukan Guanciale? Ini daging sapi yang sudah digiling.” Lanjutnya sambil menunjuk daging giling yang sebentar lagi akan dimasukkan Mawar ke dalam wajan.
“Aku muslim dan aku tidak makan apapun yang terbuat dari babi.”
Eduardo mengangguk lalu meninggalkan Mawar yang asyik mengolah Spaghetti carbonara. Eduardo beralih pada kulkas yang berada di dekat Mawar. Ia memperhatikan foto-foto yang ada di sana.
“Di mana ini? Indah sekali.” Eduardo bertanya sambil menunjuk salah satu foto.
“Itu gunung Bromo, di Indonesia.”
“Lalu lelaki yang ada di sampingmu apa dia adalah pacarmu?” Tanya Eduardo lagi.
“Itu Gunadi, adikku.”
“Ah, sebentar lagi dia akan jadi adik iparku.”
“Apa-apaan kau ini! Tadi bilang akan mengencaniku sekarang bilang adikku akan jadi adik iparmu.” Omel Mawar.
“Aku sudah memutuskan, kau akan jadi istriku. Kau cantik, manis, berhati lembut, cerdas dan pandai memasak. Sangat sempurna untuk menjadi istri.”
“Kau gila!”
“Aku gila karenamu, Cara.”
Eduardo merasa senang bisa menggoda Mawar, gadis yang baru dikenalnya itu membawa kehangatan tersendiri di hatinya. Mawar seakan membuka pintu hatinya yang selama ini terkunci.
“Papa, ayo kita makan malam!” Ajakan Alicia membuyarkan lamunan Eduardo.
“Ah, sudah waktunya makan malam?”
“Iya, sejak tadi Maria mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam. Maria bilang padaku, jadi aku langsung datang ke sini ternyata Papa sedang melamun.”
Eduardo berdiri dan memegang kedua tangan Alicia. “Papa sedang teringat ibumu, kau mirip sekali dengannya.”
Alicia menatap sendu sang ayah, ia tahu betapa besar cinta sang ayah pada ibunya. Dan Alicia tahu tentang Mawar dari Eduardo yang sering menceritakan tentang sosok Mawar padanya.
Alicia merasakan kesedihan ayahnya yang sudah lama berpisah dari ibunya. Eduardo sudah berusaha mencari Mawar tetapi wanita yang ia cintai itu seakan hilang ditelan bumi selama bertahun-tahun.
“Papa pasti sangat rindu dengan mama, aku juga. Suatu saat kita pasti bertemu mama. Sekarang kita makan malam dulu,” Alicia berkata lembut.
“Baiklah.” Eduardo mengiyakan ajakan putrinya.
***
Arrivederci = Selamat tinggal
Cara = sayang