Setelah beberapa menit, tangisan Kania perlahan mereda. Obat penenang yang diberikan dokter mulai bekerja. Matanya berat, dan akhirnya ia terlelap dalam dekapan hangat sang bunda. Rani mengusap pelan kepala putrinya sampai napas Kania teratur. “Tidurlah, Sayang. Kamu butuh istirahat,” bisiknya. Reno yang sejak tadi diam, berdiri perlahan dari kursinya. Tatapannya berganti ke arah Rani yang masih setia menemani Kania. “Bunda disini aja, biar ayah keluar sebentar,” katanya datar. Rani mengangguk pelan, menebak apa yang ada di pikiran suaminya. Ia hanya menghela napas, pasrah. Pintu kamar terbuka perlahan. Reno melangkah keluar dengan langkah berat. Koridor rumah sakit itu terasa panjang dan sunyi. Lampu neon putih yang dingin memantulkan bayangan tubuhnya yang kokoh namun penuh amara

