Mafia Di Calabria

950 Kata
Desiran ombak pantai Calabria terdengar merdu di telinga, angin lembut pun berhembus. Membuat siapa pun yang ada di sekitar pantai itu akan merasa rileks, beberapa turis tampak berjemur menikmati sinar mentari yang cerah. Namun berbeda dengan situasi dalam sebuah rumah besar di pinggir pantai. Suasana begitu menegangkan di ruang bawah tanah rumah itu. "Ikat dia!" perintah seorang pria tinggi besar sambil memegang cerutu Kuba miliknya. "Baik, Tuan," sambut dua pria kulit putih yang mengapit seorang pria yang tampak memiliki memar di wajah. Pria bertubuh kecil yang wajahnya memar tersebut diikat dengan kuat pada sebuah kursi. "Katakan, siapa saja teman-temanmu!" perintah pria tinggi besar yang duduk di kursi sambil sesekali menghisap cerutunya. Pria yang diikat di kursi itu tetap diam sambil menunduk. "Fazio, aku akan menyiksamu kalau kau tetap diam!" ancam Eduardo Bertolini, pria yang duduk di hadapan Fazio dengan cerutu di tangannya. "Aku bekerja sendiri," lirih Fazio sambil mengangkat kepalanya melihat ke arah Eduardo. Eduardo Bertolini bangkit dari duduknya mendekati Fazio. "Kau pikir aku bodoh? Kau memberikan informasi pada polisi, siapa polisi itu?" selidik Eduardo. Fazio bungkam, tak satu kata pun terucap dari bibirnya. Hal itu membuat Eduardo geram. Eduardo memegang cerutu yang menyala di tangannya lalu menekan bagian cerutu yang terbakar ke pipi Fazio. "Argh.... " Pria yang telah bekerja selama lima tahun pada Eduardo itu meringis nyeri. Pipinya memerah dengan bulatan luka bakar tepat di tempat cerutu itu ditekan. "Katakan!" bentak Eduardo. Fazio menggelengkan kepalanya. Kebungkaman Fazio membuat Eduardo makin geram, ia melempar cerutunya ke lantai. Lalu mengambil belati yang ia simpan di pinggang. Ada dua benda yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi yaitu belati dan pistol kesayangannya. Kemudian ia menaruh pisau itu di leher Fazio. Eduardo membungkukkan diri hingga sejajar dengan Fazio lalu berbisik, "Pisau ini bisa merobek lehermu kalau kau terus diam." Nada dingin yang mengancam itu membuat pria lain yang ada di ruangan itu bergidik. Mereka tahu bosnya tak pernah main-main dengan ancaman. Dengan tubuh bergetar Fazio berkata, "Aku … bekerja sendiri." Fazio tak mengubah sedikit pun pernyataannya. Eduardo menyusuri pisaunya di sepanjang leher dan wajah Fazio. Fazio tampak memejamkan matanya merasakan dinginnya pisau dan rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Katakan dengan siapa kau bekerja!" Suara Eduardo terdengar dingin dan mengancam. "Aku bekerja sendiri." Sret! Pisau Eduardo menggores kulit leher Fazio. Darah mengalir, Fazio meringis. "Kau akan diobati jika memberi satu nama saja." Ucap Eduardo tanpa melepas pisau dari leher Fazio. Fazio menggelengkan kepalanya. "Aku bekerja sendiri." "Alonso," panggil Eduardo pada salah satu pria yang tadi mengikat Fazio. Alonso mengerti maksud tuannya, ia segera keluar dari ruangan itu lalu kembali sambil membawa seember air kotor. Dengan gerakan kepala Eduardo memberi perintah. Alonso menyiramkan seember air kotor itu pada kepala Fazio. Byur! Fazio meringis, nyeri di leher dan pipinya semakin manjadi-jadi. "Sekarang katakan!" "Aku... bekerja sendirian. Argh!" Eduardo hilang kesabaran. Fazio tetap pada pendiriannya. "Tak berguna!" Eduardo mengambil pistol di balik jas mahalnya. Dor! Tembakan itu tepat melubangi kepala Fazio. Cukup satu peluru, darah menyembur dari luka di kepalanya yang terkulai. Bau anyir menyeruak ke seluruh ruangan. Eduardo menatap jasnya yang terkena sedikit cipratan darah. Ia berdecak tak suka. "Buang mayatnya di laut!" perintah Eduardo pada Alonso dan Emilio yang mengangguk patuh. Tubuh Fazio diseret oleh Alonso dan Emilio setelah sebelumnya membuka ikatan tubuhnya. Eduardo menatap tak berkedip tak ada rasa kasihan sedikit pun. Baginya hukuman yang pantas bagi seorang pengkhianat adalah kematian. Fazio telah membocorkan salah satu informasi bisnis gelap Eduardo  hingga gudang s*****a ilegalnya digerebek polisi. Selama ini Eduardo bisa membungkam polisi hingga bisnisnya aman. Tetapi kali ini berbeda. Ia harus tahu dengan siapa Fazio bekerja sama. Dugaannya Fazio bukan hanya bekerja dengan polisi tetapi juga rivalnya. Pengkhianat memang menyulitkan, kini Eduardo harus menyuruh orangnya untuk menyelidiki orang-orang yang berhubungan dengan Fazio. Eduardo Bertolini keluar dari ruangan pengap itu menuju ke lantai atas. Sampai di kamar ia mencuci tangannya lalu mengganti baju. Ia tak suka jika tubuhnya tercium bau darah terutama saat ia akan bersama putrinya. Setelah memastikan tubuhnya wangi dan rapi, Eduardo Bertolini melangkah menuju ruang belajar putrinya. Terdengar suara piano dimainkan dari dalam ruang belajar sangat putri. Eduardo bertepuk tangan melihat putrinya yang piawai memainkan piano. "Good job, Alicia, " pujinya sambil tersenyum. "Papa," sambut Alicia yang melihat ayahnya datang. Eduardo mendekati putri semata wayangnya yang berusia hampir 10 tahun. Lalu mengusap kepala Alicia. Gadis kecil bermata dan berambut coklat sebahu itu tersenyum. Wajah Alicia yang sangat mirip dengan Mawar membuat Eduardo sangat menyayanginya. Perbedaan di antara keduanya adalah Mawar memiliki rambut dan bola mata yang berwarna hitam. "Thank you, Isabel." kata Eduardo pada Isabel guru les piano Alicia. Hari ini memang jadwal Alicia belajar piano, hari-harinya dipenuhi dengan belajar yang dibimbing oleh guru privat. Alicia tak pernah bersekolah di sekolah umum karena terlalu berbahaya menurut Eduardo sang ayah. Lebih baik guru didatangkan ke rumah, itu adalah pilihan paling aman mengingat ia mempunyai banyak musuh. Alicia bisa saja menjadi target musuh-musuhnya. "Saya permisi, Tuan. Pembelajaran telah selesai." pamit Isabel sopan. Eduardo mengangguk lalu wanita berusia 25 tahun itu keluar dari ruangan. Isabel adalah pianis yang handal, kemampuannya menggunakan piano diakui dunia. Dan ia hanya punya satu murid yaitu Alicia, Eduardo rela membayar tarif Isabel yang begitu mahal demi putrinya. "Alicia, ayo kita makan siang. Spaghetti Carbonara kesukaanmu sudah disiapkan." Mata Alicia tampak berbinar mendengar makanan kesukaannya disebut. "Ya, Papa."sambutnya sambil menggamit lengan papanya. Alicia memang sangat menyukai Spaghetti Carbonara sama seperti Mawar. Teksturnya yang creamy dan lembut mampu memanjakan lidah. Eduardo memerintahkan juru masak di rumahnya untuk memasak hidangan kesukaan putrinya hanya saja Guanciale (pipi babi) yang biasa digunakan untuk Spaghetti Carbonara di Itali diperintahkan untuk diganti dengan daging sapi karena Mawar tidak menyukainya. Eduardo bertekad untuk menjaga apa-apa yang Mawar tinggalkan meski itu hal yang sangat kecil.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN