Gio pulang dengan wajah kusut, langkahnya berat seolah seluruh dunia menindih pundaknya. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma kopi tercium samar. Di ruang tamu, Indra dan Arsya sudah menunggu, masing-masing dengan wajah tegang. Indra yang duduk di ujung sofa langsung menegakkan tubuhnya. “Gimana, Gi?” tanyanya cepat, nada suaranya penuh harap. Gio melemparkan kunci ke atas meja, tubuhnya jatuh ke sofa dengan lelah. “Sama aja. Dia tetap nolak. Bella gak mau ada tes DNA. Katanya, anak itu cukup jadi miliknya.” Arsya mendengus kasar sambil menyandarkan tubuh. “Gila ya cewek itu. Udah hancurin nama lo, masih berani main drama!” Indra menyalakan rokok, menghembuskan asapnya ke udara. “Terus langkah selanjutnya apa?’’ “Aku juga gak tahu, Ndra,” sahut Gio pelan, menatap kosong ke langit-lan

