Bab 23

1123 Kata

Malam itu, hujan turun rintik rintik di luar jendela rumah sakit. Kania masih terbaring di ranjang, wajahnya sembab karena habis menangis. Rahel dan Putri baru kembali dari kantin, membawa beberapa makanan, tapi mereka terdiam begitu melihat wajah sahabat mereka yang basah air mata. Belum sempat Rahel bertanya, suara gaduh dari luar kamar terdengar. Suara langkah kaki yang tergesa, disertai suara perawat yang mencoba menenangkan. “Kamar Kania di mana? Tolong tunjukkan sekarang juga!” suara berat itu jelas sekali, Reno, ayah Kania. Pintu kamar tiba tiba terbuka keras. Reno masuk dengan jas yang masih basah di bagian pundak karena hujan, disusul Rani yang wajahnya penuh cemas. “Kania…” suara Rani pecah begitu melihat putrinya terbaring lemah. Ia segera menghampiri ranjang, menggenggam ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN