Bab 19

1012 Kata

Suara air dari kamar mandi terdengar samar. Kania duduk kembali di sofa, jari-jarinya gelisah meremas ujung bantal. Dadanya terasa sesak, pikirannya penuh tanda tanya. Dulu, setiap kali Gio pulang, meski larut, meski lelah, ia selalu menyempatkan diri duduk di sampingnya, bercanda sebentar, atau sekadar merangkulnya sebelum mandi. Kini… yang tersisa hanya dingin dan kata-kata singkat. Kania menatap pintu kamar mandi dengan mata berkaca-kaca. Apa aku sudah nggak berarti lagi buat dia? batinnya bergetar. Ia menggigit bibir, berusaha menahan tangis. Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Uap panas bercampur aroma sabun memenuhi ruangan. Gio keluar hanya dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya basah, beberapa tetes air masih menetes di bahunya. ‘’Sayang …” panggil Kania segera menghamp

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN