Sejak malam di hotel itu, ada sesuatu yang berubah antara Gio dan Kania. Bukan lagi sekadar kedekatan biasa, tapi ada rasa yang perlahan tumbuh semakin dalam, meski keduanya jarang membicarakannya secara langsung. Gio menjadi jauh lebih perhatian. Ia selalu memastikan Kania makan tepat waktu, mengingatkan untuk tidak begadang, bahkan sering datang membawa makanan favorit gadis itu hanya untuk melihatnya tersenyum. Pagi-pagi, Gio kadang muncul di depan pintu apartemen Kania sambil membawa kopi dan roti hangat, hanya karena ia tahu Kania sering malas sarapan. “Pagi, Sayang, cup,” sapa Gio dengan senyum menggoda, memberikan gelas kopi. Kania yang masih mengenakan piyama hanya mengerling malas, tapi sudut bibirnya terangkat. “Pagi. Kamu nggak ada kerjaan ya, nyamperin pagi-pagi gini?” “K

