Sementara itu, di rumah keluarga Gio, suasana begitu tegang. Tangis Gio pecah di ruang keluarga, tubuhnya lunglai seolah semua beban dunia menimpa bahunya. Surya, ayah kandung Gio, berdiri dengan napas memburu. Wajahnya merah padam menahan amarah. Tangan kanannya bergetar, ingin sekali menampar anaknya, tapi ia masih berusaha menahan diri. “Kamu gila Gio! Bagaimana bisa kamu melakukan itu pada Kania, hah!” Bentak Surya dengan suara bergetar, penuh kekecewaan. Gio langsung tersungkur di lantai, kedua tangannya menutup wajah yang sudah penuh air mata. “Gio tahu Gio salah, Pa… tapi Gio beneran nggak mau ini terjadi… Gio nggak pernah niat nyakitin Kania.” “GAK MAU BAGAIMANA?!” Suara Surya makin keras, menggema di seluruh ruangan. “Kamu sudah melakukan kesalahan besar, Gio! Kamu pikir Kania

