Kania masih menatap Gio dengan tatapan bergetar. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menusuk hati Gio. “Gio, aku memang masih cinta sama kamu.” Mata Gio langsung berkaca-kaca, tubuhnya gemetar. Kalimat itu seperti air di padang pasir yang kering. “Sayang,” bisiknya, jemarinya menggenggam lebih erat tangan Kania. “Tapi,” Kania buru-buru memalingkan wajahnya, air matanya jatuh makin deras, “Aku takut. Aku takut banget kalau semua ini terulang lagi. Aku takut kalau aku percaya lagi sama kamu, aku bakal jatuh dan hancur lebih dalam dari sekarang.” Gio langsung menggeleng keras, matanya penuh panik. “Enggak! Aku gak akan biarin itu terjadi. Aku janji, aku janji sama Tuhan, sama diriku sendiri, dan sama kamu, Kania. Aku gak akan pernah bikin kamu sakit lagi. Aku rela ke

