Tak lama kemudian, perlahan kelopak mata Rani bergerak. Nafasnya terengah, tubuhnya masih lemah. Begitu kesadarannya pulih, pandangan matanya langsung mencari sosok putrinya. “Bun,” suara Kania serak, penuh tangis. Begitu mata Rani jatuh pada wajah putrinya, ia langsung tersedak tangis. Dengan sisa tenaga, ia bangkit dari sofa dan meraih tubuh Kania ke dalam pelukannya. Tangisan mereka pun pecah bersamaan. “Kaniaaa,” suara Rani pecah, memeluk putrinya erat-erat. “Kenapa sampai seperti ini, Nak. Kenapa kamu jalan begitu jauh! Dan kenapa kamu simpan semua sendiri? Kenapa gak cerita sama Bunda?” “Maafin Kania, Bun, Kania takut, Kania malu, Kania gak mau Bunda sama Ayah kecewa,” Rani hanya bisa menangis makin keras. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia ingin berteriak marah, ingin menyalah

