Gio meminum air yang Kania berikan, tapi hanya seteguk. Tangannya bergetar sedikit saat memegang gelas, lalu ia meletakkannya di meja samping ranjang. Napasnya masih berat, namun matanya kini menatap Kania lebih fokus fokus yang justru membuat gadis itu menelan ludah gugup. “Kenapa liatnya gitu?” tanya Kania mencoba bercanda, walau suaranya terdengar sedikit tegang. Gio tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk tegak, kedua tangannya bertumpu di sisi ranjang. Ujung lidahnya membasahi bibir yang terasa kering, lalu ia menunduk sedikit, menatap Kania dari jarak yang lebih dekat. “Aku, gak tahu, Kan. Badanku semakin panas banget, tapi bukan cuma karena sakit.” Kania mengerutkan kening. “Maksudnya?” “Kayak, ada yang aneh di tubuhku. Jantungku kenceng banget, pikiranku susah fokus, dan seti

