Pria berjas hitam dengan wajah yang begitu berantakan berdiri di depan pintu apartemen Mentari. Wajahnya penuh dengan penyesalan, sesekali ia menyeka air matanya. Ada apa dengan pria itu sebenarnya? Berulang kali ia menekan tombol apartemen mantan istrinya namun tidak ada jawaban di sana, padahal ia tau Mentari ada di dalam. Ada satu hal yang baru Ardan tau sekarang, kenyataan yang menampar telak dirinya. Dia tau ini terlambat, sangat terlambat. Tetapi ia berharap Mentari masih menerima permohonan maafnya. "Keluar lah Tar, maafkan aku," lirihnya pelan, pria itu masih enggan pergi meskipun tidak ada sama sekali respon dari dalam. Kata maaf itu akhirnya keluar dari mulut Ardan, bertahun-tahun Mentari menunggu kata sakral tersebut. Mungkin jika masih ada Gio hari ini, Mentari akan langsung

