Bab 22

1006 Kata

Begitu pintu tertutup rapat, Gio berdiri di luar kamar. Tubuhnya menempel pada dinding rumah sakit, tangan mengepal erat sampai buku jarinya memutih. Air matanya jatuh begitu saja, tanpa bisa ia tahan. Ia ingin masuk lagi, tapi suara Kania yang penuh luka terus terngiang di kepalanya. “Aku akan gugurin anak ini… Aku capek, Gi…” Sementara di dalam kamar, Kania semakin larut dalam tangisnya. Bahunya naik turun, napasnya memburu. Rasa sakit yang menekan d**a terasa tak tertahankan. Ia membenamkan wajah di bantal, berusaha menahan isak, tapi suara tangisnya justru terdengar lebih jelas. Tak lama, pintu terbuka perlahan. Putri dan Rahel masuk dengan wajah khawatir. Begitu melihat Kania menangis sampai tubuhnya terguncang, keduanya langsung menghampiri. “Kania…” Rahel duduk di sisi ranjang,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN