Hari demi hari berlalu. Hampir satu minggu lamanya, Gio lebih banyak mengurung diri di kamar rumah orang tuanya. Suasana kamar yang dulu sering dipenuhi suara gitar dan tawa, kini berubah muram. Tirai jendela jarang ia buka, udara di dalam kamar terasa pengap. Meja belajar berantakan penuh dengan kertas dan botol minum yang tak tersentuh. Setiap hari Vani, ibunya, selalu berusaha mengetuk pintu, membawakan makanan, atau sekadar mengajaknya mengobrol. Namun jawaban Gio selalu sama: singkat, datar, dan menolak. Sore itu, Vani kembali datang sambil membawa nampan berisi sepiring nasi hangat, sayur sop, dan segelas air putih. Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu kamar anaknya. “Gio, ayo makan dulu, Nak,” ucap Vani pelan sambil masuk ke kamar. Gio yang sedang duduk di ranjang hanya melirik s

