Gio menopang dagunya di atas sisi brankar, posisi tubuhnya sedikit membungkuk karena kursi yang ia duduki terasa terlalu rendah dibanding ranjang pasien itu. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mendengar setiap helaan napas Kania, bisa melihat jelas wajah pucat kekasihnya yang masih tampak lemah setelah semalam penuh dilanda kontraksi. Matanya menatap Kania dengan begitu lekat, seolah mencoba menyimpan setiap detail wajah itu dalam ingatannya. Tatapan yang penuh rindu sekaligus penyesalan. “J—jangan menatapku seperti itu!” suara Kania pecah, lirih, lalu buru-buru ia memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. “Aku kangen banget sama kamu,” gumam Gio, hampir tak terdengar, suaranya bergetar hebat. Tangannya meremas pelan sisi brankar, seakan itu satu-sa

