Bab 1. Kepergian Papa
Yura merasa sesak dalam d**a melihat ayahnya terbujur di kamarnya. Padahal, kemarin dokter mengatakan ada kemajuan untuk kesehatan ayahnya hingga diperbolehkan pulang. Namun, kenapa dua hari setelah pulang ke rumah, Tanaka malah tampak lemah dan memanggil semua anggota keluarganya. Yura tidak sampai hati melihat keadaan sang ayah yang sangat dia cintai. Dia memilih untuk berdiri di sudut kamar dengan d**a sesak karena tangis dan tangan bergetar.
Penyakit yang sudah Tanaka derita selama bertahun-tahun semakin lama semakin menggerogoti tubuh hingga tampak kurus dan menyedihkan.
Namun, yang paling tampak sedih adalah Yura. Yura adalah anak kandung dari istri pertama Tanaka yang telah berpulang mendahului mereka, saat melahirkan Yura. Kemudian, setelah lima tahun berlalu, dia menikah dengan janda beranak satu, Neni. Saat ini, kehidupan mereka berjalan dengan tidak baik. Keuangan Tanaka sedang merosot. Itu makin membuat penyakit Tanaka makin parah. Sudah berkali-kali dia keluar masuk rumah sakit dan sekarang tubuh Tanaka tidak kuat lagi menerima rasa sakit itu.
"Ma, maafin papa karena tidak bisa memuliakan kalian lagi. Papa nggak kuat, Ma," tutur Tanaka pada istri keduanya itu dengan lirih.
"Jangan bilang gitu, Pa. Sebentar lagi, Shantika akan menikah. Dia pasti bisa menyelamatkan keluarga kita, Papa pasti sembuh," rengek Neni.
Shantika, anak bawaan Neni mengangguk lemah. Dia sangat setuju dengan bujukan ibu kandung dan ayah tirinya untuk menikah dengan anak seorang pengusaha kaya, sahabat Tanaka.
"Iya, Pa. Aku mau menikah, aku sangat mau dan menantikan untuk menikah dengan Kevin. Kita hanya tinggal menunggunya datang saja. Papa bilang, anak sahabat papa itu akan pulang dari luar negeri," timpal Shantika, mendekati Tanaka.
"Iya, Shantika. Tapi, dia belum kunjung ke sini. Maafin kami," ucap Tanaka menatap ke arah Shantika yang selalu tampak manis terhadapnya meski dirinya hanya ayah tiri bagi Shantika.
Tampaknya Shantika ikhlas berkorban bagi keluarga mereka dengan kemauannya dinikahi anak sahabatnya, Brian Julvan Axel, pemilik perusahaan besar, Julvan Group yang sudah berpindah ke luar negeri beberapa tahun yang lalu. Satu hari ketika mereka masih muda dan istri Brian, Naina yang baru saja melahirkan, Brian berharap bahwa anaknya, Kevin, bisa menikah dengan anak Tanaka. Perkataan yang dianggap guyonan masa lalu itu akan Tanaka wujudkan sekarang.
Terlebih lagi, Brian mengulang perkataan itu ketika Tanaka mengunjunginya di rumah sakit. Meski belum pernah bertemu dengan anak Brian yang konon katanya lebih suka bersenang-senang dengan hingar bingar di negeri lain, Tanaka berpikir akan menikahkan Kevin dengan Yura, tapi atas desakan Neni yang mengatakan bahwa Shantika lebih tua dari Yura untuk usia pernikahan, dia memutuskan untuk menyetujuinya.
Tanaka sangat bersyukur mendapatkan istri dan anak yang sangat menyayanginya. Jadi, selama ini dia memberikan apapun untuk Neni dan Shantika, melebihi pada anaknya sendiri. Yura, anak kandungnya hanya menunduk dan menangis tanpa bisa berkata-kata.
"Yura, sini, Nak!" panggil Tanaka, melihat anak kandungnya di sudut ruangan dengan kedua pipi basah.
Kaki Yura bagai berat untuk mendekat. Bukannya dia tidak mau, tapi ketidak tegaannya saja terhadap sang ayah yang membuatnya berat. Akhirnya, Yura sampai di samping tubuh sang ayah.
"Papa," isak Yura. Tangisnya pecah seketika.
"Yura, kamu anak pintar. Papa yakin kamu bisa menggantikan papa, Nak. Perusahaan kita sedang di ambang hancur. Papa yakin kamu bisa melanjutkannya, Nak. Maaf, jika papa tidak bisa merawatmu dengan baik selama ini. Kamu penurut dan anak yang terbaik," ucap Tanaka, mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Yura yang basah dengan air mata.
Sorang pemuda masuk ke dalam kamar dengan kedua tangan menyilang di depan tubuh dan menunduk. Tanaka tersenyum pada pemuda itu.
"Arik, kamu udah mandi?" tanya Tanaka, berusaha menguatkan diri.
Pria muda yang ditanya hanya mengangguk dan tidak mengerti situasi yang ada.
"Pasti Yura yang mencukur rambutmu."
Pemuda yang ditemukan oleh sopir Tanaka di tengah hutan beberapa minggu yang lalu, tampak kotor dengan pakaian lusuh. Pria itu juga hilang ingatan hingga dia malah seperti orang linglung. Tanaka menerima lelaki itu di rumahnya dan asal memberi nama Arik karena tidak tahu nama asli lelaki muda itu.
"Kamu bisa tinggal di rumah ini selama beberapa waktu. Yura akan memberimu makan. Kamu mengingatkan aku dengan anak lelaki pertamaku, kakak Yura yang meninggal sewaktu dilahirkan. Kalau dia hidup, dia pasti seusiamu."
Arik hanya diam. Neni menatapnya dengan kesal. Sementara Yura hanya fokus pada sang ayah.
"Yura, anggap Arik sebagai kakakmu. Jangan perlakukan dia dengan buruk. Kamu harus memberikan kebutuhan makan dan pakaian untuknya. Biar dia di rumah kita," pesan Tanaka.
Yura mengangguk lemah. Selain tidak ingin melapor ke polisi, Tanaka ingin Arik berada di rumahnya, karena di rumah tidak ada lelaki. Dia berharap Arik bisa menjaga keluarganya karena badan Arik cukup tegap. Meski selama ini ada sopir Tanaka yang membantu mengurus Arik, tapi dia tetap ingin Arik tinggal di rumahnya.
"Arik, mendekat ke sini," pinta Tanaka.
Pria itu mulai mendekatkan telinganya ke Tanaka. Pria paruh baya itu berniat ingin memberikan pesan terakhir pada Arik karena dia merasa dekat dengan lelaki muda itu meski hanya sepekan saja bersamanya. Tanaka merasa aneh berdekatan dengan Arik yang dirasa seperti anaknya sendiri, bahkan dia tidak mengenal identitasnya. Dia merasa mungkin karena dulu dia pernah hampir memiliki seorang anak lelaki jika saja bayi pertama yang dilahirkan istrinya tidak mengalami infeksi darah, jadi dia menyayangi Arik. Tanaka merasa tubuhnya sudah melemah. Dia segera berpesan pada Arik.
"A-Arik, kamu bisa tinggal selamanya di rumah kami. Om–"
Tanaka menatap leher Arik. Kalimatnya tercekat di tenggorokan. Sebuah tanda yang jelas dia lihat dan ingat saat melihat bayi sahabatnya. Tanda itu tidak berubah sama sekali. Tadinya rambut gondrong Arik menutupi tanda itu sampai Yura mencukur rambutnya sekarang, barulah terlihat.
"K-kamu–"
Tanaka menatap Arik begitu lama. Bayang seseorang ada di wajah lelaki muda itu. Wajah Tanaka memucat menyadari. Dia mendorong Arik perlahan dan dia menatap ke arah Shantika.
Tampak sekali Shantika mendengkus melihat Arik dipegang halus oleh Tanaka. Tanaka menghela napas berat. Justru, saat ini dia ingin melihat ketulusan Shantika dan Neni.
"S-Shantika, Papa ingin kamu menikah dengan Arik. "
Telunjuk Tanaka mengarah kepada Arik dengan lemah. Benar saja dugaan Tanaka. Shantika terkejut sekali mendengar perintahnya.
"Yang bener aja, Pa?" sungut Shantika.
Neni mengulas senyum tipis meski dia sendiri juga terkejut dengan perkataan Tanaka.
"Papa, Papa istirahat, ya? Papa udah capek, kan?" ucap Neni, hendak menyuruh Yura, Shantika dan juga Arik keluar.
Namun, Tanaka menahan mereka.
"Tunggu. Aku nggak capek. Shantika, menikahlah dengan Arik," perintahnya sekali lagi.
"Nggak mau! Masa aku mau dinikahkan sama lelaki i***t itu! Jangan bercanda, Pa! Papa memang sudah sakit-sakitan, tapi nggak bisa ngawur milihin aku pasangan! Udah perjanjian kan, kalo aku mau dinikahkan sama Kevin? Anak sahabat Papa itu?" geram Shantika.
"Mama, aku nggak mau nikah sama lelaki i***t itu!" sungut Shantika, menoleh ke arah Neni untuk mencari pembelaan.
Neni menautkan kedua alisnya. Dia sendiri juga tidak setuju dengan perintah Tanaka.
Gila apa, memiliki menantu bodoh dan miskin seperti Arik yang datang tanpa apa-apa itu?
"Sepertinya Papa sudah tidak bisa menjaga kalian. Tempat tidur ini saksinya, Papa hanya bisa berbaring di sini. Shantika, Papa sudah bertanya padamu dua kali. Tapi kamu tetap menolak."
"Papa akan sehat lagi," rengek Yura, menangis.
Saat Yura menangis, Shantika malah merajuk pada ibunya.
"Ma, gimana dong? Aku nggak sudi nikah sama lelaki i***t itu!"
"Shantika, tenang saja. Kamu nggak akan nikah sama orang bodoh itu. Papa tiri kamu pasti lagi asal ngomong. Biasa kan, orang yang sudah mau ketemu ajal sering kali ngomong yang nggak-nggak."
Neni menimpali ucapan Shantika. Yura yang sedang bersedih tidak habis pikir pada keduanya. Neni dan Shantika yang selama ini seperti sayang pada ayahnya, tapi saat ini malah tidak menunjukkan rasa sedih mereka. Di mana jika ada salah satu keluarga yang sakit parah, itu adalah hal yang sangat menyedihkan. Bagi Yura, Tanaka adalah segalanya. Dia sangat merasa kalut dengan kesehatan sang ayah yanh semakin memburuk.
"Papa, sehat ya? Papa nggak boleh sakit lagi. Besok pasti Papa sembuh, udah nggak sakit lagi."
Tanaka menatap Yura dengan perasaan bangga. Anak kandungnya itu, sangat baik. Namun, dia merasa tidak akan bisa lagi menjaga Yura.
"Yura, cari Pak Ifan. Suruh dia menghubungi pengacara, buat janji dengannya agar bisa ke rumah sesegera mungkin!" titah Tanaka.
Wajah Yura memucat mendengar itu. Apa yang akan ayahnya lakukan dengan seorang pengacara? Yura beranjak dengan lemas. Pikirannya sangat kacau. Namun, perintah sang ayah harus dilaksanakan.