Antonio memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, ia baru saja menyelesaikan PR Matematika dari gurunya Bu Dian. Kening Antonio mengernyit, ia teringat akan sesuatu. Lalu ia pergi menemui Gunadi sang paman.
“Om, Bu Guru meminta semua murid mengumpulkan foto copy Akta Kelahiran. Apa punyaku ada?” Pertanyaan Antonio membuat Gunadi menghentikan aktivitasnya sejenak membuat souvenir dari batok kelapa.
“Ada,” jawab Gunadi. Lalu ia berusaha berdiri dari kursi rottan tua yang ia duduki. Bunyi gesekan antara tongkat dan lantai mengiringi langkah Gunadi menuju kamarnya.
Antonio menanti pamannya sambil melihat-lihat souvenir yang dibuat Gunadi. Pamannya memang pincang tetapi souvenir buatannya memiliki ketelitian yang sangat baik, detail pada ukiran berbentuk binatang di batok kelapa itu begitu indah.
“Ini,” ucap Gunadi sambil menyodorkan sebuah map coklat pada Antonio. “Kebetulan masih ada foto copy nya, dulu ibumu membuat copiannya lumayan banyak.”
“Terima kasih, Om.” Antonio menerima map coklat itu lalu membukanya.
Antonio begitu serius membaca selembar kertas putih yang ada di tangannya. Anto itulah nama yang ia baca di Akta kelahirannya, lahir 14 Agustus 2002. Mawar Khairunnisa, nama ibunya tertera di Akta Kelahiran itu tetapi tidak ada nama sang ayah. Antonio berulang-ulang membaca tiap kata di Akta Kelahirannya tetapi tak jua ia menemukan nama sang ayah.
“Om, siapa nama ayahku?” Tanya Antonio, sebuah pertanyaan yang pernah ia ajukan pada sang ibu tetapi Mawar tak pernah menjawab. Ibunya selalu berkata, “Pada saatnya kamu akan tahu.”
“Eduardo, nama ayahmu Eduardo.” Jawab Gunadi dengan sangat yakin. Jawaban Gunadi membuat Antonio mengernyitkan dahinya.
“Seperti nama bule, nama turis itu loh yang suka datang ke penangkaran gajah.”
“Memang bule,”
“Ayahku bule?”
“Iya, dari Itali. Apa kamu tidak sadar kalau fisikmu itu seperti orang bule?”
Antonio melihat pantulan dirinya di cermin tua yang menggantung di dinding. Rambutnya coklat, kulitnya putih tetapi menjadi kecoklatan karena terbakar matahari, dan bola matanya berwarna coklat.
Ya, ternyata aku mirip bule. Batin Antonio menyimpulkan. Selama ini dia berpikir warna coklat pada rambutnya karena sering terkena matahari tetapi bola matanya yang coklat adalah bukti kuat kalau ia memiliki keturunan asing. Mawar sang ibu memiliki bola mata berwarna hitam begitu juga sang paman berarti ia menuruni warna bola mata sang ayah.
“Eduardo,” gumam Antonio.
“Ya, itu nama ayahmu.”
“Almarhum ibu memanggilku Antonio begitu juga Om, tetapi namaku di Akta Kelahiran Anto, ibu guru dan teman-teman juga memanggilku Anto.”
“Nama aslimu Antonio, Anto itu hanya untuk di Akta Kelahiran dan panggilan untuk orang lain. Itu nama yang diberikan oleh ayahmu. Setidaknya itulah yang diceritakan oleh ibumu padaku dulu.”
“Lalu kenapa jadi Anto? Apa Antonio disingkat jadi Anto?” Pertanyaan beruntun dilontarkan Antonio. Selama ini ia mengira panggilan Anto untuk dirinya adalah spanggilan singkat dari Antonio.
“Itu untuk kebaikanmu. Orang-orang tak perlu tahu namamu yang sebenarnya.” Gunadi berkata datar.
“Kenapa?”
Gunadi menepuk bahu Antonio. “Pada saatnya nanti kamu akan tahu,”
“Almarhumah ibu dulu sering berkata seperti itu jika ada hal yang tak ingin dijelaskan.”
“Yakin saja itu untuk kebaikanmu. Ada saatnya nanti Om akan menceritakan semua.”
“Kapankah waktunya tiba?”
“Ketika usiamu tujuh belas tahun.”
Antonio merasa ingin berusia tujuh belas tahun saat itu juga agar segala pertanyaan di benaknya dapat terjawab.
***
Antonio tiba di sekolahnya tepat saat bel masuk berbunyi, ia segera menuju ke ruang kelas. Semua siswa duduk dengan rapi di kursinya masing-masing. Sebagian masih berbincang tetapi sebagian lain duduk diam tak berbicara.
Tok tok tok ….
Suara hak sepatu Bu Dian terdengar. Sosok guru berperawakan tinggi besar itu kini telah berdiri di pintu kelas.
“Selamat pagi,”
“Pagi Bu,” jawab seluruh siswa kompak.
Bu Dian yang berseragam khas PNS berwarna khaki duduk di kursi khusus guru di depan kelas. Bu Dian adalah wali kelas enam Antonio.
Setelah berdoa bersama, Bu Dian membuka pembicaraan. “Kumpulkan foto copy Akta Kelahiran yang ibu minta kemarin!” perintahnya kepada semua siswa termasuk Antonio.
Satu persatu siswa maju ke depan mengumpulkan Akta kelahiran. Giliran Antonio menyerahkan map coklat yang ia bawa dari rumah. “Ini Akta Kelahiran saya, Bu.”
Bu Dian membuka map coklat itu lalu membacanya di dalam hati. Ekspresi Bu Dian berubah saat membaca kata-kata yang tertera di Akta Kelahiran Antonio.
“Nama ayah kamu siapa, Anto?” Tanya Bu Dian penuh selidik.
“Eduardo,” jawab Antonio.
“Masih hidup?”
Antonio terdiam mendengar pertanyaan gurunya. Mawar sang ibu tidak pernah mengatakan kalau ayahnya sudah wafat juga tak pernah mengatakan di mana keberadaan sang ayah jika ia masih hidup.
“Kok diem?”
“Saya nggak tahu, Bu. Almarhum ibu saya nggak pernah cerita. Tapi nanti saya tanya Om saya.”
Bu Dian mengangguk. Lalu Antonio kembali ke kursinya.
Pertanyaan tentang siapa dan bagaimana sang ayah berputar di kepala Antonio. Selama ini almarhum ibunya tak banyak bercerita tentang sang ayah hanya beberpa kali menyinggung tentang betapa miripnya Antonio dengan sang ayah. Antonio pun tak banyak bertanya tentang ayahnya, mungkin karena peran sosok ayah telah tergantikan oleh Gunadi. Antonio benar-benar tak dapat berkonsentrasi mendengarkan Bu Dian mengajar.
Bel tanda istirahat berbunyi, daripada jajan ke kantin Antonio lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Membaca berbagai koleksi perpustakaan sekolahnya mulai dari cerita anak sampai ke buku ensiklopedia.
Kekhusuan Antonio saat membaca terusik dengan omongan dua orang yang tak jauh dari tempatnya duduk. Yang satu adalah petugas perpustakaan dan satu lagi pegawai tata usaha sekolah. Mereka memang kerap kali bersama.
“Si Anto anak haram ya?” tanya petugas Tata Usaha sekolah.
“Jangan sembarangan bicara,”
“Aktanya nggak ada nama bapaknya, berarti bukan dari pernikahan yang sah.”
“Masa?”
“Iya, barusan aku lihat aktanya, beda dari anak-anak yang lain. Akta model gitu biasanya untuk anak yang lahir tanpa pernikahan orang tuanya, di luar nikah. Alias anak haram.”
Antonio tak ingin mendengar percakapan mereka lagi, ia kemudian berdiri dan menghampiri sang petugas perpustakaan lalu menaruh buku yang barusan dibacanya di hadapan mereka. Kedua perempuan itu terdiam.
“Perpustakaan itu tempat membaca bukan tempat untuk bergosip.” Kalimat singkat dan cukup mengena dilontarkan Antonio yang segera berlalu pergi.
***
“Om, apa aku anak haram?” Pertanyaan itu diucapkan Antonio begitu masuk ke dalam rumah. Gunadi terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari keponakannya. Ia menaruh centong yang barusan ia gunakan untuk memasak nasi.
“Kamu bukan anak haram, siapa yang bilang gitu?” Ada nada kesal di pertanyaan Gunadi.
“Di akta kelahiranku nggak ada nama ayah berarti tidak ada pernikahan yang sah. Itu kata petugas tata usaha di sekolah.”
“Petugas tata usaha di sekolahmu itu sok tahu. Tidak ada nama ayah di akta kelahiran kamu bukan berarti kamu anak haram. Ayah dan ibumu menikah secara sah tapi tidak didaftarkan di sini. Mereka menikah di Italia tepatnya di kota Calibria.”
“Calibria?”
“Ya, sebuah kota di wilayah Selatan Italia. Om hadir waktu itu, sayangnya foto-foto pernikahan ayah dan ibumu sudah musnah, tak ada yang tersisa.” Gunadi bercerita.
“Apa ayahku ada di sana? Di Calibria?”
“Iya,”
“Aku akan ke sana, Om. Aku akan mencari ayahku.”
“Tidak, jangan pergi ke sana! Om tidak ingin kamu mengalami apa yang Om alami. Demi keselamatanmu jangan pernah mencari siapa ayahmu!” Gunadi melarang dengan tegas.
“Memangnya kenapa? Apa yang Om alami?”
“Hal yang buruk, sangat buruk. Sekarang lebih baik kamu berganti baju lalu makan.” Gunadi mengalihkan pembicaraan. Baginya Antonio masih terlalu kecil untuk mengetahui kenyataan pahit tentang masa lalu almarhum adiknya.
“Om dan Ibu selalu saja seperti itu. Tidak mau membahas masa lalu.” keluh Antonio. Ia merasa ada banyak hal yang ditutupi oleh ibu dan omnya. Tetapi Antonio tak akan berputus asa, ia akan mencari tahu tentang dirinya dan juga tentang Snow in Summer yang dikatakan sang ibu di detik terakhir hidupnya