Bab 40

1444 Kata

Setelah sampai di apartemen, Gio duduk sebentar di mobilnya. Jemarinya mengetuk setir, gelisah. Ia sudah menyiapkan kantong besar berisi asinan buah dan kelapa jeruk yang tadi dicari setengah mati. Matanya sesekali melirik ponsel, menunggu balasan Kania. Akhirnya ia menghubungi Kania. Suara pelan itu masuk ke telinganya. “Aku naik?” tanya Gio, penuh harap. Bayangan bisa melihat wajah Kania dari dekat membuat dadanya berdebar. Namun jawaban yang datang membuat hatinya jatuh, “Gak usah, aku aja yang turun.” Dahi Gio langsung berkerut. Ia menggigit bibir, mencoba menahan diri agar tidak memaksa. “Nanti kamu capek,” ucapnya lembut, khawatir. “Enggak! Lagi ada Ayah sama Bunda.” Sekejap napas Gio tercekat. Sorot matanya berubah sendu. Ia teringat jelas beberapa hari lalu Reno dan Rani pul

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN