Gio masih duduk di mobilnya beberapa menit setelah Kania masuk ke lift. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Tangannya bergetar di atas setir, matanya menerawang kosong ke arah pintu lobi yang kini sudah tertutup rapat. Napasnya berat, tersengal seperti baru saja berlari jauh. Ia menunduk, kedua tangannya menutupi wajah. Sesaat, pria itu membiarkan dirinya rapuh. “Tuhan, kenapa harus begini? Dia ada di dekatku, tapi rasanya jauh banget. Aku bisa lihat dia, tapi nggak bisa genggam tangannya lagi,” gumamnya dengan suara pecah. Setelah cukup lama menenangkan diri, Gio akhirnya menghidupkan mobil dan melajukannya kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak bisa lepas dari tatapan Kania tatapan yang penuh kerinduan, tapi juga penuh luka. Sesampainya di rumah, Gio langsung ma

