Antonio berjalan pelan sambil menahan perih di perutnya. Pukulan Dompu tadi sangat keras hingga rasa sakitnya tak jua hilang. Dompu, lelaki yang lebih tua 6 tahun dari Antonio itu sering menganiayanya. Ia tak tahu kenapa Dompu suka sekali menganiayanya, apakah karena rambut dan bola matanya yang berwarna kecoklatan hingga terlihat berbeda dari yang lain atau ada alasan lain. Entahlah, Antonio tak pernah mencari tahu alasannya.
Tiap kali Dompu memukulnya Antonio ingin sekali melawan tetapi Mawar sang ibu selalu menyuruhnya untuk tidak melawan, tidak membuat keributan. Meski sang ibu telah wafat, Antonio tetap menjalankan nasihatnya.
Hujan tiba-tiba mengguyur, Antonio berusaha berlari menuju ke rumahnya. 100 meter lagi ia akan sampai. Tas selempangnya ia gunakan untuk menutupi kepala. Sisa souvenir yang belum terjual hari ini pasti akan basah tetapi itu tidak mengapa, diangin-anginkan sebentar pasti akan kering lagi.
"Hosh... hosh...." Antonio terengah-engah. Kini ia telah tiba di depan rumah. Hari sudah mulai gelap.
"Assalamu'alaikum." Antonio mengucap salam sambil menahan perih di perutnya.
"Waalaikum salam." Terdengar jawaban dari dalam rumah.
Gunadi segera membuka pintu rumah. "Kamu kehujanan, ayo sana segera mandi!"
"Iya, Om." Antonio menjawab patuh.
Tatapan Gunadi tak lepas dari sosok keponakannya yang berlari ke belakang menuju ke kamar mandi sambil memegang perut.
“Anak itu pasti dipukuli lagi,” gumam Gunadi.
Antonio melangkah ke bagian belakang rumah menuju ke kamar mandi setelah sebelumnya menaruh tasnya di meja. Bunyi tetesan air mengiringi langkah Antonio. Ia menoleh ke arah ember yang menampung tetesan air. Atap seng rumahnya bocor sudah seminggu ini dan belum diperbaiki. Pamannya yang pincang tak mungkin naik ke atap, menyuruh orang pun tak mungkin karena keadaan keuangan mereka yang pas-pasan. Antonio bertekad esok saat hujan reda ia akan memperbaiki atap rumah.
Selesai mandi, Antonio kembali ke kamarnya. Di sudut ranjang Gunadi duduk sambil membawa minyak kayu putih.
“Balur perutmu yang sakit itu dengan ini.” Gunadi menyodorkan minyak kayu putih yang ada di tangannya.
Antonio mengambil minyak kayu putih itu lalu membuka kaosnya, lebam di perutnya nyata terlihat. Kemudian ia membalurkan minyak kayu putih itu di sekitar area perutnya yang lebam. Sensasi hangat langsung terasa di perutnya. Rasa perih pun berkurang.
“Kamu dipukul lagi?” Tanya Gunadi.
“Iya,” jawab Antonio sambil menutup botol minyak kayu putih.
“Siapa pelakunya? Dompu?” selidik Gunadi.
“Iya.”
“Seharusnya kamu melawan biar ia tak memukulimu terus.”
“Ibu melarangku melawan, lebih baik pergi saja kata ibu. Tak perlu membuat keributan dan menarik perhatian orang banyak.” Terang Antonio dengan wajah sendu.
Gunadi mengambil napas dalam-dalam. “Ibumu selalu seperti itu, lebih memilih menghindar dan pergi. Tetapi kalau begini terus kau bisa celaka.”
“Aku akan melawan kalau itu terlalu berbahaya, Om. Om tidak perlu khawatir.”
Gunadi mengembuskan napas kasar. “Baiklah kalau begitu, sekarang kita makan malam. Om sudah masak gulai daun singkong.”
Mata Antonio membola, gulai daun singkong adalah makanan kesukaannya. Meski itu makanan yang sederhana tetapi sangat nikmat di lidahnya.
“Ayo, Om. Aku juga sudah lapar.”
Kedua pria berbeda generasi itu melangkah bersama menuju ke dapur sederhana mereka lalu makan dengan lahap.
Pagi menjelang, Antonio bangun tepat saat azan Subuh berkumandang. Ia segera membersihkan diri lalu menjalankan ibadah sholat bersama sang paman. Sejak kecil Antonio selalu dibiasakan untuk melakukan ibadah wajib oleh sang ibu. Mawar selalu berkata sholat bisa membuatnya untuk tetap menjadi orang baik di tengah kejamnya dunia. Antonio tidak memahami perkataan ibunya dulu tetapi sekarang ia merasa mungkin karena sholatlah ia tidak menjadi pemuda seperti Dompu yang suka menganiaya orang lain demi kepentingan pribadi.
Selesai sholat, Antonio bergegas ke rumah tetangga untuk meminjam tangga. Ia akan naik ke atap untuk memperbaiki atap rumah. Mumpung hari ini libur sekolah.
“Mak, boleh aku pinjam tangga?” Tanya Antonio pada tetangganya yang sedang menyapu halaman.
Wanita paruh baya yang memakai kain sarung itu berhenti menyapu lalu menatap Antonio. “Buat apa kau pinjam tangga, Anto?” Tanya Mak Bijah. Orang-orang mengenal Antonio dengan nama Anto, sejak kecil Mawar memperkenalkan anaknya pada orang lain dengan nama itu.
“Mau perbaiki atap, Mak. Bocor rumahku sudah seminggu ini.”
“Ambil di samping rumah. Hati-hati kau naik ke atap.”
“Iya, Mak. Terima kasih.”
Antonio membawa tangga itu ke rumahnya lalu ia menaruh di lokasi yang tepat tak jauh dari tempat bocor atapnya.
Gunadi melihat keponakannya meletakkan tangga lalu datang mendekat. “Kau mau apa?”
“Betulkan atap, Om.”
Rasa bersalah mengalir di hati Gunadi. Kalau saja ia tidak pincang Antonio tak perlu bersusah payah memperbaiki atap rumah. Antonio yang belum lulus SD itu dipaksa berpikir dan bertindak layaknya orang dewasa karena situasi sulit yang mereka alami. “Om pegang tangganya ya, biar tidak bergoyang saat kamu naik.” Kata Gunadi kemudian.
Antonio mengangguk lalu mulai menaiki tangga dengan hati-hati.
“Gunadi!” Suara keras seseorang yang memanggil membuat Gunadi menoleh.
Pria tambun dengan kaos oblong dan celana komprang datang mendekat.
“Ada apa, Pak?”
“Tak perlulah kau tanya ada apa. Ini sudah tanggal berapa? Kau belum bayar sewa.” Pria itu rupanya pemilik tanah dan rumah yang dihuni oleh Gunadi dan Antonio yang datang menagih uang sewa.
“Uangnya belum ada, Pak.” Ucap Gunadi.
“Macam mana, lima ratus ribu saja kau tak punya.” Keluh si pemilik rumah.
Biaya sewa rumah di Desa Namo Sialang yang merupakan pedalaman wilayah Sumatera Utara itu tiap bulan adalah lima ratus ribu rupiah. Rumah yang disewa sejak lima tahun lalu itu dikenai tarif demikian karena sang pemilik rumah melihat wajah Antonio yang bule dengan mata dan rambut yang berwarna coklat. Warga di desa itu memberi tarif dua kali lipat untuk pendatang dari negeri lain. Mereka menduga bule memiliki lebih banyak uang daripada warga lokal. Dan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu bukan hal mudah bagi Gunadi. Penghasilan yang ia dan Antonio peroleh dibagi untuk kebutuhan sekolah, makan dan sewa rumah.
“Uangku baru ada empat ratus ribu,” ucap Gunadi jujur.
Antonio mendengar percakapan pamannya dengan pemilik rumah, ia melongok ke bawah. Sejenak ia menghentikan kegiatannya mengecek atap yang bocor. “Om, pakai saja dulu uang untuk bayar seragam sekolahku.”
Sekali lagi rasa bersalah itu mengalir di hati Gunadi. Seharusnya ia bisa memberikan kehidupan yang layak bagi keponakannya, tetapi kondisi pincang kakinya sejak enam tahun lalu justru seperti menjadi beban bagi Mawar dan Antonio.
“Tuh, keponakan kau bilang uangnya ada. Ambillah!”
“Perbaiki dulu atap rumah ini baru aku bayar uang sewanya.” Gunadi berusaha bernegosiasi. Selama ini pria tambun pemilik rumah tak pernah memperbaiki rumahnya jika ada kerusakan tetapi kalau menagih selalu tepat waktu.
“Tidak ada perjanjian kalau rumah ini aku yang perbaiki, kalau tak mampu bayar pergi saja dari rumah ini!” seru pemilik rumah, emosi.
“Apa kau tidak kasian pada keponakanku yang yatim piatu, harus naik memperbaiki atap? Kalau aku bisa, aku sendiri yang akan naik tetapi kaki pincang ini membuatku lemah.”
“Kau pincang itu bukan urusanku, keponakanmu yatim piatu itu sudah takdir,”
“Kau memang tidak punya rasa kemanusiaan!” Gunadi emosi.
Mak Bijah yang mendengar perdebatan antar Gunadi dan pemilik rumah datang menghampiri. “Ucok, kau berilah dia keringanan. Sedekah pada anak yatim piatu itu berpahala besar dan kau bakal dapat rejeki lebih banyak jika melakukannya.”
Ucok tak berani membantah perkataan Mak Bijah yang merupakan adik dari ayahnya. Mak Bijah sangat dihormati di keluarganya.
“Atau kalau kau tak mau sedekah, naiklah perbaiki atapnya.” Mak Bijah berkata lagi.
Ucok tidak ingin naik ke atap, tubuhnya tambun ia khawatir tangga yang terbuat dari bambu itu tidak akan kuat menahan bobot tubuhnya dan pasti ia akan kesulitan untuk naik.
“Baiklah baiklah kuberi kau keringanan karena Mamak ku ini, empat ratus ribu saja.” Putus Ucok dengan nada kesal. Kesal karena penghasilannya berkurang.
Gunadi tersenyum lalu berkata, “Terima kasih. Aku ambil uangnya dulu.”