Eduardo dan Alicia Kecil

1331 Kata
Sebuah Bentley hitam berhenti di pekarangan mansion setelah melalui gerbang berupa pagar besi berukir setinggi tiga meter. Seorang pria berjas hitam berlari membawa payung hitam lalu berdiri tepat di samping pintu mobil. Payung direntangkann untuk menghalangi air hujan menetes lalu ia membuka pintu mobil. “Silakan, Nona.” Pria itu berkata sambil sedikit membungkuk. Sepasang kaki berbalut stoking putih dan memakai sepatu pantofel berkilau turun dari mobil. Gadis berusia 10 tahun yang turun dari mobil itu berdiri tegak di bawah payung, sejenak ia merapikan rok lipitnya yang sedikit kusut. “Maria, ayo kita masuk!” ajak gadis cantik itu pada wanita baya yang ikut turun dari mobil.  Maria membuka payung yang diberikan oleh pria berseragam yang menghampiri mereka lalu bersama dengan sang nona muda berjalan ke arah pintu mansion. Pria pembawa payung  terus memayungi sang Nona Muda yang bernama Alicia  tanpa peduli dirinya sendiri terkena guyuran air hujan. Pria berbadan tegap dengan mata dan rambut coklat menyambut Alicia, saat gadis kecil itu masuk ke dalam rumah. Mereka berdua memiliki banyak kemiripan. “Signorina, jaket Anda.” Maria mengingatkan Alicia untuk melepas jaketnya. Alicia melepas jaketnya lalu memberikan pada Maria lalu berkata, “Grazie, Maria.” “Prego, Signorina.” Balas Maria atas ucapan terima kasih yang diucapkan oleh Alicia. Alicia mendekati ayahnya yang sejak tadi menatapnya sambil tersenyum. “Papa,” panggil Alicia pada ayahnya yang tersenyum. “Putriku, Alicia.” Eduardo Bertolini menyambut putrinya dengan pelukan hangat. “Signore, Signorina, saya permisi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.” Maria berpamitan. Wanita yang mengasuh Alicia sejak bayi itu bergegas menuju ke dapur setelah mendapat anggukan dari majikannya. Alicia dan Eduardo duduk di sofa panjang berbahan kulit yang ada di ruangan itu. Alicia memangku tas tangan berwarna putih dengan merek Hermes. “Bagaimana acaramu hari ini?” Tanya  Eduardo Bertolini sambil mengelus rambut halus kecoklatan berbandana milik putrinya. “Seru, Papa. Banyak anak-anak panti datang ke gereja lalu kami bermain dan makan bersama. Sayang sekali Papa tidak ikut bersamaku tadi.” Alicia tampak mengerucutkan bibirnya. Meskipun Eduardo memiliki banyak bisnis kotor sebagai mafia tetapi ia mendidik putrinya dengan nilai-nilai agama yang ia anut. Eduardo bukanlah orang baik bahkan tangannya berlumur darah, ia tahu itu karena itu ia ingin putrinya tidak menjadi seperti dirinya. Putrinya haruslah tetap menjadi orang baik sebagaimana istrinya dulu, Mawar. “Papa sibuk.” Hanya itu alasan yang Eduardo bisa berikan tiap kali Alicia mengajaknya ke gereja. “Papa selalu sibuk. Hanya Maria yang setia menemaniku,” keluh Alicia. Tak tega melihat putrinya mengeluh Eduardo mengucapkan janji, “Papa janji akan ikut saat luang nanti. Sekarang beristirahatlah di kamarmu.” Alicia menuruti permintaan papanya untuk beristirahat di kamar. Ia segera berdiri lalu berjalan menuju ke tangga melingkar lalu menaikinya. Baru dua anak tangga ia naiki, Frans salah satu anak buah sang papa datang lalu Eduardo pergi bersama Frans. Alicia memasuki kamarnya yang berukuran 6x6 meter. Setelah melepas sepatu pantofelnya, Alicia merebahkan tubuh di ranjang berukir dengan kasur empuk yang ia miliki. Alicia mendengar suara ribut-ribut di luar lalu segera bangun dan menuju ke jendela, ia yakin  suara itu berasal dari bawah jendelanya. Tirai jendela ia sibak agar dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi, di sana tepat di bawah jendela kamarnya sang papa sedang memukuli seseorang yang berwajah Asia. Alicia tak tahu siapa pria yang dipukuli ayahnya. Tak tega melihat pria itu, Alicia membuka jendela kamarnya. Bugh! Tinju sang ayah bersarang di perut pria Asia itu diiringi erangan kesakitan. “Papa, hentikan!” teriak Alicia tepat saat sang papa akan melayangkan tinjunya lagi. Eduardo melihat ke arah Alicia lalu melepas kerah pria yang ia pukuli sebelumnya. “Bawa dia!” perintah Eduardo pada Frans yang langsung patuh membawa pria itu pergi. Alicia membenci pemandangan itu, tak hanya sekali ia melihat ayahnya melakukan k*******n. Sebelumnya ia hanya diam namun kali ini ia memberanikan diri untuk berteriak menghentikan tindakan k*******n sang ayah. Suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke kamar Alicia. Klek. Pintu terbuka, terlihat Eduardo yang sedang mengatur napasnya sambil menatap Alicia. “Kenapa Papa memukul pria itu?” Tanya Alicia begitu melihat wajah ayahnya. Eduardo melangkah mendekati putrinya. Ia melihat api amarah di mata putri kesayangannya. “Dia telah melakukan kesalahan, jadi harus dihukum.” “Bisakah Papa tidak melakukan k*******n saat menghukum pegawai Papa? Kemarin aku juga melihat Papa memukul salah satu pegawai.” “Mereka tidak becus dalam bekerja jadi layak untuk dihukum.” “Haruskah dengan k*******n? Papa bisa melakukan cara lain, dengan memotong gajinya misalnya.” Eduardo menatap lekat putrinya, Alicia begitu mirip dengan Mawar istrinya yang tak suka akan k*******n. Tatapan Eduardo menjadi sendu begitu mengingat istrinya Mawar yang sampai saat ini tidak ketahuan di mana rimbanya. Eduardo mengambil napas dalam-dalam. “Mereka hanya mengerti bahasa k*******n, kelak kau akan mengerti saat dewasa nanti.” “Signore, Signorina, maaf mengganggu. Makan siang telah siap,” ucap Maria yang berdiri di pintu kamar. “Baik, Maria. Terima kasih telah memberitahu,” kata Eduardo tegas. Maria membungkuk lalu pergi. Eduardo kembali menatap putriny. “Makan siang sudah siap, ayo kita ke ruang makan,” ajak Eduardo Bertolini pada Alicia yang terdiam. “Alicia,” “Papa saja duluan, aku mau mengganti baju dulu. Nanti aku menyusul.” Eduardo mengangguk. “Baiklah Papa menunggumu di ruang makan.” Alicia menatap ayahnya yang pergi keluar dari kamar lalu menutup pintu. Ia masih tidak memahami ayahnya yang begitu baik padanya bisa sangat kejam pada orang lain. Kriuk…. Perut Alicia berbunyi, ia lapar. Ia ingat pagi tadi ia tidak banyak sarapan hanya meminum segelas s**u dan sepotong sandwich karena harus berangkat pagi-pagi sekali ke gereja. Cacing-cacing di perutnya sudah meronta minta diisi, Alicia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai lalu keluar dari kamar. Turun dari tangga Alicia berpapasan dengan Maria yang menunduk saat melihatnya. “Maria, bisakah kau memberi makanan pada pria yang tadi dipukuli ayahku?” tanya Alicia tiba-tiba. Terlintas di pikiran Alicia bahwa pria tadi pasti sangat lapar. "Pria mana?" tanya Maria pura-pura tidak tahu. "Pria Asia yang dibawa oleh Frans lalu dipukuli oleh ayahku. Pasti kau tahu, aku yakin itu."  Maria mengambil napas dalam-dalam. “Signorina, sebaiknya Anda tidak mencampuri urusan ayah Anda,” tolak Maria. “Maria, aku mohon lakukanlah, sekali ini saja. Aku tak tega melihatnya,” “Signore Eduardo bisa marah jika tahu hal ini.” “Tolonglah, Maria.” Alicia memohon sambil memegang tangan Maria. Maria yang telah mengurus Alicia semenjak bayi tak tega melihat gadis itu memohon. “Baiklah,” putus Maria. "Dan tolong obati dia kalau belum diberi obat," pinta Alicia sekali lagi. Maria mengangguk. Gadis yang ia urusi dengan penuh kasih sayang itu memang memiliki hati yang lembut sama seperti ibunya. “Terima kasih, Maria. Aku menyayangimu,” ujar Alicia lalu memeluk Maria penuh kasih sayang. “Sekarang makanlah dulu bersama ayah Anda, setelah itu baru saya kirim makanan pada pria itu.” “Terima kasih, Maria. Terima kasih.” Alicia melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan diikuti Maria di belakangnya. Di atas meja makan telah tersaji berbagai hidangan khas Italia Selatan yang menggugah selera. Chef yang dipekerjakan Eduardo telah memasak Capretto con le palate atau hidangan daging kambing muda dengan kentang yang dipanggang dalam oven, Melanzane ripiene atau terong isi, Peperonata yaitu hidangan paprika yang biasa disajikan dengan pasta dan Involtini atau potongan ikan gulung. Tradisi kuliner orang Calabria dipengaruhi lingkungan alam yang kontras, pegunungan tinggi dan laut dan juga dipengaruhi oleh para pendatang asing dari Albania dan Yunani yang telah datang berabad-abad yang lalu. Masakannya yang sederhana dimasak dengan rasa kuat khas petani maupun nelayan. Eduardo duduk di kursi yang khusus untuk dirinya di paling ujung meja. Alicia datang lalu seorang pelayan menarik kursi di sebelah kanan depan Eduardo. Di kursi itulah tiap hari Alicia duduk untuk makan bersama sang ayah. Wajah Alicia yang tidak lagi cemberut membuat Eduardo senang, yang tidak diketahui Eduardo adalah perubahan wajah Alicia dikarenakan janji Maria yang akan memberi makanan pada pria yang telah dipukuli oleh Eduardo.  *** Keterangan: Signore = Tuan Signorina = Nona Grazie = Terima kasih Prego = Sama-sama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN