Kematian Mawar

1225 Kata
Sembilan tahun kemudian ….   "Snow ... in ... summer...." Terbata Mawar mengucap kalimat di antara napasnya yang mulai terputus-putus. Suaranya yang lemah membuat Antonio mendekat padanya. Antonio mendengarkan dengan seksama tepat di samping sang ibu. Alisnya berkerut. "Apa maksud Ibu?" Mawar tak mampu menjawab, dalam satu tarikan napas tiba-tiba matanya menutup lalu tubuhnya melemas. "Ibu ... Ibu ... Ibu ...!" Antonio kecil mengguncang tubuh ibunya, berharap sang ibu membuka matanya kembali. Namun hal yang ia harapkan tak terjadi, ibunya kini terbujur kaku. "Ibu...!" Teriakan pilu terdengar dari sebuah rumah sederhana di sebuah desa di pelosok Sumatera Utara. Sementara itu di belahan bumi lainnya, seorang pria berusia empat puluh tahun sedang duduk di sebuah sofa. Api di tungku pemanas ruangan menyala menjadikan ruangan itu hangat di tengah dinginnya salju di Calabria Italia Selatan. Pria itu menatap foto pernikahannya. Bulir bening menerobos keluar dari netra coklatnya. "Mawar...." *** Antonio bersimpuh di samping makam ibunya. Tetesan air dari langit mulai turun dan semua pelayat telah pergi. Antonio tak ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Ia belum siap jika harus berpisah dengan ibunya tercinta. Antonio mengusap nisan kayu bertuliskan nama ibunya. Mawar Khairunnisa binti Suparjo. Satu-satunya orang yang ia sayang telah pergi menyisakan duka yang mendalam. Seorang pria pincang mengusap bahu Alicia. Pria kecil yang masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar itu menoleh. "Ini sudah sore sebentar lagi gelap, ayo kita pulang," ajak Gunadi pada Antonio yang masih terdiam menatap nisan di hadapannya. "Aku gak mau pisah dari ibu, aku mau di sini aja." Lirih Antonio. "Antonio, gak baik kalau kamu terus di sini. Kita istirahat dulu di rumah, besok kamu bisa ke sini lagi." "Aku mau di sini aja, Om." "Hei, ibu kamu juga pasti ingin kamu beristirahat dengan layak. Almarhumah pasti tidak ingin kamu sakit. Kita boleh berduka tapi tak boleh berlebihan." Antonio menatap gundukan tanah basah yang bertabur bunga di hadapannya kemudian ia mengusap nisan kayu bertuliskan nama ibunya. "Ibu, aku pulang dulu besok ke sini lagi." Antonio melangkah lemah menuju rumahnya bersama pria pincang yang ia panggil Om. Gunadi adalah adik sang ibu. Dari kejauhan rumah mereka telah terlihat, rumah beratap seng  dengan halaman yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna putih. Antonio berhenti sejenak menatap bunga-bunga putih itu, bunga kesayangan almarhumah ibunya. Snow in summer nama bunga itu. Ada apa dengan bunga itu hingga sang ibu menyebutnya di akhir hayatnya? "Antonio ayo masuk," ajak Gunadi dari depan pintu rumah yang telah ia buka. "Om, kenapa ibu nyebut snow in summer sebelum wafat?" Antonio berjongkok dan memegang salah satu tangkai bunga. Bunga putih yang berukuran kecil itu sangat indah, mampu tumbuh di bebatuan dan lingkungan yang ekstrim. Antonio mengorek tanah di sekitar tanaman itu seakan mencari sesuatu. Tapi nihil tak ada apa pun yang ia temukan. "Om tidak tahu, maaf. Ayo masuk azan Magrib sudah berkumandang," Antonio mendesah pasrah. "Iya, Om." *** Hari-hari berlalu, Antonio kembali menekuni aktivitasnya bersekolah di SDN Namo Sialang, satu-satunya sekolah dasar yang ada di desanya. Misteri Snow in Summer tetap berputar di kepalanya, ia belum menemukan maksud perkataan sang ibu. Sempat ia bertanya pada guru kelasnya tentang bunga Snow in Summer tetapi ternyata beliau tidak tahu apa pun bahkan nama bunga itu pun baru ia dengar. Pulang sekolah Alicia segera mengganti bajunya lalu berjalan menuju ke dapur. Di dapur sudah ada nasi dan sayur ubi buatan pamannya. Antonio bergegas menyiapkan makan siang untuk mereka berdua. "Om, makan dulu yuk," ajak Antonio pada pamannya yang sedang asyik membuat souvenir dari batok kelapa. Tangan terampilnya mampu membentuk batok kelapa menjadi berbagai bentuk binatang, bunga dan pohon untuk dijadikan gantungan kunci dan magnet kulkas. Gunadi meletakkan kuas yang ia gunakan tadi untuk melapisi hasil karyanya dengan cat kayu bening. "Ayo, Om cuci tangan dulu." Mereka makan sambil sesekali bicara. Gunadi tahu keponakannya sering termenung jika ia tidak mengajaknya bicara karena itu ia berusaha membuat Antonio bicara dengan menanyakan berbagai hal. Kematian sang kakak karena penyakit yang dideritanya membuat hari-hari Antonio yang sebelumnya penuh tawa menjadi hambar. Selesai makan Antonio segera membereskan peralatan makan mereka lalu mencucinya. Kemudian ia melaksanakan sholat Zuhur lalu bersiap pergi ke pusat penangkaran gajah yang ada di desanya. Setiap hari Antonio berjualan souvenir yang dibuat oleh pamannya. Dari sanalah mereka bisa mendapatkan uang untuk makan sehari-hari. Pamannya yang pincang tak dapat mencari nafkah dengan cara lain karena keterbatasan fisik. Di halaman belakang rumah yang mereka sewa yang tak luas ditanami ubi dan singkong, lumayan daunnya bisa dijadikan lauk dan jika singkong panen dulu almarhumah ibunya membuat opak lalu menjualnya kepada para tetangga. Antonio memasukkan dua puluh souvenir ke dalam tas selempangnya. Tiap souvenir ia jual seharga lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. "Om, aku berangkat," pamit Antonio. "Hati-hati dan usahakan pulang sebelum Maghrib," pesan Gunadi. Antonio harus pulang sebelum Maghrib, desanya yang sering padam listrik akan sangat gelap saat malam belum lagi hewan-hewan liar yang terkadang berkeliaran. Antonio melangkahkan kakinya menyusuri jalanan desa yang berbatu, di desa ini tidak ada jalan beraspal yang ada hanya pasir dan bebatuan. Ia membelokkan langkah menuju pemakaman. Tiap kali akan berjualan Antonio selalu menyempatkan diri mengunjungi makam ibunya, sekedar melepas rindu dengan bercerita aktivitas apa saja yang ia lakukan. *** Di pinggir sungai yang jernih Antonio menunggu para turis sedang menyaksikan gajah yang sedang dimandikan oleh pawangnya. Sebagian turis ikut memandikan gajah dan tertawa saat gajah tersebut menyemprotkan air ke tubuh mereka, sebagian lainnya memfoto kejadian tersebut dengan suka cita. "Souvenir, Sir, Mam ...." Antonio menawari para turis untuk membeli souvenir yang ada di tangannya. Turis berkulit putih yang berjumlah lima orang itu tertarik melihat benda yang ada di tangan Antonio. "Wow, these are pretty. How much?" Tanya sang turis sambil memegang beberapa sounir yang menarik hatinya. "Five thousand rupiah, each." Jawab Antonio antusias. Turis itu memilih lima souvenir yang mereka sukai lalu memberikan selembar uang berwarna biru pada Antonio. Ia sedikit kebingungan pasalnya ia tidak punya kembalian. "Mm ... I ... tidak punya kembalian," ucap Antonio terbata. Kemampuan bahasa Inggrisnya masih terbatas, itu pun sudah diajari oleh ibunya. Seorang turis yang berambut keriting pirang mencoba mencerna perkataan Antonio. "You have no change?" Alicia mengangguk. Turis keriting itu nampak berbicara dengan temannya lalu berkata, "It's for you, all." "All? Lima puluh ribu ini buat saya?" "Ya," Mata Antonio berbinar, senyum terbit di bibirnya. "Thank you very much, Mam." "Your welcome." Antonio senang sekali, uang itu cukup banyak untuk ia berikan pada sang paman yang akan membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Setelah melepas para turis itu pergi Antonio membalikkan tubuh untuk pulang. Hari sudah sore ia harus sampai di rumah sebelum Maghrib. Sepasang mata dari balik pepohonan sejak tadi mengintai Antonio. Pemilik mata itu adalah lelaki berusia 16 tahun yang tak melanjutkan sekolah. Ia hanya bersekolah sampai tingkat SMP karena untuk bersekolah di SMA jaraknya cukup jauh. Kemalasan dan kemiskinan membuatnya mencari cara mendapatkan uang dengan cara mudah. Bruk.... Antonio jatuh ke jalan berpasir setelah seorang remaja pria menabraknya dari arah depan. Ia segera bangkit sambil membersihkan pasir yang menempel di bagian belakang tubuhnya. "Mana uang kau!" perintah remaja lelaki bernama Dompu itu. "Uang apa, Bang?" tanya Antonio. "Jangan pura-pura tak tahu kau. Tadi turis itu kasi kau uang, berikan!" Dompu menarik tas selempang  Antonio. "Jangan, Bang!" Antonio menarik tasnya. Bug! Dompu tak segan-segan memukul perut Antonio lebih dari sekali hingga anak berusia hampir 10 tahun itu jatuh. Antonio memegang perutnya yang terasa sakit. Kesempatan itu digunakan Dompu untuk mengambil uang yang ada di tas Antonio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN